Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kelulusan Savira


__ADS_3

Kau tidak perlu khawatir! balikan mobil jelek ini ke dealer. Besok datanglah ke showroom mobil, kau boleh pilih mobil yang kau mau! anak buahku yang akan membayarkan mobil barumu cash, okay!"


"Hah?! Pria itu melongo, seakan ucapan Vana sebuah lelucon.


"Jangan becanda kak!"


"Mana pernah aku bercanda!"


"Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi..? ketemu bidadari tanpa sayap, menawarkan sebuah mobil baru..?!" gumamnya pelan.


"TIIIINNNN....!!!!


Tiba-tiba Vana mengklakson mobil didepannya yang melaju kearahnya.


"TIIIINNNN....!!!!


"TIIIINNNN ...!!!!


"Ya Tuhan, awassss kak!" pekik pemuda itu ketakutan, ia menutup kedua matanya dengan sepuluh jemarinya.


"BRAKK!!!


"BRAKK!!!


"CIIIIIIIITTTTTTTT....!!


Mobil seketika berhenti. Vana baru saja menabrakkan mobil orang-orang Matthew yang nekad ingin menerjangnya. Namun mobil mereka yang terpental dan terdorong hingga terguling dan menghantam trotoar.


"Aaawww!" terdengar suara pekikan di belakang kemudi.


"Dirga kau tidak apa-apa?! tanya Vana cemas. "Bertahanlah, kita segera kerumah sakit!"


Vana melajukan kembali sedan putih yang sudah hancur depan dan belakangnya, Namun masih bisa melaju dengan cepat. Setengah jam kemudian mobil sudah berada di pelataran rumah sakit. Vana berlari keluar memanggil tenaga medis. Tak berapa lama para perawat datang dan membawa Dirga ke ruangan UGD.


Vana bergegas menuju ruangan pribadinya di Area paviliun untuk mengganti pakaian yang basah. Sedangkan pria muda itu di ketahui bernama Ardy, ia seorang mahasiswa.


Pria itu tampak shock dan mendapat perawatan dari suster jaga. Selesai mengganti pakaian, Vana meminta office boy untuk membuatkan teh manis hangat.


"Tok! Tok! Tok!


"Masuk!


"Permisi Nona! Seorang office boy datang membawa teh masih hangat untuk Vana.


"Terima kasih, Pak!"


Vana menyeruput teh manis untuk menghangatkan tubuhnya.


"Sial, siapa orang-orang yang telah menyerang ku? ada urusan apa Amel dengan mereka? apakah Amel terlibat? lalu siapa pria bertopeng itu?! begitu banyak pertanyaan dalam benak Vana. "Aku harus menyelidikinya, apa hubungan mereka dengan ku!"


"Ceklek!


"Dok! apa tuan Dirga akan dilakukan operasi sekarang? peluru masih bersarang bahunya."


"Lakukan sekarang juga. Siapa Dokter jaga malam ini?!"


"Ada Dokter Femy, Fandy dan Arman, di bagian bedah."


"Dokter Fandy tugaskan untuk operasi Pak Dirga sekarang!"


"Baik Dok!


Vana yang merasa lelah membaringkan tubuhnya diatas sofa, lalu tertidur pulas.


*


*


Sebulan kemudian..

__ADS_1


Hari ini adalah hari kelulusan untuk Safira. Ia mendapat nilai tertinggi di kampusnya. Delena membuat selamatan di mansion dan mengundang beberapa kerabat untuk datang


Beberapa mobil sudah terparkir, Wanita berkelas nan cantik turun dari mobil dan memasuki mansion.


"Savira selamat ya, akhirnya lulus juga. Kedua orang tuamu pasti sangat bangga."


"Terima kasih Tante Fanny" Savira dan Fanny saling cipika-cipiki.


"Ini kado dari Tante dan Calista." Fanny memberikan paper bag pada Savira.


"Terima kasih banyak Tante. Ohya kak Calis kenapa tidak ikut?!


"Sedang bersama Papanya, ikut pantau hotel di Bandung."


"Oohh, Terus kenapa tante harus repot kasih kado segala, bagi Vira do'a saja sudah cukup."


"Nggak apa-apa vira sayang. Tante bangga sama kamu. Udah pintar, cantik lagi. Semoga Vano berjodoh denganmu." tukas fanny tersenyum sumringah. seketika senyuman di bibir Savira memudar. Entah kenapa hatinya berdenyut nyeri saat ada keluarga yang berharap Savira berjodoh dengan Vano. Savira sudah tidak ingin berharap dari kakak angkatnya yang sikapnya mulai dingin dan selalu menjaga jarak.


"Dibuka donk kadonya!" tukas fanny.


Savira membuka paper bag pemberian fanny. ia sangat terkejut. "Ya ampun Tante, Tas nya bagus banget. ini tas branded yang udah lama Vira incar." Savira terlihat senang dan memeluk manja pada fanny.


"Semoga kamu suka ya. itu Calista yang pilihkan."


"Suka banget Tante!"


"Hallo semua...." seru seorang wanita yang tidak muda lagi, tapi masih terlihat cantik.


"Mami Siska...?!" seru Savira.


Savira berjalan mendekat dan memeluk tubuh Siska yang merentangkan kedua tangannya.


"Anak mami makin cantik! puji Siska seraya cipika-cipiki. "Ini hadiah buat kelulusan mu. Aldo dan Aldi tidak bisa datang, cuma titip salam ajah buat kakaknya."


"Terima kasih banyak mami Siska, kenapa harus repot-repot."


"Nggak ngerepotin kok, kamu pantas mendapatkan nya."


"Ya begitulah anak jaman sekarang. Papinya selalu memanjakan mereka berdua dan kasih kebebasan sedikit, biar nggak kuper."


"Bagaimana tidak di manjakan! mobil gonta-ganti terus. Tante juga terlalu berlebihan manjakan Aldi dan Aldo, mereka itu baru SMA. Maaf loh Tan, itu pandangan fanny ajah."


"Ya mau bagaimana lagi. Yang terpenting mereka tidak salah pergaulan."


"Ayo buka donk kado dari Mami.."


Savira membuka paper bag dan sebuah amplop. "Gaun? wah indah banget. Ada hells nya juga." Savira tersenyum sumringah.


"Coba buka amplopnya." tukas fanny.


"Liburan ke Korea dan penginapan di hotel berbintang selama satu minggu."


"Terimakasih mami, akhirnya Savira bisa liburan ke Korea." sambarnya senang.


"Ajaklah teman-teman mu juga, nanti biar mami yang handle semuanya."


"Savira bangga memiliki mami Siska dan Tante Fanny. kalian adalah pengganti mama Vira." seketika kristal bening menetes di pipi Savira. Siska menyeka airmata Savira, Fanny mengusap lembut punggungnya.


"Jangan bersedih sayang. Mami dan Tante sayang sama kamu. Anggap kami sebagai pengganti Mama mu."


Savira mengangguk dan mereka bertiga saling berpelukan.


"Ayo semuanya kita makan dulu. kita buat BBQ di pinggir kolam renang. kita gabung dengan yang lain." seru Delena


"Okay... Ayok!"


Mereka semua berkumpul di taman dekat kolam renang sambil menikmati berbagai makanan seafood.


Sementara di sebuah gedung perkantoran. Vano masih berkutat dengan pekerjaannya. sesekali ia menoleh pada Arloji ditangannya.

__ADS_1


Ceklek!


Devan masuk kedalam ruangan Vano dan menaruh lembaran file diatas meja kerjanya.


"Secepatnya kita harus mencari sekertaris, Van! Posisi sekertaris masih belum terisi."


Vano menghentikan aktivitasnya dan mengambil berkas file, lalu menoleh kearah Devan "Jadi siapa kandidatnya?"


"Sudah aku bilang berulang-ulang Savira cocok gantikan posisi sekretaris. Vira sangat cerdas dan cepat tanggap, selain itu ia sudah lulus dengan nilai terbaik di bidang IT."


"Astaga! aku hampir lupa. Hari ini ada sukuran kelulusan Savira di mansion. Secepatnya kita bereskan pekerjaan dan ikut acaranya."


Vano mendesah pelan, menyandarkan punggungnya ke belakang kursi "Kau saja yang duluan pulang ke mansion. Jam tiga sore aku harus jemput Bella di bandara."


"Bella kembali ke Jakarta?!" Devan menautkan kedua alisnya.


"Bella akan membuka cabang perusahaan ayahnya di Jakarta."


"Apa ada kemungkinan kau akan bekerja sama dengan Bella?!"


"Kita lihat saja nanti!" Vano beranjak dari duduknya "Aku akan bersiap-siap untuk menjemput Bella." Vano mengeluarkan kartu black dan memberikan pada Devan. "Kau yang pilihkan hadiah untuk Savira."


"Baiklah, aku akan selesaikan pekerjaan dulu, baru akan belanja untuk hadiah Savira. Salam buat Bella."


Vano mengangguk "Oke, aku pergi duluan!" lalu Vano berjalan kearah pintu.


"Van tunggu!" seru Devan, Vano menghentikan langkahnya. "Ada apa..?!"


"Bagaimana dengan calon sekertaris? Savira cocok bukan?!"


"Bila ingin Savira jadi sekertaris. kau Harus minta izin Mommy dulu." balas Vano


"Okeh! aku akan temui Tante Delena."


Sore itu, Vano menyelesaikan aktivitasnya di kantor. Devan mulai pergi mencari kado untuk Savira. Ia parkirkan mobilnya di sebuah Mall.


Devan masuk kedalam sebuah galeri yang menyediakan berbagai macam kebutuhan wanita. Ia melihat sebuah tas branded bermerek LV. Warna coklat susu adalah pilihan Devan.


"Tas ini pasti cantik bila di pakai Savira."


Devan mengambil tas bermerek itu dan ia berjalan kearah kasir. Tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang wanita cantik berwajah bule.


"BUKK!


Belanjaan di tangan wanita itu terlepas ke lantai.


"Maaf Nona saya tidak sengaja." Devan berjongkok dan mengambil barang belanjaan wanita itu.


"Tidak apa-apa! wanita itu memasukkan gaun, tas dan lainnya kedalam keranjang.


"Tiffany, cepatlah! kita harus secepatnya pulang!" seru seorang Pria berdiri tak jauh darinya.


"Iya kak!"


Wanita cantik bermata biru itu berjalan kearah seorang pria, lalu mereka menuju kasir.


Saat Devan akan berjalan ke kasir, ia melihat sebuah dompet terjatuh di lantai, lalu Dev membuka dompet itu "Ini seperti foto wanita tadi. Sepertinya dompet ini terjatuh." Devan menoleh kearah kasir, Namun wanita bule tadi sudah tidak ada. Ia berlari kearah pintu, tidak melihat lagi wanita itu.


"Aku akan mencari tahu siapa wanita ini!" gumamnya seraya berjalan kearah kasir.


💜💜💜


Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..


"AKU BUKAN CINDERELLA"


Sudah rilis 5 bab.. yuk ikuti kisahnya yang mengharu biru dan mengandung bawang. Jangan sampai ketinggalan kisahnya.

__ADS_1



__ADS_2