Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Perasaan Devan


__ADS_3

Saat pintu lift terbuka. Tiga orang karyawan yang berdiri di depan pintu lift menunduk memberi hormat pada sang Ceo. Tetapi lelaki itu hanya membalas dengan anggukan yang bahkan nyaris tak terlihat dengan wajah yang kaku dan datar.


Vano masuk kedalam mobil yang terparkir di depan lobby, diikuti Savira yang terduduk di depan pengemudi. Mobil melaju meninggalkan perusahaan Mahesa Group.


Kurang dari satu jam mobil berhenti di sebuah Hotel berbintang. Seorang penjaga di depan lobby dengan sigap membuka mobil untuk Vano dan Savira. Setelah mengucapkan terima kasih Vano melangkah dengan kaki cepat. Savira yang jarang memakai hells harus bisa mengikuti langkah Vano yang panjang-panjang.


"Brukk!


"Aaawww!" pekik Savira terjatuh karena terburu-buru. ujung hells lancipnya menginjak sesuatu hingga ia terjatuh. Map yang berada di tangannya terjatuh berserakan di lantai. Vano yang sudah jalan menjauh menoleh mendengar suara pekikan Savira. Ia gelengkan kepala melihat adiknya terjatuh di lantai marmer.


Saat Vano berjalan mendekat. Sebuah tangan kekar mengulur kearah Savira. Sontak Savira terkejut melihat sebuah tangan menjulur kearahnya. Savira mengangkat wajahnya dan menatap pria tampan berpenampilan rapi, dengan tuxedo melekat di tubuh atletisnya. Savira menerima uluran tangan itu dan ia menarik tangan lembut Savira untuk berdiri. Pria itu mengambil map yang berjatuhan lalu menyerahkan nya pada Savira.


"Berhati-hatilah, lantai ini sangat licin." ucapnya ramah seraya tersenyum lembut.


"Terima kasih banyak udah menolong ku."


"Kalau begitu saya permisi." setelah berpamitan, Pria itu berjalan menjauh keluar dari hotel. Savira hanya menatap hingga punggung lebar itu menghilang dari pandangan.


"Lain kali jangan ceroboh!" seru Zevano dan kembali melangkah menuju pintu lift. Savira tersentak dan menoleh kearah Vano berjalan. Ia mengikuti langkah Vano walau kakinya sedikit sakit bekas jatuh tadi.


Setelah keluar dari pintu lift, Vano berjalan tidak terburu-buru seperti tadi. ia melihat Savira yang berjalan agak tertatih.


"Apa ada yang sakit? tanyanya sedikit peduli.


"Tenang saja Pak! jangan khawatirkan saya. Saya bukan anak kecil yang manja dan mudah rapuh!" balas Savira berusaha tegar.


"Bagus! di perusahaan tidak boleh cengeng apalagi mudah baperan!" ucapnya tenang tanpa peduli tatapan kesal Savira padanya.


"Ciih! Savira membuang wajahnya "Kita lihat saja siapa yang mudah baperan!"


Langkah mereka terhenti di sebuah rooms. Dua bodyguard membungkuk hormat dan membuka pintu untuk Vano dan Savira masuk.


"Maaf, saya sedikit terlambat." kata Vano begitu memasuki ruangan meeting. Disana sudah ada beberapa orang yang sudah duduk melingkari sebuah meja berbentuk oval.

__ADS_1


Seorang pria paruh baya yang duduk di ujung bagian tengah meja tertawa dengan suara berwibawa. Lelaki itu sebagai COE di Andikara grup yang akan bersaing dengan perusahaan Mahesa Group milik Reno.


"Silakan duduk pak Zeva! bagaimana kabar Ayahmu?" tanyanya basa-basi.


"Terimakasih Om. Daddy tentunya sangat baik. Di usianya sekarang Daddy lebih banyak menghabiskan waktu untuk kelurga daripada harus mengurusi perusahaan, sementara aku sudah menggantikan posisi Daddy! ucap Vano berwibawa, Namun penuh sindiran dan sangat mematikan lawan.


"Ckckckck... Sungguh anak yang berbakti! Pria paruh baya yang sudah memutih rambutnya itu terkekeh. "Semoga bisnis biosel yang akan anda tunjukkan tidak mengecewakan perusahaan lain, hingga mereka tidak ragu untuk bekerjasama dengan perusahaan Anda!"


"Tentu saja itu yang aku inginkan!" sarkas Vano dengan sudut bibir terangkat.


"Sekertaris baru lagi Pak zeva..? tanya si CEO sambil melirik kearah Savira.


Pertanyaan yang seolah sindiran itu di tanggapi Vano dengan senyuman sinis. Lelaki itu kemudian melangkah dan mengambil posisi persis di depan sang CEO. Vano menggeser kursi dan mempersilakan Savira duduk di sebelahnya.


"Jangan galak-galak dengan sekertaris mu. Nanti kalau dia tidak betah. susah cari sekertaris baru lagi. Selentingan yang aku dengar, Pak Zeva sering gonta-ganti sekertaris." gurau sang CEO yang langsung di sambut gelak tawa peserta rapat lainnya.


"Apa di forum rapat ini sering bergosip? saya datang kesini untuk membicarakan kerjasama bukan untuk membicarakan sekertaris baru saya!" tegas vano sedikit emosi.


"Tenang pak Zeva.. kita bergurau sedikit. Jangan terlalu tegang seperti ayahmu Tuan Reno. Galak boleh tapi jangan keterlaluan!" hahahaha... CEO Andhikara terbahak, seakan itu lelucon.


"Siapa yang keterlaluan disini! Anda atau saya! bentak Vano yang mulai tersulut emosi.


"Seperti itu kah bicara dengan orang yang lebih tua dari Ayah anda Pak Zeva! tanya pria yang sedang menghadiri rapat.


"Anak muda jaman sekarang memang seperti itu? mudah emosi dan langsung panas!" potong CEO itu lagi, seakan belum puas kalau belum melihat Vano murka.


Sebuah pintu terbuka, masuk seorang Pria kedalam ruangan tersebut dengan langkah cepat. Pria itu menatap satu-persatu orang-orang yang berada di ruangan meeting, lalu berjalan kearah Vano.


"Redakan emosimu Van! mereka sengaja ingin menjatuhkan mu dengan cara seperti ini!" bisik Devan yang baru saja datang. Vano mengangguk mengerti dan duduk kembali.


"Maaf saya terlambat. Saya perwakilan dari Pak Zevano dari perusahaan Mahesa Group, akan memberikan secara terinci mengenai pengelolaan kelapa sawit yang akhir-akhir ini sangat meningkat tinggi biaya produksinya. Perusahaan kami akan memberikan solusi terbaik untuk menekan biaya produksi dan tidak merugikan masyarakat luas. Kami disini akan berbagi tugas dengan para Cliant yang nantinya sudah bergabung. Bagaimana cara penjualan ke konsumen agar harga minyak tidak melambung tinggi." kini Devan menggantikan posisi Vano sebagai pembicaraan di forum rapat.


Devan melirik kearah Savira yang sibuk menulis di atas buku. "Nona Savira silakan bagikan map yang sudah ada keterangan di dalamnya."

__ADS_1


Savira mengangguk dan tersenyum samar "Baik pak Dev! Savira berjalan perlahan dan membagikan satu-persatu map yang ada di tangannya hingga habis.


"Terima kasih Nona Savira." Devan berkata lembut seraya memulai prestasinya. Sementara Vano sibuk dengan ponsel ditangannya dan menyerahkan semua prestasinya pada Devan.


Dua jam telah berlalu, Devan memang pria cerdas, tidak salah Vano menempatkan sahabatnya sebagai asisten sekaligus kaki tangan di perusahaannya. Meeting berjalan lancar dan di menangkan oleh PT Mahesa Group. Sementara CEO Andikara merasa kesal, sebab presentasi nya telah gagal dan tidak memenuhi syarat.


Zevana tersenyum puas saat melihat CEO paruh baya yang lebih tua dari Daddy nya itu kalah telak. Ia keluar dari ruangan meeting sambil membanting pintu, di ikuti karyawannya.


"Terimakasih banyak Pak Zevano! Perusahaan Saya ikut bergabung. Semoga kerjasama kita berjalan lancar." pria itu mengulurkan tangan.


Vano menerima uluran tangan dari CEO Surya kencana. "Sama-sama Pak Surya. Senang bekerjasama dengan perusahaan anda."


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Seperti kesepakatan kita bersama, akan ada pertemuan kembali esok di perusahaan Mahesa Group."


"Silakan pak Surya. Akan kami tunggu kedatangan Bapak di perkantoran kami."


Setelah rapat selesai, Mereka semua memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Vano dan Devan berjalan lebih dahulu, lalu Savira di belakang mereka berdua. Saat melewati lobby Savira duduk di sebuah kursi teras. Devan merasa aneh dengan sikap Savira yang sejak tadi banyak diam. Lalu Dev berjalan kearah Savira duduk.


"Kamu kenapa Vir..?


"Nggak apa-apa Pak! kaki ku hanya lelah."


Devan melihat kaki Savira yang membengkak, lalu ia berjongkok "Vir, apa ini sakit?"


Savira mengigit bibir bawahnya dan mengangguk. Devan mendesah pelan, lalu mengangkat tubuh Savira.


"Ehh-pak! apa-apaan ini, turunkan! pekik Savira merasa malu, sebab hampir semua orang yang berada di depan lobby melihat kearah nya.


💜💜💜


Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..

__ADS_1


"AKU BUKAN CINDERELLA"


Ayo mampir All.. kisahnya menguras emosi dan airmata loh...


__ADS_2