
Jangan langsung menemui ketua Genk kalajengking, itu sangat berbahaya, lebih baik kita datang secara diam-diam."
"Kau pikir Tuan Reno mau mengikuti saran mu! dasar bodoh! Steve memukul kepala Yanto. "Sekarang cepat hubungi Tuan mu dan jangan bilang tuan Reno ikut serta, anggap mereka tidak tahu keberadaan kami dulu!" perintah Steve seraya menyodorkan ponsel di depan bibir Yanto tanpa melepaskan ikatan tangan nya.
Yanto menelan salivanya, terlihat wajahnya tegang dan pias. Steve terus mendesak Yanto untuk berbicara dengan dengan Bos kalajengking.
Yanto menyebutkan nomor kontak ketua Genk kalajengking.
"Hallo..." terdengar suara bariton dari ujung telepon.
"So-re ketua!" ucap Yanto gugup.
"Anda siapa..?
"Sa-ya Yanto, mantan supir Reno Mahesa."
"Ada apa kau telepon!"
"Ingin bicara dengan ketua."
"Ketua sedang meeting dengan organisasi nya. katakan saja, nanti saya sampaikan."
Yanto menatap kearah Steve, seakan meminta bantuan melalui isyarat mata nya.
"Katakan, kalau kau ingin bertemu dengan Ketua, membicarakan sebuah rahasia." bisik Steve, Yanto mengangguk.
"Saya ingin bertemu dengan Ketua dan membicarakan masalah serius, sebuah Rahasia." tukas Yanto memberanikan diri pada asisten Ketua kalajengking yang berada di ujung telpon.
"Rahasia apa?! tanya pria itu lagi
"Saya tidak bisa menjelaskannya di telepon. saya harus ketemu sekarang dengan ketua. posisi saya sudah berada dekat dengan markas besar nya."
"Sial! kau mengganggu saja. "lebih baik pulang saja, ketua sedang sibuk!"
"Tidak bisa tuan, saya jauh-jauh datang dari negara Indonesia, masa saya harus pulang lagi." suara Yanto terdengar menghiba.
"Baiklah, tapi ingat! kau datang kemari jangan membuat ketua marah, apalagi mendengar berita yang tidak baik. kau akan di habisi nya! ancam suara pria di ujung telpon.
"Iy-a Tuan, saya mengerti.."
Laki-laki itu memutuskan panggilan telepon. Yanto menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir kan keadaannya yang mulai ketakutan.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi." Steve berbicara pada Sabrina yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
Steve masuk kembali kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan rata-rata.
Malam hari di kota Colorado sangatlah dingin, beberapa hari lagi diperkirakan akan turun salju. Hawa di malam itu sangatlah mencekam seakan mereka tahu akan terjadi bencana di tempat itu. Reno menatap keluar jendela dengan pikiran yang tak menentu, ada perasaan tak enak yang tidak bisa ia gambar kan. Reno teringat akan sang istri yang masih berada di Jerman, dan pergi tanpa meminta izin darinya. Semua itu ia lakukan karena tak ingin Delena syok atas kehilangan Zidan dan Vana yang belum juga sadarkan diri. Mengingat anaknya dalam bahaya, Reno terus menerka-nerka siapa Bos kalajengking yang memiliki kekuasaan besar dan terselubung, bahkan organisasi narkotika miliknya tidak tersentuh oleh hukum.
__ADS_1
"Paman, Sebentar lagi kita memasuki gerbang utama milik genk kalajengking." suara Steve mampu mengalihkan pikiran Reno, ia menoleh pada pemuda itu.
"Apa yang dikatakan Yanto pada Ketua Genk itu!"
"Tadinya Yanto di suruh pulang kembali, sebab ketuanya sedang mengadakan meeting organisasi. yang berbicara bukan ketuanya namun asistennya."
"Jadi kita tidak bisa masuk ke markas kalajengking?
"Tenang saja paman, Yanto bisa masuk ke sana namun dengan syarat ia harus memberikan berita yang menyenangkan bagi ketuanya!
"CK! pria bodoh seperti Yanto cuma hanya untuk diperdaya, dia tidak tahu bagaimana kejamnya organisasi mafia kelas kakap. Apalagi bila melakukan kesalahan, nyawa mereka adalah taruhannya."
"Sepertinya Yanto tidak akan bisa lepas dari kelompok genk kalajengking. Masalahnya ia sudah disumpah, dan tidak ada jalan keluar untuknya."
"Biarkan saja itu adalah pilihannya! dia lebih memilih menghianatiku daripada berlindung dariku."
"Paman benar, hidup adalah pilihan. dan pilihan yang Yanto ambil sungguh sangat beresiko bagi nyawanya."
Reno berdecak "Yanto sudah mengantarkan nyawanya sendiri."
"Sepertinya kita sudah hampir sampai paman, lihat gerbang besi itu yang tertutup rapat, pintunya bergambar kalajengking."
"Apa kita langsung masuk dan menemui ketua genk kalajengking? sungguh aku penasaran dengan orang itu dan apa motifnya menyandera anakku Zidane, bahkan penyerangan kelompok yang mereka lakukan membuat kedua anak-anak ku kewalahan."
"Jangan dulu paman. Biarkan saja Yanto yang masuk lebih dulu, kita lepaskan dia setelah itu kita masuk dan memantau keadaan markas genk kalajengking, lalu mencari keberadaan Zidane."
"Paman lebih tahu kecerdasan Sabrina daripada aku. tanpa kita minta sudah pasti Sabrina akan melakukan tugasnya."
"Kau benar, Sabrina sangat bisa diandalkan sama sepertimu." Reno tersenyum tipis
"Okey aku akan akan menemui Yanto, dan menaruh alat cctv kecil ini di saku bajunya tanpa ia ketahui. kita bisa memantaunya melalui laptop ini."
"Good job, lakukan lah!"
Gegas Steve keluar dari Jeep dan menghampiri mobil Sabrina, dan membuka mobil belakang, lalu duduk kembali di samping Yanto. Steve melepaskan ikatan tangan dan kaki Yanto.
"Sekarang kau boleh masuk kedalam markas kalajengking, tapi ingat! kau jangan bermain curang apalagi sampai memberitahu kami di sini. Kau tahu? nyawa keluargamu adalah taruhannya, orang-orang Tuan Reno sudah berada di kampung mu."
Yanto membuang nafas kasar ia terlihat begitu tertekan.
"Okeh aku akan lakukan tugas ku, tapi kalian harus janji, keluargaku dalam keadaan baik-baik saja."
"Aku bukan penghianat sepertimu yang mudah ingkar janji. Apalagi Anjing sepertimu mudah sekali menjadi penjilat!" seru Steve geram.
Air muka Yanto berubah menjadi merah, ia menahan setiap hinaan Steve dan Sabrina.
"Cepat pergi lah! bawa ini, diluar udara sangat dingin. jangan samakan udara di Jakarta dengan Amerika." Steve memberikan mantel kulit untuk Yanto pakai, sebelum nya ia sudah menaruh cctv kedalam mantel itu.
__ADS_1
"Sabrin! Yanto sudah pergi menjauh, apa kau masih ingin tetap disini atau ikut kedalam."
"Kau tidak perlu Pikirkan aku, lebih baik kau temani Reno. aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Huft! kenapa semua wanita selalu merasa sok hebat dan tidak membutuhkan peran laki-laki, merasa bisa menjaga dirinya sendiri." sindir Steve, dan mendapat tatapan tajam dari wanita di depannya.
"Kau bilang apa?!
"CK! apa telingamu tuli hingga omonganku tidak kau dengar! sorry.. tidak ada berita ulangan! cetus Steve mengalihkan pandangannya seraya keluar dari dalam Jeep.
"Hey! mau ke mana kau! Aku belum selesai bicara! Steve tidak mendengarkan seruan Sabrina Ia terus melangkah menjauh dan masuk ke dalam mobil Jeep
"Ish sial! Sabrina memukul stir didepannya "laki-laki itu sungguh menyebalkan selalu saja membuat aku kesal! awas saja kau Steve, aku akan buat kau menyesal udah bilang aku sok hebat! Sabrina mengepalkan tangan nya "Tadi dia bilang apa? aku tidak butuh laki-laki?! Ahh...! Sabrina menghela nafas kasar "Tapi yang di bilang Steve ada benar nya, aku tidak butuh sosok laki-laki hingga di usia ku 38 tahun." Sabrina menarik nafas dalam-dalam dan dihempaskan perlahan "Entahlah, aku memiliki sifat pemilih dan tidak mudah laki-laki masuk ke dalam kehidupanku. kecuali..." Sabrina menjedah ucapannya "Apakah Reno tidak memiliki perasaan sedikit pun pada ku? aku terlalu mencintainya, hingga tidak ada mahluk bernama laki-laki yang bisa menggantikan posisi Reno di hatiku!
Dari jarak 100 meter, Sabrina melihat Reno dan Steve keluar dari mobil Jeep. Mereka berdua menggunakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah ala Ninja. Gerakan mereka sangat cepat hingga berhenti di depan gerbang kalajengking. Tubuh Reno yang tinggi besar dan seksi meskipun di usianya 54 tahun. Namun Reno terlihat lebih tinggi dari Steve yang juga memiliki tubuh atletis. Mereka berdua terlihat gagah dengan berbalut pakaian ninja, entah apa yang sedang mereka rencanakan berdua. Sabrina hanya menatap dari kejauhan dan memulai rencananya sendiri.
***
Di dalam sebuah ruangan ekslusif, Dave terus membujuk Safira untuk makan. namun gadis itu selalu berontak dan menolak.
"Ayolah Vir, kau butuh asupan makanan yang bergizi. lihatlah tubuhmu, terlihat kurus hanya dalam beberapa hari."
"Aku tidak mau makan! Savira menjauhkan wajahnya dari sendok yang sudah berisi nasi dan lauk dari tangan Dev.
"Dek! please...? sekali ini aja menurut dengan kakak! kak Dev sangat sayang padamu. kakak tidak ingin kau sakit."
Savira tetap pada pendiriannya ia begitu keras kepala. "Kakak tidak tahu, bagaimana rasanya di posisi aku?! seru Savira, airmatanya sudah berjatuhan. "Bagaimana mungkin aku bisa menikmati makanan itu, sedangkan hatiku sedang sakit kak! Savira memukuli dadanya sendiri dengan nafas yang tersengal "Bahkan aku membenci diriku sendiri! nasibku sungguh sial, menjadi anak yatim-piatu dan di lecehkan penjahat itu!' Savira mengambil piring dari tangan Dave, lalu di lemparnya ke lantai, hingga piring pecah dan isinya berantakan.
Dave terkejut dan tak menyangka melihat emosi Savira yang meledak-ledak. selama yang ia tahu, Safira gadis yang manja dan lembut, tidak pernah melihat gadis itu semarah ini. Dada Savira bergemuruh dan terlihat turun-naik, nafasnya tersengal-sengal. Melihat gadis itu sudah tidak bisa di kendalikan emosinya lagi, Dev langsung memeluk Savira erat.
"Sabar sayang, sabar..." Dev terus memeluk Savira untuk meredam amarahnya, satu tangannya mengusap lembut punggung Safira. sehingga nafas Safira yang tersengal lama-lama meredah dan emosinya mulai terkontrol.
"Ma'afkan kak Dev. kakak sangat tahu kondisi kamu yang sedang tidak baik-baik saja." Dev mengusap lembut kepala Savira, hingga gadis itu mengeratkan pelukannya dan menangis terisak di dada bidang milik Dave, gadis itu sedang mencari perlindungan dari seorang laki-laki.
"Sudah, tidak usah menangis lagi, Kak Dev berjanji akan selalu ada untukmu dan menemanimu disini."
Dave meraih tissue yang berada di atas nakas, lalu mengusap airmatanya yang terus berjatuhan. Pria berusia 25 tahun itu mengendurkan pelukannya, lalu menuangkan air putih kedalam gelas.
"Mnum lah Dek, agar hatimu tenang." Savira menerima uluran gelas yang diberikan Dev dan meneguk nya hingga tandas.
"Sudah lebih tenang?! tanya Dev seraya menatap lembut wajah gadis cantik itu. Savira mengangguk pelan.
Syukurlah, Ayo kita duduk disana." Dave menunjuk sebuah sofa yang berada di dalam ruangan rawat inap Safira. Gadis itu mengikuti langkah Dave dan duduk di sofa.
💜💜💜
@@Udah 2 bab ya BESTie, jangan lupa untuk terus dukung karya Bunda dan follow IG dan tiktok bunda 🙏🥰
__ADS_1