
Kelvin mengurai pelukannya, dan merapikan anak rambut Savira yang berantakan "Tidak apa-apa, aku sudah memaklumi sikap tuan Vano yang sedang banyak masalah."
"Terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi dulu. Tolong jaga Savira, ia hanya percaya dan menurut pada anda saja."
"Tentu saja, aku akan menjaganya."
Dave mengangguk dan melangkah pergi keluar dari ruangan rawat inap Savira dengan langkah panjang.
"Savira? apa kau sudah lebih tenang?!" tanya Kelvin menatap lekat wajah gadis cantik bersurai panjang itu. Savira mengangguk dengan tatapan kosong.
"Tadi itu kak Vano?! tanya Savira tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya! ucap Kelvin seraya merapikan rambut panjang Savira yang berantakan.
"Apa yang sudah aku lakukan pada kak Vano, tadi? aku telah mengusirnya. Bayangan kebencian setelah ia tahu aku sudah ternoda." hiks... "Kak Vano pasti akan semakin membenci ku."
Kelvin menarik nafas dalam seraya gelengkan kepala "Apa yang sudah kau pikirkan Safira? jangan terus-terusan menghakimi dirimu sendiri. Buanglah pola pikir yang akan membuat hatimu terluka. Padahal aku sudah bilang berkali-kali, kalau kau belum ternoda, kok masih suci." tukas Kelvin penuh penekanan, ia terus meyakinkan Savira agar tidak menyalahkan dirinya sendiri, karena takdir sudah di tetapkan sang Khaliq.
Cairan bening terus menetes membasahi pipi chubbynya. Kelvin yang mengetahui wanita di depannya mengalami trauma, dimana mentalnya sedang rapuh saat ini. Pria bertubuh atletis itu menarik Savira kedalam pelukannya, rasa iba dan prihatin telah membuatnya ingin terus melindunginya gadis yatim-piatu itu. Savira terus sesenggukan di dalam pelukan Kelvin.
"Jangan menangis, ada aku disini." kecupan hangat ia daratkan dipucuk kepala Savira.
***
Nathan hampir saja ketahuan kalau tidak buru-buru memakai maskernya. untungnya hanya dua orang suster yang masuk kedalam ruangan.
"Ma'af Dok, apa sudah ada pemeriksaan untuk Dokter Vana?" tanya salah seorang perawat
"Hmm... iya sudah! ucapnya gugup.
"Mana laporannya Dok, biar nanti saya berikan pada dokter Irwan, yang melakukan tindakan operasi pada Dr Vana."
Nathan tercekat, sebab sejak tadi ia tidak melakukan pemeriksan terhadap Vana yang di lakukan tim Dokter setiap dua jam sekali.
"Hmm.. Tadi itu__
CEKLEG!
Dari pintu yang terbuka masuk Vano dan Devan.
"Gawat, aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaan ku." gumam nya dalam hati
"Sus, nanti temui saya di ruangan kerja, akan saya berikan laporannya. Saya harus temui pasien lain." ucap Nathan dengan tergesa.
"Tapi Dok__
Tanpa banyak bicara lagi, gegas Nathan melangkah pergi melewati Vano dan Dev.
"Tunggu Dok!"
"Deg! jantung Nathan berdesir hebat.
Saat ingin membuka handle pintu, Vano perintahkan Natha yang menyamar sebagai Dokter untuk berhenti.
"Iya Tuan? tanyanya seraya membalikkan tubuhnya.
Vano berjalan mendekati Nathan, ada sorot kecurigaan di mata pria tampan yang berpenampilan Perfect itu. tiba-tiba keringat dingin mengucur dari pori-pori kulit Nathan.
"Jangan sekarang! belum saatnya kau mengetahui identitas ku." batin Nathan berkata lirih.
"Tring! Tring! Tring!
Seketika Nathan di kejutkan dengan suara ponsel di saku celananya. ia merogoh ponsel tersebut lalu menatap kearah Vano.
__ADS_1
"Maaf, saya terima telpon dulu, ini sangat urgen." ucapnya seraya menggeser tombol warna hijau.
"Hallo iya!
"Oke, saya segera keruangan anda."
Gegas Nathan membuka handle pintu dan berjalan keluar dengan langkah panjang.
"Hey Nad! kau ini sedang bicara apa sih! tanya suara di ujung telpon.
Nathan bernafas lega seraya menghirup udara dalam-dalam "Syukurlah, kau menyelamatkan aku Vid!"
"Memang nya ada apa? kenapa suaramu tegang sekali dan suara nafas yang terdengar lelah."
"Aku sedang berada di rumah sakit, memantau perkembangan Alea. Nanti aku ceritakan semuanya di apartemen."
"Pantas saja suara mu terdengar lelah, seperti di kejar hantu."
"Aku keluar dari rumah sakit dengan terburu-buru, takut penyamaran ku di ketahui. sudahlah, aku sedang berada di perkirakan."
"Apa kau yakin ingin pulang ke apartemen?
"Lalu...? memang nya aku harus pulang kemana?!"
"Carilah tempat yang aman. Ada Bianca di apartemen." kekeh David.
"What! untuk apa wanita itu mencari ku?
"Tentu saja menginginkan dirimu!
"Sejak kapan ia berada di apartemen. Suruh dia pulang."
"Sejak tadi dan ingin menunggu mu pulang. Bahkan ia memakai dapur untuk memasak makanan kesukaan mu."
Terdengar helaan nafas kasar Nathan "Baiklah, aku akan menginap di hotel." tanpa menunggu jawaban dari David, Nathan langsung memutuskan teleponnya.
"Alea... Ahh! Nathan mendesah panjang "Andaikan saja waktu bisa di ulang kembali, aku tidak ingin menjauh darimu. Rasanya ingin membawa mu pergi dari negara ini dan hidup damai bersama ku, membesarkan anak-anak kita. Namun..." Nathan berhenti bergumam, ada ingatan yang seharusnya tidak perlu ia ingat.
"Andaikan saja kedua orang tua ku tidak di selamatkan oleh tuan Armando, tidak mungkin kelurga ku berhutang budi padanya. Bianca yang berparas cantik, centil dan manja, selalu mencari perhatian pada semua orang. Gadis itu sangat mencintai ku, di awal pertemuan sikapnya sudah berani. penampilan nya yang begitu seksi, tidak membuatku tergoda. Mungkin saja banyak pria yang akan tertarik dengan kemolekan tubuh dan kecantikan wajahnya. Namun, Alea ku lebih dari segalanya.
"Andaikan saja mama tidak membuka hati untuk kelurga Armando, tidak mungkin gadis itu nekad datang ke Jakarta."
Tring!
Tring!
Tring!
Nathan menarik lamunannya, mengalihkan antensi nya pada layar ponsel diatas dashboard. Tertera nama Bianca di layar ponsel yang terus berkedip-kedip.
"Ck! ngapain juga terus menelpon! tukasnya kesal. Beberapa panggilan tidak Nathan angkat, tak lama masuk notifikasi pesan yang sudah pasti dan Bianca. Nathan tidak menghiraukan nya, lalu menon aktifkan ponsel miliknya yang ia lempar ke atas jok di sampingnya.
~Hospital~
Delena terduduk lemas di ruangan tunggu ruangan operasi dengan wajah memerah, bekas jejak airmatanya terlihat jelas. Andini merasa iba melihat mantunya yang sejak tadi mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya.
"Ma'afkan Mama Nak, andai kau tadi tidak mengizinkan Reno memberikan ginjalnya untuk papa, Mama tidak akan memaksa." ucap Andini merasa bersalah, sudut matanya meneteskan kristal bening.
Mendengar penuturan sang mertua, Delena merasa bersalah dan menyesal dengan sikapnya yang terlihat tidak ikhlas menerima keputusan Reno untuk memberikan ginjal pada ayahnya.
"Mama..." diraihnya tangan yang mulai keriput itu "Ma'afkan Dena sudah membuat Mama terluka. Aku tidak akan menolak keputusan Mas Reno, tapi..." Delena tergugu, lalu menatap wajah paruh baya yang terduduk di sampingnya "Aku hanya seorang istri dan manusia biasa, siapa yang tidak bersedih saat melihat kondisi Mas Reno nanti. Sudah pasti ia akan lemah dan tidak sekuat dulu lagi. Tapi akupun tersadar, Mas Reno bukan milik ku seutuhnya, ia juga memiliki orang tua yang membutuhkan nya. Sudah seharusnya seorang anak patuh pada kedua orang tuanya.
Suara pintu ruangan operasi terbuka, keluar beberapa orang perawat laki-laki memakai pakaian hijau dengan mendorong tubuh lemah diatas brankar. Delena dan Andini beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat.
__ADS_1
"Reno..." seru Andini yang melihat tubuh berbalut selimut itu dengan selang oksigen di hidungnya dan selang infus di lengannya.
"Biar Mas Reno Dena yang menemani. Mama tunggu papa saja sampai keluar dari ruangan operasi."
Andini mengangguk setuju dengan raut wajah sedih. Sebenarnya ia juga tak tega melihat pengorbanan sang anak untuk suaminya.
"Ma'af mama Reno.. ma'afkan.." jeritnya dalam hati.
Delena mengikuti langkah perawat itu yang membawa tubuh Reno kerungan rawat inap.
"Tunggu!! Andini berkata pada dirinya sendiri "Apakah tadi yang ku lihat tubuh Reno? tetapi kenapa wajahnya berbeda? apa aku tidak salah lihat?! ucapnya terus meyakinkan.
"Tidak ada salahnya aku melihat kembali." Saat Andini ingin melangkah, kakinya terhenti saat dari ruangan operasi, keluar empat orang perawat membawa brankar yang berada tubuh Ramon diatasnya. Andini mendekat dan menatap lekat wajah sang suami.
"Papa...! panggil Andini, kakinya mengikuti para perawat yang berjalan kearah ruangan rawat inap milik Ramon. Setelah berada di dalam ruangan, dokter Jhon datang mengecek kondisi Ramon pasca operasi.
"Dok, gimana kondisi suami ku? tanya Andini hati-hati. Sebenarnya ia belum siap mendengar penuturan dokter Jhon tentang kondisi Ramon, yang nantinya akan semakin stres bila tahu kondisi suaminya yang tidak baik-baik saja.
Dokter dingin tanpa ekspresi itu menoleh dan tersenyum samar pada Andini.
"Kondisinya sudah membaik, dan operasinya berjalan lancar."
"Ahh... syukurlah! Andini bernafas lega.
"Tidak! dia bukan suamiku!
"Dimana mas Reno....!!"
Pekik Delena dari kamar sebelah yang berdampingan dengan ruangan rawat inap Ramon. Andini yang mendengar suara Delena terkejut, gegas ia meninggal ruangan suaminya.
"Delena, ada apa?!" Andini merangkul tubuh Delena yang bergetar
"Pria diatas ranjang itu bukan Mas Reno, mah!"
"Berarti benar dugaan ku, yang tadi kulihat bukan anakku Reno." gumamnya pelan.
"kamu sabar dulu Dena, nanti kita tanyakan pada dokter John."
"Aku masih tidak mengerti mah! bukan kah yang masuk ke dalam ruangan operasi Mas Reno dan Papa? tapi kenapa tiba-tiba yang keluar bukan tubuh dan wajah Mas Reno, melainkan orang asing! tanya Delena frustasi.
"Permainan apa ini Mah! Delena terlihat syok dan seakan tidak terima dengan apa yang sudah ia lihat "Bila Mas Reno tidak berada di ruangan operasi, lalu dimana dia? ucapnya dengan perasaan kalut.
"Kita selidiki sekarang. Ayo kita temui Dokter Jhon, tadi masih berada di ruangan Papa."
Gegas Delena dan Andini mendatangi dokter Jhon, yang mengetahui kejadian semuanya. kenapa tiba-tiba bukan Reno yang berada di ruangan operasi, seperti itulah pertanyaan dalam benaknya. Sebenarnya Delena merasa lega dan berucap syukur, namun tetap saja ia was-was dan ketakutan bila Reno tiba-tiba di panggil sang pemilik kehidupan tanpa sepengetahuan keluarga nya.
"Lalu dimana kah Reno berada?!
πππ
@Bunda sportif kan. update setiap hari. Ayo sekarang mana dukungan kalian? jangan lupa dukung karya Bunda dengan cara
@LIKE
@VOTE/GIFH
@LIKE BINTANG 5
@KOMENNYAπ₯°
@Jangan lupa follow IG Bunda π ( @bunda. eny_76)
@Follow juga tiktok bunda ( Eny. 76 shop)
__ADS_1
~Pengumuman~
Dari pihak Noveltoon sudah di berlakukannya kunci bab dan membayar mengunakan poin. guna untuk menunjang pendapatan Author. Tetapi bunda tidak akan lakukan, selama kalian bantu follow IG dan tiktok bunda π₯°