Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Ungkapan Perasaan Dirga


__ADS_3

πŸ”₯Seminggu kemudian...


"Tak! tok! tak! tok!


Suara sepatu pantofel wanita terdengar nyaring saat melewati lorong sepi menuju koridor dan berakhir di sebuah ruangan.


JGLEK!!


Wanita itu membuka ruangan kerjanya. Ia melihat sosok Pria tinggi tegap sedang membelakanginya, matanya menatap keluar jendela yang terdapat kolam ikan buatan dan dipenuhi rumput hijau sintetis.


Pria berpenampilan rapih dengan berbalut texsudo hitam itu, membalikkan tubuhnya dan menatap wanita yang sejak tadi ia tunggu. Pria itu tersenyum pada seorang wanita yang baru masuk kedalam ruangan.


"Dokter Vana..." panggilnya seraya tersenyum merekah.


"Apa kau sudah lama menunggu?"


"Baru setengah jam aku disini." Pria itu berjalan dan duduk di sofa dengan rileks.


"Maaf, kau menunggu cukup lama. Tadi sedang ada pemeriksaan pasien jantung."


"Tidak apa-apa. Kedatanganku ke sini tidak lama, jam 05.00 sore aku harus terbang ke Malaysia. Ada yang ingin aku sampaikan padamu sebelum aku pulang ke Negaraku."


Vana duduk di sebrang pria itu.


"Dua tahun lagi tugasku selesai sebagai seorang Gurbernur. Aku berniat membuka bisnis disini, ku dengar Ayahmu seorang pembisnis handal dan memiliki banyak anak perusahaan. Bisakah aku bekerjasama dengan Ayahmu?


"Untuk masalah itu kau bisa tanyakan pada Asisten Daddy ku. Karena aku tidak berwenang ikut campur perusahaan Daddy ku?


"Bisa kau kirimkan nomornya?


Vana mengambil ponsel dari saku jas putihnya dan mengirimkan nomor yang Dirga minta.


"Sudah aku kirimkan."


"Oke, sebelumnya aku ingin mengucapkan banyak terima kasih. kau sudah banyak menolong ku, hingga aku bisa sembuh sampai sekarang ini."


"Sudah sering aku katakan, Karena itu adalah kewajiban ku sebagai seorang Dokter."


Dirga mengangguk, lalu tersenyum.


"Dirga! boleh aku bertanya?


"Tentang apa?!"

__ADS_1


"Siapa Pria yang ingin membunuhmu malam itu? dan kenapa kau bisa sampai disini? Vana bertanya untuk menghilangkan penasarannya, sebab hingga saat ini ia belum tahu persoalan Dirga dan keluarganya.


Dirga membuang nafas kasar "Mereka adalah musuh yang ingin menjatuhkan aku. Rival ku kalah dalam pemilihan suara tiga tahun lalu. Tujuannya ingin membunuh ku untuk menggeser posisi ku sebagai Gurbernur. Aku datang ke Negara ini bukan untuk kunjungan dinas. Awalnya aku cuti selama dua minggu untuk berlibur ke Bali. Sebelumnya aku datang ke Jakarta untuk mengunjungi Kerabat yang sudah lama tidak bertemu. Malam itu jalanan terlihat sepi, tanpa aku duga ada sebuah mobil mengikuti Kendaraan ku, awalnya aku tidak curiga. Tiba-tiba dari arah samping mobil itu menghantam mobilku hingga pak supir oleng tidak ada keseimbangan. Usaha untuk menghindar percuma malah menabrak pohon besar di bahu jalan.


Dalam keadaan setengah sadar, seseorang membuka pintu mobil dan menarik tubuhku, tangan besarnya menghantam tubuhku dan mencekik leherku hingga tidak bisa bernafas. untuk berontak pun sangat sulit. Penglihatan ku mengabur dan gelap gulita. kukira aku sudah mati, sayup-sayup terdengar suara tembakan. Masih terdengar suara Asisten ku memanggil namaku. Saat aku membuka mata, pertama kali yang ku lihat adalah Dokter Vana.


Vana tersenyum kikuk saat tatapan Dirga langsung menghunus jantungnya. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri didepan jendela dengan kedua tangan dilipat kedada.


"Syukurlah kini Tuan bisa meneruskan tugasnya sebagai seorang Gurbernur."


"Semua itu berkat gadis cantik bernama Zevana." bisik Dirga yang tiba-tiba sudah berada di belakang Vana.


Vana terperanjat kaget saat mendengar suara Dirga di telinganya, hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya. Reflek Vana membalikkan tubuhnya dan terbentur tubuh Atletis Dirga yang sangat dekat hingga mata mereka saling bersitatap.


Vana melempar pandanganya kearah lain. "Maaf, bila sudah selesai aku harus menemui Pasien." ucapnya dengan wajah menatap lantai untuk mengalihkan pandangannya.


"Kenapa terburu-buru? masih ada waktu empat jam lagi untuk meninggalkan Jakarta."


"Tapi aku___


"AKU MENCINTAIMU VANA! tutur Dirga lembut.


Mata Vana terbelalak sempurna dan melorot kearah Dirga. Pria itu malah melempar senyuman pada Vana.


"Lepaskan tanganku Dirga!! jangan pernah sentuh aku. jangan melewati batasan mu! aku baik padamu karena kau seorang pasien yang membutuhkannya seorang Dokter!"


"Apa aku salah mengungkapkan perasaanku padamu? Aku lelaki normal, membutuhkan seorang wanita ada disisiku dan menemani hidupku!


"TAPI BUKAN AKU ORANGNYA!!! masih banyak wanita cantik, kaya dan berkelas diluar sana yang bisa mencintaimu! apalagi kau tampan dan memiliki jabatan tinggi. Tidak mungkin ada yang menolak mu!" cetus Vana seraya membuang wajahnya.


"Perasaan seseorang tidak bisa buat-buat. Sejak awal melihatmu aku sudah menyukaimu dan Jatuh cinta pada sosok wanita pemberani dan baik hati sepertimu. apalagi kau begitu tulus merawat ku selama dua minggu. Ijinkan aku menjadi kekasihmu dan siap melamar mu kapan saja."


Vana gelengkan kepala, tiba-tiba ia merasakan sakit dihatinya. Goresan luka yang sudah ia kubur selama empat tahun, kini terbuka lagi. Perasaan sakit dan terluka timbul kembali hingga dadanya terasa sesak dan nafasnya tercekat.


"Kau tidak akan pernah tahu goresan luka yang aku rasakan selama bertahun-tahun, Dirga! hingga aku membenci laki-laki yang menyatakan perasaannya padaku! mata Vana mulai memanas, ia berusaha mengontrol emosinya agar tidak menangis didepan Dirga, juga tidak ingin terlihat lemah.


Vana menghempaskan kasar tangan Dirga dan berlari keluar dari ruangannya.


"Vana tunggu! kau bisa jelaskan semuanya padaku?!" Dirga berjalan keluar dari ruangan, namun sosok Vana sudah pergi menjauh.


"Vana, ada apa sebenarnya denganmu? kenapa kau begitu membenci sosok laki-laki? Dirga terus berfikir dan mencari jawabannya sendiri, namun pikirannya seakan buntu. "Aku akan menyuruh orang-orang ku mencari tahu apa penyebabnya. Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintamu."


________

__ADS_1


Di Mansion. Delena sedang menyiapkan hidangan diatas meja bersama dua orang Art-nya.


"Kemana Savira? tidak terlihat sejak tadi."


"Ada di taman belakang Nyah."


"Panggilkan Mbak, suruh masuk untuk makan malam. Tidak baik anak gadis masih diluar."


"Biar Vano yang panggilkan Mom! tiba-tiba Delena dikejutkan dengan kedatangan Vano.


"Kau udah kaya jailangkung tiba-tiba nongol!"


"Mommy saja yang dari tadi serius menata meja makan."


"Ya sudah panggil Savira masuk, kita makan malam bersama."


Vano berjalan kearah taman belakang melalui pintu belakang yang menembus taman dan kolam renang.


Vano melihat sosok Savira sedang duduk di ayunan gantung sambil memegang buku tebal. ia berjalan mendekat, niatnya ingin memberikan kejutan, namun ia mendengar suara isakan Savira.


"Vira? kenapa kau menangis?" tanya Vano seraya menundukkan bokongnya di samping Savira.


Savira buru-buru mengusap airmatanya dan membuang wajah kesamping. "Tidak apa-apa kak, Vira hanya kangen Mama dan Papa."


"Ma'afkan kakak ya, belum sempat mengajakmu berziarah kemakam mama dan papamu. kakak janji sebelum pulang ke Britania-raya kakak akan sempatkan ziarah bersamamu."


Savira hanya terdiam dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Savira, kenapa kau bersikap aneh beberapa hari ini, sering menyendiri dan melamun. Ayo kita makan malam. Mommy mencari mu sejak tadi."


"Kakak saja duluan, aku masih menghafal pelajaran untuk ulangan besok."


Vano berdiri dan menarik lembut tangan Savira. "Kakak tidak mau kau sakit, apalagi sampai lupa makan. Sekarang makan dulu, nanti kak Vano temenin kamu belajar."


Jantung Savira berdebar cepat, ia merasakan getaran aneh setiap bertatapan dan berada di dekat Vano. "Perasaan ini begitu sakit kak! aku sengaja menghindar dari kakak, karena tidak ingin terjebak dalam perasaan yang tak terbalas. Apalagi saat melihat kak Vano mencium kak Bella, dadaku begitu sesak." gumamnya dalam hati.


Savira menarik tangannya dari genggaman Vano "Mulai saat ini kak Vano tidak usah lagi peduli padaku!" seru Savira dan melangkah pergi meninggalkan Vano dengan kebingungan. Vano menautkan kedua alis tebalnya "Ada apa dengan Savira, kenapa sikapnya jadi berubah? biasanya selalu manja bila didekat ku." Vano bertanya-tanya dalam hati seraya melangkah masuk kedalam mansion.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76

__ADS_1


@Bersmbung....


__ADS_2