
Sabrina menarik nafas dalam, lalu dihembuskan kasar "Oke, aku bersama Steve!"
Steve yang sedang merapikan laptop kedalam ransel, mengangkat wajahnya, ia tersenyum bahagia "Akhirnya bisa berdua." batinnya terkekeh.
"Okay! sekarang kita berpencar. Aku arah barat, Steve dan Sabrin arah timur." Mereka berdua mengangguk dan mulai melangkah terpisah. Steve dan Sabrina berpisah dari Reno juga empat orang bodyguard. Mereka mulai melangkah arah berlawanan.
Saat beberapa langkah berjalan, Reno menoleh ke belakang.
"Sabrina!
Wanita itu berhenti dan menengok kesamping setelah berjalan beberapa jarak. "Jaga dirimu, hati-hati di jalan. Bekerja sama lah dengan Steve!" tukas Reno sebelum ia benar-benar pergi terpisah.
"Kau tidak perlu khawatirkan diriku. Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan!"
"Baiklah aku percaya padamu!"
"Steve! jagalah Nona Sabrina."
Pria itu menoleh kearah wanita yang berada di depan nya, seulas senyuman terbit di bibir Steve. "Tentu saja aku akan menjaganya dengan baik, Tuan."
Sabrina melebarkan matanya seraya mencabik, lalu melangkah lebih dulu meninggalkan mereka yang masih berbicara.
"Hey tunggu Nona!" Seru Steve, ia lari begitu saja tanpa pamitan dengan Reno. Pria maskulin itu hanya gelengkan kepala.
"Ayo kita berangkat! perintah Reno pada empat bodyguard nya, yang terlihat sangat tangguh dengan postur tubuh tinggi kekar.
"Nona Sabrina! pekik Steve berlari dengan nafas tersengal kearah wanita yang terus berjalan di depannya.
"Berhentilah, Apa kau ingin kena jebakan mereka? Cetus Steve "Berhati-hati lah, kita sudah melangkah jauh kedalam."
Sabrina berhenti mendadak dan menoleh kebelakang, menoleh kearah Steve yang bersadar di pohon besar.
"kau yang seharusnya berhati-hati, dasar bodoh! cetus Sabrina kesal.
Steve membelalakkan matanya, menatap tajam kearah Sabrina "Kau jadi wanita sangat bar-bar sekali! bisa tidak bicara dengan lembut." tukasnya kesal, saat Steve Ingin beranjak dari pohon, Sabrina menahan nya.
"Jangan bergerak! pekik Sabrina melotot kearah Steve. Steve mengerutkan alisnya dan terlihat bingung dengan tarikan wanita dingin di depannya.
"Apa maksud mu?!
"Aku bilang diam, ya diam! kau ingin mati, lihat diatas kepalamu ada seekor ular!"
Deg!
Steve melebarnya mata, ia mendongakkan kepalanya keatas dan terkejut saat melihat kepala ular sudah menjulur kearahnya siap mematuk kepala Steve. Tubuh Steve gemetar, bahkan ia sangat sulit untuk menelan salivanya.
"Sa-b-rin, Please...." ucapnya tercekat bersama nafas yang turun naik. Terlihat Steve begitu ketakutan dan bercucuran keringat jagung.
__ADS_1
Sabrina mengeluarkan sebuah belati lipat dari saku celananya, yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
"Diam Lah Jangan bergerak! bergerak sedikit saja ular itu akan mematok kepala mu, ular itu sangat berbahaya dan memiliki racun yang mematikan!'
Seketika tubuh Steve menegang setelah mendengar ucapan Sabrina. wanita tangguh itu terlihat mencari celah untuk bisa membinasakan ular tersebut.
dengan gerakan cepat tangan Sabrina melempar belati tajam itu ke arah ular yang berada di atas kepala Steve. Sangat tepat sasaran, ular itu terpisah dari kepala dan buntutnya. Steve memejamkan matanya saat ular itu tiba-tiba jatuh keatas kepalanya. ia langsung luruh kebawah dan berakhir di tanah. Melihat ada darah di wajahnya, Steve terpekik dan melempar badan ular yang sudah mati ke semak-semak.
"Cepat bersihkan wajahmu bekas darah ular itu!" Steve mengangguk dan mengambil air putih kemasan dalam tas ranselnya yang sudah ia bawa untuk persediaan. Lalu Steve mencuci wajahnya dengan air tersebut.
"Apa kau tidak ingin minum?!
"Kau minum saja, sepertinya kau lebih membutuhkan daripada aku! ucapnya dingin.
"Ayok cepetlah, kita harus secepatnya sampai lokasi itu!"
Steve mendengus kesel seraya meneguk air dalam botol. ia beranjak dari duduknya dan mulai mengikuti langkah Sabrina. "Terima kasih! ucap Steve yang berjalan dibelakang punggung Sabrina
"Untuk apa?!
"Kau menyelamatkan nyawa ku tadi!"
"Tidak perlu berterima kasih, hal seperti itu sudah biasa terjadi."
"Terserah kau saja lah, dasar wanita sombong! pekik Steve. Sabrina hentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, menatap pria jangkung yang hampir sama tingginya, Sabrina mengepalkan tinju kedepan Steve. Steve hanya cengengesan.
"Tunggu!"
"Jangan lewat jalan sana. Ada jebakan di bawah dedaunan itu! Reno seperti sudah mengetahui jalanan itu adalah sebuah jebakan. ia mengambil ranting pohon besar dan melemparnya kerah jalanan yang di penuhi dedaunan kering. Seketika semua terkejut, jalanan itu longsor dan permukaan tanah yang tertutup dedaunan amblas kebawah. Reno menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan.
"Hampir saja kita melewati jalan itu!
"Ayo kita putar balik arah, jalanan ini sudah tak nyaman!" perintah Reno pada keempat bodyguard nya. Mereka mengangguk dan mengikuti arahan Tuannya.
Jam sudah menunjukkan pukul Tiga dinihari, itu berarti mereka sudah menempuh perjalanan satu jam, namun sebuah vila yang di maksud belumlah nampak.
"Ayo kita bergerak lebih cepat lagi." mereka terus berjalan, tiba-tiba seorang bodyguard terpekik saat kakinya menginjak sesuatu.
"Aaawwww....!!!!
Mereka semua menoleh kearah Pria itu dan melihat kakinya sudah berdarah-darah. Mereka semua berlari kearah Pria bernama Johan.
"Kaki loh kenapa Jo?!
Reno mendekat dan melihat ada besi bergerigi menancap ke kaki pria itu. Erangan kesakitan membuat Pria itu tak mampu menopang tubuhnya. Reno berusaha menarik gerigi besi itu dari kaki Johan dan di bantu yang lainnya. Akhirnya benda tajam itu berhasil terlepas dari kaki Johan.
"Kenapa kau tidak berhati-hati. Sudah aku peringatkan disini banyak jebakan."
__ADS_1
"Tuan, sepertinya Johan tidak dapat berjalan, Lihat lukanya sangat parah, tidak memungkinkan bisa naik keatas."
Reno mengangguk "Baiklah, kau jaga Johan disini. untuk turun kebawah sangat sulit. Kau hubungi yang lain agar bisa sampai lokasi."
"Apa kau memegang senjata?!
"Ada Tuan!"
"Oke! aku, Yono dan Panji naik keatas."
Setelah sepakat, Reno dan dua orang pria itu meneruskan perjalanan nya naik keatas perbukitan yang tinggi dan terjal. Setengah jam telah berlalu, mereka bertiga melihat sebuah bangunan tua berbentuk rumah Eropa. Steve mengatakan tempat itu adalah sebuah villa yang tidak terawat. Rumah besar yang kokoh dan menjulang terlihat sangat angker. Bangunan tua itu banyak yang sudah rusak, cat tembok nya pun sudah memudar. penerangan lampu tempel hanya ada di beberapa yang di pasang di dinding.
"Sepertinya disini lokasinya. coba kau lihat petunjuk nya."
"Bentar Tuan! pria bernama Panji membuka sebuah kertas putih dan membuka lipatan kertas itu "Disini tertulis Villa Van Java."
"Iya, benar ini lokasinya. Disini ada tulisan diatas kayu yang sudah lapuk, tertulis "Villa Van Java." tukas Yono yang mengeja tulisan yang hampir memudar.
"Tapi kenapa tempat ini terlihat sepi? tanya Reno ragu. villa itu tidak ada penjagaan sama sekali, hanya ada lampu tempel di dinding."
"Siapa tahu mereka sedang berada di dalam villa atau tidak tahu kehadiran kita." Yono berkata dengan penuh keyakinan.
Reno bernafas lega "Zidane, sebentar lagi kita akan bertemu. Semoga kau dalam keadaan baik-baik saja, Nak." batinnya menjerit, hatinya berdenyut nyeri saat kehilangan anak bungsunya. ia tidak mengira Zidane akan mendapat incaran dari musuh-musuh Reno yang belum tahu motif sebenarnya. Reno mengepalkan kedua tangannya kuat dan berjanji akan menghabisi siapa saja yang telah berani menculik Zidane dan telah membuat anak-anaknya terluka dan berakhir di rumah sakit.
"Sekarang kita harus bergerak kemana Tuan? tanya Panji yang sudah siap bertarung dengan pistol di tangannya.
"Kita tunggu Steve dan Sabrina."
Beberapa menit kemudian "Ahh! Reno mendesah "kenapa mereka berdua lama sekal sampaii!
"Hoaammm..."
"Kenapa tiba-tiba mataku mengantuk! tukas Yono, ia tidak dapat menahan kantuknya.
"Aku juga kenapa jadi ikut mengantuk"
Tiba-tiba mereka berdua ambruk jatuh ketanah. Reno yang sedang mencari sinyal untuk menghubungi Steve dan Sabrina tidak mengetahui dua bodyguard nya sudah terkapar.
Saat Reno menoleh, sebuah benda tumpul menghantam kepalanya. Seketika Reno memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Matanya berkunang-kunang dan menjadi gelap, akhirnya Reno terjatuh ketanah.
💜💜💜💜
@Jangan lupa ya BESTie, terus dukung karya Bunda dengan cara.. LIKE, VOTE/GIFT, RATE BINTANG 5 DAN KOMENTAR KALIAN 🥰
JUGA FOLLOW IG DAN TIKTOK BUNDA YA BESTIE 🥰🥰🥰
@Bersambung.......
__ADS_1