
"Dia berada di kamarnya."
"Cepat kau lindungi Savira! jangan sampai semua adikku dalam bahaya!" pekik Vano.
"Baik, aku akan turun kebawah!"
ponsel pun terputus.
"Ya Tuhan! kenapa semua bisa terjadi bersamaan, apa semua ini sudah terencana?! Vano mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa sebaiknya aku kembali lagi ke mansion. Keadaan disana sangat genting." Vano terus berpikir dan mencari jalan keluarnya, sungguh ia tidak tenang. "Tapi bagaimana dengan Vana? apakah ia akan baik-baik saja bila aku tidak mencarinya sekarang? posisi ku hampir sampai dekat lokasinya."
"Huft! vano meniup kuat, beban di pundaknya seakan berat "Ya Tuhan beri aku petunjuk! ucapnya pasrah. "Aku harus kembali, keadaan di mansion lebih darurat. Aku takut Dev tidak bisa menangani semuanya.
Mobil Vano mulai memutar dan berbalik arah meninggalkan area perbatasan kota. ia terus melaju dengan kecepatan tinggi dan fokus menyetir. Mata Vano menatap sebuah sinyal yang berkedip-kedip di ujung ponselnya. ia mulai mengurangi kecepatan dan mengambil ponsel di atas dashboard.
"Vana! pekik nya dan Vano menggeser tombol berwarna hijau.
"Hallo Dek, kau dimana?!"
"Cepat kemari kak, aku dalam bahaya" suara itu terdengar pelan dan setengah berbisik.
"Dek!
"Hallo Dek!
Telpon pun langsung terputus. Vano terlihat kesal dan khawatir "Apa tadi dia bilang? dalam bahaya?!" Seketika Vano memutar balik mobilnya kembali dan melaju dengan kecepatan tak biasanya. satu tangan Vano memegang setir, satunya lagi menggenggam ponsel dan mulai menghubungi balik sang adik.
"Kenapa ponselnya malah tidak aktif? atau jangan-jangan, Vana benar-benar dalam masalah besar!" Vano terlihat gusar, dari pori-pori kulitnya keluar keringat dingin.
Insting saudara kembar tidak akan pernah salah. Sejak tadi Vano sangat gelisah dan terus memikirkan kedua adiknya. Ia mulai paham kenapa Vana mematikan ponselnya, agar Vano tidak menghubunginya, sebab Vana dalam bahaya.
Mobil mulai memasuki jalan becek dan berlumpur. Hujan semalam masih meninggalkan sisa-sisanya di jalanan tanah merah dan berbatu. Udara malam itu sangatlah dingin, pepohonan rindang bergoyang kesana-kemari di terpa angin yang berhembus kencang. Vano menepikan mobilnya di sisi jalan yang becek. Malam itu tampak gelap gulita, hanya beberapa lampu penerang jalan yang terlihat redup bertengger di atas pohon.
Vano menyalakan lampu ponsel dan mengecek GPS yang tersambung dari ponselnya "Benar, disini lokasinya. Tapi berada dimana Vana? tempat ini sangat sepi dan senyap. Tidak ada satupun manusia yang lewat." gumamnya bicara sendiri.
"Huft, Sial! sinyalnya tiba-tiba hilang! pekiknya kesal "Bagaimana aku bisa mencari keberadaan Vana bila sinyalnya tidak ada." Tidak! aku pasti bisa mencari kedua adikku." ucapnya yakin, di sela langkahnya berjalan kearah timur.
Dengan instingnya Vano terus berjalan, meninggalkan jejak sepatu pantofel yang sudah terkena tanah becek.
__ADS_1
***
"Katakan dimana kau simpan flashdisk itu?! Pria bertubuh kekar itu berjalan mendekati Vana yang masih berdiri mematung, melihat pria itu berjalan semakin mendekat, Vana memundurkan langkahnya kebelakang.
"Sepertinya kau cari mati ya!" bentak pria itu yang melihat Vana tidak mau berterus terang.
"Aku tidak tahu flashdisk itu! teriak Vana, masih memundurkan langkahnya "Mau seratus kali kalian bertanya pun aku tidak tahu!"
"Kau jangan main-main, Kami bukan orang bodoh!" gertak pria itu emosi, terdengar suara gemeretak giginya beradu.
"Lebih baik habisi saja wanita itu, kita tidak ada waktu untuk bermain-main lagi!" teriak temannya.
Dua pria itu saling bersitatap dan mengangguk, seketika mereka mengeluarkan pedang dari belakang punggungnya. Dua pria itu menyerang Vana secepat kilat, untung Vana sudah memasang kuda-kuda dan sigap, Benar saja mereka langsung menyerang Vana yang tanpa menggunakan senjata. Vana melompat dengan gerakan ringan saat pedang itu Ingin menebas lehernya. Lompatan demi lompatan dari satu pohon ke pohon lainnya membuat dua Pria itu terkecoh. Vana yang memiliki gerakan seribu bayangan mampu menendang pria itu hingga terpelanting ke tanah tanpa tersentuh olehnya. Satu lagi pria berpakaian serba hitam itu menyerang Vana dengan membabi-buta. Tubuh Vana memutar dan melayang, lalu menendang dada pria itu, hingga darah segar mengucur deras dari mulutnya.
"Hueeekkk....."
Berkali-kali pria itu memuntahkan darahnya, ia memegangi dadanya yang terasa sesak dan nyeri, sedetik kemudian ia ambruk ke tanah.
"Bangs*t! beraninya kau bunuh tim anggota ku!" pekiknya dan pria satunya langsing bangkit.
Vana yang masih berdiri menatap kedua pria itu, tidak menyadari kedatangan seseorang secara tiba-tiba. Seorang berpakaian serba hitam melempar bubuk putih kearah mata Vana dengan kecepatan kilat saat melayang dari atas pohon.
***
Dev berlari menuruni anak tangga menuju kamar Savira. Ia lupa menggunakan lift, Sebab panik dan takut Savira kenapa-napa. Dengan siaga Vano mengeluarkan pistolnya dan memasukkan beberapa butir peluru.
Suara tembakan dan ledakan di luar mansion terdengar kuat. Keberadaan mansion Reno memang tidak berdekatan dengan rumah penduduk. posisi rumahnya seperti villa yang jauh dari keramaian. Reno memang sangat tertutup dan tidak ingin terusik, namun ia sangat dermawan pada warga sekitar. Hampir satu kompleks yang luas tanahnya ribuan hektaran adalah milik Reno. Bila ingin datang ke mansion, menempuh perjalanan dua kilometer dari depan gapura kompleks kedalam rumahnya. Bisa di bayangkan sebesar apa istana Reno. Suara tembakan tidak akan terdengar kerumah penduduk.
Dev sudah berdiri didepan kamar Savira, dengan perasaan gusar ia membuka handle pintu "Savira! panggilnya. Dev mengedarkan pandangannya, namun tidak melihat sosok Safira berada di dalam kamar.
"Savira...!
Dev masuk ke dalam kamar dan mencari kedalam kamar mandi "kemana Safira? Kenapa ia tidak berada di dalam kamar."
Dev terlihat gusar dan tidak tenang. Keadaan semakin menegangkan, ia berlari dan memasuki satu persatu kamar dan beberapa ruangan yang berada di lantai bawah.
"Sial! kemana Safira?! kenapa ia malah menghilang!" Dev mendengus kesel, ia terus berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan dengan taman belakang.
"BRAKK!
__ADS_1
Suara pintu di tendang. Dev terkejut dan menodongkan pistolnya kearah seorang pria yang baru saja masuk.
"jangan bergerak! siapa kau!"
"Mas Dev tunggu, jangan tembak! pekik pria itu ketakutan.
Dev menautkan alisnya "Kau siapa?!
"Saya Yanto! supir pribadi keluarga tuan Reno. pria itu membuka maskernya.
Dev menarik nafas dalam, ia sedikit lega. "Kenapa kau dobrak pintu itu!"
"Maaf Mas, di luar keadaan semakin kacau. Beberapa bodyguard ada yang mati dan tukang kebun juga di serang." pak Yanto bergidik ngeri "Aku saja syok menyaksikan Kodir mati di tebas lehernya. Tolong selamatkan kami mas, sungguh kami semua ketakutan."
Dev menutup matanya seraya membuang nafas kasar. "Kau tenang saja, aku akan melindungi kalian. Dimana pekerja lainnya?!
"Mereka bersembunyi di dalam paviliun. Mereka tidak ada yang berani keluar dan menutup rapat pintu."
"Bagus! semoga mereka semua selamat. kau bisa bantu aku mencari Savira?"
"Nona Savira..?!
"Iya, apa kau melihatnya?"
Pak Yanto menggeleng lemah "Maaf mas, saya tidak melihatnya."
"Ya sudah saya mau mencarinya di sekitar taman. kau tetap lah disini."
Yanto mengangguk, lalu Dev berjalan keluar melalui pintu belakang dengan mengendap, ia hanya mengandalkan pistol dan kemampuan bela diri yang di ajarkan Vano. Walau tidak sehebat Vano, namun Dev memiliki ilmu bela diri yang lumayan.
"DORR!
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan seseorang jatuh tersungkur di depan Dev.
💜💜💜
@Jangan lupa @follow IG @bunda.eny_76
@Brsambung....
__ADS_1