Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Pertemuan


__ADS_3

"Vira, Kenapa buru-buru. kita bisa ngobrol sebentar untuk melepas kangen."


Savira tersenyum lembut untuk menutupi kesedihannya "Ma'af kak Bella, aku sedang banyak kerjaan, setelah selesai aku baru bisa ngobrol."


"Baiklah, nanti kita ngobrol bareng ya."


Savira mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan campur aduk.


Setelah menutup pintu Savira bergegas menuju toilet. Karena terburu-buru tanpa sengaja ia bertubrukan dengan seseorang.


"Bukk!"


"Ma'af, saya tidak sengaja." tanpa melihat pria itu Savira buru-buru berjalan pergi dengan langkah panjang.


"Hey Nona, tunggu!" seru pria itu.


"Gadis itu sepertinya pernah aku lihat, tapi dimana..?! pria itu hanya menatap kepergian Savira hingga hilang di balik lorong.


Savira membuka kasar pintu toilet. Untung saja keadaan sedang sepi, ia dapat menumpahkan tangisannya di sana.


"Kenapa kak?! kenapa kakak tega padaku? aku tahu kakak tidak pernah mencintai ku, tapi haruskah memeluk dan mencium kening kak Bella di kantor? Savira mengusap kasar airmata yang sudah terlanjur berjatuhan di pipi mulusnya. "Kenapa aku harus melihat semua itu? aku sedang belajar untuk melupakan kak Vano. Cinta pertamaku. Bahkan dialah yang pertama kali mencium bibir ku!" Savira menyentuh bibirnya yang pernah vano cium. Airmatanya semakin berjatuhan, bila ingat semua itu hanyalah rasa sakit yang menjalar di hatinya. Savira menyalakan kran air dan membasuh wajahnya yang memerah karena tangisan.


"Tidak! Aku tidak boleh menangisi Pria yang tidak pernah mencintai ku. Aku harus kuat dan melupakan kenangan yang menyakitkan!" Savira mengusap kasar wajahnya "Aku tidak akan pernah lagi berharap. aku harus sadar kalau kak Bella lah kekasih kak Vano."


Savira menatap wajahnya di cermin "Aku harus bisa melupakan kak Vano untuk selamanya dan hanya menganggapnya sebagai kakak angkat. Move on adalah langkah yang terbaik untuk ku." janji Savira pada dirinya sendiri.


Setelah merasa tenang Savira keluar dari toilet. sesampainya di meja kerjanya ia merapikan riasan yang telah memudar bekas tangisan.


"Maaf Nona, bisa bertemu dengan Tuan Devan?


Savira yang sedang menundukkan wajahnya mengalihkan pandangannya kearah pria yang berdiri di depannya.


"Nona?! Pria itu berseru dengan senyuman terbit di bibirnya. Ada rasa kegembiraan di sinar wajahnya.


"Apa anda mengenal saya? tanya Savira.


"Tentu saja, kita sudah dua kali bertemu.."


Savira mengeryitkan keningnya "Dua kali bertemu..?! tanyanya bingung.


"Apakah Nona lupa? kita bertemu saat bertabrakan di hotel Horizon. Bukankah tadi kita baru saja bertabrakan kembali." Pria itu tersenyum lebar


Savira tercengang dan mengingat kejadian itu. "Ohh jadi anda yang waktu itu menolong saya saat terjatuh di hotel ? dan tadi anda juga yang menabrak saya..?"


Pria itu mengangguk "Perkenalkan nama saya Kelvin. Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Dev?' tanyanya lagi seraya menatap lekat wajah Savira.


"Iya bisa.." Savira beranjak dari duduknya "Mari saya antarkan ke ruangan nya."


Pria itu mengikuti langkah Savira menuju ruangan Dev.


Tok, Tok, Tok..


"Masuk!"

__ADS_1


"Ceklek!


"Siang Pak Dev. Ada tamu mencari anda." ucap Savira di ambang pintu.


"Silakan masuk!"


"Silakan Tuan.." Savira mempersilahkan pria itu masuk.


"Selamat siang Tuan Dev!"


"Selamat siang Tuan Kelvin." Devan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat "Apa kabarnya.." Devan berjabat tangan dengan pria bernama Kelvin.


"Sangat baik!"


"Mari silakan duduk."


"Savira.. buatkan kami kopi hitam."


"Baik Pak! permisi.."


Savira berjalan keluar ruangan dan membuatkan kopi untuk sang tamu. Ia datang kembali dan menaruh kopi pesanan sang asisten. Kelvin menatap Savira tanpa berkedip.


"Ehemm..." Devan berdehem "Silakan di minum Tuan Kelvin." ucap Devan. Kelvin mengalihkan pandangannya dari Savira.


"Kalau begitu saya permisi Pak!"


Devan mengangguk pelan. Savira kembali ke meja kerjanya dan menjalankan aktivitasnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.


"Vira..." panggil seseorang dari balik pintu.


"Kakak sudah pesan banyak makanan, ayo kita makan siang bersama."


"Tidak usah kak, Vira biasa makan siang di kantin." tolak Savira.


"Tidak apa-apa ayo." Bella berjalan mendekat dan menarik tangan Savira lembut.


"Bukan menolak kebaikan kak Bella, tapi aku tidak ingin kak Vano marah karena kerjaan ku belum selesai."


"Siapa yang berani marahin kamu, tenang saja kak Vano tidak akan marah, tadi aku sudah bilang mau ajak kamu makan siang."


Karena bujukan Bella, Savira tidak dapat menolaknya. Ia mengikuti langkah Bella masuk kedalam ruangan Vano. Diatas meja tamu sudah tersedia berbagai macam hidangan yang sengaja Bella beli dari sebuah restoran.


"Ayo vir, duduklah.."


Savira mengangguk dan duduk di sofa dengan jantung berdetak tak karuan.


"Sayang... Ayo donk kita makan dulu. Savira sudah disini kita makan bersama." Bella berjalan mendekati Vano dan mengusap lembut punggung tangannya. Lantas Vano menghentikan pekerjaannya dan beranjak dari singgasananya. Ia duduk di sofa bersebelahan dengan sang kekasih.


Bella mengambilkan nasi dan sop iga kedalam piring untuk Vano. "Vir.. ayo donk makan, kok malah bengong."


"Ehh-iya kak! dengan perasaan nggak enak hati dan sungkan, Savira mengambil hidangan diatas meja.


"Sayang.. biar aku yang suapin ya.."

__ADS_1


"Nggak usah aku bisa makan sendiri." tolak Vano merasa sungkan.


"Nggak apa-apa, memberikan perhatian pada kekasih ku adalah hal biasa, kau sudah bekerja keras hari ini." Keukeh Bella terus membujuk Vano, hingga Pria tampan berkharisma itu menerima suapan dari Bella.


"Deg!


Ada perasaan gelenyar dalam hati Savira. Ia tidak bisa menikmati makanan yang ia kunyah, seperti ada batu krikil yang ia telan. Bagaimana mungkin ia tidak terluka melihat kemesraan dua orang insan di depannya.


"Kau juga harus makan Bell."


"Kau saja dulu, aku gampng sayang.."


"Nggak sayang, kau juga harus makan." Vano menyendok nasi dan menyodorkan kebibir Bella, dengan senyuman mengembang Bella menerima suapan sang kekasih.


"Uhuk, uhuk, uhuk..."


Savira yang melihat keromantisan mereka berdua tiba-tiba tersedak. Mengetahui Savira tersedak Bella yang duduk di sampingnya memberikan gelas berisi air putih pada Savira.


"Vir.. minum dulu." Savira menerima gelas itu dan meneguk nya. "Hati-hati kalau lagi makan." ucap Bella lembut.


"Terimakasih kak!"


Vano hanya melirik sekilas, ada perasaan tak enak hati dan bersalah dalam benaknya. Mungkinkah ia telah melukai hati Savira dengan cara bersikap romantis di depannya bersama Bella.


"Lanjutkan saja makan kalian berdua, aku sudah kenyang." ujar Vano ingin beranjak dari duduknya, Namun Bella menahannya.


"Sayang.. kau baru saja makan beberapa suap. Aku tidak mau kau telat makan dan sakit. Jam satu siang kau akan meeting bukan?"


"Kak! Aku akan teruskan makan di meja kerja ku saja." buru-buru Savira beranjak dari duduknya.


"Vir.. habiskan dulu disini."


Savira menghela nafas dalam, ada rasa sesak di dadanya bila terus berada di ruangan itu. "Tidak apa-apa, ini juga sudah mau habis!" tanpa menunggu jawaban dari Bella, Savira langsung melangkah pergi keluar ruangan. Ia melewati meja kerjanya dan berjalan kearah pantry. Savira membuang sisa makanan kedalam tong sampah. ia menyeduh teh hangat dan menyeruputnya perlahan.


"Masih jam makan siang, lebih baik aku makan di kantin saja." Savira meninggalkan pantry dan menaiki lift menuju kantin.


"Silakan Mba mau makan apa..? tanya seorang pelayan kantin.


"Seperti biasa mas, soto ayam dan es jeruk ya."


"Siap Mbak."


Savira duduk di salah satu meja yang kosong dan menyedot gelas berisi es jeruk yang sudah di antar lebih dulu.


"Boleh saya temani..?" suara bariton seorang pria mengagetkan Savira.


Savira yang sedang menyedot es jeruk hampir saja terdesak saat melihat pria yang berdiri di depannya dengan senyuman terbit di bibirnya.


"Kau...?!"


💜💜💜


@Sekali lagi minta maaf 🙏 telat update. Nanti Bunda usahakan Up 3 bab sekaligus.

__ADS_1


@Bersambung.......


__ADS_2