Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kemarahan Delena


__ADS_3

"Jadi mau mu apa?!


"Biarkanlah Nona Safira rehat disini sampai demam panasnya turun."


"Apa kau tidak tahu? kalau keluarga Zevano pemilik rumah sakit terbesar di jakarta. Kelurga Zevano memiliki dokter pribadi dan sudah pasti kami sendiri yang akan menangani Savira!"


Kelvin hanya menghela nafas kasar tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Devan membawa Safira pergi dari kamar kelvin di ikuti empat orang bodyguardnya menuju parkiran untuk di bawa pulang di kediaman Reno Mahesa.


Mobil Devan meninggalkan hotel berbintang milik Kelvin.


"Savira bertahan lah! ucapnya khawatir. Devan memangku tubuh Savira dalam dekapannya "Ya Tuhan, suhu tubuhnya sangat panas." Devan menaruh punggung tangannya ke dahi dan pipinya "Pak! bisa lebih cepat dikit lajunya, Savira mengalami panas tinggi!"


"Ini sudah diatas rata-rata Pak! Apa tidak sebaiknya Non Vira di bawa kerumah sakit?


"Tidak usah, Vano yang meminta di bawa ke mansion."


Devan menatap iba wajah Savira "Ma'afkan kakak ya, tadi ninggalin kamu sendiri, kalau tahu akan seperti ini kejadiannya tidak akan pernah kakak tinggalkan kamu sendiri"


"Aku harus hubungi Vano sebelum terjadi apa-apa dengan Savira." Devan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memulai panggilan telepon.


"Kenapa tidak aktif? disaat genting begini malah mati telponnya. Vano.. Vano.." kesal Devan. Ia mulai mengingat untuk menghubungi seseorang "Vana! dengan cepat Devan mencari kontak Vana dan telpon pun tersambung.


"Iya Dev!"


"Van kau ada dimana?"


"Kebetulan aku baru sampai mansion."


"Syukurlah kau sudah sampai mansion."


"Memangnya ada apa Dev?!"


"Savira demam tinggi!"


"Savira demam tinggi? kok bisa? memangnya kalian lagi dimana?! tanya Vana beruntun.


"Nanti kalau sudah sampai aku jelaskan semuanya, tolong sampaikan mommy Delena biar ia tidak khawatir saat aku pulang bersama Savira."


"Ya sudah akan aku bilang ke mommy, secepatnya kau pulang ya?"


"Oke, makasih ya Van!"


Setelah sambungan telepon berakhir Devan mengusap lembut pipi Savira yang memerah karena panas. "Sabar ya Vir, sebentar lagi kita sampai mansion."


Setengah jam kemudian mobil berhenti didepan halaman luas mansion. Delena dan Vana bergegas keluar dari ruangan dan menemui Savira yang sudah dalam gendongan Devan.

__ADS_1


"Kenapa Savira bisa seperti ini, Dev?!


"Mom! nanti saja bertanya nya, biarkan Dev bawa Savira dulu ke kamar."


Dengan cepat Devan membawa Savira kedalam kamarnya dan membaringkan diatas ranjang.


"Aku akan periksa keadaan Savira, kau jelaskan semuanya pada Mommy."


Dev mengangguk "Baik!


"Vana tubuh Savira sangat panas, mommy takut kenapa-napa." ucap Delena penuh kekhawatiran.


"Sudah mommy jangan khawatir, Vana ini seorang Dokter, aku bisa menangani Vira. Sekarang mommy temani Dev dulu."


"Ya sudah, tolong kau cepat tangani! Delena berjalan keluar dari kamar di ikuti Devan. Di ruangan keluarga Delena dan Devan duduk di sebuah Sofa.


"Apa yang sudah terjadi dengan Savira, tolong jelaskan! tanya Delena penuh penekanan.


"Ma'afkan saya tante, semua salah Dev! Devan mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa Savira.


"Kau ini bagaimana Dev! tidak seharusnya kau tinggalkan Savira sendri! sekarang dimana Vano?!


"Vano mengantarkan Bella pulang Tan!"


"Kalian berdua sama saja! tidak bisa menjaga adik sendiri!" Delena mendengus kesal seraya bangkit dari sofa dan berjalan pergi meninggalkan Devan.


"Sudah Vana beri obat melalui infusan. Semoga panasnya cepet turun."


Delena duduk di sisi ranjang dan mengusap lembut tangan Savira


"Gimana kejadiannya mom? apa Dev sudah ceritakan semuanya?"


"Vano dan Dev keterlaluan! jaga adik sendiri saja tidak becus, Savira tercebur kedalam kolam renang dan hampir kehabisan nafas."


"What..? bagaimana bisa? Vana menautkan kedua alisnya "Aneh, Savira bisa tercebur kedalam kolam renang. Dev dan Vano ngapain ajah sampai tidak bisa menjaga Savira."


Sementara itu mobil Vano sudah memasuki gerbang pintu mansion. Setelah keluar dari mobil gegas ia berlari masuk kedalam ruangan.


"Van! akhirnya kau cepat pulang!"


"Dimana Savira..? terus bagaimana keadaannya? tanya Vano begitu khawatir.


"Kau susah sekali di hubungi. Savira mengalami demam tinggi."


Vano merogoh ponsel dalam saku celananya "Ahh sial, ponsel ku lowbet!" dengan langkah cepat Vano berjalan kearah kamar Savira.

__ADS_1


"Savira..."


"Berhenti disana!" seru Delena, menghentikan langkah Vano yang sudah berada di ambang pintu.


"Mom!"


"Sudah puaskah kamu Vano, membuat Savira jatuh kedalam kolam renang. kau tahu kan Vira tidak bisa berenang! bagaimana kalau ia tidak bisa di selamatkan dalam kolam renang, hah! pikir itu Vano...! Mommy sudah kehilangan dua orang sahabat, apa mommy juga harus kehilangan anaknya?! maki Delena terlihat kesal dengan nafas turun-naik seraya menatap penuh kecewa pada anaknya.


"Mommy sudah mom! jangan marah-marah. Semua bisa di bicarakan dengan baik-baik. jangan sampai darah tinggi mommy kambuh lagi." ujar Vana menenangkan sang mommy seraya merangkul pundaknya.


"Ma'afkan Vano mom, tidak bisa menjaga Savira dengan baik!" wajah Vano memerah menahan getir, ia tahu sifat ibunya yang tidak akan marah atau bernada tinggi kalau dirinya tidak bersalah. Delena sosok yang lembut dan bijaksana. Namun bila mengenai Savira ia akan menjadi wanita yang kejam, menganggap Savira sudah seperti anak kandungnya sendiri tanpa membedakan pada ketiga anak-anaknya.


"Vano tidak bersalah Tan, Saya yang meninggalkan Savira saat ingin mengambilkan minum. Vano lah yang sudah menolong Savira bersama tuan Kelvin. Kalau mau di salahkan, salahkan saja saya." imbuh Dev dengan wajah sedihnya.


"Sudahlah Kalian berdua sama saja! tidak becus! hanya menjaga satu gadis saja tidak bisa. Lihat Savira demam tinggi dan sudah banyak minum air kolam pastinya."


Vano dan Dev hanya diam seribu basa tanpa berani menatap wajah wanita paruh baya, Namun masih tetap cantik dan segar. Delena yang masih terlihat kesal meninggalkan mereka berdua dan duduk di tepi ranjang Savira.


"Kak! Dev! lebih baik kalian mandi dan istirahat dulu, masalah Savira biar jadi urusan ku. Lihat penampilan kalian berdua? ckckckck.. Vana geleng-geleng kepala. "Cepatlah kakak dan Dev pergi, sebelum mommy murka lagi."


Vano menghembuskan nafas kasar "Ya sudah kakak mau mandi dulu, titip Savira. kalau ada apa-apa dengan Savira cepat kabarin kakak!"


"Terimakasih Van mau menjaga Savira, jujur aku merasa bersalah dan tidak enak hati dengan Tante Delena, aku sudah buat kesalahan fatal dengan tidak menjaganya Savira dengan baik."


"Ya sudah jangan terus-terusan merasa bersalah, namanya juga orang tua pasti merasa khawatir. Nanti juga mommy baik lagi, ia hanya syok sebentar."


Vano dan Dev mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan kamar Savira dengan perasaan bersalah dan khawatir.


Saat sudah di lantai dua, mereka berdua berhenti di depan kamar masing-masing "Van! aku yang bersalah dalam hal ini, sekali lagi maafin gue ya."


"Sudahlah, kita berdua yang salah. tidak bisa menjaga Savira dengan baik. jadikan pelajaran kedepannya."


"Aku tidak enak hati sama Tante Delena, aku yang meminta izin untuk membawa Savira, tapi sudah mengecewakannya."


"Ya sudah kau istirahat saja, malam ini kita bergadang untuk menjaga Savira." ujar Vano menepuk pundak Devan.


"Okeh!"


Mereka berdua masuk kedalam kamar masing-masing.


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76

__ADS_1


@Bersambung....


__ADS_2