Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Guncangan Savira


__ADS_3

"Ada rumah sakit, satu kilo meter dari sini. Soalnya posisi kita masih di kampung Neng."


"Bapak bisa ikut saya? untuk menunjukkan jalan pintas, kakak saya sudah tidak sadarkan diri."


"Ayo bapak antar."


Vana dan Bapak itu masuk kedalam mobil untuk menuju rumah sakit.


Kurang dari satu jam mobil yang Vana kendarai sudah sampai di halaman rumah sakit. Bapak paruh baya yang bernama Kartono itu gegas keluar dari mobil dan meminta petugas medis untuk menolong Nathan yang sudah tak sadarkan diri.


Petugas medis memindahkan tubuh Nathan keatas brankar dan membawa kerungan UGD. Vana tampak cemas dan khawatir menunggu di depan ruangan UGD yang tertutup rapat itu.


Lima belas menit kemudian keluar Pria berpakaian serba putih yang bergelar doktor, matanya seperti mencari seseorang "Dimana kelurga pasien yang kepalanya mengalami luka."


"Saya Dok! buru-buru Vana beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter.


"Anda kelurga pasien?!"


"Iya, saya adiknya."


Vana tidak mungkin harus berkata jujur kalau Nathan adalah kekasihnya, sebab ia juga baru tahu perasaan Nathan yang sebenarnya pada dirinya.


"Pasien mengalami luka yang sangat serius. ia banyak kekurangan darah dan secepatnya harus dilakukan operasi di bagian belakang kepalanya. Kekurangan darah bisa mengakibatkan kematian."


"Ap-apa?! mata Vana membulat sempurna, ia menutup mulutnya dengan jemari tangannya karena syok mendengar penuturan dokter.


"Tidak mungkin dokter! airmata yang sejak tadi menetes, kini semakin deras mengalir "Tolong Dok, selamatku kakak ku!" Vana mengatupkan kedua tangannya dengan tatapan menghiba. "Jangan biarkan kakak ku meninggal." tangisan pilu Vana semakin terdengar keras.


"Dok, golongan darah apa yang di butuhkan." ucap Pak kartono yang sejak tadi masih menunggu didepan UGD. "Saya bersedia mendonorkan darah saya." katanya lagi.


"Saya sudah cek dan golongan darah yang di butuhkan AB Rhesus negatif."


"Golongan darah apa itu Dok? saya baru mendengar nya?


"AB Rhesus negatif. golongan darah langkah dan tidak banyak yang memiliki darah itu."


"Sayang sekali Dok, golongan darah saya 'B! ucapnya lemah.


Vana yang mendengarkan penuturan Dokter muda itu semakin sesak. Nafasnya mulai tercekat, pasokan udara seakan sulit untuk ia hirup "Ambil darah saya Dok!" pintanya dengan mengusap airmatanya.


"Apa Nona memiliki darah yang sama dengan pasien? tanya Dokter itu ragu.


"Tentu saja, dia kakak saya." ucap Vana yakin. Walau sebenarnya ia juga tidak tahu apakah darahnya cocok dengan Nathan atau tidak.


"Baiklah, ayo keruangan perawatan."

__ADS_1


Vana dan Doter muda itu menuju ruangan perawatan, guna untuk di cek darahnya terlebih dahulu.


"Ternyata darah Nona sangat cocok dengan saudaranya. sangat jarang satu keluarga yang memiliki darah sama."


Vana bernafas lega "Lakukan sekarang Dok, aku tidak ingin kakakku kehilangan nyawanya, ia sangat berarti bagiku."


Dokter itu mengangguk dan mulai mengambil darah Vana.


Flash back off.


Mata Nathan berkaca-kaca saat teringat kejadian 9 tahun silam, dimana Vana masih Sekolah Menengah Atas (SMA) duduk di bangku kelas 3. Ia tidak akan pernah melupakan kebaikan dan ketulusan Vana untuk mendonorkan darahnya, itulah kenapa Nathan selalu mengikuti jejak Vana kemanapun ia pergi dan tidak akan pernah melepaskan cinta pertamanya, walaupun Reno Mahesa menginginkan dirinya mati dan di kubur hidup-hidup, karena dendam masa lalunya dengan Ayah, Thomas.


Darah Nathan sudah berpindah ke kantong. Lima kantong sudah berpindah ke tangan suster untuk di bawa kerungan operasi dan memberikan transfusi darah ke tubuh Vana.


Semua menunggu di depan pintu operasi. perasaan cemas dan gusar bercampur aduk di benak Vano. Sang adik belum ada tanda-tanda akan kembali dan menemukan titik terang setelah ia menyuruh bodyguard mencari Zidan. Belum lagi Vana yang sedang bertarung melawan maut.


Dev merangkul pundak sahabatnya yang terlihat gelisah, raut wajahnya sangat tegang. Dev sekedar memberikan ketenangan dan kekuatan pada Vano atas kejadian yang dialaminya secara bertubi-tubi.


"Sabar Van, semua badai pasti akan berlalu. kita harus bersyukur masih ada orang baik yang mau menolong Vana dengan memberikan donor darahnya."


Vano mengangkat wajahnya yang sejak tadi hanya menunduk. ia mencari sosok Nathan yang tadi ada di depan ruangan operasi.


"Dimana pria tadi? bukankah tadi ia berada disini? tanya Vano pada Dev


Ya, Nathan telah meninggalkan ruangan operasi, ia sengaja menghindar agar Vano tidak mengetahui identitasnya. Nathan tidak ingin Keluarga Reno tahu kalau dirinya masih hidup. Nathan menunggu dari kejauhan dengan wajah tertutup masker.


Suara derap langkah cepat menghampiri Vano dan Dev.


"Maaf tuan Dev, Nona Savira sudah terbagun. Lalu ia terus berteriak histeris." tukas seorang suster memberitahu dengan raut wajah cemas.


"Savira! ucap keduanya bersamaan.


"Van, biar aku yang menemui Savira. kau tetap saja di sini menunggu Vana sampai operasi selesai."


Vano mengangguk "Baiklah, kabari aku secepatnya dengan kondisi Savira. Aku tidak ingin ia mengalami depresi setelah mendapat pelecehan."


"Aku pergi dulu!" gegas Dev melangkah pergi meninggalkan ruangan operasi menuju ruangan rawat inap Savira bersama seorang suster.


Langkah kaki Dev semakin cepat setelah mendengar suara teriakan Savira dari ujung koridor.


"Savira!


Dev menghampiri Savira yang seperti orang ketakutan, dengan kepala ia benamkan diantara kedua lututnya. posisi Savira berada di bawah lantai dengan nafas tersengal.


"Savira apa yang kau lakukan?! Dev berjongkok mensejajarkan dengan Savira. Ia menyentuh pundak Savira yang sedang terguncang.

__ADS_1


"Jangan, lepaskan!!! tepis Savira menjerit, lalu mencakar tangan Dev.


"Savira, ini aku Dev!


"Jangan aku mohon! Savira membekap dadanya dengan kedua tangannya, ia terus menjerit dengan airmata berderai, tatapannya penuh amarah pada pria di depannya.


"Savira tenangkan dulu dirimu. Lihatlah dengan baik-baik, Aku bukan musuhmu tapi aku Dev, kakak angkatmu."


"Bukan! kau penjahat! teriak Savira "Kau telah menodai aku! aku wanita menjijikkan!" serunya lagi dengan mata melotot kearah Dev.


Devan menghela nafas panjang dan merasakan sesak melihat kondisi Savira yang memprihatinkan. Ia berusaha menenangkan dengan meraih tangan Savira. Namun Savira terus mencakar nya, surai hitam panjangnya yang selalu terlihat indah, kini berubah awut-awutan dengan kondisi berantakan.


Seorang Dokter datang dan mendekati Dev "Tuan, lebih baik aku suntik Nona Savira, agar ia tenang dan bisa istirahat. Kondisinya sedikit terguncang setelah siuman tadi."


"Tidak usah! aku ingin menyadarkan dirinya yang mulai banyak tekanan. Aku akan mengatasinya Dok, ini hanya masalah jiwanya yang terguncang sementara."


"Justru kejiwaannya sedikit terganggu, aku akan menyuntikkan biar Nona Savira tenang."


"Sudah aku bilang! aku yang akan mengambil alih masalah Savira!" bentak Dev dengan sorot mata tajam.


Dokter Arman yang menangani kondisi Savira hanya menghela nafas kasar. ia yang merasa tidak di perdulikan lagi oleh Dev, melangkah pergi keluar dari ruangan Savira, tinggal dua orang suster yang masih berjaga di sana.


"Savira..." kau harus tahu, kalau kau masih suci dan belum ternoda." Dev berkata dengan suara lembut


"PERGIIII! Aku tidak ingin melihat kau!" pekik Savira emosi "AKU WANITA KOTOR! AKU SUDAH TERNODA!!! Savira terus meracau sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Savira jangan lakukan itu, itu akan menyakiti dirimu sendiri." Dev berusaha menarik tangan Savira dari jambakan rambutnya.


Ceklek!


"SAVIRA!


Seorang pria masuk kedalam kamar rawat inap Savira dan memeluk tubuhnya erat.


"Siapa ya pria itu...???


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Kalian minta bunda tiap hari update. Nah sekarang udah bunda updated sehari 2x. Sekarang berikan komentar yang membangun dan berikan masukan ya AllπŸ₯°


Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara VOTE, LIKE, GIFT/VOTE, RATE BINTANG 5 DAN KOMENTAR.


@Follow IG dan akun tiktok bunda Eny ya AllπŸ™πŸ₯°


@Happy reading πŸ˜πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ

__ADS_1


__ADS_2