
Savira mengikuti langkah Vano dan masuk kedalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menembus pekatnya malam.
Didalam mobil Savira terdiam seribu bahasa. Vano sesekali menghela nafas kasar, sambil fokus menyetir. "Apa ada masalah denganmu Dek? sampai pergi ke Cafe hingga lupa pulang! apa kamu tidak merasa bersalah! Vano menoleh sebentar lalu fokus kedepan lagi.
Savira mendesah pelan "Aku hanya ingin menghilangkan kejenuhan setelah fokus pada skripsi."
"Masih banyak hal lain, Dek! tidak seharusnya ke cafe dan menjadi biduan! ingat! kita dari keluarga terhormat dan terpandang. Bagaimana bila ada orang yang tahu, anak dari Mommy dan Daddy berada di Cafe, sudah pasti mereka akan menjatuhkan kelurga kita dengan cara apapun. Banyak pesaing Daddy ingin menjatuhkan kelurga Mahesa!"
"Tapi aku bukan keturunan keluarga Mahesa! seru Vana, matanya mulai berembun. "Aku bukanlah anak Mommy Delena dan Daddy Reno! Aku hanya anak yatim-piatu yang di pungut!" tiba-tiba Savira berani bersuara setelah sekian lama terdiam.
Ciiiiiiiitttttttt!!!
Seketika Vano rem mendadak, lalu menoleh kearah Savira "Kenapa kau berkata seperti itu Dek? apa kau tidak pernah melihat kasih sayang dari kami..? Kedua orang tua kami sudah menganggap adek seperti anak kandung sendiri. Kak Vano, kak Vana dan Zidan, adalah saudaramu, Walau kita tidak dilahirkan dari rahim yang sama, Namun kami semua sangat menyayangimu Dek? Mommy dan Daddy tidak pernah pilih kasih padamu, juga pada kami. Dimata mereka kita semua sama." tanpa menunggu jawaban dari Savira, Vano melanjutkan perjalanannya kembali.
Terdengar suara isakan tangis dari bibir Savira. Ia mulai merasa bersalah pada kelurga Delena dan Reno yang telah membesarkan dan sangat menyayangi seperti anaknya sendiri, Namun ia juga merasa tidak berhak terus berada di tengah-tengah keluarga orang nomor satu di Asia. Raja bisnis yang disegani. Savira butuh kebebasan, ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri tanpa harus terkekang. Kadangkala Savira ingin mencari keberadaan keluarga Ayah dan ibunya, Alisya dan Robby. Sudah delapan tahun Savira inggal di rumah mewah milik Reno, belum sekalipun ada kelurga dari kedua orang tuanya mencari dirinya.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, mobil berhenti didepan halaman. Vano melepas seat-belt seraya menatap Savira yang masih tertunduk sedih. Sebenarnya ia tak tega dan merasa bersalah. ingin rasanya Vano meraih tubuh Savira dan memeluknya erat, seperti yang biasa ia lakukan bila Savira bersedih. Namun sebisa mungkin Vano menahannya, untuk tidak melakukan. Ia berusaha terus membayangi wajah Bella yang sedang tersenyum padanya.
"Turunlah Dek! ucap Vano lembut, tidak ada lagi ketegangan pada diri Vano. "Mommy pasti sangat khawatir." Savira mengangkat wajahnya seraya mengusap kasar airmata yang masih berjatuhan. Vano memberikan tissue, namun Savira tidak pedulikannya. ia bergegas turun dari dalam mobil tanpa pedulikan Vano yang berusaha perhatian.
"Dek!
Savira yang mulai melangkah, menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Ma'afkan kakak ya. Maaf sudah membuatmu sedih dan kecewa, tapi percayalah. Kakak sangat menyayangimu sama seperti Vana dan Zidane."
Savira menghempaskan nafas kasar dan berjalan kembali tanpa peduli pada kakak angkatnya yang sudah membuatnya sakit hati. Malam ini ia hanya ingin tidur nyenyak dan melupakan semua masalahnya.
"Sayang.. kau sudah pulang?" tanya Delena saat mendengar suara pintu terbuka.
"Mommy...."
Delena beranjak dari sofa dan memeluk Savira "Kamu kemana saja Nak? Mommy takut kamu kenapa-napa diluar, Mommy nggak akan bisa bayangin kalau kamu di culik!"
__ADS_1
"Mommy! kenapa pikirannya terlalu jauh. Vira hanya menghilangkan suntuk dan stres setelah menyelesaikan tugas skripsi."
"Tapi ini sudah jam setengah sebelas nak! kau tidak pernah keluar sampai larut malam. Ya sudah sekarang istirahat dulu dan terus tidur."
"Iya Mom! Savira menyunggingkan senyuman. Bagaimana pun juga ia sangat menghormati dan menyayangi Delena sebagai pengganti ibunya. Savira menghilang di balik pintu yang tertutup.
***
Suara alarm membangunkan Zevana yang tertidur pulas. Dengan susah payah ia membuka kelopak matanya yang terasa lengket. Rasa kantuknya masih terus mendera, Namun ia harus tetap bangun karena pagi ini akan ada operasi jantung seorang pasien.
Setelah selesai mandi, tidak lupa Vana menjalankan ibadah. Lalu ia memakai kemeja dan celana bahan, tak lupa berbalut jas putih sebagai seorang Dokter sekaligus Direktur pemilik rumah sakit.
Vana membuat teh manis dan sarapan Roti bakar yang ia buat sendiri. Setelah memutuskan pindah ke-apartemen dua tahun lalu, Vana hidup mandiri dan sudah terbiasa menyiapkan semuanya sendri, hanya saja untuk membersihkan seluruh ruangan, mencuci pakaian dan menyetrikanya sudah ada pembantu yang pulang pergi setiap hari.
Usai mengisi perut dan menghabiskan teh manis, Vana bergegas mengambil kunci mobil dan meninggalkan apartemen. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit 'Pelita' Setengah jam kemudian mobil sudah masuk kedalam halaman rumah sakit. Seorang satpam membungkuk hormat saat Vana berjalan masuk. Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan kerjanya. Matanya terbelalak dan menatap bingung pada karangan bunga yang berjejer didepan pintu.
"Siapa yang menaruh bunga sebanyak ini?" gumamnya dengan kedua alis mengeryit.
"Pagi Dokter Vana..? sapa seorang suster yang buru-buru datang saat melihat kedatangan Vana.
"Saya juga tidak tahu Dok! saya datang kerungan Dokter, sudah ada banyak karangan bunga ini."
Vana mendesah pelan lalu masuk kedalam ruangan kerjanya. ia menghubungi sekuriti. Tak berapa lama dua orang sekuriti datang.
"Pagi Bu Dokter..?"
"Pak! siapa yang menaruh bucket karangan bunga di depan pintu!"
"Ma'af Bu.. tadi pagi-pagi sekali, pas saya ganti shif ada kurir datang membawa banyak karangan bunga ini untuk Bu Dokter."
"Siapa pengirimnya, Pak?!
"Saya juga tidak tahu Bu, tadi saya bertanya pada kurirnya. Katanya si pengirim tidak mau memberitahukan namanya."
__ADS_1
"Ya sudah, tolong kalian angkat semua bunga-bunga itu!"
"Baik Bu..."
"Suster Santi, tolong jadwalkan operasi hari ini."
"Ada 15 Pasien yang harus operasi jantung hari ini, Dokter Fadly dan Dokter Irfan sudah menangani masing-masing dua pasien. Ada Dokter Rima dan Yenita yang juga akan operasi selesai Dokter Fadly."
"Baik, persiapkan pasien yang akan cangkok jantung hari ini, di ruangan operasi. 15 menit lagi saya akan kesana."
"Baik Dok!" Suster Santi keluar dari ruangan Vana menuju ruangan operasi.
Sementara ditempat lain. Seorang pria tampan terduduk di sebuah ruangan ekslusif. jemari tangannya menghisap kuat sebatang rokok di dalam bibirnya. Sesekali ia hembuskan asap rokok yang mengitari wajahnya. Sebuah pintu terbuka, masuk seorang pria dan membungkuk.
"Siang tuan! apa ada lagi yang tuan butuhkan?!"
"Sudah kau siapkan party untuk penyambutan sang calon penguasa..?!
"Sedang di laksanakan, Tuan..."
"Bagus! undang wanita itu ke acara party kita. Sudah lama aku tidak berjumpa. Aku ingin melihat reaksinya saat aku masih hidup!" tersungging senyuman licik di sudut bibirnya.
"Sudah datang utusan seorang wanita kerumah sakit Nona Vana."
"Good! apa wanita itu menyukai kiriman bucket bunga dariku?
"Bucket sudah sampai sejak tadi pagi, Tuan!
"Okay, bawakan aku wine. Aku ingin merayakan bersama kakakku!" Pria itu tergelak.
💜💜💜
Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
__ADS_1
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersmbung....