Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Sepasang kekasih


__ADS_3

Suara langkah sepatu pantofel terdengar cepat saat berjalan melewati lorong rumah sakit, langkahnya berhenti di sebuah pintu VVIP, tangan kanannya membuka handle pintu dan memasuki ruangan. Pandangan matanya mengarah pada seorang pasien yang tertidur di atas banker. Ia berjalan semakin mendekat dan berdiri didepan sosok wanita cantik dengan perban di kepalanya.


Tangannya terulur mengelus lembut tangan Bella, gerakan kecil tubuh Bella membangunkan kesadarannya, ia membuka mata perlahan dan melihat sosok Pria tampan didepannya dengan senyuman khasnya.


"Siang Bell, Ma'afkan aku baru bisa menemui mu, tadi pagi harus menemani Daddy bertemu dengan para petinggi perusahaan."


Seulas senyuman manis terukir di bibir tipis Bella "Tidak apa-apa Van, terima kasih sudah menemaniku dua hari ini."


Pria tampan berpostur atles itu duduk di tepi ranjang "Itu sudah kewajibanku untuk merawat mu Bell, kau sudah menyelamatkan nyawaku dan aku berhutang budi padamu."


"kau juga sudah sering menyelamatkan aku Van, banyak peristiwa yang aku lalui di masa SMP dulu dan kau selalu ada untukku, menyemangati aku dan menyelamatkan hidupku." lelehan air mata Bella menetes dari sudut matanya.


Vano mengusap punggung tangan Bella yang tidak di infus "Sungguh Aku sangat takut saat kau terseret dan berakhir di aspal. Vano menghembuskan nafas kasar "Pikiranku saat itu sudah kemana-mana, dan jujur aku sangat takut kehilanganmu." ucap Vano pelan seraya menatap teduh wajah Bella. Wajah wanita itu berbinar cerah saat Vano mengakui takut kehilangan dirinya.


Dikecupnya tangan Bella penuh kasih sayang "Berjanjilah Jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi! Aku akan merasa bersalah bila harus kehilanganmu, demi menyelamatkan ku."


"itu aku lakukan karena aku___" ucapan Bella terputus, lidahnya terasa kelu dan tak sanggup meneruskan kata-katanya lagi.


"MENCINTAI MU? Vano meneruskan kata-kata Bella yang terputus. Bella memalingkan wajahnya kesamping, jantungnya berdebar sangat cepat bersama desiran darahnya mengalir dari atas turun kebawah


"Ma'afkan aku Van! Bella menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya ke samping, ia membelakangi Vano, terdengar suara isak nangis yang tertahan.


Vano tahu Bella sangat mencintai dirinya sejak SMP dulu, namun saat itu Ia belum terpikirkan untuk berpacaran seperti muda-mudi lainnya. Sebab keinginannya untuk melanjutkan kuliah hingga lulus S2, baru ia akan memikirkan pendamping. Vano tidak ingin kuliahnya terganggu dan pikirannya bercabang. Ia harus menjadi kebanggaan kedua orang tuanya dan meneruskan perusahaan keluarga Mahesa.


Hari ini Vano harus memutuskan dan mengabaikan ego nya, mendengar kata hati itu adalah sebuah kejujuran. Ia harus berdamai dengan hatinya dan mulai mencintai Bella. Menuggu dua tahun selesai S2 sangatlah lama untuk mengungkapkan perasaannya pada wanita yang mulai ia rindukan. Setahun ini Vano mulai memikirkannya, ada sosok wanita cantik yang bertahta dihatinya.


"Bella ma'afkan aku, telah membuatmu terluka dengan sikapku." vano berpindah duduk dengan posisi di belakang Bella dan tubuhnya disejajarkan. Tangannya memeluk tubuh Bella dari belakang, sontak Bella terkejut bersama aliran darahnya semakin berdesir.


"VAN...!


"Sssttttt... biarkan aku seperti ini, memeluk mu sebentar. Apa kau nyaman, hmm? bisik Vano pelan.


Nafas Bella tercekat, ia tidak pernah percaya Vano berani memeluk tubuhnya dari belakang "Aku juga mencintai mu Bell.." bisiknya lembut.


DEG!


Seketika jantung Bella bertalu-talu dan debarannya semakin cepat. "Benarkah apa yang diucapkan Vano? tapi, aku tidak salah dengarkan? aku sedang tidak bermimpi bukan? batinnya terus berperang melawan perasaannya.


Vano membalikkan tubuh Bella dan tersenyum, jarinya mengusap sisa airmata Bella yang berjatuhan. "Apa kau belum yakin dengan ucapan ku?" tanya Vano, menaikkan satu alisnya yang tebal.


"U-capan yang ma-na? tanya Bella pura-pura tidak tahu, sebenarnya ia tahu Vano sudah menyatakan cinta, namun ia masih ragu dan tidak ingin kecewakan hatinya.


Vano tersenyum, menatap dalam netra abu-abu Bella. "AKU MENCINTAIMU!" mendaratkan bibirnya di kening Bella.


"MAUKAH KAU MENJADI KEKASIH KU?

__ADS_1


Bella terdiam dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya, matanya terus menelisik netra coklat Pria tampan yang sudah mengisi hatinya, ia mencari kebenaran dari tatapan matanya.


"BENARKAH UCAPAN MU? AKU SEDANG TIDAK BERMIMPI BUKAN?"


Vano terkekeh "Kau boleh mencubit tangan tanganmu. Apakah ini mimpi atau nyata?


"Aaawww! Bella terpekik saat tiba-tiba Vano mencubit lengannya. "Sakit Van? Bella meringis


"Seperti digigit semut kan Bell?


"Kau jahat Van? Bella merajuk


"Bagaimana? sekarang kita resmi jadi kekasih? tanya Vano, seraya merapikan anak rambut Bella yang berantakan.


Bella mengangguk "Iya Van, aku mau." ucapnya sumringah


"CUP! Vano mendaratkan kembali bibirnya ke pipi Bella yang sudah resmi menjadi kekasihnya.


"CEKLEK!


"BELL!!


Vano dan Bella terkejut saat pintu di buka. Vano menegakkan tubuhnya dan terduduk sambil merapikan jas yang melekat pas di tubuhnya.


"Ehh-Sorry kalau gua ganggu kalian." imbuhnya tidak enak hati, suaranya tercekat saat tadi melihat Vano mencium pipi Bella.


"Masukkan Dev! perintah Vano.


KREKK....


Vano terkejut saat di belakang Devan ada Savira, ditangan Savira ada sebuah parcel buah.


"Masuk Vir..? kata Vano sambil melempar senyum.


"Hay Vira, terima kasih sudah berkunjung." Bella menyapa Savira saat masuk kedalam ruangan nya.


"Ini parcel dari Tante Delena, ia belum sempat datang karena sibuk, mungkin besok akan menjenguk kak Bella." ucap Savira tersenyum canggung.


"Sampaikanlah pada Tante, terimakasih parcel nya." Savira mengangguk.


"Buka parcel buahnya, Bella harus banyak makan buah biar cepat sembuh." Devan berbicara seraya merobek mica parcel.


"Kau ingin makan buah? tanya Vano pada wanita di sampingnya. Bella mengangguk dan duduk bersandar pada divan dengan di bantu Vano. Melihat kemesraan Vano dan Bella senyuman di wajah Vira memudar ia memalingkan wajahnya, entah kenapa hatinya tiba-tiba sakit.


"Kau ingin makan buah apa? tanya Devan.

__ADS_1


"Apa saja Dev, pemberian Tante Delena pasti aku suka semua."


Devan mengambil buah apel dan mangga. "Apa tidak ada pisau?


"Ada di laci nakas." ucap Bella.


Devan mencari pisau dan mengupasnya, setelah di cuci dan di potong-potong kecil, lalu diberikan pada Vano.


"Aku yang suapin ya? Bella mengangguk dengan binar diwajahnya.


"Tunggu! apa kau sudah sarapan? vano bertanya untuk memastikan.


"Sudah donk, tadi pagi di bantu Mamah sebelum pulang."


Vano masih duduk di samping Bella lalu menyodorkan garpu tusukan buah ke bibirnya. Bella melahap buah itu dengan senyuman dan wajah berbinar cerah, Sekarang Bella sudah resmi menjadi kekasih Vano, buah dari kesabarannya berakhir bahagia. Awan tak selamanya mendung, ada pelangi yang mewarnai hatinya. Devan seperti sudah mengerti kalau keduanya sudah memiliki hubungan, terlihat binar bahagia keduanya saat tersenyum. Devan ikut bahagia, tidak ada alasan bagi Vano menolak Bella yang sudah menolongnya.


Tanpa mereka sadari bola mata Savira sudah berembun, sekali kedip airmata itu akan jatuh. Tak ingin hatinya semakin terluka, Savira membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah pintu.


"Vir! kau mau kemana? tanya Devan.


Savira memegang handel pintu "Aku mau cari angin diluar Kak! ucapnya datar tanpa menoleh.


"Ceklek!


Tanpa menunggu jawaban dari Devan, Savira keluar dari ruangan rawat inap Bella, ia berjalan cepat menuju sebuah taman, satu tangannya memegangi dadanya yang berdenyut nyeri.


"Ada apa dengan diriku? kenapa hatiku begitu sakit melihat kak Vano perhatian dan mesra pada Kak Bella? apakah mereka sepasang kekasih? Ahh.. Kenapa aku tidak pernah berfikir kesana? tapi, bila kak Bella kekasih kak Vano, kenapa di toko buku sikap mereka biasa saja seperti seorang teman, tidak ada yang spesial."


Savira duduk di sebuah kursi panjang. Namun hatinya masih terus bertanya-tanya,, apa yang sudah ia lihat tadi, Vano dan Bella menunjukkan sikap mesra layaknya sepasang kekasih. Tiba-tiba saja dadanya begitu sesak, airmata yang ia tahan meluncur bebas begitu saja.


"Apakah aku mulai mencintai kak Vano? perasaan apakah ini? aku benci perasaan ini! aku benci diriku sendiri..!! hiks... hiks.. airmata Savira terus berjatuhan, ia menyeka airmata itu dengan punggung tangannya.


"SAVIRA...? kau disini.."


💜💜💜


@Pro dan kontra pasti akan terus terjadi di novel ini, jangan salahkan Vano atas keputusan memilih Bella ya All.. yang ingin Savira dengan Vano sabar dulu ya, akan ada kejutan di episode berikutnya.


@Nathan pasti keluar lagi kok, tapi sabar dulu ya All...😘


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76


@Bersmbung....

__ADS_1


__ADS_2