Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Ketakutan Vano


__ADS_3

Vano menghela nafas panjang, ia melirik kearah Dev seakan memberikan kode, apakah harus di jelaskan sekarang? begitu kira-kira pertanyaannya pada Dev. Seperti mengerti apa yang Vano rasakan, Dev mulai angkat bicara.


"Tuan, apa tidak sebaiknya Anda rehat dahulu? tuan baru saja sampai Jakarta. Nanti kita bahas kembali masalah Savira dan Zidan." kata Dev bicara hati-hati, sebab yang ia hadapi bukan orang biasa.


"Kalian sudah paham bukan? 18 jam perjalanan ke Indonesia menghabiskan waktu istirahat yang cukup." mata Reno menatap tajam kearah Dev.


"Dad! kita bicarakan di ruangan kerja Vana. Biar Dave yang menjaga Vana."


Reno mengangguk, lalu tatapan nya beralih pada Vana. "Sayang.." Reno mengusap lembut pucuk kepala Vana "Buka matamu, Daddy sudah berada disini, jangan kelamaan tidur. Ayolah bangun, kita akan bermain kuda bersama." ucap Reno penuh semangat.


Reno beranjak dari tepi ranjang setelah mencium kening anak gadisnya. kakinya melangkah kearah pintu di ikuti Vano.


Setelah pintu tertutup rapat. Dev berjalan mendekati ranjang Vana. "Van, kau begitu cantik walau tanpa polesan make-up. Sayang nya kau tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk mendekati mu." Dev tertawa kecil, seakan menertawakan dirinya sendiri "Aku sadar, kalau aku bukan tipe mu." ucapnya lagi seakan sedang berbicara dengan Vana.


Didalam ruangan kerja Vana. Reno berdiri di depan jendela, menatap taman buatan yang berada di depannya. Ada pohon palem dan rerumputan hijau merambat di bawahnya. Hiasan kolam ikan berwarna warni, dengan sir mancur yang terbuat dari bambu menambah suasana begitu damai. Reno menarik satu batang rokok dari bungkusnya. lalu menghisapnya kuat-kuat setelah batang rokok menyala. Vano duduk di sofa, menunggu pertanyaan dari sang Daddy dengan raut wajah datar.


"katakan Bagaimana keadaan dua adikmu? tanya Reno tanpa basa-basi, seraya membuang asap rokok dari dalam mulutnya.


"Zidane...." Vano terdiam, ia tampak gelisah dan tegang, helaan nafas gusar terdengar lirih. "Zidane hilang!


Reno menoleh kearah Vano yang terlihat tegang "Adikmu hilang?!


"Iya Dad! Setelah kepergian Daddy malam itu, Zidan di culik, ternyata bi Ijah dan Kodir yang memasukkan penjahat itu ke mansion. suami istri itu bekerjasama dengan mereka, karena beliau juga di ancam dan anaknya di culik."


Reno menjentikkan abu rokok diatas bara. "kau berada di mana saat kejadian? kenapa kau tidak bisa menjaga adik mu dan mengatasinya! Reno membuang nafas kasar


"Ma'af Dad! saat Daddy dan mommy pergi ke bandara, Vano masih berada diluar kota dan terjebak longsor saat arah pulang. Dengan terpaksa Vano, Dave dan Savira menginap di hotel, Karena hujan lebat dan petir tak hentinya menggelegar. Vano baru tahu kalau Savira takut petir dan menjerit ketakutan."


Reno menekan puntung rokok ke asbak, lalu terduduk di kursi tunggal. Reno masih terus mendengarkan cerita anak sulung nya.


"Esoknya Vano pulang ke mansion, dan terjadi kekacauan dengan hilangnya Zidane."


"Kau tahu bukan? Daddy telah membuat keamanan dan pertahanan yang super ketat di mansion, agar tidak kecolongan!


"Percuma saja Dad, dengan adanya penghianat di mansion, keamanan yang Daddy buat tidak ada artinya."


"Kau salah, sudah pasti orang yang bisa meretas kekebalan sistem mansion, bukankah orang sembarangan."


"Kita harus selidiki itu Dad! saat kejadian aku begitu panik, hingga tidak mencurigai sistem yang telah di retas."


"Daddy dengar dari Jack, Kodir mati di tebas lehernya oleh penjahat yang sudah ia tolong. Bi Ijah menjadi stres dan di bawa kerumah sakit jiwa."


Vano terdiam, tiba-tiba ia teringat akan sang mommy yang tidak datang bersama Reno.


"Mommy dimana Dad?


"Masih di Jerman."


"Apa grandpa sudah sehat?


Suara dering ponsel mengalihkan atensi Reno kearah saku celananya yang bergetar, ia mengeluarkan ponselnya dan menggeser tombol hijau, tanpa menjawab pertanyaan Vano.


"Ada apa Jack?


"Kami sudah dapat lokasinya, Tuan!"


"Bagus! terus pantau mereka, jangan ada satupun yang meninggalkan lokasi tersebut. aku akan segera kesana."


"Siap Tuan!


"Pastikan orang-orang kita sudah bersiap diri. kemungkinan mereka akan menyerang balik."

__ADS_1


"Pasti tuan, kami semua sudah bersiap dan menjalankan aksi kami, tinggal tunggu perintah dari Tuan!"


"Oke, aku segera kesana!"


Selesai berbicara Reno memasukkan ponselnya kedalam saku celana, lalu ia beranjak dari duduknya. "Daddy harus pergi sekarang, tolong jaga adik-adik mu!"


"Dad! boleh aku ikut serta bersama Daddy?!


"Tidak! kau sedang terluka, lebih baik kau banyak istirahat dan memantau kesehatan adikmu." tegas Reno yang tidak ingin di bantah perintah nya.


"Tapi Dad..."


Sebelum Vano merengek kembali, Reno sudah memberikan tatapan tajam. Vano hanya mendesah pasrah dan menerima keputusan sang Daddy. Dengan langkah cepat Reno meninggalkan ruangan tersebut.


"Ahh! Vano bernapas lega "Untung saja Daddy tidak menanyakan keadaan Safira."


"Lebih baik aku menelpon mommy, pasti ia tampak shock bila tahu Zidane di culik."


Vano mulai mencari kontak sang mommy. Tiba-tiba pintu ruangan kerja Vana terbuka, Dave langsung masuk dan memanggil Vano dengan tergesa.


"Van! Cepat ke ruangan Vana, ia kejang-kejang!


"Ap-apa?! apa yang terjadi dengan adikku Dave!" teriak Vano yang melihat Dave sudah melangkah pergi meninggalkan dirinya.


"Ahh sial! kenapa Dave selalu buat orang jantungan! makinya di sela langkahnya menuju ruangan private milik sang adik.


"VANA!


Vano melihat sang adik sedang di tangani Dokter Irwan, Dr Agung dan Dr Haris. Tubuh Vana menegang dengan kedua tangan terkepal, bibirnya membiru dengan mata masih tertutup sempurna.


"Dok! ada apa dengan adikku? kenapa ia bisa seperti ini? tanya Vano Panik, terlihat ia begitu frustasi melihat kondisi kembarannya.


"Tenang Tuan, kami sedang melakukan tindakan. Agar dokter Vana bisa terselamatkan." ujar dokter Agung.


(pacemaker adalah perangkat medis yang secara elektrik dapat menstimulasi otot jantung untuk berkontraksi guna menghasilkan detak jantung)


"Cepat lakukan lebih keras, jangan sampai jantungnya berhenti berdetak!" tukas Dokter Haris memperingati.


"Vana....! bangun Dek! jangan pernah pergi! teriak Vano, seraya mendekati tubuh sang adik "Dek, ingat janji kita, kau tidak akan tinggalkan kakak sebelum kita menikah dan memiliki anak! seru Vano berusaha berbicara pada sang adik, agar Vana tersadar dari komanya yang sudah berjalan empat hari.


Vano melempar pandangan pada tiga orang dokter yang sedang sibuk memberikan pertolongan pada Vana "CEPAT KALIAN LAKUKAN UNTUK ADIKKU! teriak Vano "BILA SAMPAI ADIKKU KENAPA-NAPA KALIAN AKU HABISI!!!


Melihat sahabatnya murka, cepat-cepat Dave menarik tangan Vano dan membawanya keluar dari ruangan Vana. "Van! jangan seperti ini, kau membuat dokter takut! terpaksa Dev memperingati sahabatnya yang sedang banyak masalah, hingga amarahnya keluar tanpa sadar.


"Aku tidak bisa membiarkan adikku pergi sebelum ia bahagia!" seru Vano dengan nafas tersengal, dada bidangnya terlihat turun-naik. Mata yang berkaca-kaca itu berubah menjadi cairan bening yang berjatuhan di wajah Vano.


Aku mengerti perasaanmu Van, tapi please? hargai dokter sedang menangani Vana, ia akan tertekan dan mengalami depresi bila kau ancam seperti itu."


Vano mengusap wajahnya berkali-kali, ia seperti menyesal akan ancaman nya tadi, apa yang dikatakan Dev ada benarnya. Bila ketiga dokter itu tertekan mereka tidak akan bisa menyelamatkan adiknya. Vano meninju dinding didepan untuk meredakan amarahnya.


Gegas Dev mengambil air dari dispenser yang berada di tempat itu, lalu memberikannya pada Vano.


"Minumlah dulu agar kau tenang."


Vano menerima gelas berisi air putih lalu diminumnya hingga tandas. Kini ia mulai bisa mengatur nafasnya dan meredakan emosinya. "Aku ingin menemui adikku, aku harus berada di sampingnya."


"Jangan dulu, kau harus tenang dan tidak bertindak bodoh. Percayakan semuanya pada Dokter, mereka lebih tahu apa yang seharusnya mereka lakukan."


Vano hanya terdiam saat mendapat nasihat dari sang sahabat. ia menjatuhkan tubuhnya diatas keramik dengan membekap wajahnya.


Sementara itu, ketiga Dokter masih terus berpacu untuk menyelamatkan Vana.

__ADS_1


"Bagaimana ini, detak jantungnya tidak bergerak." ucap Dr Irwan yang melihat di layar monitor.


"Cepat lakukan kembali! perintah dokter Agung.


Dokter Irwan menaruh alat defribrilator di dada Vana dan mulai memberikan kejutan, agar jantungnya berdetak.


"satu, dua, tiga...


DUCK!


"Lagi!


"Satu.. dua.. tiga..


"DUCK!


Tubuh Vana sedikit terangkat karena alat defribrilator yang menghentakkan jantungnya.


(Alat pacu jantung atau defribrilator adalah alat untuk mengatasi gangguan irama jantung atau aritmia yang dapat mengancam jiwa. Alat ini akan ditempelkan pada dada atau area perut pasien untuk membantu pasien mengontrol ritme jantung yang tak normal.)


***


"Zevana...."


"Daddy..."


"Daddy kembalikan bola Zee..." rengek gadis kecil berusia lima tahun itu.


"Ambil kalau bisa.." tukas Reno menggoda.


Gadis itu menarik-narik celana bahan sang Daddy yang berdiri sambil memegang bola berwarna pink. Vana melompat-lompat untuk bisa meraih bola dari tangan sang Daddy.


"Sayang, sudah sore, ayo masuklah!" suara sang mommy dari depan pintu berseru, menyuruh dua orang kesayangan nya untuk masuk.


Tiba-tiba bola yang di pegang sang Daddy terlepas, Vana bersorak girang seraya berlari kecil kearah taman dimana bola itu berhenti.


"Zee, cepat ambil bolanya. lalu kembalilah, sebentar lagi turun hujan." Reno menadahkan wajahnya keatas langit, langit tampak mendung tertutup awan hitam.


"Oke Daddy, Zee ambil bola nya dulu." gadis cantik itu terus berlari dan mencari bola miliknya di antara pepohonan rimbun.


"Dimana bola tadi? bukankah berada disini? gumamnya lirih seraya membuka satu persatu dedaunan yang merambat.


"Sssttttt....


"Sssstttt....


Terdengar suara binatang mendesis.


Vana menghentikan pergerakan tangannya dan memasang telinganya dengan jeli. Suara dedisan itu semakin kencang terdengar, seketika Vana dikejutkan oleh seekor binatang yang keluar dari semak-semak dengan mulut menganga dan lidahnya menjulur. sontak gadis kecil bersurai panjang itu berjalan mundur.


"U-L-A-R...!!!!


Pekik nya ketakutan, seketika nafas Vana begitu sesak dan hampir berhenti, suaranya tercekat di tenggorokan.


"TO-LO-NG!! suara itu tidak bisa keluar, hanya dalam hati yang terus menjerit-jerit. Tentu saja gadis itu membutuhkan pertolongan sang Daddy yang di harapkan datang menjemput dirinya. namun sayang, justru Reno berjalan kearah mansion dan menyambut pelukan hangat sang istri yang sejak tadi menunggu di ambang pintu. Vana memegangi lehernya yang tercekat, linangan air mata sudah membasahi pipinya yang chubby, Vana berharap bisa berteriak dan menjauh dari ular sanca yang siap menyedot darahnya hingga habis.


💜💜💜


@Bunda buat kisah ini sengaja buat konflik yang berbeda dari yang lain. kalian baca novel ini seperti sedang naik pesawat terbang dan langsung menukik ke bawah, seperti jantung mau copot, wkwkwkwk. Kenapa banyak action nya? karena sesuai dengan judulnya "Macan Asia" Bunda buat cerita ini agar pembaca ikut masuk kedalam cerita ini, walaupun cuma hayalan doank 🤣🤣🤣 Ok.. begitu saja ulasan dari Bunda, biar tidak ada lagi pertanyaan kenapa banyak konflik dan bla..bla.. bla..🥰


Jangan lupa bantu follow IG dan tiktok bunda ya All. Jujur saja bunda baru jualan di online shop, makanya minta bantu kalian untuk follow akun tiktok bunda (Eny. 76 shop)

__ADS_1


Terima kasih yang sudah follow Bunda, Bunda Sayang kalian 🙏😘😘😘


@Bersambung....


__ADS_2