
"Vano... Savira tercebur kedalam kolam renang!" seru Bella yang mendengar suara orang-orang memanggil nama Savira.
"Ap-apa..? SAVIRA....!!!
Vano yang kebetulan masih berada di area dekat kolam, langsung berlari dan menceburkan diri kedalam kolam renang.
"BYURRR....!!!
Suasana semakin terlihat tegang, ada kecemasan dari orang-orang yang melihat terceburnya savira, apalagi Savira tidak bisa berenang.
Sementara didalam kolam, kelvin terus mencari keberadaan savira. kolam renang yang cukup besar membuat ia berenang Kesana-kemari. Vano yang sudah menceburkan diri juga mencari sosok adik angkatnya.
"Ya Tuhan apakah ini akhir dari segalanya, sudah tidak ada lagi kah yang peduli denganku. Kak Vano.. kau begitu membenci ku, akhirnya aku akan bebas dan pergi untuk selamanya." bathin savira berkata lirih.
Tubuh savira semakin tenggelam ke dasar, ia yang tidak bisa berenang dan sudah hilang kesadarannya, Karena begitu banyak terminum air kolam.
kelvin mulai melihat sosok tubuh tinggi langsing tengelam kebawah kolam, dengan cepat ia menarik tangan savira dan memeluknya erat. Savira yang sudah tak berdaya ia bawa keatas permukaan kolam.
kelvin menyembul keatas permukaan dengan membawa tubuh savira, para bodyguard sudah berada di pinggir kolam dan membantu mengangkat tubuh savira naik keatas.
"Nona Vira..? seru kelvin saat tubuh savira di baringkan dilantai.
"Sepertinya Nona ini minum banyak air Tuan." ujar seorang pria yang berstatus asisten kelvin, ia mulai mengecek urat nadi Savira "Kondisi tubuhnya sangat lemah, keluarkan air dalam perutnya, pasokan udaranya terhambat dan membuat ia tidak bisa bernafas."
"Baiklah, cepat kau urusi para tamu. ini bukan tontonan, setelah ini aku akan membawa savira keruangan ku."
"Baik Tuan!"
Asisten kelvin berdiri dan berbicara pada beberapa bodyguard atas perintah kelvin.
Orang-orang di sekitar sudah memadati area kolam renang, para bodyguard memberi pengertian pada para tamu untuk meneruskan acara yang sempat tertunda.
"Savira bertahan lah! kelvin mulai menekan dada savira, agar air keluar dari dalam perutnya. Saat bersamaan Vano muncul kepermukaan dan naik keatas.
"Savira..." seru Vano, mendekati kelvin yang berusaha mengeluarkan air dari dalam perutnya.
"Bagaimana? apa banyak keluar airnya..? tanya Vano, yang begitu terlihat khawatir.
"Sangat sulit, tidak ada cara lain. Sepertinya aku harus buat nafas buatan."
Saat kelvin ingin memberikan nafas buatan, zevano menahannya "Tunggu! kau tidak bisa seenaknya memberikan nafas buatan!
"Nyawanya sedang terancam, kondisinya sangat kritis. Aku harus keluarkan air dalam tubuhnya, lihat gadis ini tidak bisa bernafas karena tertelan banyak air!
"Sudah biar aku saja. Savira itu adikku!" Pekik Vano menipis tangan kelvin. wajah Vano semakin mendekat kearah Savira. "Vira bertahanlah kakak akan menolong mu, tidak akan kakak biarkan kamu pergi secepat ini! batin Vano berkata lirih.
kening kelvin berkerut-kerut melihat tingkah rekan bisnisnya "Savira adikmu...? tanya kelvin tak percaya.
Tanpa ingin memberikan penjelasan pada kelvin, Vano membuat nafas buatan dengan menarik nafas sebanyak mungkin dan menempelkan bibir nya ke bibir Savira seraya memencet hidungnya, dan menyedot air dalam kerongkongan Savira. Vano melakukan berulang-ulang, hingga Safira tersedak dan terbatuk-batuk.
"Uhuk, uhuk, uhuk... "
__ADS_1
"Sudah cukup, Savira sudah sadar! seru kelvin tak membiarkan Vano meneruskannya
"Savira kau sudah sadar? kelvin mengangkat kepalanya agar air keluar banyak dari mulut Savira. "Syukurlah kau sudah sadar."
"Alhamdulillah akhirnya kau sadar dek!" Vano berucap syukur seraya mengusap wajahnya.
Bella yang berada di belakang Vano meremas gaunnya kuat, ada perasaan sakit saat melihat Vano membuat nafas buatan untuk Safira, hati siapa yang tidak akan terluka bila melihat orang yang di cintai nya melakukan itu di depan matanya. Bella hanya menarik nafas daam-dalam dan di hempaskan kasar.
"Vir... vira.. buka matanya? kau sudah diatas kolam." Kelvin terus membangunkan kesadaran savira yang belum sepenuhnya pulih.
"Savira.... " pekik Dev yang tiba-tiba saja datang dengan tergesa-gesa.
"Ada apa dengan Safira? kenapa ia pingsan dengan pakaian basah semua?! "
Vano yang melihat kedatangan Devan dengan sikap bodohnya langsung bangkit dan memukul.
"BUKK! "
"kemana saja kau, hah! kau tinggalkan Savira sendri!" bentak Vano seraya menarik kerah kemeja Dev.
"Van! tenang dulu van! aku bisa jelaskan semuanya." Devan berusaha menenangkan sahabatnya yang sudah mulai tersulut emosi.
"Mau jelaskan apalagi! kau tahu tidak? kalau Savira baru saja tenggelam di dalam kolam renang. Padahal kau tahu bukan? kalau Savira tidak bisa berenang!" eretan tangan Vano semakin kuat dan membuat Devan hampir tercekik.
"Van sabar dulu! lihat lah kita jadi tontonan banyak orang! jangan permalukan dirimu sendiri dengan sikap arogan!"
"Perduli setan dengan mereka semua!"
"Cepat kau panggil kan Dokter pribadi ku!" ucapnya pada Aldo sang asisten.
"Baik tuan!"
"Panggilkan pelayanan untuk membantu gantikan pakaian Savira juga berikan gaun baru untuknya."
"Siap Tuan!. "
Sementara Vano dan Devan masih berseteru. Vano menarik kasar tubuh Devan dan membawanya menjauh.
"Kau yang membawa savira ke acara ini, tapi kenapa kau tidak menjaga nya dengan baik! seru Vano dengan nafas tersengal.
"Baiklah, aku akui.. aku yang bersalah! pukul aku bila itu bisa meredakan amarahmu! aku siap kau habisi sekarang juga!
"Aarrgghh!!! Pekik Vano hempaskan kasar tubuh Dev ke dinding.
"Bila savira kenapa-napa kau yang harus bertanggung jawab! teriak Vano, lalu la melangkah pergi meninggalkan Dev sendiri.
"Sayang..." Bella berjalan menghampiri Vano yang melihat Vano berjalan kearahnya "Kau harus secepatnya ganti pakaian, aku sudah siapkan pakaian ganti untuk mu."
"Dimana savira..? tanya Vano khawatir
"Sepertinya Tuan Kelvin yang membawa Safira pergi."
__ADS_1
"Aku harus menemui kelvin!
"Savira sudah bersama kelvin, lebih baik gantilah pakaian mu dulu, nanti kau sakit."
Vano mengangguk, dan mengikuti langkah Bella menuju kamar yang sudah disediakan. Selesai Vano mandi dan berganti pakaian yang di sediakan Bella, gegas ia membuka pintu kamar.
"Vano! kau mau kemana lagi..?!
"Tentu saja mencari kelvin dan melihat keadaan savira. Aku harus membawanya pulang. Mommy pasti marah bila tahu keadaan Safira."
"Ayolah kita temuin kelvin! seru Vano seraya menggenggam tangan Bella keluar dari kamar. Namun tiba-tiba Bella menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti? tanya Vano melihat kekasihnya terdiam.
"Bella.. ada apa dengan mu?" tanya Vano bingung.
"Pergilah dan cari savira! ucapnya seraya melepaskan genggaman tangan Vano
"Hey ada dengan mu..?"
"Aku akan pulang sendiri naik taksi, sepertinya savira lebih penting daripada aku!" Bola mata Bella mulai berkaca-kaca dan ia melangkah pergi melewati Vano.
"Bella tunggu!" Vano menarik tangan Bella.
"Ada apa sebenarnya dengan mu? jangan membuat aku bingung?!"
Bella menghempaskan tangan Vano " Masih juga kau bertanya ada apa dengan ku? Bella menatap tajam kearah Vano, dadanya begitu nyeri. Tak terasa butiran bening mulai berjatuhan. "Kau memang tidak pernah peka dengan perasaan ku, Vano! kau tidak anggap aku ada di sisimu, yang selalu kau pikirkan hanya Savira dan Savira...!!"
Vano tergelak "Jadi kau cemburu..? Astaga Bella, kenapa kau berfikir seperti anak kecil. Savira itu adikku, wajar kalau aku khawatir dan cemas dengan keadaannya. Please Bella.. jangan seperti ini..?! Vano berusaha menenangkan Bella dan meraih pinggangnya.
"Kau pikir aku bodoh! mendorong tubuh Vano agar menjauh "Kau bilang aku seperti anak kecil?! hati dan mata ku tidak bisa di bohongin, kalau kau ada perasaan dengan Savira!"
Vano terdiam dan menarik nafas dalam-dalam, lalu di hembuskan perlahan. "Bell.. please jangan salah paham! kita sudah sama-sama dewasa. Seharusnya kau lebih mengerti tentang aku."
"Kau selalu ingin di mengerti! laki-laki memang egois! seru Bella dengan airmata yang terus berlinang "Apa kau begitu puas setelah mencium bibir adikmu?! padahal ada cara lain untuk menyadarkan Savira, apa kau begitu bangga di tonton banyak pasang mata saat mencium Savira?!
"Cukup Bell..!! Kenapa kau selalu salah paham? aku bertanggung jawab atas keselamatan adikku. Dan aku hanya membuat nafas buatan karena keselamatan savira sangat penting!"
Dada Bella turun-naik bersama tatapan yang menghunus "Kau selalu membuat alibi seakan ciuman itu adalah pertolongan! Bella yang sudah terbakar emosi menunjuk dada Vano dengan telunjuk nya. "Bertanyalah pada hati kecil mu! siapa wanita yang kau cintai? Aku atau Savira..?!!! teriak Bella dan melangkah pergi dengan kaki panjang meninggalkan Vano.
"Bell... Bella... " seru Vano
🤩🤩🤩
@Di part ini ada yang baper nggak sih! Yuk ikuti terus kelanjutannya.. semakin terlihat ya karakter dari pemain di Macan Asia ini.
@Sekali lagi Bunda minta maaf 🙏 karena masih sibuk di real, tapi tetap Bunda usahakan update. Yuk terus dukung Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, rate bintang 5 dan komentar yang membangun.
I love you readers.. Bunda sayang kalian 😘😘😘😘
@Bersambung.....
__ADS_1