Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Sebuah Harapan


__ADS_3

"U-L-A-R...!!!!


Pekik nya ketakutan, seketika nafas Vana begitu sesak dan hampir berhenti, suaranya tercekat di tenggorokan.


"TO-LO-NG!! suara itu tidak bisa keluar, hanya dalam hati yang terus menjerit-jerit. Tentu saja gadis itu membutuhkan pertolongan sang Daddy yang di harapkan datang menjemput dirinya. namun sayang, justru Reno berjalan kearah mansion dan menyambut pelukan hangat sang istri yang sejak tadi menunggu di ambang pintu. Vana memegangi lehernya yang tercekat, linangan air mata sudah membasahi pipinya yang chubby, Vana berharap bisa berteriak dan menjauh dari ular sanca yang siap menyedot darahnya hingga habis.


"Daddy TOLONG!!!!!! pekik Vana dalam hati. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, suaranya tercekat dan tertahan di tenggorokan. Raut wajah Vana memerah menahan ketakutan yang teramat sangat, terdengar suara nafas gadis kecil itu turun-naik. kaki kecilnya melangkah mundur dengan perlahan ke belakang.


Gadis kecil itu menggeleng dengan ekspresi ketakutan, ia terus memohon pada sang ular agar tidak mematok nya. Namun, sang ular seakan tidak peduli dengan ketakutan Vana. Saat Vana mundur kakinya menginjak sebuah batang kayu. Entah keberanian dari mana, dengan cepat gadis itu meraih kayu dan mengarahkannya pada sang ular yang sedang berdesis didepannya.


"Jangan mendekat! seru Vana, tiba-tiba ia sudah bisa bersuara lantang. Ia melempar kayu itu kearah ular dan berlari menjauh. Seketika ular Sanca itu mengejar vana nya, sehingga...


"JANGAN!!!! teriak Vana, seraya menutup wajahnya dengan telapak tangan. ia sudah pasrah bila ular itu ingin mematoknya, percuma saja berlari, bila ular itu lebih cepat daripada Vana. Seketika sebuah tangan kekar mencekik kepala ular Sanca itu yang hampir saja mematok kaki Vana.


Vana mendengar suara seseorang sedang memaki ular di depannya. karena penasaran, Vana membuka jemari tangannya yang menempel di wajahnya satu persatu, hingga ia melihat ular itu sudah mati di tangan seorang pria yang berdiri tegak didepannya.


"Jangan takut, ular itu sudah kakak bunuh! pria itu berkata seraya melempar ular itu kesemak-semak. Terukir senyuman manis di bibir pria misterius itu. Terlihat wajah tampan pria itu sangat bersahabat, saat menatap gadis kecil di depannya.


"kakak tidak takut dengan ular itu? tanya Vana yang begitu penasaran.


"Tidak! untuk apa takut? ular itu sangat jahat dan ingin melukai mu, sudah seharusnya Kakak bunuh."


"Terus kenapa kakak menolong ku? siapa kakak sebenarnya? tanya Vana dengan polosnya.


Pria menggaruk alisnya dan menatap teduh wajah Vana yang terlihat sangat imut di usianya baru lima tahun."


"Gadis cerdas! Pria itu berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Vana. "Kau benar ingin tahu?" tanya pria itu menatap lekat wajah cantik Vana dengan mata bulat berbulu mata lentik.


Vana mengangguk cepat


"Kelak, bila kau sudah besar, kau akan menjadi istriku." ucap pria itu penuh keyakinan.


Gadis itu terkejut, matanya membulat sempurna seraya membekap mulutnya.

__ADS_1


"Zee... cepatlah pulang! suara sang Daddy terdengar hingga ke taman.


"Baiklah Daddy, aku akan segera pulang! seru Vana membalas panggilan Reno.


Tanpa menghiraukan pria misterius itu, Vana meninggalkannya dan berlari kecil tanpa permisi.


"DEG!


"DEG!


Seru jantung Vana yang berdegup kencang.


"Bagaimana...?!


Dr Irwan gelengkan kepala "Masih belum stabil."


"Lakukan lagi...!!! seru dokter Agung. Keringat jagung terus bercucuran dari pori-pori kulitnya. Bahkan AC di dalam ruangan tidak mampu mendinginkan tubuh ketiga Dokter itu saking gugup dan gusar nya.


"Tttuuuuutttttttttt.....


"Dokter Vana! seru Dokter Agung seraya menekan cepat jantung Vana dengan kedua telapak tangannya dan terus berusaha menyadarkan Vana dari komanya.


"Dokter Vana sudah tidak ada! ucap Dokter Haris datar, wajahnya tertunduk sedih dengan bola mata berembun


"Tidak mungkin!" pekik Dr Irwan


"Pompa sekali lagi mungkin ini ada yang salah! Dr Agung berkata dengan antusias


***


"Van!


Dev ikut terduduk di lantai keramik "Lebih baik kau istirahat dulu. Dari kemarin tidur mu tidak tenang."

__ADS_1


Bagaimana aku bisa tenang, kalau saudara kembar ku saja sedang terbujur kaku diatas ranjang." vano menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir keadaannya yang gelisah.


"kalau kau percaya dengan dokter di rumah sakit ini, aku ingin kau beristirahat dulu sampai kau bisa tenang dan mengendalikan emosimu."


Apa yang dikatakan Dave ada benarnya. Dirinya butuh istirahat dan otaknya tidak boleh tegang, sebab otak juga butuh istirahat yang cukup agar fres dan tidak terus-terusan emosi. Pada akhirnya Vano mengangguk setuju dan menerima saran Dave untuk istirahat di paviliun, tempat peristirahatan kelurga Vano.


Sementara diruangan rawat inap Vana, keadaan semakin tegang. Ketiga Dokter itu terus berusaha memberikan pertolongan pada wanita pemilik rumah sakit terbesar nomor dua di Jakarta. Seketika tangan Vana yang tadi terkepal, mulai mengendur dan lunglai kesamping ranjang


Tuuuuuuuuuuuuuttttttttttt.....


Dokter Irwan gelengkan kepala seakan menyerah, bola matanya sudah berair, ia membuka kecamata minusnya dan mengusap kristal bening di sudut matanya.


"Tidak! ini tidak mungkin." ucap Dr Agung, sambil terisak menahan tangisannya.


BRAKK!


Terdengar Suara pintu terbuka lebar, ketiga Dokter itu menoleh kearah pintu yang terbuka, atensinya menatap seorang pria tampan berpostur tinggi tegap, pria itu masuk begitu saja kedalam ruangan Vana tanpa permisi pada ketiga dokter tersebut. kemudian ia berdiri di samping ranjang gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nathan menggenggam erat tangan wanita itu seraya menatap wajahnya yang sudah seputih kapas.


"Lea! aku sudah kembali. Bangun lah, kau harus tetap hidup. Jangan seperti ini." suara pria itu sangat terdengar sedih dengan bola mata berair.


"Hey kau siapa?! Dr Irwan berjalan mendekat "Berani nya kau masuk kamar pemilik rumah sakit ini?! bentak nya dan ingin menarik baju Nathan. Namun, Dokter Agung menarik tangannya, lalu menatap wajah Dr Irwan seraya gelengkan kepala. "Jangan kau usir, kita lihat reaksinya, apakah pria itu dapat membantu kesadaran Dr Vana atau tidak.


"Apanya yang ingin pria itu bantu? dokter Vana sudah menghembuskan nafasnya. Tidak ada lagi yang bisa kita perbuat, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nyatanya dokter vana tidak dapat tertolong."


"kau tidak boleh berkata begitu! mungkin saja masih ada keajaiban untuk dokter Vana kembali! tegas dokter Haris memperingati dokter Irwan.


Tetapi nyatanya kau lihat sendiri bukan? bahkan di layar monitor terlihat jelas hasilnya. nafas Dr Vana yang sudah hilang dan grafiknya datar. sudah dipastikan Dokter Vana sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir saat kita pakai alat Defribrilator.


Dokter Agung meraup wajahnya berkali-kali, sesekali ia membuang nafas kasar, ia mengarahkannya pandangan kearah pria misterius yang datang secara tiba-tiba.


"Apa yang harus kita katakan pada Tuan besar Reno dan Tuan muda zevano? bila sampai mengetahui anak gadis dan saudara kembarnya sudah tidak ada." tukas Dokter Irwan gusar seraya hembuskan nafas panjang.


💜💜💜

__ADS_1


@Segini dulu ya All.. InsyaAllah malam Bunda lanjut lagi 🥰


@Makasih yang sudah follow IG dan tiktok bunda, bagi yang belum follow, YUK follow dulu 🥰. (Tiktok. Eny. 76 shop)


__ADS_2