Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Identitas Ninja Bayangan


__ADS_3

"BUGH!


Vano merasa tangannya memukul sebuah wajah dan dapat menyentuhnya Walau tidak terlihat. Kini Vano semakin yakin dengan kekuatan yang di salurkan oleh sang Daddy melalui ilmu telepati.


"Serang Vano! kau harus habisi mereka semua!" seru suara sang Daddy di telinganya yang mulai merespon.


Vano mulai berkonsentrasi dan mendengar suara angin yang berada dekat dengannya. Dengan amarah dan nafsu yang menggebu-gebu ia mulai memukul lawan yang berada di depannya.


"BUGH!"


Vano menonjok bibir dari orang bayangan itu, hingga gigi-gigi nya rontok dan berjatuhan ke lantai bersamaan suara erangan terdengar di telinga Vano. Vano mengambil mmmmmmmmmmmmmmmm......


...mmm. dengan memukul, menendang pria tanpa wujud itu, namun pukulannya telak dan mengenai sasaran.


Kini Vano bisa menguasai dirinya dan mengetahui keberadaan sosok Ninja bayangan yang tidak terlihat. Arah angin yang berputar mengelilingi dirinya dapat Vano rasakan. Vano sudah siap siaga untuk melawan mereka dengan konsentrasi penuh. Sebab yang ia hadapi bukanlah Ninja bayangan biasa.


"Krek, krek, krek..."


Sekuat tenaga Vano mematahkan leher lawan saat berada di belakang punggungnya dan membanting kedepan hingga suara pekikan terdengar kesakitan. Berbagai arah Vano terus di serang, ia berlari untuk mencari abu agar wujud mereka terlihat dengan mata telanjang.


Serangan terus kearah Vano, namun ia bisa menghindar dari serangan tanpa terlihat wujud itu, nafas dan suara angin banyak terdengar di sekitar. Vano terus berkonsentrasi penuh hingga kupingnya berdengung kencang.


"Kakak! tiba-tiba suara Vana membuyarkan konsentrasi nya, sebuah pukulan mengenai dada Vano hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Kak Vano, kau muntah darah!" seru Vana setengah berlari kearah sang kakak


"Berhenti! jangan mendekat vana! musuh kita tidak terlihat!" pekik Vano seraya memegangi dadanya yang perih.


Vana yang terlihat bingung dengan perkataan Vano, mengerutkan keningnya dan terus berjalan mendekat.


"Dek! cepat kau harus pergi...! mereka tidak terlihat dengan kasat mata! teriak Vano.


Tiba-tiba "BUGH!" Vana terpental kebelakang, dadanya seperti ada yang menendang.


"Vana.....!" pekik Vano, ia berlari kearah Vana. "Dek, kau tidak apa-apa..?


"Siapa mereka kak?


"Ninja bayangan!"


"Apa...? Vana terperanjat kaget.


"Mereka tidak terlihat, kakak harus mencari abu agar wujud mereka terlihat dan nyata." bisik Vano.

__ADS_1


"Tapi kakak terluka dan mengeluarkan darah."


"Tidak usah dipikirkan, yang terpenting kita harus bekerja sama."


"Di Laboratorium banyak abu bekas pemboman, biar aku saja yang ambilkan."


"Baik, berhati-hati lah, waktu kita tak banyak. Jangan sampai mereka melukai seluruh pasien."


"Iya Kak!" Vana bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu menuju ruangan laboratorium. Vano siap siaga untuk melindungi sang adik. Telinganya Vano tajam kan untuk mendengar suara nafas mereka, walau terdengar samar-samar.


"BRUKK! BRAKK...!!


Suara pukulan dan hantaman Vano berikan pada Ninja yang tak terlihat saat ingin mengejar Vana. suara deru nafas memudahkan Vano terus melayangkan pukulan bertubi-tubi.


Sementara Vana sudah berada di depan ruangan laboratorium yang musnah terkena bom, untung saja hanya ada ruangan yang ikut hancur. Namun, setelah di evakuasi ada beberapa suster dan orang yang luka-luka terkena ledakan BOM. Vana meminta kantong plastik pada office boy yang berada di lokasi. Setelah memberikan kantong plastik, Vana meminta office boy untuk membantu memasukkan abu sisa ledakan kedalam keresek. Tanpa banyak bicara dan ingin tahu, office boy itu mengikuti perintah Vana.


"Apa ini sudah cukup Bu Dokter?!


"Sudah terimakasihnya ya." Vana mengambil kantong itu dan pergi ketempat pertarungan antara Vano dan ninja bayangan yang berada di lorong rumah sakit. Saat sudah berada di tempat, Vana melihat pergulatan sang kakak tanpa ada wujudnya. Seakan Vano memukul angin, dalam keadaan terdesak Vano terlihat mencekik leher nya sendiri, padahal ia sedang berusaha berontak untuk melepas tangan Ninja bayangan yang menjerat lehernya.


"Kakak! seru Vana melihat pertempuran tidak seimbang. Sekuat tenaga Vano melepas jeratan dua orang Ninja dan membantingnya ke depan, hingga suara dentuman tubuh ke lantai. Vano berlari kearah Vana dan mengambil plastik itu.


"Kau menjauh lah, jangan mendekat!" perintah Vano. Vano membuka kantong plastik dan mengambil segenggam abu-abu itu lalu tubuhnya melayang dan menaburkan ke udara berkali-kali. Keanehan terjadi, Ninja-ninja bayangan itu terlihat wujudnya. Dengan gerakan cepat Vano menghantam mereka dan mudah untuk mengenali lawan.


"Cepat tangkap salah satu dari mereka kak! untuk mengetahui siapa mereka."


Vano melompat dan menarik satu Ninja yang belum sempat menghilang. Pria yang berpakaian Ninja itu terus berontak, Vano masih mencengkram kerahnya dengan kuat.


"Mau pergi kemana kau?!


"Kak, kita bawa ke paviliun dan introgasi disalah satu ruangan."


"Okay kita bawa kesana!"


Pria Ninja itu ditarik paksa menuju paviliun dan di masukkan kedalam ruangan dengan tangan dan kaki terikat.


Vano menarik penutup wajahnya dan menjambak rambut pria itu hingga mengadah wajahnya kearah Vano.


"Siapa yang telah menyuruh mu! jawab!"


Pria itu hanya gelengkan kepala dengan bibir terkatup.


"Apa perlu aku congkel matamu, agar kau berbicara!" bentak Vano penuh amarah.

__ADS_1


"PLAKK!


"Bicara! siapa orang di balik ini semua! dan dimana markas besar mu!"


Vano yang mulai emosi mengambil sebuah pisau kecil diatas meja, lalu mengarahkan kewajah nya.


"Kau pasti memiliki kelurga bukan? aku akan memberikan mu pilihan. Aku berjanji akan melepaskanmu bila kau berkata jujur! Namun aku akan mencongkel matamu bila kau berdusta! gertak Vano tak main-main.


Pria itu gelengkan kepala dengan suara yang tidak di mengerti. Matanya melolot tajam kearah Vano.


"Brengsek! kau berani melawan aku!" geram vano menonjok wajahnya "Orang-orang seperti kalian pantas di musnahkan! menaruh BOM di rumah sakit adalah cara licik, berapa banyak nyawa manusia yang akan hilang!"


Pria itu tidak mau berbicara juga, ia malah mngaduh. Bahkan terdengar suaranya yang tercekat. Vana yang melihat perubahan pria itu mendekat.


"Sebentar kak! sepertinya ada yang aneh dari pria ini!"


"Apa maksudnya Dek!


Vana mendekati wajahnya dan menyuruh pria itu membuka mulutnya. Namun pria itu gelengkan kepala seperti ketakutan.


"Cepat buka mulut mu!" seru Vana.


Dengan geram dan penasaran Vano menarik kepala pria itu, Vana memencet hidungnya hingga bibirnya terbuka. Alangkah terkejutnya Vana dan Vano melihat pria itu lidahnya hanya setengah, lidah itu sengaja di putuskan.


"Ya Tuhan!" Vana terpekik.


"Keterlaluan! ternyata orang-orang kalajengking telah memotong lidah mereka agar tidak bisa bicara dan membongkar identitas nya!" geram Vano seraya menancapkan pisau diatas meja.


"Kak, aku pernah dengar cerita teman ku. Di suatu daerah ada anak-anak lelaki di culik yang usianya rata-rata 7-12 tahun, hingga mereka tidak ditemukan dan di anggap hilang oleh keluarganya.


"Apa maksud dari cerita mu itu Dek, apa ada benang merahnya dengan anak-anak yang hilang itu."


"Jangan-jangan anak ini salah satu didikan mereka menjadi manusia ninja, yang di culik paksa dari keluarganya. Mereka di cuci otaknya dan lidahnya di potong agar tidak bisa bercerita."


Vano menyimak argumen adiknya "Apa yang kau katakan ada benarnya, Dek! Baiklah kakak akan mencaritahu masalah Ninja ini. Apakah ada hubungan nya dengan penculikan anak-anak itu."


💜💜💜


@Bunda minta maaf 🙏 telat beberapa hari karena sakit dan kesibukan di real, yang semakin padat. Sebisa mungkin akan bunda updated.


@Tetimakasih banyak 🙏 atas doa kalian buat Bunda, yang tidak bisa Bunda sebutkan satu-persatu. Semoga doa kalian sampai pada Bunda 🙏😍 SEMOGA kalian semua selalu diberi kesehatan dan di limpahkan keberkahan dan rezeki yang barokah. Aamiin 🤲


@Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2