Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"BERHENTI!!" teriak pria paruh baya yang tiba-tiba baru datang. Seketika dua pria itu menghentikan perkelahiannya. Terlihat wajah mereka sama-sama babak belur dan mengeluarkan darah dari hidung dan pelipisnya.


"Paman!!! seru mereka bersamaan.


"APA KALIAN BODOH, HAH!!! KALIAN BERDUA ADALAH KETURUNAN DARI ANAK-ANAK THOMAS!!"


"Aku tidak bersalah Paman! si BRENGSEK Matthew yang sudah mengirimkan racun untuk ibuku!" hardik Nathan sangat emosional


"Aku lakukan agar kau menepati janjimu, bodoh!" teriak Matthew tidak mau kalah


"Dasar licik! berikan obat penawarnya!"


"Lakukan dulu tugas mu, baru akan aku berikan!"


"Kau!!! Nathan menunjuk wajah Matthew.


"Sudah cukup! kelakuan kalian seperti anak kecil! seharusnya kalian menyelesaikan misi yang sudah kita susun dengan baik, jangan sampai berantakan karena ulah kalian berdua!" seru Paman Samuel menghardik kedua keponakannya. "Ingatlah kalian berdua darah daging dari kakak ku Thomas! kalian harus balas kematian kakak ku! keluarga Reno Mahesa harus membayar semuanya!" teriak Samuel dengan kedua tangan mengepal erat.


"Nathan! bersiap-siaplah, jangan sampai kau berani berkhianat!" seru Samuel menatap tajam sang keponakan


Nathan mendengus kasar seraya mengusap darah segar yang mengalir di sudut bibirnya. lalu ia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vano yang berdiri di depan jendela seraya menatap gedung bertingkat pencakar langit.


"Masuk!


"Permisi Pak!" ucap seorang wanita cantik sebagai pengganti Savira sementara.


Vano mengangguk seraya berjalan kearah kursi kebesarannya. "Ada apa?!"


"Saya dapat perintah dari Pak Dev, kalau Mr Leon sudah berada di lobby dan Pak Dev sedang menyambutnya."


"Baik terima kasih!"


"Kalau begitu saya permisi."


Sementara di depan lobby kantor, Devan sudah menyambut kedatangan Leon. Mereka berdua berjabat tangan dan berangkulan saat sudah berhadapan.


"Selamat datang Mr Leon. Akhirnya sampai juga di perkantoran kami." ujar Dev tersenyum ramah.


"Terimakasih atas penyambutan yang luar biasa ini!"


"Mari silakan, akan saya pertemukan dengan pimpinan perusahaan, Tuan Zevano."


Devan dan Leon beserta beberapa bodyguard berjalan kearah lift menuju ruangan presdir.


"JEGLEK!


"Pagi Pak Zevano, Mr Leon sudah datang."


Vano berdiri dan menyambut tamu yang sudah ia nantikan.

__ADS_1


"Selamat pagi Tuan Zevano!" sapa Leon.


"Selamat datang Mr Leon di perkantoran milik keluarga Mahesa group." mereka berdua saling berjabat tangan


"Mari silahkan duduk!" Vano menunjuk sebuah sofa di depannya.


"Saya pikir Mr Leon masih muda, ternyata hampir seumuran Daddy saya." Vano berkelakar


"Wajah boleh tua Tuan Vano, namun pemikiran masih lah remaja." balas Leon terkekeh.


Mereka mulai membahas masalah kerjasama pembuatan senjata api.


"Kita lanjutkan kerjasama kita yang sempat tertunda Mr Leon, sekarang anda sudah bertemu langsung dengan pemilik perusahaan Mahesa Group." Dev membuka pembicaraan.


"Baik, terima kasih Tuan Dev! saya sangat beruntung bisa bertemu dengan Tuan Zevano pemimpin perusahaan Mahesa Group. Mari kita mulai kerjasama ini."


"Ma'af, boleh saya merokok?!


"Silakan..."


Leon merogoh cerutu di saku jasnya, seorang bodyguard yang berdiri di belakang Leon menyalakan pematik api, dengan tenang Leon menghisap cerutu yang ia sematkan di bibirnya. "Saya memiliki pabrik senjata api dan bahan peledak di negara saya Amerika. Bila Tuan Zevano tertarik, anda bisa datang ke negara kami untuk melihat pembuatan senjata api dan rakitan bom peledak." terang Leon seraya menghembuskan asap dari bibirnya setelah menghisapnya kuat.


"Itu tidak masalah, tapi saya harus tahu dulu nama perusahaan anda Mr Leon."


"Perlu anda ketahui Tuan Zeva, perusahaan senjata api ini ilegal dan tidak terendus aparat kepolisian. Barang-barang yang kami keluarkan sangat langka dan banyak peminatnya. Bahkan kami sudah banyak kirim ke berbagai negara, termasuk negara Indonesia."


"Iya saya paham, Namun saya harus lihat dulu produk senjata yang Mr Leon keluarkan, saya tidak bisa gegabah menerima kerjasama bila tidak lihat langsung pembuatannya."


"Kenapa harus bingung? bukankah kita sudah sepakat untuk membuat pabrik senjata api di negara ini?!"


"Soal itu anda tidak perlu khawatir Tuan Zeva, saya sudah pikirkan semuanya. Apalagi saya tahu kalau kelurga besar Mahesa, memiliki kekuasaan dan kebal hukum!" tutur Leon seraya menjentikkan bara diatas api.


Dua orang pria tampan dan pintar saling mengeluarkan argumen dan pendapatnya masing-masing.


Sementara itu di sebuah lift, seorang wanita cantik baru saja keluar dari pintu lift, dengan terburu-buru ia berjalan kearah ruangan sang presdir. Saat ia melewati meja sekertaris, seorang wanita menegur nya.


"Maaf, tunggu Nona? anda ingin bertemu dengan siapa..?"


Wanita itu membalikkan tubuhnya "Pak Vano! bukankah ia masih ada didalam ruangannya?"


"Bila Nona ingin bertemu dengan Pak Zevano Anda harus buat janji dulu. Didalam ruangan sedang ada tamu penting."


"Ohya..? apa saya perlu laporan dulu bila harus bertemu dengan kakak saya?"


Wanita itu terkejut "Ma-af Nona, anda saudara dari Pak Zevano..?"


"Saya kembarannya, ma'af saya terburu-buru dan harus bertemu dengannya." Setelah berbicara Vana melangkah cepat dan membuka handle pintu.


Ceklek!


"Kakak!" panggil Vana dan berjalan masuk kedalam ruangan, mereka yang sedang mengobrol mengalihkan pandangannya kearah pintu.


"Vana...?! ada apa kesini? tanya Vano heran, ia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Vana. Sementara Nathan terkejut dengan kedatangan Vana yang tiba-tiba, ia menatap tak berkedip kearah Vana. jantungnya mulai berdetak sangat cepat, sehingga ia tidak bisa mengendalikan perasaannya saat wanita yang sangat ia cintai dan sudah lama tidak pernah ia temui berada di depannya.

__ADS_1


"Alea..? gumamnya pelan, Nathan mengambil tissue dan mengusap dahinya yang sudah basah dengan keringat. "Ada apa dengan ku? kenapa tiba-tiba jadi gugup begini? sialan, kenapa jantungku tak mau berhenti berdetak!" pekikan dalam hati.


"Ada apa kesini Dek?! tanya Vano


"Ini dokumen kakak ketinggalan di meja makan, sepertinya sangat penting, makanya aku antarkan kemari sebelum berangkat kerumah sakit."


Vano menerima map biru dari tangan Vana dan membuka lembaran dalam map "Astaga, hampir saja aku melupakan nya. Dokumen ini untuk fresentasi nanti siang dengan Tuan Radit." Vano menghela nafas lega "Terimakasih ya Dek!" mengusap lembut bahu Vana.


"Kakak sedang ada tamu? kalau begitu Vana berangkat lagi ke rumah sakit."


"Tunggu...!!'


Vana yang sudah melangkah kearah pintu menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Maaf, apa Nona ini kembaran Tuan Zevano? tanya Nathan berusaha menutupi kegugupannya. Wajahnya yang sudah di poles menjadi pria paruh baya berserta kumis tebal dan jenggot, lensa coklat di kedua bola matanya membulat Nathan yakin, kalau Vana tidak akan mengenal dirinya.


"Iya, dia adik kembar saya." kata Vano memperkenalkan sang adik.


"Sangat mirip, boleh saya berkenalan?! dengan tenang Nathan bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Vano dan Vana.


"Tentu saja!


"Oiya Dek, perkenalkan ini rekan kerja kakak. Namanya Mr Leon."


"Me Leon, perkenalkan ini adik kandung saya Zevana."


Mereka berdua saling berjabat tangan. Nathan menyentuh hangat tangan Vana yang lembut. Rasa rindu menyeruak dalam dadanya, bagai ribuan kupu-kupu yang mengisi hatinya, rasa bahagia dan kangen menjadi satu. Ingin rasanya ia memeluk erat tubuh tinggi ramping dan semampai di depannya.


"Zevana, panggil saja saya Vana."


"Deg! tiba-tiba Vana merasakan getaran aneh dalam dadanya bersamaan jantung Vana yang berdesir. Ada perasaan haru campur sedih, tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya bersedih. Saat menatap wajah Leon, wajah Vana terlihat sendu "Wajah ini seperti sangat familiar, tapi dimana aku mengenalnya?!" bisiknya dalam hati.


"Ekhem..!!! Nathan berdehem untuk mengalihkan pandangan Vana.


"Nama yang indah." Nathan tersenyum "Saya Leonardo, panggil saja saya Leon!"


"Tuan Leon.." Vana mencoba melepaskan tangannya dari genggaman erat tangan Nathan.


"Ehh-maaf saya terhanyut dengan kecantikan dan kelembutan Nona Vana." kekeh nya seraya melepaskan jemari tangan Vana.


"Terimakasih pujian Mr Leon.." Vana tersenyum hambar.


"Dek! segeralah berangkat, nanti kau kesiangan sampai rumah sakit."


"Iya kak!"


"Mr Leon, saya permisi dulu."


Akhirnya Vana melangkah pergi meninggalkan ruangan sang kakak. Ada kekecewaan yang mendalam di hati Nathan setelah kepergian Vana.


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘

__ADS_1


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76


@Bersambung....


__ADS_2