Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Makan Bersama


__ADS_3

Devan mengepalkan kedua tangannya "Om Handoko! bila ibu seperti ini karena perbuatan mu, akan aku hancurkan hidup mu dan anak-anak mu!" ancam Devan dengan tangan mengepal kuat, hingga urat-uratnya menonjol. Ekspresinya terlihat murka.


"Aku janji akan mencarimu bu! tidak akan aku biarkan ibu jadi pengemis di jalanan! Dev bangkit seraya mengusap airmatanya. "Aku harus menemani Savira. Setelah itu ke kantor polisi untuk meminta bantuan mencari keberadaan ibu.."


Savira terus celingak-celinguk mencari keberadaan Dev. sudah setengah jam lebih Dev belum juga kembali.


"Kak Dev kemana sih, aku sudah selesai di urut dia juga belum kembali."


"Vir kau sudah selesai di urut? tukas Devan setengah berlari kearah Savira duduk. "Maaf kalau aku kelamaan beli minum."


"Kakak kemana saja? aku sudah selesai di urut. Tapi belum bayar, tas ku ada di mobil."


"Biar kakak yang bayar. Kamu tunggu sebentar disini dulu." Devan masuk kedalam rumah itu lagi untuk memberikan amplop yang sudah ia siapkan. Lalu kembali lagi.


"Apa perlu kakak gendong lagi." tawar Dev


"Sudah bisa jalan kok kak! lagian aku bukan bocah dua tahun yang minta di gendong." balas Savira


"Ya sudah kakak pegangin. Jalannya pelan-pelan saja."


Dengan telaten Devan menuntun Savira berjalan hingga sampai ke mobil. Setelah Dev duduk di depan kemudi, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Didalam mobil Devan banyak terdiam, ia masih terus memikirkan keadaan ibunya yang entah berada dimana sekarang.


"Kak, kenapa murung? apa kak Dev merasa bersalah dengan Kak Vano..?"


Devan mendesah pelan "Tidak ada Vir, kau tidak perlu khawatirkan keadaan kakak. Saran kakak kau harus sering-sering banyak jalan, biar urat-uratnya tidak kaku." tukas Dev perhatian.


"Oke kak!"


Mobil terus membelah jalanan raya, hingga mereka sampai di mansion. Dev menuntun Savira sampai masuk kedalam ruangan.


"Savira... Dev..? sapa Delena, ia mengerutkan keningnya saat melihat Savira berjalan tertatih. "Ada apa dengan kaki Savira?" tanya Delena khawatir.


"Vira terjatuh di lantai hotel Mom, terus keseleo. ini baru pulang dari tukang urut diantar kak Dev!"


"Kenapa kamu tidak hati-hati sih!" Delena membantu Savira duduk di sofa


"Lantai nya licin Mom, hells ujungnya runcing jadi nggak ada keseimbangan."


"Untuk sementara jangan pakai hells dulu." tukas Delena.


"Bii... buatkan minum untuk Dev!"


"Tidak usah repot-repot Tante, ini juga mau langsung pulang."


"Sebentar minum dulu." tawar Delena

__ADS_1


"Lain kali saja Tante, saya masih ada perlu lagi ketempat lain."


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya Dev!"


"Iya Tante.."


"Terima kasih ya kak, udah nolong Vira."


"Iya, ya sudah kakak pulang ya." pamit Devan, lalu masuk kedalam mobi.


"Sekarang tujuan ku ke kantor polisi, setelah itu aku harus kerumah Tante Ratna. Aku harus tahu apa yang sudah terjadi sama ibuku!" ucapnya pada diri sendiri.


Didalam ruangan presdir, Vano sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Manager pemasaran dan manager keuangan sudah meninggalkan ruangan. Ia melirik arloji di tangannya, waktunya siapa-siapa untuk ke apartemen Bella.


Vano keluar dari pintu lift, lalu berjalan kearah lobby. Para karyawan menyapa dan membungkuk hormat. Pria dingin berkharisma itu hanya mengangguk kecil dan tersenyum samar. Didepan lobby mobil sudah menunggu. Seorang sekuriti membukakan pintu untuk sang CEO. Mobil meninggalkan perkantoran 'MG' setelah Vano duduk di kursi baris kedua.


"Ke Apartemen Bella Pak!"


"Baik bos!"


Mobil membelah jalanan raya ibu kota. Saat berhenti di sebuah lampu merah, seorang anak kecil menjajakan bunga Rose merah.


"Tuan bunga nya. Masih segar dan wangi."


Vano yang sibuk dengan laptop di pangkuannya, merubah atensinya. Ia menoleh kearah anak perempuan yang berdiri di sisi mobil sambil menawarkan dagangannya.


"Satu tangkainya sepuluh ribu, Tuan!"


"Saya ambil semuanya!" ucap Vano enteng.


"Hah! semuanya Tuan? anak perempuan itu terperanjat "Ini ada empat puluh tangkai dan baru terjual sama Tuan saja."


Vano mengeluarkan dompet dan menarik lembaran seratus ribuan sepuluh lembar, lalu memberikannya uang cash itu pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun.


"Ini bunganya Tuan." anak itu terkejut menerima banyak lembaran di tangannya "Wah uangnya lebih Tuan."


"Nggak apa-apa, ambil saja buat kamu."


"Terimakasih banyak Tuan!" anak itu tersenyum riang.


Lampu merah sudah berubah hijau. Mobil melaju kembali. Satu jam kemudian mobil berhenti di lobby Apartemen. Vano masuk kedalam lift dan berhenti di lantai 23 tempat dimana Bella berada. Vano berjalan di koridor dengan membawa bunga rose yang tadi ia beli.


Ting-tong!


Ting-tong!

__ADS_1


Ceklek!


"Sayang...." Bella tersenyum lembut saat sang kekasih yang sangat ia cintai berdiri di ambang pintu. Vano menyerahkan bunga rose dengan senyuman mengembang.


"Wow, bunganya cantik banget, terima kasih honey.." Bella cipika-cipiki dengan Vano. "Ayo masuk!" Bella menarik tangan Vano dan berakhir di sebuah meja makan.


"Aku sudah memasak untuk mu." tukasnya bangga.


Bella yang berbalut dress selutut berbahan brokat berwarna maron terlihat cantik dan seksi.


Lilin-lilin menyala terang diatas meja bundar. Bella mengambil Vas untuk ditaruh bunga rose yang Vano bawa. Aroma bunga rose menguar di ruangan makan. Mereka duduk berhadapan seraya mendentingkan gelas pajang berisi oranye juice. Keduanya sangat romantis dan menikmati hidangan buatan Bella.


"Bagaimana rasanya..? tanya Bella sambil menatap Vano yang menyuapkan sup kedalam mulutnya.


"Hmm.. sangat lezat." tukas Vano begitu menikmati makanan buatan Bella.


"Feijoada dan pinterest. Makanan ini merupakan sup kacang hitam yang direbus dengan berbagai macam daging dan sosis. kalau Quindim merupakan makanan pencuci mulut yang populer di Brazil. Seperti Salpicao, pinterest, dan Editor's picks sangat di gemari dan banyak di jual restoran." cerita Bella, ia sangat bangga memperkenalkan masakan negara nya dan Vano tidak menolaknya, bahkan ia menghabiskan dua mangkuk sup.


"Apa ingin tambah?" Bella menawarkan vano yang begitu menikmati.


"Tidak ada, aku sudah kenyang Bell, lihat aku sangat rakus menghabiskan dua mangkuk sup." kekeh Vano.


Bella tertawa kecil "Aku sangat suka bila kau banyak makan. Karena kau sangat senang olahraga. Pasti cepat lapar."


"Kalau sudah jam tujuh keatas aku stop makan yang berat-berat. Gym memang sangat menguras tenaga, tapi aku sudah terbiasa sebelum tidur pasti Gym dulu."


Selesai makan mereka berdua duduk santai di atas balkon. Ayunan gantung pas untuk duduk mereka berdua.


"Bagaimana dengan perusahaan Papa mu? apa sudah berjalan?"


"Masih harus menunggu. Karena surat izinnya belum keluar. Entahlah sepertinya agak di persulit."


"Siapa yang tidak memberikan izin? Aku yang akan membantumu untuk meloloskan. Besok datanglah ke-kantor ku, 1x24 surat perizinan akan keluar."


"Benarkah..? Mata Bella berbinar cerah dengan senyuman lebar. Tanpa sadar ia berlonjak memeluk tubuh kekar Vano. "Terimakasih sayang.."


Vano yang mendapat pelukan spontan dari Bella, sempat terkejut.Tiba-tiba ke-duanya terdiam dengan netra saling bersitatap. Bella baru tersadar dengan perbuatannya, ia merasa gugup dan mulai mengendurkan eratan tangannya yang menggantung di leher vano. Bella memalingkan wajahnya karena malu.


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..


"AKU BUKAN CINDERELLA"

__ADS_1


Ayo mampir All.. kisahnya menguras emosi dan airmata loh...


@Bersambung.....


__ADS_2