
Deg! jantung Savira berdenyut pedih, ia merasakan sikap dingin kakak angkatnya yang tak biasa. Vano menutup kaca mobil secara otomatis dan pergi meninggalkan mansion tanpa basa-basi mengajak Savira.
"Kenapa sikap kakak berubah? seperti bukan kak Vano yang aku kenal." gumam Savira, kaca-kaca di-bola matanya mulai menetes saat kepergian Vano, dengan sikap dingin dan cuek.
Savira melangkah masuk kedalam dengan gontai, ia mengambil tas dan laptop dari dalam kamar.
"Vira, kau berangkat diantara pak Yanto, Zidan sudah menunggu."
"Iya Mom! Savira mencium punggung tangan Delena, lalu melangkah keluar dan masuk kedalam mobil.
Sementara itu, mobil Vano sudah memasuki gedung perkantoran Mahesa Group, seorang bodyguard membukakan pintu dan mengambil alih mobil Vano untuk di parkir.
Semua karyawan membungkuk hormat saat sang CEO memasuki perkantoran. Setelah keluar dari pintu lift, Vano melihat sekertaris nya tidak ada di depan ruangan.
"Kemana Sarah? kenapa jam segini ia belum datang?! Vano mengangkat pergelangan tangannya dan melihat angka yang melingkar. Saat akan memasuki ruangan kerjanya, Vano mendengar suara sayup-sayup orang memaki dari dalam ruangannya. Ia membuka handle pintu, lalu melihat Sarah dan wakil direktur sedang di interogasi oleh Devan.
"Kalian sudah merusak reputasi perusahaan Mahesa. Dimana otak kalian, Hah!" bentak Dev, menatap tajam dua orang didepannya yang berlainan jenis Mereka hanya tertunduk tanpa berani menatap. Sarah terlihat tegang dan memucat seraya pelintir ujung kemejanya.
"Dev!
Suara Vano menyadarkan Devan yang sedang fokus mengintimidasinya seorang sekertaris dan wakil direktur.
"Selamat pagi Pak Zeva.." seru Devan memberi hormat.
"Ada apa ini..?! tanya Vano bingung, lalu berjalan dan menaruh bobot tubuhnya diatas kursi presdir.
"Maaf pak, dua orang ini sudah mencoreng nama perusahaan dengan perbuatannya yang menjijikkan!" seru Devan emosi.
"Maksud mu apa, Dev? Vano mengeryitkan keningnya dan menatap bergantian dua orang didepannya "Tolong jelaskan, biar aku paham!
Mereka ini! Dev, menunjuk Sarah dan Erwin, pria yang menjabat sebagai wakil manager "Mereka berdua telah berbuat mesum di toilet. Awalnya saya tidak percaya cerita salah satu cleaning servis, Namun setelah saya buktikan sendiri dan mendobrak pintu kamar mandi, ternyata mereka sedang beradegan mesum! Dan satu lagi bukti kejahatan mereka." Seketika mata Sarah terbelalak dan menatap permohonan pada Devan.
"Apa itu!"
"Sarah terbukti bekerjasama membayar karyawan bagian cctv untuk mematikan cctv di bagian ruangannya, agar kelakuan bejatnya tidak di ketahui pak Zeva!"
"Apa lagi kesalahan yang mereka ketahui Dev!"
"Pak Erwin, selaku wakil manager. Kerap keluar kantor tanpa izin di waktu jam kerja. Saat saya tanyakan dia beralasan makan siang diluar kantor."
"Sudah kau cek kemana Pak Erwin pergi keluar, disaat jam kerja?"
__ADS_1
"Sudah pak! ini ada buktinya." Dev memberikan sebuah map coklat pada Vano, lalu membuka amplopnya. Saat melihat semua buktinya, Vano menoleh pada Edwin dan Sarah yang sedang terunduk.
"Pak Erwin, apa Anda sudah berkeluarga?! tanya Vano mulai mengintimidasi.
"Su-dah Pak! ucapnya gugup dengan suara bergetar.
"Berapa anakmu!
"Tiga pak!
"Ckckck... Padahal kau sudah memiliki keluarga dan tiga anak, tapi masih mencari wanita diluar. Seandainya Daddy tahu kelakuan karyawan nya seperti ini, kau sudah tahu konsekuensinya bukan?!"
"Ma-afkan saya pak, saya khilaf!"
"Padahal jabatan mu sangat lumayan sebagai wakil manager keuangan, Namun kau tidak pernah puas dan bersyukur! bahkan ada penggelapan dana senilai 1,2 M. Bagian IT sudah audit jumlah dana yang hilang! kau tahu perbuatanmu akan merugikan dirimu sendiri, penjara adalah tempat mu!"
"Ma'afkan saya pak Zeva! Erwin bersujud di bawah kaki Vano "Tolong jangan penjarakan saya, Pak? saya berjanji akan mengganti uang yang sudah saya pakai.." tukasnya seraya menangis sesenggukan.
"Tetap saja Anda seorang pencuri! bentak Vano dan beranjak dari duduknya lalu mendekati Sarah. "Darimana anda akan menggantinya? kalau uang yang sudah anda curi untuk bersenang-senag dengan wanita dan cek-in di hotel berbintang!"
"Sarah! Suara Vano bergelegar di telinga Sarah, membuat ia ketakutan.
"Masih banyak pria lajang di luaran sana, kenapa kau malah memilih Pria beristri?!
"Ckckck! kau sebagai wanita seharusnya punya harga diri! bentak Dev kesal.
"Kau yang duluan menggodaku, Sar! kau jangan berbohong! bahkan kau yang menyuruh aku mengambil uang perusahaan dan minta di belikan barang-barang branded, Tas, sepatu, baju semuanya barang branded!"
"Diam kau! Semua barang-barang itu kau sendiri yang belikan untukku, sebagai jasa melayani kepuasan mu! teriak Sarah.
"Sudah cukup! kalian berdua terbukti bersalah. Mulai sekarang kalian berdua saya pecat!! seru Vano tegas.
"Ap-apa! pak Zeva.. saya mohon jangan pecat saya..! hiks, hiks... Sarah menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan memegangi kaki Vano seraya bersujud "Beri saya kesempatan pak, saya janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan kecewakan Pak Zeva lagi.." Sarah berusaha bernegosiasi dengan deraian airmata.
Vano menarik kasar kakinya dari jeratan tangan Sarah "Tidak ada kesempatan kedua di dalam Perusahaan Mahesa! sekali bersalah harus tetap mendapatkan hukuman! tegas Vano dengan tatapan dingin.
"Sekarang kalian keluar! dan bereskan barang-barang kalian.
Sarah dan Erwin berjalan kearah pintu dengan langkah gontai. Saat pintu terbuka, mereka berdua di kejutkan oleh orang-orang berseragam coklat.
"Ayo kalian ikut kami, kalian harus pertanggung jawabkan perbuatan kalian! seru Pak polisi
__ADS_1
"Pak, jangan tangkap saya pak! teriak Erwin dan terus berontak saat kedua tangannya di borgol.
"Pak, ampun saya hanya mengikuti keinginan Pak Erwin! jangan bawa saya...!!
"Kalian berdua bersalah, sudah menggelapkan uang perusahaan dengan bersenang-senang! sekarang kalian akan di tempatkan di hotel prodeo!" Devan berbicara dengan sudut bibir terangkat.
"Semua ini gara-gara kau jal4ng! teriak Erwin, disela langkahnya meninggalkan ruangan Vano.
"Kenapa kau terus menyalahkan aku!! menyesal sudah mengikuti kemauan mu berengsek!" pekik Sarah tak terima dan berusaha berontak saat Pak polsi membawanya pergi.
Didalam ruangan, Vano menghela nafas lega. "Good, aku suka cara kerjamu, kau memang bisa diandalkan! Vano menepuk-nepuk pundak sahabatnya, sebagai tanda kagum.
"Kira-kira siapa pengganti sekertaris mu? tanya Dev, seraya duduk di Sofa.
"Menurut mu? adakah kandidat yang bisa menggantikan posisi Sarah!"
"Tentu saja ada! Devan menaikan satu alisnya sambil tersenyum misterius.
"why...?!
"Gadis cantik bermata coklat, dia adalah "Savira!"
"What! Vano terbelalak dengan mulut terbuka.
*
*
Seorang gadis melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kampus, ia masuk kedalam taksi yang sudah menunggu di depan gerbang kampus.
"Jalan Pak!
Satu jam kemudian, taksi berhenti di sebuah lokasi pemakaman umum. Gadis itu membayar tagihan taksi, dan berjalan masuk kedalam pemakaman dengan membawa bucket mawar putih. Lalu ia berhenti di sebuah pemakaman sepasang suami-istri.
"Mama... Papa...! hiks.... Vira kangen kalian! butiran kristal bening berjatuhan di pipi mulusnya. Savira duduk di pinggir pusaran kedua orang tuanya "Sebentar lagi Vira akan lulus S1, sekarang sedang menyusun skripsi. Doakan Vira mendapatkan nilai tertinggi. Vira janji akan membuat Mama dan Papa bangga." hiks... "Andai kalian masih ada, Savira tidak akan kesepian, walau kelurga Mommy Delena sangat sayang pada Vira, Namun Vira butuh pelukan hangat kalian, hiks..." Savira mengusap airmatanya yang terus berjatuhan "Vira sayang kalian.." Savira menaburkan bunga di pemakaman kedua orang tuanya dan menaruh bucket mawar putih.
"Savira...." suara bariton seseorang pria di belakang punggungnya.
💜💜💜
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
__ADS_1
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersmbung....