
Ketemu! seru Vano membesarkan panah merah yang berada dalam laptop.
"Ketemu apa kak?! Vana menautkan kedua alisnya yang berkerut-kerut.
"Mereka menaruh BOM di beberapa tempat, tanda panah merah ini menunjukkan BOM yang tersembunyi, ternyata BOM itu sedang aktif."
Vana membelalakkan matanya "Jadi apa yang akan kakak lakukan..?!
"Tentu saja membuat BOM itu tidak bisa meledak!"
"Bagaimana caranya Kak?!
"Akan kakak matikan dari sini!"
"Bagaimana bisa Kak? memang kakak punya ilmu hilang hingga segampang itu mematikan Bom!" tukas Vana meragukan kembarannya.
Vano tersenyum lebar "Kau tenang saja sayang, mudah bagi Kakak menjinakkan BOM itu melalui jarak jauh tanpa tersentuh tangan. Bukankah Bom terbuat dari rakitan kabel listrik. Saat iyon negatif dan iyon positif saling bertemu terjadi lah peledakan, sebelum kabel itu meledak, akan kak Vano non aktifkan dulu."
"Ya sudah bagaimana baiknya saja Kak! yang terpenting rumah sakit ini aman dan tidak ada korban jiwa."
"Van, bisa buatkan kakak kopi..?!
"Tentu saja!" Vana melirik arloji di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Lalu Vana berjalan kearah pintu.
"Dek! panggil Vano sebelum membuka pintu. "ingat ya, gulanya setengah sendok teh. Seperti buatan Vira dirumah, sangat pas takarannya."
Vana menaikkan satu alisnya "Kenapa yang di ingat kopi buatan Savira..? gumam nya pelan seraya melangkah pergi menuju pantry.
"Aku lupa, pantry di lantai dasar terkena Bom, berarti aku harus naik ke lantai lima." Vana melangkah menuju pintu lift. Setelah ia masuk kedalam lift dan berhenti di lantai lima. Tanpa Vana sadari, sejak tadi seseorang mengikuti langkahnya hingga sampai di sebuah pantry
"Krekkk...."
"Dokter Vana...? sapa seorang perawat yang berada di dalam pantry.
"Kau sedang apa Sus..?
"Buat teh manis hangat buat Dokter Ferdy. Panty di bawah tidak bisa digunakan, Dok!'
Vana berjalan kearah rak dan mengambil gelas, lalu membuka tutup toples berisi kopi dan gula.
"Dokter Vana mau buat kopi? biar saya bantu buatkan."
"Tidak usah Sus, kakak saya tidak mau di buatkan sama orang lain."
__ADS_1
"Kakak..? apa kakak Dokter datang kesini?
"Ahh, tidak ada!" jawab Vana spontan. "Kebetulan saya teringat kakak saya kalau lagi pingin kopi."
"Oohh... Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu Dok, takut dokter Ferdy kelamaan nunggu."
"Silakan sus!"
Dua orang Suster berjalan pergi meninggalkan ruangan pantry. Tinggallah Vana seorang diri menuangkan air panas kedalam gelas berisi kopi dan gula setengah sendok teh, seperti permintaan sang kakak. Saat sedang mengaduk kopi, tiba-tiba dari arah belakang punggung, seseorang berpakaian serba hitam menjeratnya tali ke leher Vana dengan sekuat tenaga. Reflek kopi di depannya jatuh kelantai mengenai kaki Vana. Wajah Vana memerah menahan sakit sambil kedua tangannya menarik tambang, sekuat tenaga Vana berusaha melepaskan jeratan di lehernya. Tubuhnya hampir lemah, karena pasokan nafas dalam tenggorokannya tercekat dan hampir habis. Disaat terdesak, Reflek Vana menendang kearah belakang dan mengenai burung kebanggaan Pria itu. Suara erangan terdengar pilu, terpaksa pria yang menjerat leher Vana melepaskan tali itu.
Vana melempar tali itu dan menghirup udara dalam-dalam, nafasnya terasa sesak dan tersengal. Tubuhnya hampir tak bertenaga, Namun ia harus kuat dan melindungi diri sendiri, sebab musuh berada di manapun. Seketat apapun penjagaan tetap saja musuh bisa menyusup dan menyamar jadi apa saja.
Vana memegangi lehernya yang terasa panas dan pedih. Pria yang kesakitan itu sedang membungkuk menahan ngilu di bagian tengahnya. Tiba-tiba Pria itu menyerang Vana, secepat kilat ia mengambil pisau di atas meja pantry dan menikamkan ke perut pria itu.
"Pergilah kau ke neraka!"
"Seeetttttt!!!;
"Aaakkhhh!!!
"Sebelum kau benar-benar ingin membunuh ku, kau lebih dulu harus menikmati kematianmu sendiri!" seru Vana, seraya menusuk perut pria tersebut lebih dalam lagi dengan pisau di tangannya.
Mata Pria itu melotot menahan sakit, rupanya sakaratul maut sedang menghampirinya. Seketika pria itu ambruk di lantai dengan berlumuran darah.
Vano terus melangkah melewati lorong yang sunyi "Dimana pantry nya..?! gumamnya lirih.
"Malam Dok!" sapa seorang pria berpakaian seragam office boy.
"Malam...!" jawab Vano tanpa menoleh.
Vano melirik arloji di tangannya "Jam tiga lewat lima menit." ujarnya pelan. Tiba-tiba langkah panjangnya berhenti "Tunggu! bukankah ini masih jam tiga? untuk apa jam segini pria itu mengepel lantai? bukankah seharusnya jam lima subuh baru bersih-bersih." lirihnya dalam hati. Seketika Vano menoleh kebelakang. "Tidak ada? kemana pria tadi!" Saat Vano membalikkan badannya, tiba-tiba..
"BUGH!!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Vano. Darah segar mengalir dari hidungnya. Tiba-tiba orang yang memukulnya tadi menghilang.
"Kemana orang tadi, kenapa tiba-tiba menghilang?" belum sempat rasa penasaran vano, lagi-lagi seseorang menghantamkan pukulan ke punggung Vano.
"BUGH!"
"Aagrrhh! sial...! siapa mereka? ilmu apa yang mereka gunakan. Aku harus siap-siaga sebelum mendapatkan serangan lagi!
Vano merapatkan tubuhnya ke dinding dan dapat menghindari pukulan mendadak. "Aku harus cari kelemahan orang ini. Sepertinya orang yang ku hadapi bukanlah orang sembarangan, ia memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi." bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Saat sebuah bayangan ingin memukul dada Vano, secepat kilat Vano menghindar. Bekas telapak tangan pria itu menempel di dinding, hingga retak-retak.
"Ilmu bayangan!" sentak Vano dan menghindar dari pukulan berikutnya.
"Aku harus mencari sesuatu untuk melumpuhkan nya." Vano terus berpikir seraya menghindar dari serangan mendadak. Setelah menemukan solusi dalam otaknya. Ia berlari ketempat yang akan ia tuju. Namun sayang, ada sebuah tangan bayangan yang menarik kaki Vano hingga ia tersungkur ke lantai.
"Aku harus secepatnya mencari abu atau pasir!" seru Vano sambil bangkit dari lantai dan berlari secepat kilat melewati lorong yang sepi.
Sekali lagi, Vano di serang oleh orang-orang yang memiliki ilmu bayangan tingkat tinggi. Tubuhnya di hajar bertubi-tubi tanpa terlihat oleh matanya.
"Aku ingat, pernah di ajari ilmu batin menangkap manusia bayangan melalui penutup mata. Namun sayang nya harus konsentrasi." ucap Vano pada diri sendiri.
"Rumah sakit ini sudah tak nyaman. kini mereka mulai menyerang tempat ini untuk menghabisi keturunan anak-anak macam Asia."
"Daddy! seru Vano teringat bayangan wajah sang Daddy. "Aapa Daddy merasakan kegelisahan kami berdua? Daddy memiliki ilmu Ninja bayangan tingkat tinggi, aku hanya mampu seperempat dari ilmu yang Daday turunkan. karena kesibukan mengejar S2."
"Ya Allah selamatkan aku dan keluargaku, serta orang-orang yang berada di rumah sakit ini."
"Daddy...!"
"Daddy...!"
Batin Vano memanggil Reno yang berada di Jerman. Tiba-tiba Vano merasakan kehadiran Daddynya.
[Untuk bisa menguasai ilmu bela diri ninja bayangan, kau harus konsentrasi penuh. Hilangkan ego mu, senyapkan suara bising di sekitarmu. Karena orang yang memiliki ilmu Ninja bayangan hanya terlihat oleh mata batin bukan mata liar. Setelah berkonsultasi penuh, fokuskan pada satu titik. Nanti akan terdengar suara angin. Berarti dia berada dekat dengan kita, lambat laun akan terdengar nafas seorang ninja bayangan walau tersamarkan dengan angin]
"Baik Dad!"
Vano mulai merasakan getaran dari arah angin, ia terdiam dan mulai konsentrasi penuh dengan menutup matanya. Ia seakan merasakan telepati dari sang Daddy dengan adanya bisikan kuat di telinganya. Saat gerakan angin berada di sampingnya ia menghindar dan memukul di sebelah kanannya.
"BUGH!
Vano merasa tangannya memukul sebuah wajah dan dapat menyentuhnya Walau tidak terlihat. Kini Vano semakin yakin dengan kekuatan yang di salurkan oleh sang Daddy melalui ilmu telepati.
"Serang Vano! kau harus habisi mereka semua!" seru suara sang Daddy di telinganya yang mulai merespon.
πππ
@Sebelumnya Bunda minta maaf π, beberapa hari ini tidak Up karena drop, sakit' migrain tidak bisa konsentrasi Bunda untuk berfikir dan nulis. Tolong bantu do'a semoga Bunda sehat terus dan bisa tuntaskan Karya iniπ
@Terimakasih banyak yang masih terus dukung karya Bunda π. Jangan lupa terus bantu Bunda untuk: Vote, gift, like dan rate bintang 5.
@Bersambung.....
__ADS_1