Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kedatangan Sekertaris Vano


__ADS_3

Matthew tergelak "Kenapa kau mesti malu mengakuinya, kalau kau terlahir dari seorang wanita penghibur dan penyanyi Club'malam di Bar Daddy ku!


"BRAKK!


Nathan menggeprak meja didepannya. "Jangan pernah sekalipun kau hina ibuku! bentaknya dengan tatapan tajam kearah Matthew.


Matthew lagi-lagi terbahak-bahak melihat emosi Nathan yang sudah tersulut. "Kau mau apa sekarang! tantang Matthew. "Bila kau ingin melawan ku, ingat perjanjian kita! sekali saja kau langgar, Perusahaan dan semua aset milik ibumu akan menjadi milikku!"


Nathan semakin kuat mengeratkan kepalannya, hingga urat-urat ditangannya menonjol. Giginya gemeratak menahan emosi yang akan meledak-ledak.


"Brengsek! andai saja tidak ada darah kotor mu di tubuhku. Tidak sudi aku mengikuti semua perintah gila mu itu!" sentak Nathan dengan tatapan menusuk.


"Itu terserah padamu Nathan! bukan aku yang datang padamu, tapi David yang memohon padaku! seharusnya kau tahu diri, kau berhutang nyawa padaku!


"Menyesal aku di lahirlah dengan darah yang sama! andaikan saja kita tidak memiliki darah dari satu Ayah, sudah dari dulu kau ku musnahkan!"


PRANKK!


PRANKK!


Matthew menghancurkan barang-barang yang berada diatas meja. "Dasar nggak tahu diri! sudah di tolong malah menggigit!"


"BUGH!"


Matthew meninju wajah Nathan, darah segar keluar dari hidungnya. Bau anyir darah tercium begitu menyengat. Nathan mengusap cairan kental itu dengan jempolnya.


Dengan amarah meletup-letup Nathan mendorong tubuh kekar Matthew ke dinding. Dan memukulinya bertubi-tubi.


"Sudah cukup Kak! jangan berkelahi lagi!" seru Tiffany melerai keduanya "Kita ini bersaudara, jangan saling menyakiti!" Tiffany menarik tangan Nathan, yang sejak tadi terus memukuli Matthew.


Nathan menatap netra biru terang itu, aliran darah yang sejak tadi bergejolak, seketika mereda setelah tangan lembut Tiffany meraihnya untuk berhenti.


"Jangan kotori tangan kakak dengan melawan saudara kita sendiri. Ingat! kita anak-anak Daddy Thomas, sudah seharusnya kita bersatu bukannya saling pukul dan adu fisik!


Nathan beralih menatap Matthew yang sudah babak belur. ia melepas kerah bajunya sambil menatap dingin wajah pria bergelar kakak tiri itu. "Kali ini aku melepaskan mu, karena adik perempuan ku yang meminta!" hardik Nathan berdecih muak. Lalu ia melangkah pergi.


"Kak Nathan...!


Seketika Nathan berhenti saat akan membuka handle pintu. ia menoleh kearah adik tirinya.


"Terimakasih sudah mau mendengarkan aku!" kata Tiffany.


Nathan tersenyum samar dan mengangguk pelan. Lalu membuka pintu dan pergi begitu saja.


"Hufft! Tiffany mendesah lega, tatapannya beralih pada Matthew "Kak! kau tidak apa-apa? memegang pipi kakaknya yang membengkak.


"BRENGSEK NATHAN! AKAN AKU HABISI DIA! pekik Matthew seraya memegangi wajahnya yang memar.


"Salah kakak juga, kenapa harus menghina ibu kandung kak Nathan!"


"Jadi kau lebih membela dia, daripada aku kakak kandungmu! Dengus Matthew kesal. "Seharusnya Nathan sadar kalau ibunya itu seorang J4l4ng!"


"Kak! Daddy juga bukan Pria baik, ia seorang kasanova. Seharusnya kakak tahu itu! Bagaimana Mommy sakit hati dengan sikap Daddy yang selalu ganti-ganti wanita!


"Aaggrrh! sudahlah, kau masih saja terus bela Nathan yang baru saja kau kenal!"

__ADS_1


"Tapi dia kakak ku juga bukan?!"


"Tapi beda Mommy!"


"Tetap saja Nathan saudara kita!"


"Kau ini keras kepala sekali! menyesal kakak beritahu dia kakak mu!" cetus Matthew lalu melangkah pergi.


"BRAKK!


Pintu di banting dengan keras.


"Ya Tuhan, kenapa anak laki-laki keturunan Daddy semuanya pemarah!" Tiffany berdecak seraya gelengkan kepala.


*


*


Pagi itu di kediaman keluarga Reno. Semua sudah berkumpul di ruangan meja makan.


"Pagi Mom! ada yang perlu Vira bantu."


"Pagi sayang...! Sudah selesai semua kok. tumben anak mommy ceria sekali pagi ini!"


"Iya dong mom!" ucap Savira sambil menarik satu kursi di samping Zidan.


"Mas! ini kopi nya." Delena menaruh cangkir kopi di depan Reno.


"Apa semalam Zee tidak datang? tanya Reno seraya menyeruput kopi panas perlahan.


Reno menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan.


"Pagi Dad, Mom! sapa Vano, menarik kursi di samping Reno.


"Pagi Vano!"


"Bagaimana perkembangan kelapa sawit yang sedang kau kelola, apa sudah berjalan?"


"Sudah Dad! lahan sepuluh hektar sudah dibuat untuk pabrik minyak. Dan kelapa sawitnya akan di kirim dari daerah Sumatra."


"Kenapa tidak sekalian beli lahannya untuk menanam kelapa sawit."


"Butuh waktu lama untuk menanamnya Dad!


"Bisa untuk jangka panjang Van! Reno mengigit sandwich di tangannya "Kalau begitu beli lahan sekalian pohonnya. itu lebih menguntungkan daripada kau beli hasil panen penduduk setempat!"


"Vano juga berpikir seperti itu Dad! nanti akan Vano pikirkan lagi."


"Vira..? cincin mu cantik sekali? Mommy baru melihatnya." tukas Delena yang baru menyadari jari manis Savira ada sebuah cinta batu merah.


Savira menghentikan makannya dan melihat cincin di jari manisnya "Ini pemberian kak Dev semalam, aku saja menyukainya. Bagus kan Mom?" seru Savira tersenyum lebar.


"Bagus banget, sangat pas di jarimu. Mommy kira pemberian dari Vano! sindir Delena seraya melirik anaknya yang sedang mengunyah makanan.


"Uhuk..! uhuk..! uhuk..!

__ADS_1


Vano langsung tersedak. Dengan sigap Reno memberikan gelas berisi air putih hangat.


"Kebiasaan kalau makan tidak berdoa dulu!" celetuk Reno.


"Thanks Dad!"


"Vir...!"


"Iya Mom!"


"Semalam Devan sudah minta izin Mommy dan Daddy. Mau kan kamu bantu kak Vano dan Dev di kantor untuk jadi sekertaris."


"Sepertinya Vira sangat cocok jadi sekertaris Vano. Vira cerdas dan cekatan. Perusahaan Daddy butuh seorang sekertaris seperti mu vir..! potong Reno.


"Bagaimana vir...?! tanya Delena, menunggu Jawaban.


Savira terdiam dan terus berpikir. Namun ia tidak akan bisa menolak, Karena ia sudah di asuh oleh keluarga Reno dan Delena sejak usia 13 tahun, kini saatnya membalas kebaikan kelurga Reno.


"Baiklah Mom, Dad! Vira akan bekerja dengan baik sebagai sekertaris."


"Ahh.. syukurlah! Reno bernafas lega.


"Terima kasih sayang." Delena beranjak dari duduknya, berjalan kearah Savira lalu memeluknya.


"Sama-sama Mom!"


Esoknya Savira sudah bersiap untuk berangkat ke kantor Mahesa Group. kemeja putih di padu rok span, blazer hitam senada dengan warna roknya. sepatu heels hitam dan tas branded pemberian Fanny terlihat elegan.


"Wow cantik banget anak mommy." puji Delena saat melihat Savira keluar dari kamar. Vano yang baru turun dari lift menatap kagum penampilan Savira yang berbeda. Ia terlihat lebih dewasa dan anggun.


"Vano! jangan berdiri saja disana! cepatlah sarapan dulu, baru berangkat bersama Vira!" perintah Delena yang tidak bisa di bantah.


"Iy-a Mom! ucap Vano tergagap.


Setelah sarapan bersama, Vano dan Savira berpamitan pada Reno dan Delena. Savira duduk di samping pak supir. Sementara Vano duduk di barisan kedua. Tidak ada interaksi dari keduanya saat berada dalam satu mobil. Vano sibuk dengan laptop di pangkuannya, sementara Savira membuka mendos di ponselnya.


Mobil melaju dengan cepat menuju perkantoran Mahesa Group. Kurang dari satu jam mobil sudah masuk kedalam gerbang perkantoran.


Seorang bodyguard membukakan pintu mobil belakang. Vano turun dan melangkah masuk kedalam gedung perkantoran di ikuti Savira di belakangnya. Savira tetap menjaga jarak dan memposisikan statusnya yang hanya sebagai seorang sekertaris. Ia yang baru pertama kali masuk kedalam gedung perkantoran Mahesa, terlihat takjub. Para karyawan membungkuk hormat saat sang CEO berjalan gagah dengan ekspresi dingin. Vano terlihat cool dan berwibawa. Memiliki kharisma yang tak bisa terbantahkan sebagai pemilik perusahaan Mahesa Group.


💜💜💜


@Pro dan kontra pasti ada. Ma'afkan Bunda yang sudah buat kalian baperrrrr..🤣 Semoga kalian terus suka dengan karya Bunda 😘😘


Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..


"AKU BUKAN CINDERELLA"


Sudah rilis 7 bab.. yuk ikuti kisahnya yang mengharu biru dan mengandung bawang. Jangan sampai ketinggalan kisahnya.



__ADS_1


__ADS_2