
"Apa kalian tidak percaya dengan saya! apa kalian pikir saya seorang ******* yang ingin membunuh dokter Vana? Baiklah bila kalian menyulitkan saya untuk masuk kedalam, akan saya temui dokter Arif selaku humas di rumah sakit ini. Mungkin setelah ini, kalian semua akan dipecat! ucapnya tegas dengan sorot mata tajam.
Mereka Semua terlihat gusar, lantas sekuriti itu membuka pintu kaca dan membiarkan pria berpakaian dokter itu masuk ke dalam ruangan anggrek.
Pria itu bernafas lega, ada senyuman di sudut bibirnya saat melangkah masuk kedalam ruangan private milik Vana.
KREKK!
Pria itu membuka pintu kamar dan sedikit terkejut saat melihat ada Dave dan Vano di dalam kamar. Sedetik kemudian ia bisa langsung merubah ekspresinya yang tertutup masker.
"Selamat sore Tuan. Perkenalkan saya Dokter Ilyas." Pria itu berjalan mendekat kearah mereka berdua yang sedang berbicara, lalu pria yang mengaku dokter Ilyas mengulurkan tangannya pada Dave dan Vano.
"Vano!
"Dave!
"Saya ingin periksa keadaan Nona Zevana."
Vano mengeryitkan alisnya dan menatap ragu pada dokter di depannya "Nona? setahu saya semua Dokter disini memanggilnya Dokter Vana atau Bu Dokter."
"Ahh, maaf Tuan. Saya sudah terbiasa memanggil Nona cantik atau Nona Vana, itu nama panggilan yang biasa kami sematkan pada Dokter Vana." tukas Pria itu mencari alasan yang tepat.
"Apa Anda masih akan tetap disini? tanya pria itu tanpa basa-basi.
"Apa maksud dokter bicara begitu? tanya Vano.
"Tidak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin mengecek keadaan Dokter Vana."
Vano terdiam seraya menelisik wajah pria di depannya. Melihat kecurigaan Vano, pria itu tersenyum samar "Apa anda meragukan saya Tuan? bukankah di ruangan ini ada cctv-nya."
Dave berdehem untuk menetralkan ketegangan "Tuan Vano, bukankah anda ingin melihat kondisi Savira?
Vano melirik kearah Dave melalui ekor matanya. "Baiklah, kita temui Savira di ruangan nya."
Vano berjalan kearah pintu di ikuti oleh Dave. Saat ingin membuka gagang pintu, Vano menoleh dan menatap kearah pria itu.
__ADS_1
"Tolong lakukan yang terbaik untuk adik saya. Saya tidak ingin dokter di rumah sakit ini gagal menangani pemilik Rumah Sakit 'Mitra Mandiri'. Saya sangat percaya dengan kualitas dokter di rumah sakit milik keluargaku."
"Tentu saja tuan, Dokter Vana adalah prioritas kami."
Vano mengangguk, lalu membuka pintu dan berjalan keluar. Setelah pintu tertutup rapat, Pria itu bernafas lega. Ia mengambil sesuatu dalam tasnya "Remote ini bisa mengendalikan cctv, agar posisinya tetap seperti semula."
Pria itu mencari cctv yang tersembunyi, ia menyeringai saat melihat kamera berada di pojok atas dekat ranjang. Melalui jarak jauh pria itu merubah kamera cctv melalui remote kontrol yang ia pegang, ia sudah merakit sedemikian rupa hingga keadaan cctv tidak berubah.
Pria itu menatap Vana yang berbaring lemah di atas ranjang. Ia membuka masker dan lensa coklat dimatanya. "Syukurlah, penyamaran ku berhasil. Semoga mereka tidak menyadari kedatangan ku yang menyamar. Jangan sampai Tuan Vano mencari identitas dokter Ilyas yang aku gunakan."
Pria itu berdiri didepan ranjang Vana dan mengusap lembut punggung tangannya. Di kecup nya kening wanita itu.
"Alea, aku sudah kembali." bisiknya lembut.
Flash back (POV Nathan)
Setelah pertengkaran ku dengan kakak sialan ku Matthew malam itu. Paman Samuel datang dan memisahkan kami. Ia terkesan membela ku di depan Matthew, terlihat raut wajah kesal dan benci Matthew padaku.
"Pulang lah ke Jerman dan bawa penawar racun ini untuk kedua orangtuamu." kata Paman Samuel kepadaku.
"Kenapa Paman berikan penawaran itu pada Nathan! bukan kah dia tidak becus bekerja. bahkan menyamar jadi Leon untuk menjerat anak Reno saja tidak mampu!" sindir Mathew, membuat ku geram dan ingin ku hajar sampai tidak bisa bangun lagi.
"Sudah! diam kalian berdua, aku tidak ingin kalian berdebat lagi, kalian adalah anak-anak Thomas, kakak ku. Seharusnya kalian bersatu untuk membalaskan dendam pada keluarga Reno." ucap paman begitu antusias. Aku yang sudah tidak peduli dengan dendam mereka pada keluarga Reno. Aku hanya diam saja tanpa mau ikut memberi masukan.
"Sekarang bersiap-siaplah, tepat tengah malam orang-orang ku akan mengantarmu sampai bandara."
Aku hanya mengangguk patuh, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Sebelum aku pergi, Aku menoleh kearah Matthew, ku lihat wajahnya penuh amarah dan benci. Saat aku sudah berada diluar dan berjalan kearah tangga. Aku mendengar suara pecahan gelas di dalam ruangan kerja. Aku tidak perduli lagi dengan mereka, sudah pasti Matthew marah pada paman Sam karena telah membela ku, dan memberikan penawar racun untuk kedua orangtuaku yang sudah di kirimkan makanan beracun oleh si bangs*t Matthew.
Awalnya aku bernapas lagi dan berterima kasih pada paman Sam, karena telah berada di pihak ku. Namun siapa sangka pria paruh baya yang masih terlihat bugar itu sama liciknya dengan Matthew. Untungnya aku sudah menaruh perekam suara di kamar dan ruangan kerja paman Sam, di tempat yang sangat tersembunyi. Alhasil aku bisa mendengar percakapan dua orang sialan itu melalui ponsel ku yang sudah terhubung.
Rupanya Paman Sam dan Matthew Ingin membunuh ku dengan cara licik, agar aku tidak sampai Jerman dan membawa pulang penawar racun itu. Sungguh sialan mereka berdua, mewarisi sifat jahat dari Ayahku. lantas akupun memiliki rencana lain jauh diluar dugaan mereka berdua. Mereka bermain licik, akupun bisa lakukan bahkan lebih dari yang mereka bayangkan.
Aku meninggalkan kediaman paman Sam pukul satu dini hari. Sebelum aku pergi, aku mengunjungi kamar Stefany adik tiri ku untuk melihatnya yang terakhir kali. Aku begitu menyayanginya walau kami baru bertemu. Stefany Gadis baik dan sangat berbeda perilaku dan sifat dengan Matthew yang notabene kakak kandungnya. walau sepintas aku sempat ragu kalau mereka bukanlah saudara kandung, sebab wajah Stefany dan Matthew tidak mirip, walau mata mereka sama birunya seperti mata aku.
Setelah mengetahui kelicikan Paman Sam, aku menghubungi David sahabatku yang aku utus untuk menjaga perusahaan ku di Jerman. Aku menceritakan kelicikan Paman Sam dan Matthew mengenai racun yang dikonsumsi kedua orang tuaku pada David. Dengan cepat David mencari penawar racun itu melalui tabib.
__ADS_1
Mobil yang membawaku berjalan dengan kecepatan rata-rata. Empat orang Bodyguard utusan Paman Sam berada satu mobil denganku. Aku sudah membuat cara untuk bisa lepas dari mereka. Posisi ku berada di bangku penumpang dengan diapit dua orang bodyguard.
"Bang berhenti sebentar."
"Mau apa? kita sudah tidak banyak waktu lagi harus sampai ke bandara agar penerbangan ke Jerman tidak terlambat."
"Aku mau pipis sudah kebelet!
"Nggak bisa! ucap mereka tegas.
"Aku sudah benar-benar kebelet. Apa kalian pikir aku harus pipis di dalam mobil, tepi kan dulu sebentar hanya 2 menit." pintaku memaksa
Pria di samping ku bertanya pada pria yang sedang mengendarai mobil.
"Baiklah hanya 2 menit tidak boleh lebih!" ucapnya seraya menepikan mobil di pinggir trotoar.
Aku hanya mengangguk, dengan cepat keluar dari mobil dan berdiri membelakangi mereka, padahal aku berpura-pura saja dan sudah siap memberikan pelajaran pada mereka dengan cara licik.
"Cepat jangan lama-lama! teriak seorang bodyguard.
Aku berbalik dan berjalan kearah mobil, saat sudah dekat mobil, ponsel sengaja aku jatuhkan dan aku pura-pura memungut ponsel, dengan cepat ku kempes kan ban mobil bagian depan.
"Hey sedang apa kau disitu! cepat masuk! pekik pria yang duduk di samping kemudi.
"Sorry ponsel ku terjatuh."
Setelah ku keluarkan angin dari ban mobil, aku masuk kembali kedalam mobil. Dalam waktu 15 menit, si kemudi sudah oleng dan tidak ada keseimbangan. Apalagi melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Sialan, ada apa dengan mobil ini! maki nya yang mulai terlihat panik.
Tiba-tiba dari arah berlawanan ada mobil truk melaju dengan cepat. Hingga badan mobil tersenggol truk dan laju mobil semakin tidak terkendali dan sudah mendekati pinggir jurang. Semua dalam keadaan panik dan ketakutan. Aku yang sudah mengetahui ini akan terjadi, gegas ku tendang pintu mobil sekuat mungkin. Pintu mobil terbuka lebar lalu aku melompat keluar. Beruntung aku terjatuh di rerumputan bukan di aspal. Ku lihat mobil menerobos palang pembatas dan terjun bebas kedalam jurang. Beberapa menit kemudian mobil meledak.
💜💜💜
@Bunda buat flashback Nathan, biar kalian tidak bingung dan bertanya-tanya. Kenapa Nathan bisa hidup kembali setelah di nyatakan mati oleh Matthew dan Samuel.
__ADS_1
@jangan lupa terus dukung Karya Bunda dan follow akun IG dan Tik-Tok Bunda 🥰
@ditunggu Vote, like' dan komentarnya 🥰