Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Penjinak BOM


__ADS_3

"Mereka telah kembali!" tukas Vano dengan mata tajam menatap layar laptop.


"Bersiaplah! kita akan melawan mereka menggunakan ilmu Ninja bayangan! Vano menoleh kearah adiknya "Kita harus buat startegi, kelompok kalajengking sangat kejam dan beringas, mereka juga sangat kuat."


Vana hanya mengangguk dan mendengarkan startegi yang akan kakaknya buat.


"Sekarang apa yang akan kakak lakukan?!


"Meretas keamanan rumah sakit kita. Sekelompok kalajengking telah berhasil membobol dan merusak sistem rumah sakit 'Pelita. ini tidak bisa dibiarkan, keselamatan nyawa manusia sangatlah penting."


"Kalau begitu kita harus secepatnya kerumah sakit, aku takut masih ada BOM yang mereka taruhkan."


"Kalau begitu bersiaplah kita ke rumah sakit sekarang!


"Okay kak!


"Dan satu lagi, rahasiakan kedatangan ku! jangan sampai ada yang tahu, pasti ada penyusup yang menyamar."


"Baiklah kak, aku paham!


"Aku harus izin dulu dengan mommy!"


"Kakak rasa tidak perlu. Biarkan mommy istirahat. Kasihan ia terlalu lelah karena memikirkan Mbak Sari."


"Ya sudah, aku akan sampaikan pada bi Ijah."


"Tunggu kak! kalau kita meninggalkan mansion. Bagaimana keadaan disini? sepertinya belum kondusif, apalagi para ART sangat syok dan ketakutan melihat kematian Mbak Sari yang mengenaskan."


"Kau tidak usah khawatir. Kakak sudah membentengi keamanan mansion dan memperbaiki sistem yang sudah mereka jebol. Para bodyguard sudah siap siaga bilamana ada yang mencurigakan."


Vana mengangguk paham. Vano dan Vana bersiap-siap. Mereka memakai setelan serba putih. Tidak lupa penutup masker untuk menutupi wajah Vano agar tidak ada yang curiga dengan kedatangannya yang menyamar sebagai seorang Dokter.


Setelah berbincang dengan para bodyguard dan mengetatkan keamanan, mereka berdua meninggalkan mansion menuju rumah sakit 'pelita'.


Malam itu bebas hambatan dan kemacetan, sebab jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari. Hanya menempuh empat puluh lima menit, Mobil sampai didepan pelataran rumah sakit.


"Dek! kita tidak perlu datang bersama. Lebih baik kau keluar lebih dulu. Baru kakak menyusul."


"Kakak akan melakukannya dimana?!


"Lebih aman di paviliun, kalau di ruangan kerja mu tidak akan nyaman dan akan ada yang curiga. ingat, musuh kita sangat dekat!"

__ADS_1


"Baiklah kak!" Vano membuka pintu mobil dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan. Tak berapa lama Vano turun dengan menenteng tas berisi laptop dan pelataran lainnya. Ia berjalan kearah paviliun, saat melewati koridor langkahnya terhenti di sebuah ruangan yang masih berantakan bekas pemboman laboratorium. Para pegawai masih sibuk membersihkan kekacauan yang dibuat para penjahat.


"Keterlaluan mereka semua! kalian sudah memercikkan api didalam sekam. Aku tidak akan tinggal diam. Kalian semua harus membayar semua ini!" umpat Vano di sela langkahnya menuju paviliun.


Saat melewati lorong yang begitu sepi, langkah Vano seperti ada yang mengikuti. Saat ia berhenti dan menoleh kebelakang, tidak ada satupun orang di belakangnya. Vano yang sudah paham dan curiga mulai menyeringai.


"Kalian pikir aku bodoh!"


Vano meneruskannya langkahnya hingga di ujung koridor ia berbelok dan masuk kesebuah ruangan yang tak terpakai.


"Dimana pria tadi! sepertinya dia tadi lewat sini? kenapa menghilang." seru seseorang yang sudah berdiri di ujung koridor.


"Lebih baik kita berpencar, kau sebelah kanan aku sebelah kiri!" saran teman satunya.


"Okeh!


Dua pria berpencar, hingga salah satu di antara mereka melihat sebuah ruangan yang tampak gelap. "Mustahil pria tadi bersembunyi ruangan ini. Koridor ini tidak terlalu terang. Tapi tidak ada salahnya aku masuk kedalam. Pria tadi sangat mencurigakan. Genk kami sudah memantau gerak-geriknya saat ia turun dari mobil."


Pria yang tertutup masker hitam mulai mengeluarkan pistol dan membuka handle pintu. Sebelum pintu terbuka sempurna, Vano mendorong nya keras hingga menimbulkan dentuman keras pada wajah pria itu!


"BRUKK!!"


Pria itu terpekik sambil memegangi hidungnya yang sudah berdarah-darah. Secepat kilat Vano tendang perut pria itu hingga tersungkur ke lantai. saat pria itu ingin menembak Vano, dengan cepat Vano menendang tangannya dan pistol terlempar jauh.


Tanpa Vano sadari, pria itu neninju perut Vano, hingga jeratannya terlepas. Secepat kilat Pria itu mengeluarkan sebuah pil dari saku kantong celananya dan menelannya.


"Tunggu! apa yang kau lakukan, BRENGSEK!" seru Vano, melihat pria itu menelan sesuatu


Seketika Wajah pria itu memerah sambil memegang lehernya sendiri, dari mulutnya keluar banyak busa hingga ia ambruk ke lantai dan kejang-kejang dengan mata melotot. Sekian menit kemudian, Pria itu tak bergerak lagi. Vano berjalan mendekat dan melihat telapak tangannya "Sialan! ternyata dugaan ku benar, mereka adalah Genk kalajengking!


"Pasukan mereka berani mati! siapa dalang di balik ini semua! aku harus mengetahui ketua genk kalajengking!"


Untuk menghilangkan kecurigaan, Vano menyeret pria itu masuk kedalam ruangan yang tadi ia masuki. Setelah menutup rapat, ia kembali berjalan kearah paviliun.


Ceklek!"


"Kak Vano, kenapa lama sekali?!


Vano mendesah panjang dan mendudukkan bokongnya di sofa. "Tadi ada dua orang yang mengikuti kakak!"


"Terus kak, kemana orang itu!" potong Vana cemas.

__ADS_1


"Mereka mengikuti kakak dan satunya sempat kakak serang. Namun, belum sempat kakak mendapatkan keterangan dari pria itu, ia bunuh diri dengan menelan pil kematian!"


"Ahh! Vana mendesah kasar "Semakin sulit untuk di tebak, dan mereka sudah menguasai rumah sakit. Menyusup diam-diam dengan menyamar jadi apapun. Gerakan kita semakin terhambat, kak!"


"Kau tidak perlu khawatir! kakak akan meminta bantuan pada Genk MAFIA milik Daddy!"


"Bukankah sudah lama Genk milik Daddy sudah tidak beroperasi. Lagian mereka sudah pasti pada tua!" sungut Vana mengerucutkan bibirnya.


"Ada generasi baru Dek, orang-orang kepercayaan Daddy masih terus melakukan aktivitas di luar kota, sesuai perintah Daddy."


"Ohya...? kenapa aku baru tahu kak?


"Dasar adik bandel! Vano menjawir kuping kanan Vana. "Makanya jangan terus-terusan marah sama Daddy sampai pindah ke apartemen. jadi kamu tidak tahu informasinya."


"Aku tidak marah sama Daddy! hanya mencoba mandiri saja Kak!"


Vano menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan "Dasar keras kepala!" celetuk Vano sambil membuka laptop dan mulai melakukan aktivitas dengan melihat keadaan sekitar rumah sakit.


"Apa masih ada yang mencurigakan Kak?! tanya Vana yang terduduk di samping sang kakak.


"Belum terlihat Dek! tapi kakak masih mencari letak mereka menaruh BOM tanpa kita ketahui."


"Bahaya kak kalau itu benar! banyak nyawa yang akan terancam. Dan kita harus menyelamatkan ribuan orang yang berada didalam rumah sakit. Walau tadi aku dapat info dari suster, banyak pasien yang pindah rujukan ke rumah sakit lain pasca peledakan BOM jam delapan tadi. Sudah pasti rumah sakit ini akan jadi trending topik besok pagi!"


"Ketemu! seru Vano membesarkan panah merah yang berada dalam laptop.


"Ketemu apa kak?! Vana menautkan kedua alisnya yang berkerut-kerut.


"Mereka menaruh BOM di beberapa tempat, tanda panah merah ini menunjukkan BOM yang tersembunyi, ternyata BOM itu sedang aktif."


Vana membelalakkan matanya "Jadi apa yang akan kakak lakukan..?!


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..


"AKU BUKAN CINDERELLA"


Ayo mampir All.. kisahnya menguras emosi dan airmata loh...

__ADS_1


@Bersambung.....


"Tentu saja menon-aktifkan Bom itu semua!"


__ADS_2