Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Ketegangan antar dua Pria


__ADS_3

Sore itu langit tampak mendung, Langit mulai tertutup awan gelap. Tanpa diminta turun rintik-rintik hujan dari atas langit.


Sementara di dalam sebuah ruangan private milik keluarga besar Reno, Telah terbaring lemah seorang gadis berparas cantik, pasca operasi ia belum sadarkan diri. Nathan terus menggenggam tangan Vana yang tidak di infus. Butiran kristal telah membasahi sudut matanya. Pria tampan bermata biru itu bukanlah lelaki cengeng dan mudah meneteskan airmata. Namun, saat melihat wanitanya terbaring tak berdaya dengan banyaknya luka di sekujur tubuhnya, membuat ia iba dan tak tega.


"Alea, ma'afkan aku yang tidak selalu bisa berada di samping mu."


Nathan mengusap airmatanya yang terlanjur berjatuhan. Nathan sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi sialnya airmata itu terus meleleh.


"Alea, bangunlah sayang... aku ada di dekat mu sekarang." Nathan membisikkan di telinga Vana dan mengusap lembut pipinya yang merona "Aku berjanji, akan selalu berada di dekatmu, tidak akan pernah menjauh lagi." Di pandangi nya wajah cantik wanita pujaannya yang tertidur lelap. Wajah putih bersih tanpa noda itu terlihat mempesona di mata Nathan.


"Aku begitu mengagumimu, mencintaimu, menyayangi mu, bahkan tubuh ku ini milikmu. Selama mencintaimu, tidak ada celah bagiku mencintai wanita lain. kau adalah hidupku, belahan jiwa ku." Nathan mulai tergugu, rasa bersalah akan kesalahan sang Ayah yang harus bermusuhan dengan kelurga Reno, hingga menanamkan dendam sampai keturunan nya, membuat ia muak dan ingin mengakhiri perselisihan ini.


"Aku tidak bisa hidup tanpa mu Alea." di genggaman nya erat tangan Vana "jangan pernah pergi dari hidupku. Kau tahu sayang.. darah kita telah bersatu, kau dulu telah memberikan aku darah untuk menolong ku, kini aku memberikan kembali darah mu yang berada di tubuh ku. kita akan selamanya hidup bersama."


Tak terasa airmata itu berjatuhan di pipi mulus Vana "Bila kau pergi dari dunia ini, aku akan pergi juga dengan mengakhiri hidup ku."


Nathan membenamkan wajahnya ke atas kasur. Tiba-tiba tangan Vana yang di genggamannya bergerak. Nathan terkejut, di tangannya ada sedikit pergerakan. Nathan mengangkat kepalanya dan menatap tangan Vana yang ia genggam.


CEKLEK!


"Tiba-tiba ada suara pintu terbuka, Nathan terhenyak dan melepas genggaman tangan Vana. Ia buru-buru menutup wajahnya dengan masker.


***


Vano melangkahkan kakinya dengan tergesa, ada perasaan tak nyaman saat mendengar Kelvin berada di ruangan Savira.


"Van!


Vano menoleh kearah Dev sekilas yang berjalan di belakang nya.


"Kau ingin ceramah apa lagi? aku sudah cukup mendengarkan coloteh mu." sungut Vano gelengkan kepala


"Aku hanya ingin kau menahan emosimu bila bertemu dengan Kelvin!"


"CK! Vano berdecak "Aku seperti orang bodoh yang kau ceramahin kaya anak kecil."


"Iya aku paham. aku hanya ingin kau menjaga sikap saja di depan Kelvin, jangan terlihat cemburu."


Seketika Vano menghentikan langkahnya, tanpa sadar Dave menubruk punggung lebar Vano yang berhenti tanpa diberi aba-aba.


"DUK!

__ADS_1


"Fokuslah berjalan! cetus Vano, ia kembali melangkah, hingga sepatu kulitnya berhenti di depan pintu kamar inap Savira.


Jantung Vano berdebar cepat, ia berusaha menetralkan hatinya dengan menarik nafas dalam-dalam. Hirupan udara sore hari masuk kedalam hidung mancungnya.


"Cepatlah masuk Vano! kamu tunggu apalagi? berdoa kah? pekik Dave dalam hati. atau...


Ceklek!


Vano membuka pintu perlahan dan mengedarkan pandangannya kedalam ruangan. Wajahnya terlihat memerah saat melihat seorang pria sedang menyuapin Savira.


"Savira..."


Savira yang sedang menerima suapan dari Kelvin, tiba-tiba berhenti dan mengalihkan pandangan nya kearah pintu. Dilihatnya Vano yang berjalan kearahnya di ikuti Dave.


"Apa kabar Dek?!


"Bagaimana keadaan mu?!


Senyuman manis tersungging di bibir Vano yang bervolume. Lalu ia mengalihkan tatapan tidak suka kearah Kelvin yang masih memegang piring berisi nasi, sayuran dan lauk.


"Selamat datang Tuan Vano." ucap Kelvin basa-basi seraya menaruh piring diatas nakas, lalu beranjak dari duduknya mengulurkan tangan.


"Tentu saja sangat baik tuan Kelvin!" tukasnya seraya menerima uluran tangan Kelvin, dan mereka berdua berjabat tangan.


"Savira..."


Vano terduduk di tepi ranjang, saat tangannya ingin mengusap kepalanya, dengan cepat Savira menepis nya. Vano terkejut dengan kening mengeryit. "Dek, kenapa kau jadi berubah kasar?!


"PERGI!!! pekik Savira, ia memundurkan tubuhnya ke belakang ranjang hingga mentok ke dinding.


"Savira... ini kak Vano."


"Bukan! kau penjahat yang ingin perkosa aku! bentak Savira dengan nafas tersengal, tiba-tiba wajahnya memerah menahan amarah.


"Dek! kak Vano menyayangimu sebagai seorang kakak. kau jangan berpikir kalau kakak ingin menjahati mu." Vano berusaha meraih tangan Savira, namun ia seperti orang ketakutan dan terus menghindar.


"Sudahlah tuan Vano, tidak perlu membujuk Savira lagi, jiwanya sedang terguncang."


Vano beranjak dari duduknya dan menarik jas Kelvin kuat "Apa hak mu melarang aku untuk membujuk Savira. Dia adikku! teriak Vano didepan wajah Kelvin dengan tatapan menghunus.


"Hey! kenapa kau jadi pemarah seperti ini? Sabar bro!" Kelvin menarik kedua tangan kekar Vano dari jas nya.

__ADS_1


"Van! tolong jangan seperti ini. Lihatlah, kasihan Savira. Ia seperti orang ketakutan." Dev memperingati Vano yang akhir-akhir ini mudah emosional.


"Sejak kapan kau mulai dekat dengan Savira! bisiknya dengan menekan intonasinya.


Kelvin tersenyum sumringah, ia seperti sedang mengejek Vano yang tidak di anggap oleh Savira. "Apakah Anda senang bergosip? saya rasa tidak! tuan Vano Pria tampan, pembisnis hebat dan memiliki wawasan luas, saya rasa anda tidak suka dengan perjalanan hidup ku dan Savira bukan?!


"Apa maksud ucapan mu, BRENGSEK!"


Vano yang ingin memukul Kelvin di halangi oleh Dave. "Sudah, jangan berdebat disini! Dave menarik tangan Vano agar menjauh.


"HIKS! HIKS! HIKS...


"PERGI KALIAN!


"PERGI SEMUA!!


Teriak Savira histeris, seraya menjambak rambutnya kuat.


"Savira, apa yang sudah kau lakukan? jangan lakukan ini!" Kelvin menarik tangan Savira dari rambutnya.


Saat Vano ingin mendekat kearah Savira. Dave menghalangi nya dengan gelengan kepala "Hanya Kelvin yang bisa menenangkan Savira." gumamnya pelan.


Setelah Kelvin berhasil melunakkan hati Savira, ia memeluk tubuh ringkih gadis yang sedang trauma itu. Savira menangis di dada bidang Kelvin dengan tubuh gemetar. Vano yang melihat pelukan mereka berdua, hanya terdiam dengan kedua tangan mengepal kuat.


Dave melihat raut wajah sahabatnya yang menegang dan menahan amarah. "Ada apa dengan Vano? kenapa ia terlihat cemburu dan kesal pada Kelvin. Bukankah ia sudah ada Bella, wanita yang sanggup meluluhkan hati dinginnya." batinnya berkata lirih.


"Van! lebih baik kita keluar dan kembali kerungan Vana. Disini sudah ada Kelvin yang menjaga Savira."


Ditatap nya wajah Dave penuh kekesalan. Di hembuskan nya nafas kasar. Tanpa banyak bicara lagi, Vano melangkah pergi begitu saja tanpa pamit.


"Tuan Kelvin. Maaf atas kejadian tadi." ucap Dave merasa bersalah.


Kelvin mengurai pelukannya, dan merapikan anak rambut Savira yang berantakan "Tidak apa-apa, aku sudah memaklumi sikap tuan Vano yang sedang banyak masalah."


"Terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi dulu. Tolong jaga Savira, ia hanya percaya dan menurut pada anda saja."


"Tentu saja, aku akan menjaganya."


Dave mengangguk dan melangkah pergi keluar dari ruangan rawat inap Savira dengan langkah panjang.


💜💜💜

__ADS_1


@Terus dukung karya Bunda dengan cara LIKE, VOTE/GIFT, RATE BINTANG 5 DAN KOMENTAR KALIAN.


@bersambung


__ADS_2