Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Sikap Dingin Savira


__ADS_3

Vano menoel hidung mancung Bella "Tentu saja, karena kau sudah merubah dunia ku! Ayo cepet kita makan."


Hati Bella menghangat. kini ia sudah berada di sisi pria yang sangat ia cintai. Pria dingin, cuek dan terkesan angkuh. Namun perjuangannya selama delapan tahun tidaklah sia-sia.


Selesai menikmati makan berdua. Vano mengantarkan Bella ke apartemen yang sudah ia beli melalui ibunya yang tinggal di Jakarta.


Bella membuka akses untuk bisa masuk kedalam Apartemen. Setelah pintu di buka, Pak supir memasukkan koper dan barang-barang Bella kedalam.


"Van, apa ingin ku buatkan kopi?"


"Tidak usah Bell, aku harus segera pulang. Mommy sejak tadi telpon terus. Sebenarnya lagi ada acara kelulusan Savira di rumah."


"Hmm.. ternyata kekasihku masih anak Mommy!" canda Bella Shofie, terkekeh.


"Mommy adalah wanita nomor satu dalam hidupku sayang.." menarik pinggang Bella agar lebih mendekat "Jangan cemburu dengan wanita yang sudah menghadirkan ku ke-dunia ini, Oke...?! menjawil hidung bangir Bella.


Bella tersenyum lembut "Tidak ada yang bisa merubah keputusanmu untuk mencintai seorang ibu. Aku pun terlahir dari rahim wanita bergelar seorang ibu! percayalah aku tidak akan pernah cemburu dengan Mommy mu, karena Mommy Delena ibuku juga, beliau sangat baik dan sayang padaku. Aku akan cemburu bila ada wanita lain di hatimu!" Bella menunjuk dada Vano.


Vano meraih jemari Bella dan mengecupnya. "Terima kasih sayang atas pengertiannya. Ya sudah aku pulang ya."


"Tunggu! tadi kau bilang ada acara kelulusan Savira?"


"Iya, Mommy hanya buat syukuran berkumpul bareng keluarga dan kerabat dekat."


"Mommy Delena sangat baik dan menyayangi Savira, walau ia bukan anak kandungnya."


"Karena Savira anak yatim-piatu. Semua kelurga sangat menyayanginya dan ingin membuat Savira bahagia. Savira pun tidak akan pernah merasakan kehilangan sosok Keluarga."


"Kau benar Van, kita harus menyayangi Savira. Aku pun menyukainya. Dia gadis yang cantik, sopan dan berprestasi. Salam kan dari aku buat Savira."


"Akan aku sampaikan! Vano melepas pinggang Bella dan berpamitan. Sebelum Vano keluar dari pintu, Bella berseru.


"Vano tunggu!"


Vano menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya "Ada apa Bell!"


"Kau melupakan sesuatu sebelum pergi!"


Vano menautkan kedua alisnya, ia masih bingung dengan perkataan Bella. Atensinya melihat telunjuk Bella berhenti di dahinya sambil tersipu malu-malu. Vana paham maksud Bella, ia berjalan mendekat dan mendaratkan kecupan lembut di kening Bella. "Sudah kan. Aku pulang dulu ya. jaga dirimu baik-baik."


"Cup!

__ADS_1


Bella berjinjit dan mencium pipi Vano yang tubuhnya lebih tinggi darinya. Vano terkekeh seraya mengacak rambut Bella.


Tanpa beban Vano melangkah meninggalkan apartemen Bella. Pak Sukry supir pribadi kantor mengantarkan Vano sampai mansion.


Malam itu pukul sepuluh. Acara sudah usai, hanya beberapa maid yang masih sibuk berbenah di area taman. Vano melangkah masuk kedalam ruangan. Keadaan sudah sepi, tidak ada seorangpun di sana. Vana berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, lalu mengambil botol air dan menuangkan kedalam gelas. usia satu gelas tandas di minum. Vano berjalan kearah lift, Namun atensinya kearah pintu kaca yang terbuka. Ia melihat Savira baru masuk kedalam dari arah taman.


"Vira....!


Savira terkejut dan menoleh kearah sumber suara itu, ia melihat Vano berjalan mendekat.


"Acaranya sudah selesai?! tanyanya basa-basi.


"Sudah dari tadi kak!"


"Maaf ya, tadi kak Vano tidak bisa mengikuti acaranya."


Savira terkadang tak mengerti dengan sikap Vano yang berubah-ubah. Biasanya ia akan cuek dan tidak mau bicara dengannya. Tapi sekarang sikapnya biasa saja seakan tak pernah terjadi apa-apa. Padahal Savira sudah berusaha menghindar dan tidak peduli lagi dengan sikapnya yang terkesan dingin.


"Tidak perlu minta Ma'af kak! saya maklum kak Vano orang sibuk! sebuah senyuman misterius tersungging di bibir pink Savira.


Mereka sama-sama terdiam, hingga mata Vano mengikuti arah tangan Savira yang berhenti di sebuah cincin batu merah delima, dengan lembut jemari Bella mengusap batu itu.


"Ekhem!


Deheman Vira membuyarkan lamunan Vano. Vira tahu Vano sedang memperhatikan cincin pemberian Dev! Savira mengakat wajahnya dan berkata.


"Terima kasih atas hadiah yang kakak berikan walau melalui kak Dev!


"Semoga kau menyukainya." ucap Vano datar.


Kini mereka bagai dua orang asing yang sama-sama canggung dan baru mengenal. Tidak ada lagi Savira yang manja, Savira yang periang, Savira yang tersenyum manis setiap kehadiran Vano. Semuanya hilang bagai ditelan gelombang air yang terhempas jauh.


"Ada apa dengan diriku, kenapa hatiku begitu sakit melihat sikap Vira yang dingin. Bukankah ini yang aku mau? menjauhi dirinya demi Bella." batinnya berkata lirih.


Savira tersenyum pahit "Tentu saja saya suka, semua barang pemberian kak Vano saya koleksi di tempat yang seharusnya. Jadi kakak tidak usah khawatir, aku sangat menghargai pemberian orang lain!"


"Deg! jantung Vano berdenyut nyeri.


"Orang lain dia bilang? jadi selama ini ia tidak pernah menganggap aku sebagai seorang kakak?! kenapa sikapmu berubah jadi arogan Vir! batinnya mencabik.


"Ini sudah malam, Pasti kakak lelah. Lebih baik kak Vano istirahat saja. Aku juga sudah mengantuk mau istirahat dulu." Savira memaksakan senyuman termanisnya, walau hatinya berdenyut-denyut merasakan sakit tapi tak berdarah.

__ADS_1


"Saya permisi dulu kak! Savira memakai imbuhan 'Saya"' bukan lagi namanya. Sangat terlihat jelas ia pun mulai menganggap Vano adalah orang asing. Vano menatap nanar kepergian Savira hingga menghilang di balik pintu. Vano menghempaskan nafas kasar sambil bergumam "Semoga tidak ada yang tersisa di hatiku lagi!" gumam Vano, lalu ia berjalan menuju lift.


________


Sementara di tempat lain. Seorang gadis cantik berfostur tubuh sintal dengan rambut pirang menjuntai hingga sepinggang. Tangannya membuka handle pintu dan masuk kedalam ruangan kerja sang kakak.


Ceklek!


"Kak Matth! sapa gadis cantik bermata biru.


"Hay Tiff! kemari lah..!


Tiffany menoleh pada pria tampan bermata sama dengan dirinya yang duduk berhadapan dengan Matthew.


"Kau sudah mengenal pria ini bukan? tanya Matthew, Tiffany mengangguk sebagai respon. ia sudah mengenalnya hanya sepintas saja, saat baru pertama kali datang ke Indonesia.


"Duduklah disini!" Matthew menepuk sofa di sampingnya. Lalu berkata lagi "Pria ini bernama Nathan. Dia masih keturunan dari Daddy kita Thomas."


"Jadi maksud kakak, dia anak Daddy juga!


"Tepatnya seperti itu, walau Nathan terlahir dari wanita selingkuhan Daddy!"


"Tutup mulutmu Matthew! gertak Nathan dengan gigi gemeretak. "Mama ku menikah dengan Ayah ku secara hukum agama, walau tidak terdaftar di negara!" bantah Nathan membela wanita yang telah melahirkannya.


Matthew tergelak "Kenapa kau mesti malu mengakuinya, kalau kau terlahir dari seorang wanita penghibur dan penyanyi Club'malam di Bar Daddy ku!


"BRAKK!


Nathan menggeprak meja didepannya. "Jangan pernah sekalipun kau hina ibuku! bentaknya dengan tatapan tajam kearah Matthew.


💜💜💜


Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..


"AKU BUKAN CINDERELLA"


Sudah rilis 7 bab.. yuk ikuti kisahnya yang mengharu biru dan mengandung bawang. Jangan sampai ketinggalan kisahnya.


__ADS_1


__ADS_2