Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kehilangan Zidan


__ADS_3

"Aaaahhkk! pekiknya sambil memegangi keningnya yang sakit.


Dengan cepat Zidane membuka pintu kamar dan berlari keluar


"Brengsek! berani kau melukai aku! akan aku habisi bocah tengik!" serunya dan mengejar Zidane.


Zidane terus berlari dan menggedor pintu kamar sang kakak "kak Vana bukakan pintunya!


"kakak please!!!! teriak Zidan ketakutan.


Vana yang sudah tertidur pulas terkejut mendengar suara Zidan "Anak bandel itu pasti mau ngerjain aku lagi. Ganggu orang tidur ajah! gumamnya dengan mata masih tertutup, enggan rasanya untuk bangun apalagi adiknya yang jahil. Vana menutup telinga dengan bantal, tanpa menghiraukan panggilan sang adik.


"Kakak buka pintunya kak! ada orang jahat yang ingin membunuh Zii...!" pekik Zidan dengan suara bergetar dan ketakutan.


"kena kau! mau lari kemana bocah tengik!" Pria itu berhasil membekap mulut Zidane dan menyeretnya kedalam kamar. Didalam kamar Zidan sudah ada satu orang memakai topeng yang sama dengan temannya.


"Cepat tutup mulut dan tangannya dengan lakban, biar dia nggak berteriak terus!"


Zidane terus berontak saat pria itu menutup mulut dan tangannya dengan lakban.


"Emmm... emmm...!


"Daddy... Mommy... tolong Zii...!!! Pekik bocah berusia sebelas tahun itu dalam hati, airmatanya terus menetes deras. "Kak Vana jahat!!! teriak Zidan tanpa bisa mengeluarkan suara.


"Sudah aman, dia tidak bisa berteriak lagi!


"Ayo secepatnya kita pergi dari sini! seru seorang pria seraya membopong tubuh Zidan dan berjalan kearah jendela.


"Tunggu! apa kau sudah matikan cctv nya?


"Tenang saja sudah aku bereskan semuanya. ayo cepat kita pergi dari sini!


Mereka berdua keluar melalui jendela kamar Zidane dan menghilang dalam gelapnya malam.


***


"Tok! Tok! Tok!


"Mas Zidan bangun, sudah siang. Ayo sekolah." panggil Bi ijah di depan pintu kamar Zidane. Beberapa kali panggilan dan ketukan pintu tidak juga membangun kan Zidan "Kenapa mas Zidan nggak Bukakan pintu, biasanya dia langsung bangun. Apa jangan-jangan mas Zidan sakit? ucapnya pada diri sendiri, karena penasaran bi Ijah membuka pintu kamar.


Ceklek!


"Mas Zidan..? bi ijah berjalan kearah ranjang "Kok nggak ada orang nya, kamar kenapa berantakan begini? bi ijah mencari sosok anak majikannya di seluruh ruangan, Namun tidak ada.


"Apa jangan-jangan dia tidur di kamar Non Vana." Bi ijah keluar dari kamar dan menutup pintu.


"Bi, Zidan sudah bangun? tanya Vana yang sudah berdiri di belakang Asisten rumah tangga itu.


"Ehh.. Non Vana, ngagetin ajah!"


"Mas Zidan nggak ada di kamarnya, Bibi kira tidur sama non Vana."

__ADS_1


"Loh! tidur dimana dia? semalam tidak tidur dengan ku." Vana mengeryitkan keningnya "Ahh, tuh anak! pasti ngerjain lagi."


"Ya sudah bibi cari di kamar atas dulu, siapa tahu tidur di kamar mas Vano."


"Ya sudah bi, aku mau sarapan dulu. Pagi ini ada operasi jantung."


"Iya Non, sarapan sudah tersedia di meja makan."


Vana berjalan kerungan meja makan dan menikmati sarapan pagi itu. Tak berapa lama bi ijah datang dengan tergopoh-gopoh.


"Non Vana, Mas Zidan nggak ada dimana-mana."


"Bibi sudah cari ke kamar kak Vano?


"Sudah Non!


"Kamar mommy dan Daddy?!


"Bibi nggak berani masuk kamar Tuan dan Nyonya."


"Ya sudah, Aku sendiri yang akan lihat ke kamar mommy. Semalam Zidan ngerjain aku, pasti dia berada di ruangan kerja Daddy."


Vana meninggalkan ruangan makan dan mencari sang adik di kamar dan ruangan kerja Daddy nya, Namun tidak di temukan sosok pria gembul itu.


"Ziiiiii........!!!


"Zidan....!!!!


"Zidane benar-benar tidak ada!" Vana mulai panik "Dimana anak itu..? Vana berlari turun kebawah menuruni anak tangga dengan cepat.


"Dimana Zidane? apa sudah ketemu? tanya bi ijah khawatir.


"Tidak ada bi, tapi lantai empat dan lima belum di lacak, aku mau minta tolong satpam untuk mencari Zidan di sana." tukas Vana seraya melangkah pergi menuju pintu depan.


Vana berlari dengan tergesa dan memanggil semua Art dan penjaganya yang berada di mansion. Mereka semua sudah berkumpul di depan pekarangan mansion


"Adikku Zidane tidak ada, aku dan bi ijah sudah mencarinya kemana-mana, tapi lantai empat dan lima belum aku jelajahi. Sekarang kalian cepat cari adikku di seluruh ruangan. Dan sebagian cari ke taman dan danau."


"Baik Nona!" seru mereka serempak.


Satpam, bodyguard dan Art mulai berpencar mencari keberadaan Zidan. Vana ikut mencari karena tidak puas sebelum menemukan sendiri keberadaan sang adik. Dua jam dalam pencarian tidak menemukan sosok Zidan di dalam dan luar mansion.


Vana mulai gusar dan teringat akan suara sang adik yang memanggilnya tadi malam. Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar nyaring di depan pintu gerbang.


"Pasti itu kak Vano! jam delapan baru pulang."


Seorang sekuriti berlari dan membukakan pintu gerbang. Benar saja, mobil Vano masuk kedalam mansion dan terparkir dengan sempurna. Vano dan Savira keluar dari mobil di ikuti Dev, mereka menatap Vana dengan ekspresi bingung.


"Dek, kenapa wajah mu muram? apa kau tidak berangkat ke rumah sakit." tanya Vano saat melihat wajah Vana yang stres.


Vana menoleh dan menatap kesal pada sang kakak "Kenapa kakak baru pulang? apa perjalanan bisnis kakak memakan waktu begitu lama? bahkan mommy dan Daddy pergi tanpa bertemu kakak! Vana melipat kedua tangannya di dada "Telpon kalian bertiga tidak ada yang aktif satupun!" cetus Vana kesal.

__ADS_1


"Dek dengarkan dulu, di perjalanan arah pulang ada longsor dan hujan deras, kita putar balik untuk mencari jalan lain, telpon kita bertiga juga sinyalnya hilang."


Vana hanya menghela nafas panjang.


"Nona, semua tempat sudah kami jelajahi tapi tidak ada mas Zidan!" seru salah seorang bodyguard yang datang dengan setengah berlari kearah Vana, Vano, Savira dan Dev.


"Ada apa dengan Zidan! seketika Vano terkejut dan bertanya dengan lantang.


Dua orang bodyguard itu hanya tertunduk tanpa berani menjelaskan pada Vano.


"Dek! apa yang terjadi dengan Zidan?! tanya Vano meraih pundaknya.


Vana tertunduk sedih seraya meneteskan airmata "katakan Dek, ada apa dengan Zidan?" seru Vano mulai terlihat panik.


Vana mendongakkan kepalanya dan menatap nanar wajah sang kakak "Zidane hilang kak!


"Ap-apa? Zidan menghilang? bagaimana bisa?! tanya Vano tak percaya.


"Hiks.. hiks.. hiks..." Vana memeluk erat sang kakak yang terlihat tegang.


"Apa kak? Zidan hilang?! nggak mungkin..." pekik Savira membekap mulutnya tak percaya.


"Ma'afkan aku kak, aku tidak bisa menjaga adikku! Vana menangis di dada sang kakak.


"Jelaskan pada kakak, apa yang sebenarnya terjadi?!


Vana menceritakan tentang Zidan yang sempat mengerjainya semalam. "Tak lama kemudian, saat aku sedang tertidur mendengar suara Zidan menggedor pintu dan berteriak minta tolong. Aku pikir dia sedang mengerjai aku lagi." cerita Vana merasa menyesal dan bersalah.


Vano menghela nafas panjang dan menghempaskan kasar. "Lalu dimana semua penjaga, apa saja kerja mereka! teriak Vano mulai emosi. Semua nya hanya terdiam sambil tertunduk.


"Vana juga salah kak!"


"Sudah jangan emosi dulu Van, kita cari selusi nya." ujar Dev meredakan amarah Vano.


"kakak akan mengecek keadaan mansion dan mencari tahu keberadaan Zidan!"


"Kak, sebelum Daddy pergi, ia bilang, mansion sudah di jaga dengan ketat dan alat-alat canggih sudah terekam melalui CCTV."


"Sepertinya ada orang dalam di mansion ini." kata Dev menimpali.


"Aku juga berpikir seperti itu. Ayo Dev kita lacak keadaan mansion."


"Oke Van!"


"Dan kalian semua! perketat penjagaan mansion, jangan ada seorang pun yang meninggalkan tempat ini! seru Vano tegas, pada semua penjaga dan bodyguard.


"Baik tuan muda!" seru mereka serempak.


💜💜💜


@Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2