
Ayo ikut aku!" Matthew menarik kasar tangan Tiffany.
"Tidak! aku tidak mau ikut! biarkan aku tetap disini!"
"Kau memang selalu menyusahkan!" Matthew yang masih emosi, tiba-tiba mengangkat tubuh sang adik dan membopongnya di atas bahu, lalu berjalan keluar menyusul Samuel yang sudah masuk kedalam mobil.
"Cepatlah bawa adikmu masuk!" perintah Samuel. yang di anggukan oleh Matthew.
"Kak! aku nggak mau ikut!"
"Diam! bisa diam tidak!" bentak Matthew pada sang adik "Berikan lakban hitam itu padaku!' pinta Matthew pada seorang bodyguard. Setelah pria itu memberikan lakban, Matthew menutup mulut dan mengikat tangan Tiffany dengan lakban.
"Hmmm.. hmmm....!!!
Tiffany sudah tidak bisa berteriak-teriak lagi, tubuhnya terus berontak kesana-kemari, namun mulut, tangan dan kakinya di lakban perekat hitam.
"Kalian bawa adikku pergi dari sini, cepatlah!" seru Matthew pada sang dua orang bodyguard yang sudah berada di dalam mobil.
"Siap bos!"
"Matth, Ayo kita berangkat!" seru Samuel dari dalam mobil. Matthew masuk kedalam mobil dan duduk di samping Samuel.
"Jalan sekarang!" perintah Samuel pada anak buahnya.
"Baik bos!"
"Kenapa Paman terburu-buru untuk pergi?"
"Apa kau tidak tahu sedan yang terparkir di depan rumah kita tadi!"
"Iya, bukanlah banyak mobil yang lewat depan rumah kita?
"Dasar bodoh! sejak kapan kau jadi bodoh begini! apa kau tidak lihat plat mobil tadi?"
"Mana sempat aku perhatikan!
"Lihat ini! Samuel membuka ponselnya dan memperlihatkan layar cctv "Perhatian baik-baik plat mobil ini, bukanlah orang sembarangan yang memakaikan plat ini, plat nomor ini di buat khusus hanya untuk orang-orang penting saja yang menggunakannya, termasuk pejabat kota."
"Jadi menurut Paman siapa pengendara mobil hitam itu? dan apa hubungannya dengan kita?!"
"Jelas saja ada bodoh!"
"Ya jelaskan saja paman, aku masih belum paham maksud paman kalau tidak di jelaskan! kesal Matthew seraya berdecak.
"Kau tidak secerdas kakakku Thomas, yang bisa menguasai dunia mafia dan menaklukkan banyak musuh!"
"Kenapa Paman selalu bandingkan aku dengan Daddy! buktinya Daddy mati di tangan istri tuan Reno!"
"Sudahlah! aku malas berdebat dengan mu! lebih baik kau kirim Tiffany ke Bali, untuk sementara sebelum kita pulangkan ke Amerika."
"Kalau memang paman belum tahu sedan hitam itu milik siapa? kenapa harus terburu-buru pergi!"
"Sudah dari tadi aku jelaskan, si pemilik sedan itu bukanlah orang sembarangan! cerca Samuel geram.
"Iya aku tahu paman! jadi menurut Paman siapa pemilik sedan itu!"
__ADS_1
"Bisa saja dia musuh kita sendiri, juga musuh Daddy mu!"
"Apa menurut Paman, pemilik sedan itu tuan Reno Mahesa?!"
"Hmm! Samuel mengangguk cepat.
"Tidak! itu tidak mungkin Paman! darimana Reno Mahesa tahu tempat tinggal kita, dan dia tidak akan pernah tahu kalau aku anak kandung Daddy ku Thomas!"
"Ahh! Samuel menghempaskan nafas kasar "Mudah bagi Reno Mahesa melacak pemilik rumah tersebut bodoh! jika kita masih berada di rumah itu, habislah kita! semua rencana kita akan terendus Reno, kita tidak bisa balas dendam padanya. Semua akan sia-sia! kesal Samuel seraya mengacak rambutnya.
"Darimana Reno Mahesa tahu keberadaan rumah kita?!"
"Anak buah mu yang tolol itu tidak hati-hati dalam bertindak! sepertinya sedan hitam itu mengikuti Tiffany sejak dari bandara."
"Tunggu paman! darimana Paman seyakin itu kalau sedan itu milik Reno Mahesa?!
"Aku sudah mengeceknya, mobil dengan nomor plat khusus itu hanya ada lima orang pemiliknya di kota ini, dan Reno Mahesa salah satu pemiliknya."
"Ya Tuhan, kenapa semuanya serba kebetulan?! cetus Matthew frustasi.
"Sudah kau tidak usah pikirkan, sekarang kita tinggalkan dulu Jakarta dan susun rencana baru, aku akan mendatangkan lagi Ninja bayangan dari Jepang yang lebih hebat!"
"Baiklah, aku akan ikuti saran paman."
"Tapi, bagaimana dengan Nathan! apa orang-orang kita sudah membunuhnya?!"
"Aku belum dapat info lagi dari jack! sepertinya anak haram itu sudah mampus bersama keluarga nya!"
"Aku akan senang mendengarnya. Semoga saja si brengsek itu sudah musnah dari muka bumi ini!" hahahaha....
***
"Sayang...."
"Selamat siang Tuan? selamat datang kembali." sapa para pelayan membungkuk memberi hormat.
"Dimana isteri ku?!"
"Nyonya sedang berada di taman belakang."
"Kalau begitu akan saya panggilkan." tawar salah satu pelayan.
"Tidak usah, saya sendiri yang akan menemuinya. Saya akan buat suprise untuk istriku."
"Baik Tuan!"
Reno melangkah menyusuri beberapa ruangan untuk sampai di taman bunga, yang dibuat khusus untuk sang istri.
Langkah Reno terhenti saat melihat sesuatu yang indah di depannya. Rasa rindu telah membuatnya tergila-gila pada sosok wanita cantik yang sudah menemaninya selama 25 tahun. Reno terus berjalan pelan penuh hati-hati, agar kehadirannya tidak di ketahui sang istri. Hingga Reno berdiri di belakang Delena yang sedang menggunting bunga-bunga mawar yang sudah layu.
"Aaaaaaaaa....!!" pekik Delena terkejut.
"Siapa kau? kenapa menutup mata ku! lepaskan!" seru Delena mencoba menarik tangan dari kedua matanya.
"Hemm!
__ADS_1
Seketika Delena berhenti, ia mendengar suara deheman di belakangnya. Delena mengendus aroma parfum maskulin bercampur dengan aroma tubuh suaminya yang sangat khas.
"Mas Reno! teriak Delena riang.
Reno melepaskan tangan dari mata Delena dan membalikkan tubuh sang istri, lalu memeluknya sangat erat. "Aku sangat merindukanmu honey." Reno menciumi wajah sang istri bertubi-tubi.
"Mas..." butiran kristal bening berjatuhan di pipi mulus Delena.
"Hey kenapa kau menangis..?! Reno mengusap lembut tetesan airmata itu.
"Aku juga sangat merindukan mu, tiga bulan berpisah denganmu bagaikan satu abad lamanya."
"Hahahaha...." Reno terbahak.
"Ish, kenapa malah ketawa! apa kau kira ini lucu?! pekik Delena kesal sambil mencubit lengan sang suami.
"Aaawwww! sakit sayang..." rengek Reno manja.
"Jangan ngambek donk, nanti cantik nya hilang." goda Reno seraya menarik Delena dalam pelukannya kembali "Ma'afkan mas sudah meninggalkan mu dan anak-anak cukup lama. Begitu banyak pekerjaan yang harus mas urus selama papa sakit."
Delena melepas pelukan sang suami dan tersenyum "Aku sangat paham Mas, sudah seharusnya kita mengurus Mama dan Papa, tapi mereka tidak mau merepotkan kita."
"Karena Zidane masih kecil, Mama dan Papa tidak ingin sekolah Zidane terganggu kalau kita sering ke Jerman."
"Kenapa kita nggak tinggal di Jerman saja. Zidane bisa pindah sekolah, jadi aku bisa mengurus mereka."
"Baiklah nanti kita pikirkan lagi. Sekarang temenin mas mandi, tubuh ku sangat lengket." Reno tersenyum mesum.
"Bayi besar ku sudah minta yang aneh-aneh." celetuk Delena terkekeh.
"Sudah lama sayang, aku memendam hasrat ini." bisik Reno seraya mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, Reno berjalan masuk kedalam mansion.
"Mas turunkan! nggak enak di lihat para pelayan."
"Biarkan saja mereka melihat!" Reno terus berjalan melewati para pelayan tanpa menghiraukan rengekan sang istri yang terlihat malu-malu. Saat melihat sang majikan masuk kedalam, mereka berempat hanya tertunduk tanpa berani mengangkat wajahnya.
Reno melangkah masuk kedalam lift dan menghilang tertutup pintu kaca lift.
"Wah Tuan Reno dan Nyonya Delena begitu mesra ya." ucap salah satu pelayan
"Iya..! aku jadi iri melihat kemesraan mereka, walau sudah berumur tapi mereka masih cantik dan tampan."
"Nyonya Delena kalau jalan bersama Nona Vana seperti adik dan kakak, tidak terlihat ibu dan anak." puji mereka
"Iya bener banget."
"Kapan ya aku punya suami yang bucin kaya tuan Reno. Pastinya Nyonya Delena sangat bahagia memiliki suami seperti tuan Reno yang sangat lembut, romantis, penyayang dan juga bucin akut cuma padanya."
"Hussszzz! sudah.. sudah bubar! kalian jangan ngerumpi disini! seru kepala asisten rumah tangga yang kebetulan lewat di depan mereka. Tanpa banyak bicara lagi keempat wanita pelayan itu membubarkan diri.
πππ
@Bunda sudah masukin visual Nathan terbaru dan Matthew di IG ya.. Akan menyusul visual Tiffany dan Kelvinπ₯°
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian ππ
__ADS_1
Follow IG Bunda π @bunda. eny_76
@Bersambung....