
Dokter Agung meraup wajahnya berkali-kali, sesekali ia membuang nafas kasar, ia mengarahkannya pandangan kearah pria misterius yang datang secara tiba-tiba.
"Apa yang harus kita katakan pada Tuan besar Reno dan Tuan muda zevano? bila sampai mengetahui anak gadis dan saudara kembarnya sudah tidak ada." tukas Dokter Irwan gusar seraya hembuskan nafas panjang.
"Kita harus lakukan sesuatu. Alat-alat medis bisa membantu Dr Vana untuk bertahan hidup"
"Apa Dokter Haris yakin...? tanya Dr Irwan tak percaya.
"Tidak ada yang tidak mungkin bila Allah sudah berkehendak. Banyak kejadian di rumah sakit ini, yang dianggap sudah mati hidup kembali." balas dokter Haris
"Kita ini seorang Dokter, sudah seharusnya berusaha melakukan yang terbaik untuk dokter Vana dan berusaha keras agar bisa kembali seperti semula." ujar Dokter Agung.
"Tetapi, kita sudah berusaha." Dokter Irwan menghela nafas panjang "Untuk kebaikan bersama, kita beritahu Tuan Vano dulu, agar kita tidak kesalahan."
"Dokter Irwan bener, kita harus beritahu Tuan Vano, tadi Asisten Dev membawanya keluar dari ruangan setelah mengancam kita."
"Kita harus bersiap-siap menerima amarah Tuan Zevano, ancaman nya tidak main-main." dokter Agung menarik nafas dalam-dalam.
"Mau apalagi? kita hanyalah bawahan yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Tuan Reno, semua keputusan ada padanya." ucap Dokter Haris pasrah.
'Ya sudah, sekarang cepat hubungi Asisten Dev, keadaan semakin urgent."
Dokter Irwan mulai meraih ponsel, wajah mereka terlihat cemas dan ketakutan.
***
Sementara Delena sudah sedikit lebih tenang setelah mendapat nasihat dari ibu mertuanya. Andini memberikan teh hijau hangat kepada Delena.
"Minum lah nak!
"Terima kasih Mah!
Udara sore hari di kota Berlin sangat dingin. Terlihat kabut putih perbukitan, bahkan jendela kaca terlihat berembun. Mantel bulu selalu melekat di tubuh Delena saat udara dingin menyeruak masuk kedalam pori-pori kulitnya. Delena sedang menikmati udara segar yang masuk kedalam rongga hidungnya di depan teras berlantai dua itu.
"Mah, bagaimana keadaan Papa?
"Alhamdulillah sudah lebih baik, tadi pagi sudah mulai tersadar."
Delena menghembus kan nafas datar "Aku masih tidak percaya dengan sikap Mas Reno yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Itu bukanlah sifat Mas Reno yang sebenarnya. 26 tahun hidup bersama, baru kali ini aku menelan kekecewaan."
Andini berjalan mendekat, mengusap lembut punggung sang mantu kesayangan. "Ma'afkan Reno. Pasti dia pergi ada alasannya dan tidak ingin kita khawatir."
"Bagaimana tidak khawatir? justru dengan ia menghilang tanpa kabar sedikitpun membuat aku khawatir mah! Delena mendekapkan kedua tangannya di dada, udara semakin kencang berhembus "Aku tidak percaya dengan sifat Mas Reno yang sekarang, teganya ia meninggalkan aku sendiri tanpa bertanya dulu." Delena mengusap airmatanya yang sudah meleleh.
Andini sebagai seorang ibu sekaligus mertua dari Delena hanya bisa menghela nafas dalam, Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur urusan anak mantunya, namun filing seorang ibu ada benarnya. Seperti Andini merasakan tidak enak hati jauh sebelum Reno dan Delena datang ke Jerman. Beberapa kali Andini selalu memimpikan ke-tiga cucunya. Semalam ia tidak bisa tidur dan terbagun dari tidurnya. Andini bermimpi bertemu ketiga cucu-cucunya lagi. Wajah mereka memancarkan kesedihan yang mendalam. Apalagi saat Andini menyentuh tangan Vana yang dingin bagaikan salju. Hatinya terasa teriris dan tiba-tiba ia menangis, walau entah apa yang sedang ia tangisi di dalam mimpinya.
"Ayo Dena kita masuk! udara semakin dingin."
__ADS_1
Delena yang masih terlihat sedih, mengangguk patuh. Ia masuk kedalam bersama Andini.
"Kamu beristirahat dulu saja. Sebentar lagi ART akan menyiapkan makan malam. Mama mau bersiap dulu untuk menemui Papah di rumah sakit."
"Tidak apa-apa bila aku tidak datang kerumah sakit, Mah? sungguh aku masih kesal dengan Dokter Jhon yang menutupi kemana Mas Reno pergi."
"Nggak usah khawatir. Papa sudah baikan. Ada asisten dan bodyguard yang menunggu Papa disana. Mama hanya menginap semalam, besok pagi pulang lagi."
"Iya Mah! hati-hati di jalan. jaga diri Mama baik-baik dan juga kesehatan Mama. kasihan mama pasti lelah." ujar Delena perhatian.
"Iya sayang.." Andini tersenyum seraya menepuk pundak Delena.
"Delena..."
Delena menghentikan langkahnya saat ingin masuk kedalam kamar "Iya mah!
"Hmmm..."
"Apa aku ceritakan saja ya tentang mimpiku, firasat ku nggak enak." gumam Andini dalam hati.
"Mama mau ngomong apa lagi? tanya Delena, mengeryitkan alisnya.
"Hmm... nggak jadi, Mama lupa tadi mau ngomong apa? ya sudah Mama mau siap-siap dulu, supir sudah menunggu."
Delena kembali masuk kedalam kamar dan mengambil sebuah ponsel yang berada di atas nakas. "Aku harus menghubungi Mas Reno lagi, sejak dua hari yang lalu ponselnya tidak aktif."
"Ya Tuhan Mas! kamu ini kemana sih! kesel Delena yang terus mengumpat.
"PRANK!!
Tanpa sengaja tangan Delena menyenggol gelas yang berada di atas nakas hingga pecah berhamburan di keramik. ia berjongkok untuk memunguti pecahan gelas itu. Tiba-tiba Delena terpekik.
"Aaawww! darah keluar dari ujung jarinya yang tertusuk pecahan gelas. "Ya Tuhan, ada apa ini? kenapa perasaanku nggak enak! pekik Delena yang tiba-tiba jantungnya berdebar kencang.
"Apa yang sudah terjadi dengan Mas Reno? lagi, lagi Delena teringat akan suaminya.
"BRUKK!
Tiba-tiba foto keluarga yang menggantung di dalam kamar terjatuh. Delena semakin terkejut. Jantungnya terus berdebar-debar tak karuan. Hatinya terus bertanya-tanya, dalam kebimbangan ia melangkah dan mengambil bingkai foto yang terjatuh. Dipandangi foto keluarga itu, di tatapnya satu-persatu. Delena yang duduk manis berdampingan dengan Reno. sebelah kanan Reno ada Vana dan Savira, di sebelah kiri Delena ada Zidane dan Vano. Mereka terlihat kompak dan tersenyum dengan pakaian seragam batik. Delena yang sedang tersenyum melihat kebahagiaan keluarga nya, tiba-tiba senyuman itu memudar, ia melihat ke-empat foto anak-anak nya dalam bingkai foto terlihat menyedihkan.
"Apa aku tidak salah lihat?! atau.. hanya perasaan ku saja ya? kenapa melihat foto mas Reno dan anak-anak ku, perasaan ku jadi hancur dan menyakitkan?! Delena mengusap dadanya yang berdenyut nyeri. ia menaruh bingkai foto itu ketempat asalnya. Lalu membereskan pecahan gelas.
"Aku harus menghubungi Vano. kenapa tiba-tiba perasaan ku tidak enak?! Delena mendesah panjang "Mas Reno, kenapa kau tidak ada disisi ku saat ini? kemana kau pergi, Mas? Andai saja kau ada disini, aku akan mengajakmu pulang ke Jakarta malam ini juga."
***
"Iya hallo..."
__ADS_1
"Asisten Dev, cepat segera keruangan Dokter Vana!" ucap Dr Irwan terburu-buru.
"Ada apa Dok? apa Vana sudah siuman?"
Terdengar tarikan nafas dalam dari ujung telepon "Justru tidak dalam keadaan baik, kami semua meminta Tuan Vano datang keruangan Dokter Vana."
"Baik, kami segera kesana!"
Setelah ponsel di tutup. Dave melihat kearah sofa, Vano baru tertidur satu jam yang lalu. Raut wajahnya terlihat kelelahan. Dave tak tega membangunkan sahabatnya itu.
"Apa Lebih baik aku sendiri saja yang datang ke ruangan Vana?"
Setelah di timbang-timbang, Dave memutuskan pergi sendiri, namun saat baru memegang handle pintu. Terdengar suara Vano mengigau.
"Jangan! jangan pergi Dek! hiks.. hiks.. Suara tangisan Vano sangat memilukan "Kakak nggak bisa jauh darimu. Kita satu raga, bila kau pergi, aku juga akan pergi..." hiks...
"Van! vano..." bisik Dave membangun kan pria berotot itu yang tertidur pulas, tangannya menepuk-nepuk pipi Vano pelan agar terbagun.
"VANA!!!! pekik Vano dan terbangun dari mimpi buruk nya.
"Vano, ada apa?! tanya Dave yang melihat kondisi Vano dalam keadaan kacau. Nafasnya tersengal, keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya. Rambut acak-acakan dan mata memerah seperti orang kurang tidur.
"Dimana adikku Vana?!
"Masih berada di ruangan rawat inap. kita harus segera kesana, Dr Irwan baru saja mengabari ku."
Vano mengangguk sambil mengusap wajahnya berulang-ulang "Ya Tuhan! ternyata hanya mimpi." ucapnya lega.
"Tadi kau mengigau dan meminta Vana Jagan pergi."
"Aku bermimpi Vana pergi meninggalkan ku. Tadi terasa beneran bukan mimpi. Vana berpamitan padaku dengan memakai gaun putih dan tersenyum lembut."
"Sudah lah jangan di ingat lagi, itu hanya mimpi karena kau tadi mengancam Dokter yang sedang menangani Vana."
Vano menyugar rambutnya dan beranjak dari sofa. "Ayo kita kerungan adikku."
Mereka berdua melangkah cepat menuju ruangan private perawatan milik Vana.
💜💜💜
@Bunda sudah tepati janji ya All... sekarang mana dukungan kalian.. kirim Bunda kopi buat begadang sama kembang setaman buat sesajen 😂😂😂
@kalian yang gak pernah kasih kopi, bunga, like dan komen. Bunda ciriin loh🤣🤣🤣
@Jngan lupa follow IG dan tiktok bunda ya.. kalian bisa kenalan dengan Bunda langsung walau hanya lewat tiktok 😂😂😂
@BERSANBUNG....
__ADS_1