
"JEGLEK!
"DAD!
"Haiii boy, ada apa malam-malam ketuk pintu? ini sudah malam..?!
"Ziee mau bobo sama mommy! tanpa menunggu pertanyaan dari sang Daddy, Zidan berlari dan menerobos masuk kamar.
"Astaga.. alamat si Otong nggak bisa tidur." Reno berdecak seraya menepuk jidatnya.
"Mommy....!! pekik Zidan langsung naik keatas ranjang dan memeluk sang mommy.
"Tumben malam-malam begini kesini? ada apa sayang? tanya Delena seraya mengusap kepala anak bungsu nya.
"Zidane mau bobo sama Mommy ya..?! rengek nya memelas. Delena menatap wajah suaminya yang terlihat kecewa.
"Emang nya kenapa nggak mau bobo sendri? kan Zidane sudah besar? waktu itu bilang nya mau bobo sendri?!
"Tapi sekarang Zidane mau Bobo sama mommy saja, boleh ya...?"
"Hmm.. tanya Daddy dulu ya." Delena melempar pandangannya pada Reno yang berdiri di tepi ranjang dengan kedua tangan bersedekap.
"Boleh ya Dad! Zidan bobo sama mommy dan Daddy?"
Reno menghela nafas dalam dan di hembuskan perlahan, lalu ia mengangguk pelan. "Tidur lah ini sudah malam. Daddy mau merokok dulu di teras."
"Mas..." Delena menatap penuh permohonan.
"Tidak apa-apa sayang, tidurlah. Masih ada waktu untuk kita besok." Reno mencium kening sang istri juga pada anak bungsunya.
"Daddy juga bobo disini, Zidane kangen sama Daddy."
__ADS_1
"Iya sayang.. Daday cuma ke balkon sebentar." Reno mengusap lembut kepala Zidane.
Sementara Vano sudah berada didalam dapur. ia mulai membuka kulkas mencari jeruk lemon. "Ini dia lemon nya." ia mengambil satu butir dan membelahnya lalu di peras kedalam gelas.
"Seeettt! tiba-tiba dari luar jendela ada seseorang berlari, Vano yang sedang membuat air lemon terkejut.
"Hey apa itu? seperti ada yang berlari secepat kilat." Vano menaruh gelas dan membuka pintu dapur yang berhubungan dengan pintu taman. ia berlari kearah taman yang menghubungkan dengan kolam renang.
"Tidak ada siapa-siapa...? tadi aku nggak salah lihat kan? gumam nya meyakinkan diri sendiri. Vano yang penasaran terus mencari sosok misterius itu. Setelah menunggu di dekat kolam dan berkeliling area mansion, Vano tidak menemukan apa-apa. Ia berjalan kembali kearah dapur.
"Tunggu! siapa itu yang sedang duduk di ayunan? tiba-tiba mata Vano melihat sosok yang terduduk di ayunan samping kolam renang dengan tubuh tertutup selimut. "Jangan-jangan ada penyusup masuk ke mansion? lalu kemana semua penjaga?"
Vano mulai melangkah pelan penuh hati-hati agar tidak terdengar oleh orang yang sedang duduk di ayunan. "Apa aku gunakan kayu saja untuk memukulnya." Vano mulai mencari sebatang kayu dan menemukan nya dekat taman. Ia mulai berjalan dengan siap siaga dan mengayunkan kayu ke udara.
"BUGH!
"Aaaaakkkkhhhh...!!!
"Ahh! kenapa suara wanita! pekik Vano terkejut, ia hampir saja memukulnya kembali, Namun setelah mendengar suara seorang wanita ia urungkan. Dengan cepat Vano melempar kayu itu dan mendekati tubuh yang sudah jatuh kelantai.
"Kau siapa?! Vano menarik kasar selimut penutup tubuh itu. "Savira!!! pekik Vano terkejut dengan mata membola.
"Kau jahat! kenapa memukul ku!" jerit Savira sambil merintih kesakitan.
"Maaf kakak Dek, kak Vano tidak tahu kalau itu kamu? mana yang sakit?" Vano mencoba membantu membangunkan Savira.
"Nggak usah bantuin aku! aku bisa sendiri!" dengan susah payah Savira terduduk dan melepaskan selimut yang membalut tubuhnya.
"kenapa kamu Keluar malam-malam dengan ditutupi selimut? Vano menyentuh lengan Savira.
"Aaaaawww! jangan sentuh!" teriak Savira, meringis kesakitan.
__ADS_1
"Coba kakak lihat, bagian lengan ini yang tadi terkena pukul. Biar kakak obati, sekali lagi kakak minta maaf ya."
"Tidak usah! lebih baik kakak urus saja diri sendiri, aku tidak minta belas kasih mu!"
"Jangan keras kepala Savira! iya kakak mengaku salah, karena tidak tahu. Kakak pikir yang duduk di ayunan tadi penyuap, karena Wajah dan tubuhnya tertutup selimut!"
"Ayo sekarang kita masuk, kakak obati." Vano mencoba mengangkat tubuh Savira, Namun Savira berontak. karena tidak ada keseimbangan akhirnya mereka terjatuh bersamaan dengan tubuh Savira berada di bawah Kungkungan Vano. Seketika keduanya terdiam dan mata mereka saling bersitatap. Entahlah apa yang ada di hati dan pikiran mereka berdua, ada binar kerinduan yang mendalam dari keduanya, Namun mereka tidak pernah tahu siapa yang memulai hadirnya perasaan itu.
Reflek tangan Vano mulai menyentuh lembut pipi mulus Savira. Seperti baru tersadar dari rasa sakit di lengannya, sontak Savira mendorong kuat tubuh Vano yang berada diatasnya.
"Awas! jauhi tubuh mu itu! seru Savira.
"Ma-af! ucap Vano salah tingkah. ia menjauh dari tubuh Savira.
Savira berusaha bangkit dan berdiri, Namun jalan nya agak sempoyongan karena rasa sakit di sekujur tubuhnya habis tertimpa tubuh kekar Vano dan pangkal lengan kirinya yang mulai bengkak.
"Biar kakak gendong, kamu sangat sulit berjalan." tanpa meminta persetujuan dari Savira, Vano mengangkat tubuh langsing adik angkatnya.
"Tidak usah Lepaskan!
"Diam! nanti jatuh seperti tadi lagi! omel Vano dan berjalan masuk melalui pintu dapur.
💜💜💜
@Kisah Novel "AKU BUKAN CINDERELLA" sudah update ya. Yuk ikuti kisah kelanjutannya. InsyaAllah Bunda akan konsisten. Selamat Membaca 🙏🥰
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersambung
__ADS_1