Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Pertolongan sang Daddy


__ADS_3

"Terimakasih sobat, kau telah menyelamatkan aku dan adikku. Siapapun dirimu, aku sudah menganggap kau sebagai saudara ku. Semoga kita bisa bertemu kembali." Vano membunyikan klakson untuk berpamitan pada pria misterius itu dengan perasan sedih dan bersalah. Gegas Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan area perbatasan kota.


BRUKK!


Tiba-tiba dari atas mobil terdengar suara benda jatuh. jelas saja Vano terkejut dan hampir memberhentikan mobilnya. Namun instingnya sangat kuat hingga ia waspada dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"SETTTT!


Dari atas kap mobil sebuah pedang menancap ke bawah. Hampir saja mengenai kepala Vano, untungnya ia cepat tanggap dan sigap dengan keadaan yang tidak bisa ia prediksi secara tiba-tiba. vano menoleh kesamping dimana Vana masih terduduk lemah dan tak berdaya. Pedang yang sudah tertancap itu bergerak seakan ingin menghabisi dua orang didalamnya. Vano menyetir dengan ugal-ugalan, kadang rem mendadak, kadang di lajukan dengan cepat sambil membuat zig-zag agar pria itu terpental dari atas mobil. Namun, bukannya terpental, pria itu terjatuh di depan kaca mobil Vano, badannya menghalangi pandangan Vano yang sedang menyetir.


"Kau masih juga belum menyerah!" pekik Vano terus menyetir dengan brutal.


BRUKK!"


Sekali lagi Vano mendengar suara diatas mobil dan suara benda yang sedang memukul- mukul kan keatas dak mobil.


"DUK! DUK! DUK!


Suara itu semakin keras terdengar, membuat Vano kehilangan konsentrasi. Vano terus berusaha tenang dan berkonsentrasi untuk bisa berbicara dengan sang Daddy dari jarak jauh, ilmu yang sudah ia kuasai dan pelajari dari sang Daddy.


"Daddy!!! seketika Vano memanggil sang Ayah. "Tolong kami....!!


"DEG!


"UHUK! UHUK! UHUK!


"Mas! ada apa..? tanya Delena yang tiba-tiba terkejut melihat Reno terbatuk-batuk saat sedang menyeruput kopi yang masih berada di tangannya.

__ADS_1


Reno meletakkan kopi panas itu diatas meja. seketika wajahnya memerah lalu ia beranjak dari duduknya.


"Mas, mau kemana?! Delena menahan tangan sang suami.


Reno menatap nanar sang istri dan mengusap lembut pipinya "Anak kita membutuhkan ku! aku harus keruangan meditasi."


"Ada apa dengan anak-anak kita mas?" Seketika Delena terlihat gusar dan khawatir, raut wajahnya berubah merah. Delena tahu bila suaminya akan bermeditasi sudah pasti masalah nya sangat genting.


"Kau tenang saja, aku akan mentransfer energi untuk Vano. Hanya Vano yang bisa berinteraksi dengan ku, aku telah menurunkan ilmu 'pemanggil batin' hanya pada Vano." Reno mencium kening sang istri. Tak terasa butiran bening jatuh di pelukan mata Delena.


"Dari kemarin aku sudah merasakan perasaan yang tidak enak, aku selalu memikirkan Zidan, Savira, Vana dan Vano." Delena terisak dan membenamkan wajahnya di dada bidang Reno. Pria yang sudah menemaninya selama 26 tahun.


Dengan kelembutan Reno mencium pucuk kepala sang istri dan memeluknya erat, memberikan Delena kekuatan dan ketenangan. Reno mengurai pelukannya dan berkata "Aku pergi dulu. jaga papa dan mama. Tolong kau lihat kondisi Papa, jangan sampai drop lagi." Delena mengangguk. Setelah mencium kembali kening sang istri, Reno beranjak pergi dari ruangan pribadi yang berada di rumah sakit milik sahabatnya.


Reno berlari secepat kilat tanpa meninggalkan jejak, ilmu meringankan tubuh yang sudah ia kuasai puluhan tahun mampu membuat ia bergerak dengan cepat. Kini Reno sudah berada di dalam mobil dan melajukan mobilnya ketempat tersembunyi. Sepuluh menit kemudian, mobil sedan miliknya sudah berhenti didepan sebuah villa yang terlihat sunyi. Banyak pepohonan rindang yang berada di sekitar Villa, namun terlihat asri dan sejuk. Vano memarkirkan mobilnya dengan sempurna, lalu masuk kedalam villa dan membuka sebuah kamar pribadinya yang berada dilantai dua. Ruangan itu di penuhi lilin dan lukisan seorang suhu/ kakek tua yang sudah berumur seratus tahun lebih, Pria berkharisma itu sedang bermeditasi dengan kedua mata tertutup dan janggut putih panjang menjuntai sebatas perutnya. Reno menatap lukisan itu dan membungkuk memberi hormat.


Reno mulai bersemedi dan menutup matanya seraya merapal kan mantra. Keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya.


Sementara Vano terus melajukan mobilnya yang mulai kehilangan arah. Ia mulai di serbu kembali oleh kelompok Genk kalajengking yang tak ingin kedua kakak beradik itu hidup.


"BRAKK!


Seketika mobil Vano menabrak pohon besar, yang tidak ada keseimbangan. kepala Vano terbentur stang setir dengan keras, darah segar keluar dari keningnya, Namun ia masih tersadar. Sekelompok genk kalajengking mendobrak pintu sebelah kiri dan menarik tubuh Vana. Vano yang baru tersadar beberapa menit terkejut dan murka. Ia keluar dari dalam mobil untuk menyelamatkan sang adik.


"Brengsek kalian semua! teriak Vano, tubuh yang tadinya lemah karena mengeluarkan banyak darah dan pinggang nya. Seketika ia memiliki kekuatan super dan langsung menghantam area dadanya anak buah Genk kalajengking dengan tangan kosong. Mereka terpenting satu-persatu hingga mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.


"Dek! dengan cepat Vano mengangkat tubuh lemah sang adik yang sudah tak berdaya kedalam mobil. Vano masuk kembali kedalam mobil untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


Seketika Alam semesta yang gelap terasa senyap, tiba-tiba ada angin kencang dari atas pepohonan bersama petir yang menyambar. Angin itu menerbangkan apa saja yang berada di sekitarnya bersama daun-daun berguguran. Orang-orang kalajengking yang berada di tempat itu terkejut, saat semua pedang yang mereka pegang terlepas dari genggamannya. Ada juga diantara mereka yang masih mempertahankan pedang nya agar tidak terlepas dan terbawa oleh angin. Namun seperti ada kekuatan angin yang maha dahsyat mampu menerbangkan pedang bersama orang-orangnya yang terangkat keatas. Suara pekikan dan teriakan mereka terdengar lirih.


Vano begitu penasaran dengan apa yang sudah terjadi di luar mobil. Saat Vano Ingin membuka pintu mobil, seperti ada kekuatan yang menahannya "Jangan keluar Vano! tetaplah berada di dalam mobil." suara itu tepat berada di telinganya.


"Daddy! gumam Vano pelan. Kini ia mengerti dan membiarkan alam semesta untuk membantunya. Angin beliung terus berputar-putar mengelilingi anak buah kalajengking dan ikut terbang ke bawa angin. Hingga angin itu lama-lama menghilang dari pandangan mata Vano. Seketika keadaan sunyi dan senyap kembali. Tidak ada satupun orang di sekitar tempat itu, hanya terdengar suara jangkrik dan kodok saling bersahutan.


Vano menarik nafas lega dan di hembuskannya perlahan "Terima kasih banyak Dad, selalu ada untuk kami."


Vano menoleh kesamping dan melihat Vana sudah memucat seperti kehabisan darah.


"Dek! pekik Vano dan menyentuh tubuh Vana yang sudah dingin dan bibirnya membiru. "Ya Tuhan, selamatkan adikku!" Vano mulai gusar dan tegang, buru-buru ia menyalakan mobil dengan sebuah kabel. Setelah mobil menyala dengan cepat Vano melajukan mobilnya menuju arah Jakarta.


Sementara di tempat yang berbeda, namun masih di lokasi yang sama. Pria misterius itu terus bertahan dengan adu kekuatan pedang samurainya. Pertarungan yang tak seimbang. Namun pria bertopeng itu bisa melumpuhkan satu persatu lawan. Tiba-tiba Genk kalajengking semakin bertambah banyak dan berdatangan. Pria misterius itu tersudut dan melangkah mundur. Ia belum mau kehilangan nyawanya.


"Bagaimana ini? mereka semakin banyak! aku harus secepatnya pergi dari tempat ini dan berharap wanita ku baik-baik saja."


Saat ia akan pergi dan melompat keatas pohon, seseorang telah menarik kakinya dan terjatuh ke tanah. keadaan semakin terdesak, Pria itu bangkit dan berdiri, Namun tubuhnya seperti di lilit ribuan kalajengking. Sontak pria misterius itu terkejut dan ia membuka baju yang melapisi tubuhnya. Sebuah pedang dari arah belakang menyabet tubuhnya hingga darah segar mengucur. Pria itu terus bertahan dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. ia menggenggam samurai nya dan terus bertarung semampu yang ia bisa. pertarungan yang tak seimbang membuatnya benar-benar terdesak dan terjatuh tersungkur ke tanah. Ribuan kalajengking merangkak cepat kearah pria misterius itu. Pria itu sudah tak sanggup untuk berdiri dan darah segar keluar dari mulutnya.


"Tuhan selamatkan nyawaku! batinnya berkata lirih.


"Serang habisi orang itu!" teriak dari salah seorang Genk kalajengking. pria itu sudah pasrah dan menutup matanya saat orang-orang kalajengking berlari kearahnya dengan menggenggam pedang lalu menghunuskan kearah tubuhnya.


💜💜💜💜💜


"Masih episode yang tegang-tegang ya Beb. Terus ikuti lanjutannya 🥰🥰


@Bila kalian suka dengan karya Bunda, Ayo jangan pelit-pelit untuk VOTE/GIFT, LIKE DAN KOMENTAR.🥰🥰

__ADS_1


Follow IG Bunda. @bunda.eny_76


__ADS_2