
Malam itu keadaan mansion semakin kacau, semakin banyak saja sekelompok orang yang menyerang kediaman Reno Mahesa. Beruntung orang-orang Reno yang terbentuk dari Genk mafia sudah datang dan membentengi mansion dengan pertahanan. Perkelahian pun tak dapat di hindari. Orang-orangnya yang terbunuh dan mati sia-sia tergeletak di lantai. Saling serang dan suara tembakan terus terdengar.
Sementara itu, di sebuah rumah kecil di pinggir Danau, Savira terus menjerit histeris. Airmatanya berlomba-lomba membasahi wajah cantiknya. Tenaganya sudah habis terkuras, ia hanya pasrah dan menunggu keajaiban dari Tuhan. Tangan pria itu merobek baju Safira, kancing kemeja lengan pendek yang Savira kenakan berhamburan. Savira membekap dadanya yang terekspos di depan pria itu, seraya gelengkan kepalanya memohon untuk di lepaskan.
"Jangan Tuan, aku mohon..." suara Savira terdengar lemah dan tak berdaya. pria-pria lapar itu semakin ingin menggagahi Savira saat melihat tubuh mulusnya terekspos jelas. Savira memejamkan matanya saat salah satu pria itu mulai menciumi wajah dan leher putih jenjangnya. Tubuh Savira bergetar bersamaan jantungnya yang memburu. Tubuhnya lemas tak berdaya. ia sudah pasrah dan tidak bisa berteriak lagi. tiba-tiba lidahnya terasa Kelu, suaranya tercekat.
"BRAKK!
Sebuah pintu terbuka lebar akibat tendangan dari luar. Berdiri seorang pria dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup kain hitam. Hanya terlihat dua bola matanya yang tajam bagai kilatan cahaya. Satu tangannya memegang sebuah samurai.
"Hey! kau masih teman kami, ayo kita nikmati gadis ini bersama-bersama." seru pria yang berada di samping Savira sambil terbahak.
Dalam ketidakberdayaan mata Savira melotot, ia sungguh tak sanggup lagi harus menerima kenyataan ini. Hatinya benar-benar hancur, ia berharap mati hari ini juga. Pria itu berjalan mendekati mereka dengan samurai di tangannya, ujung samurai itu menyentuh lantai dan berbunyi suara gesekan keras saat pria itu berjalan.
Melihat pria itu semakin mendekat, Savira memejamkan matanya "Ibu... Ayah.. bawa Savira pergi dari dunia ini! jeritnya dalam hati.
Secepat kilat pria itu mengayunkan samurainya dan...
"SEEETTT!
"SEEETTT!
"Aaaaakkkhhh!
Teriakan terakhir dua pria itu. kepala mereka mental dan gelinding ke lantai. Darah segar mengucur deras dari lehernya yang terputus. Savira terkejut saat sesuatu menciprat wajahnya. Dengan nafas tersengal ia mengusap wajahnya dan membuka matanya, ia melihat telapak tangannya penuh noda darah.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa.....!!"
Savira berteriak histeris.
"SAVIRA!!!!!!
"DORR!
"DORR!
Dev berlari seraya melepaskan tembakan. Pria misterius itu menatap Savira lalu melompat kearah jendela dan menghilang di kegelapan malam.
"Savira! Dev terkejut melihat keadaan di dalam vapiliun itu. Darah berceceran di lantai, dua kepala yang terpisah dari tubuhnya dengan mata melotot. Dev mendekati Savira yang sudah kacau. Melihat pakaian Savira yang berantakan, nyaris telanjang dada. Dev membuka jas nya dan membelitnya ketubuh nya.
"Savira...! tidak ada yang terjadi dengan mu bukan? ma'afkan kakak datang terlambat." ucap Dev merasa bersalah, ia datang dengan keadaan Savira yang sudah kacau. Tidak ada jawaban apa-apa dari bibir Savira. ia hanya menatap kedepan dengan pandangan kosong tanpa peduli kehadiran Dev. Jiwanya seakan sudah mati, tubuhnya kaku dan wajahnya pucat pasi. Melihat keadaan Savira yang syok, Dev membekap tubuh Savira dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan kak Dev, ya.." mencium lembut pucuk kepala Savira. Tiba-tiba tubuh Savira lemas dan tak bersuara lagi.
"Vir...! Devan mengusap puncak kepalanya dan melihat mata Savira sudah terpejam. "Kau pingsan." Dev menghela nafas panjang.
"Siapa Pria tadi? kenapa dia membunuh kawannya sendri, lalu menyelamatkan Savira..? gumam Dev, ia tak habis pikir.
"Tuan Dev!
Dua orang pria tiba-tiba datang dan berkata. "Keadaan sudah kondusif, sekelompok orang yang menyerang mansion sudah pergi dan sebagian lagi mati di tempat.
Dev menarik nafas lega. "Syukurlah! tolong kau bersihkan tempat ini. Bawa mayat dua orang ini dan satukan dengan yang lain.
"Siap Tuan!"
Dev mengangkat tubuh Savira yang tak berdaya, lalu membawanya pergi.
"Ceklek!
Dev membaringkan tubuh Savira di atas ranjang. "Mbak Sari, tolong bersihkan tubuh Savira dan ganti pakaiannya." perintah Dev, pada salah satu pembantu kelurga Reno.
"Baik Tuan Dev!
Setelah mengusap lembut kepala Savira, Dev keluar dari kamar dan menuju teras. Keadaan di teras sangatlah kacau, banyak mayat-mayat tergeletak di lantai, bau amis begitu menyengat membuat orang merinding melihat kejadian yang sangat tragis. Setelah Dev memotret keadaan mansion untuk bukti pada Dev, ia perintahkan pada orang-orang bawahan Reno. untuk membereskan keadaan di mansion.
"Mengerti!"
"Mau kita apakan mayat-mayat ini Tuan."
"Bawa kelahan milik Tuan Reno. Kuburkan mereka di tempat itu dengan layak."
"Baik Tuan!"
Setelah memberikan perintah, Dev kembali masuk kedalam mansion, ia berniat untuk membersihkan diri, lalu menceritakan semuanya pada Vano.
"Tuan!
Dev menghentikan langkahnya "Ada apa Mbak!"
"Saya sudah bersihkan Non Vira, tapi..."
Dev mengeryitkan alisnya "Tapi apa Mbak.."
__ADS_1
"Tadi Non Vira terbangun dan berteriak-teriak sambil menangis."
Dev langsung berlari dan masuk kedalam kamar Savira.
"Savira!" Dev mengedarkan pandangannya
"Dimana Savira Mbak?! tanya Dev pada Mbak Sari yang mengekor Dev kekamar Savira.
"Tadi Non Vira ada disini."
"TIIDAAKKK!!!!!! teriak Savira dari dalam kamar mandi.
"PRANKK!
"PRANKK!
"SAVIRA!! teriak Dev saraya membuka handle pintu kamar mandi, namun pintunya terkunci.
"KREKK! KREKK! KREKK! Dev terus memutar handle pintu agar bisa terbuka "Savira buka pintunya! seru Dev khawatir.
"PERGIIIII! AKU SUDAH KOTOR!!! teriak Savira dari dalam kamar mandi bersama suara tangisan dan jeritan yang menyayat.
"Tidak Savira! kau masih suci, kau belum ternoda! Ayo buka pintunya!" bujuk Dev.
"Lebih baik aku mati!!! aku akan menyusul Ayah dan ibuku! huhuhuh....
"Savira, jangan nekad! dengarkan kak Dev. kau masih suci kau belum di apa-apakan oleh mereka, percaya sama kak Dev!
"Tubuh ku sudah kotor, mereka sudah meraba-rabanya, aku tak berharga lagi...' hiks.. hiks.. "Jangan halangi aku untuk mati!!
"Savira kakak mohon, kau jangan nekad. ingat mommy Delena dan Daddy Reno. Kak Vano, Kak Vana dan Zidan. Mereka semua sangat menyayangimu!
Didalam kamar mandi Savira terus menangis terisak dengan tubuh gemetar. ia berdiri didepan cermin dan menatap wajahnya sendiri yang sudah berantakan. Dengan tangan gemetar Savira mengambil pecahan kaca yang berantakan di atas wastafel. Savira yang lugu dan polos merasa dirinya sudah kotor dan tak berharga lagi.
"Ibu.. Ayah.. aku akan menemani kalian di alam sana!" Savira mengangkat tangannya dan menghujamkan pecahan kaca itu ke perutnya.
"BRAKK!
"SAVIRA....!!!!! teriak Dev.
💜💜💜
__ADS_1
@Bila kalian suka dengan karya Bunda, Ayo jangan pelit-pelit untuk VOTE/GIFT, LIKE DAN KOMENTAR.🥰🥰
Follow IG Bunda. @bunda.eny_76