
Mobil sedan berwarna hitam melintasi jalanan raya kota Berlin dengan kecepatan tinggi menuju sebuah hospital. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Pria tinggi tegap itu berjalan dengan langkah panjang, satu tangannya masih menaruh benda pipih di telinganya, suara panik di ujung telepon membuat pria itu tidak bisa konsentrasi. Kini ia baru menyadari begitu banyak masalah beruntun dalam keluarga nya. Pria itu memasuki sebuah lift dan berhenti di lantai 4, lalu masuk kedalam ruangan nomor 509.
JEGLEK!
"Sayang...."
"Mas..." Delena menoleh kearah pintu yang terbuka.
"Reno.." Andini mengusap sisa airmatanya.
Reno berjalan mendekat dan melihat dua sosok wanita yang sangat ia sayangi sedang terisak.
"Ada apa dengan Papa, mah?! Reno memeluk sang Mama
"Tolong Papa mu Nak! hiks.. hiks..
"Mama tenang kan dulu. Sebenarnya ada apa? bukankah Papa baik-baik saja sebelum aku pergi."
Andini menggeleng lemah, dengan suara bergetar ia menatap sang anak "Ginjal Papa harus diangkat, transfusi darah yang di lakukan setiap minggunya sudah tidak bisa lagi masuk kedalam tubuh Papa mu nak, kedua ginjalnya sudah rusak. Papa mu membutuhkan pendonor ginjal dan harus hari ini di lakukan operasi nya. Bila tidak...." Andini menjedah ucapannya dan menangis kembali kedalam dekapan anak kesayangan nya."
"Sekarang dimana Papa?"
"Di bawa kerungan isolasi, sejak kepergian mu tadi, Papa tidak sadarkan diri."
Reno terdiam, begitu banyak beban yang harus ia pikul. pikirannya terus melayang pada anak-anaknya, sementara Ramon adalah sosok Ayah yang baik dan bertanggung jawab, pria blasteran itu yang sudah membesarkan dan mendidik Reno menjadi orang hebat. Ia tidak mungkin meninggal kan sang Ayah dalam keadaan sakit parah yang Kapan pun akan merenggut nyawanya.
"Mas! Delena membuyarkan lamunan sang suami yang hanya terdiam dengan wajah tegang dan mata berembun.
"Mama yang sabar ya, aku akan cari selusi nya. Reno akan temui Dokter Jhon."
Reno mengurai pelukan sang Mama dan bergantian menarik Delena dalam pelukannya. Ada luka dalam hatinya. Rasanya ia tak tega bila harus berterus-terang pada Andini dan Delena, bagaimana kondisi anak-anaknya di Indonesia yang sedang mendapatkan masalah. Ya Reno sudah mendapatkan info dari orang-orang di Jakarta, kalau ada penyerangan di mansion. Dan berita yang tak kalah menyakitkan, Zidan telah di culik. Sungguh perasaan Reno campur aduk sekarang. Dadanya bergemuruh saat mendengar penculikan anak bungsunya, Ingin rasanya ia pergi hari ini juga, Namun saat mendapat telpon dari sang Mama, kalau sang Ayah Koleos lagi, Reno hanya bisa menaruh harapan besar pada anak kembarnya agar bisa menemukan Zidan.
Sebenarnya tidak banyak yang Reno tahu tentang keadaan si kembar dan Savira. Semua Bodyguard harus tutup mulut dengan keadaan Savira, Vano dan Vana atas perintah Dev. Sebab Dev tak ingin Reno dan Delena merasa bersalah telah meninggalkan anak-anaknya demi mengurus sang Papa yang sakit di Jerman.
~Dua puluh menit sebelumnya.
Selesai meditasi, Reno mengambil ponsel dan mulai menghubungi orang-orangnya di Jakarta. Kini Reno baru mengetahui kalau anak-anaknya sedang dalam masalah melalui ilmu batin yang ia miliki.
"Hallo Tuan!
"Gimana keadaan di mansion, Jack! suara dingin itu terdengar menakutkan.
"A__anu tu-an..
__ADS_1
"Cepat katakan! bentak Reno, pria bernama Jack adalah orang kepercayaan Reno, ia terdengar gugup saat menjawab pertanyaan Tuan nya.
"Mansion di serbu oleh orang-orang berpakaian hitam seperti ninja!
Reno menautkan kedua alisnya "Bagaimana bisa? bukankah sistem keamanan mansion sangat terjaga!"
"Entahlah Tuan, tapi mereka bisa membobol sistem dan pertahanan mansion."
"Lalu bagaimana dengan Vano, Vana, Zidan dan Savira?!
pria yang sedang menerima telpon itu terdiam, rasanya dia bingung harus berkata apa? sedangkan Dev sudah memperingatinya agar tidak berterus-terang dulu. Namun Jack juga tak ingin mendapat amarah dari sang majikan.
"Zidane menghilang setelah kepergian tuan ke bandara." Akhirnya jack menceritakan kronologi semuanya, dari menghilangnya Zidan. Vana yang tiba-tiba pergi meninggalkan mansion dan Vano pergi mencari sang adik.
Mata Reno memerah, seperti ada amarah yang mendalam. ia menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdebar cepat, dan tangannya mengepal kuat. "Aku akan berangkat sekarang!" serunya seraya mematikan ponsel.
Selesai Reno menutup teleponnya tiba-tiba ponselnya berdering kembali dan ia melihat panggilan dari sang Mama.
"Iya mah!"
"Reno kau berada di mana?
"Aku berada di Villa?
"Baik mah! aku akan segera kembali."
Gegas Reno mematikan ponselnya dan berlari dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir di halaman Villa.
flash back off
JEGLEK!
Masuk seorang Dokter paruh baya dengan wajah sendu.
"Tuan Reno.."
Reno melepas pelukan sang istri dan menoleh pada Dokter yang baru saja masuk kedalam ruangan khusus.
"Bagaimana keadaan papa? tanya Reno dengan raut wajah gusar.
Dokter Jhon mendesah panjang dan menatap wajah Reno "Kondisi Tuan Ramon semakin menurun, harapannya hanya tinggal 15%, bila tidak ada penanganan secepatnya ia tidak akan bisa tertolong."
Deg! jantung Reno berdenyut nyeri, bagaimana bisa ia membiarkan sang Ayah pergi begitu saja, sedangkan ia masih ingin Ramon hidup normal dan berumur panjang bersama mama nya, melihat anak dan cucu-cucunya bahagia.
__ADS_1
"Reno! tolong selamatkan Papa mu nak! jerit Andini menangis histeris "Mama belum bisa kehilangan Papa mu! banyak keinginan papa yang belum terwujud, tolong Reno selamat kan Papa kandung mu."
Reno bergeming, ia menatap sang Mama dengan mata berkaca-kaca, hingga genangan hangat itu lolos dari sudut matanya. Reno yang tidak pernah menangis, akhirnya luluh juga. Pria kejam yang di juluki Macan Asia itu tidak pernah meneteskan airmata, kecuali untuk sang istri dan Mama nya yang telah menghadirkan ke-dunia ini. Reno tidak akan bisa menolak keinginan sang Mama yang sudah bertaruh nyawa untuk nya.
"Mama yang sabar ya.." Delena memeluk sang ibu mertua agar tidak semakin histeris.
Reno menggenggam tangan sang Mama dan mengusap airmatanya "Mama jangan menangis lagi, aku janji akan kembalikan keadaan Papa seperti semula, semampu yang aku bisa. Tapi, Reno juga tidak sanggup mendahului Allah. Akan Reno lakukan apapun demi kesembuhan papa."
Reno menoleh kembali pada Dokter Jhon.
"Apa sudah ada pendonor lain?
Dokter Jhon menggeleng "Tidak ada yang cocok!
"Apa yang harus aku lakukan agar Papaku bisa kembali sehat."
"Tuan Ramon butuh ginjal yang sehat buat pencakokkan ginjalnya yang sudah rusak. Biasanya dari keturunan nya yang bisa cocok untuk pencakokan."
"Apa Dokter yakin Papa bisa sembuh setelah ada pencangkokan ginjal."
"Seperti yang sudah-sudah, banyak pasien yang sudah berhasil dan berjalan normal, bisa sampai 60-70% kembali normal. Yang mengakibatkan Tuan Ramon Koleos, karena aliran darahnya tidak berjalan lancar karena ada kerusakan ginjal yang tidak bisa berfungsi lagi. Ginjal sangat berperan aktif untuk memompa aliran darah di tubuh kita."
Reno menarik nafas dalam-dalam, lalu menatap sang istri yang terlihat sedih. Ia tidak tega untuk menjelaskan pada Delena kalau ia harus berkorban demi sang Papa.
"Baiklah Dok, ambil ginjal ku untuk Papa." ucap Reno pelan dengan suara bergetar.
Seketika Delena terkejut dan menutup mulutnya, ia menatap tak percaya pada suaminya. sungguh Delena sangat syok dengan apa yang baru saja ia dengar. Melihat sang istri terkejut dan tidak baik-baik saja Reno menarik Delena dalam pelukannya.
"Ma'afkan aku sayang, aku harus melakukan ini demi papa." ucap Reno menelan salivanya menahan getir.
Delena menangis sesenggukan di dada bidang Reno. ia tidak pernah menyangka pengorbanan sang suami untuk Papa nya begitu besar. Hatinya sekaan teriris dan tak rela bila Reno harus kehilangan satu ginjalnya. Namun, ia bisa apa? sedangkan Ramon adalah Ayah kandung suaminya. Lalu Reno menciumi pucuk kepala sang istri.
"Sayang, sudah jangan menangis lagi." Reno mengurai pelukannya dan mengusap lembut airmata Delena yang terus berjatuhan. Delena sudah tidak dapat berkata-kata lagi, ia hanya bisa pasrah dan menerima keputusan sang suami yang sangat ia cintai.
"Ren! apa benar yang kau katakan tadi? kau ingin menyerahkan satu ginjal untuk Papa mu, Nak?" hiks...
"Iya Mah! aku harus memberikan kehidupan yang baik untuk papa, sebagai bakti ku pada Papa yang sudah memberikan aku kehidupan yang layak. Penderitaan Papah adalah penderitaanku juga. Papa berhak hidup bahagia."
Andini berhambur memeluk Reno "Terima kasih sayang, kau memang anak yang berbakti dan penyayang kelurga."
Kini dua wanita yang Reno sayangi berada dalam pelukannya. Andini menangis bahagia karena suaminya akan selamat, namun tidak dengan Delena, ia menangis haru sebab keputusan sang suami yang hanya memiliki satu ginjal.
💜💜💜
__ADS_1
@Ada yang mewek gak sii di part ini. hehehehe... jangan lupa, Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa untuk follow IG Bunda.