Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Selalu Berada Dekat mu.


__ADS_3

Pantai Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di kecamatan Kuta, sebelah selatan Kota Denpasar, Bali, Indonesia. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal tahun 1970-an.


Seorang gadis cantik sedang duduk di sebuah kursi kayu dekat tepi pantai, matanya menatap liar lautan dan ombak berkejar-kejaran didepannya. Senyuman manis terukir di bibirnya saat melihat Chika berlari kesana-kemari menendang bola pantai bersama anak-anak kecil yang sedang berebut.


"Gool.. Yeeee..." teriak Chika begitu senang seperti anak bocah berusia tujuh tahun. Setelah itu Chika membagikan kelapa muda pada anak-anak yang bermain di pantai.


"Oke, terimakasih ya adik-adik, udah bolehin kakak main bola. Kakak kesana dulu ya."


"Iya Kak! ucapnya serentak.


Chika yang ceria berlari kearah Zevana yang sedang duduk manis, topi bulat besar sebagai penutup kepala Vana.


"Kak! ini kelapa muda untuk kakak satu. Air kelapanya sangat manis." Chika menyedot air kelapa asli yang langsung dari batok nya.


"Gimana enak kan?"


Vana melepas sedotannya "Banget... air kelapa ijo bagus loh buat kulit dan kebugaran tubuh, bagus juga buat toksin dalam tubuh dan membuang racun yang terserap didalam darah, Karena air kelapa ijo sangat banyak manfaatnya.


"Kak Vana selalu menerapkan cara hidup sehat sebagai seorang Dokter, terbukti wajah cantik glowing, kulit putih bersih dan halus, sangat menjaga penampilan banget."


Vana tersenyum mendapatkan pujian dari sepupunya "Chika juga cantik!" seru Vana sambil berlari kearah pantai.


"Kakak tunggu! setelah menghabiskan kelapa muda Chika menyusul Vana yang sudah menyelam di tepi laut. Berbalut celana hotpants dan you-canse, tubuh Vana terlihat seksi bak gitar spanyol. Vana yang sejak kecil jago berenang tidak menghentikan aktivitasnya walau ombak mulai tinggi dan menerjang kan apa saja ditepi lautan.


"Kak awas ombaknya sangat besar! teriak Chika yang mulai mundur kebelakang.


kepala Vana menyembul keatas permukaan, dan berenang ke tepian, ia berjalan dan terduduk di pasir berwarna putih itu.


"Ombaknya mulai surut! Chika mendekati Vana dan ikut rebahan di atas pasir putih itu.


"Wah kakak Nggak ada takutnya.'


"Buat apa takut, justru adrenalin kakak tertantang untuk terus mencoba berenang lebih dalam lagi. Lihat mereka senang berselancar, apalagi kalau ombaknya besar sangat seru..!"


"Iya kak keren banget ya. Tapi ngeri juga kalau sampai terlempar ombak kedalam lautan, bisa-bisa nggak timbul lagi."


"Mereka yang berselancar itu rata-rata sudah terlatih dan profesional, makanya tidak takut sama ombak besar."


Chika dan Vana terus bertukar cerita, masih dalam posisi mode celentang diatas pasir, tertawa dan bersendau-gurai.


"Kak! sudah sore pulang yuk!


"Oke.. kita mandi terus ganti baju."


Vana dan Chika berjalan kearah toilet untuk mandi dan berganti pakaian.


"Tolooooonng.....!!!


Terdengar suara teriak seorang wanita di tepi pantai sambil berlari kesana-kemari meminta bantuan.


"Anakku keseret ombak!!


"Kak ada anak kecil terseret ombak! seru Chika, mereka berdua melihat seorang balita menjerit saat tergulung ombak, Vana yang melihat kejadian itu berlari ke pantai kembali dan loncat ke dasar lautan mengikuti arah ombak yang membawa anak kecil itu, untungnya pelampung ditubuh balita itu tidak terlepas memudahkan Vana untuk menarik balita itu.


"Mama.... huhuhuhu...."


"Jangan menangis sayang, kakak akan membantumu ke-tepian." Vana menarik pelampung gadis balita berusia lima tahun itu dan membawanya ke tepian.


"Anakku.....!! seru wanita itu bersama suaminya berlari kearah Vana dan anaknya. Ayah anak itu mengangkat tubuh gadis berusia lima tahun dari pelampung dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Terima kasih banyak mbak." Suami-istri itu berucap, lalu pergi meninggalkan tepian bersama orang-orang yang sejak tadi melihat kehebohan ibu itu, karena anaknya terseret ombak.


"Awas ada ombak lagi....!" seru seseorang.


"Kak cepat menepi ada ombak lagi! seru Chika, semua orang berlarian menjauh dari tepian laut itu yang mulai mengganas.


Saat Vana sudah ditepian tiba-tiba... BYUURRR...!!!! ombak menerjang tubuh Vana dan bergulung-gulung. Vana terhempas ombak kedalam laut.


"Kak Vana...!!!! teriak Chika, melihat sepupunya terhempas kedalam lautan. Orang-orang masih berlarian, seseorang menarik tubuh Chika.


"Jangan mendekat, cepat lari lah ini sangat berbahaya! nanti kau terseret ombak...!!


"Tidak! tolong saudara ku terseret ombak didalam lautan. Mas bantu kakak ku di dalam laut itu! hiks...


"Ma'af Mbak! saya nggak bisa bantu, minta tolong saja pada petugas keamanan pantai." Pria itu berlari menjauh.


"Kak Vana...!! Chika masih berteriak di sela isak tangisannya.


"kakak dimana...! hiks...


Terdengar suara penjaga pantai memberikan peringatan untuk menjauh melalui speaker yang terdengar di seluruh area pantai.


Chika berlari menuju posko penjagaan pantai.


"Pak tolong...! Kakak saya terhempas oleh gulungan ombak, saat menolong seorang anak balita."


"Sabar Mbak, keadaan pantai masih tidak memungkinkan kami untuk menyelam ke dasar laut, karena ombaknya sangat besar dan itu sangat berbahaya."


"Lalu bagaimana dengan nasib kakak ku! pekik Chika emosi.


"Tunggu sampai ombaknya reda dan mengecil, kami pasti akan mencarinya."


Vana tidak bisa melawan ombak yang terus menerjangnya. Tubuhnya tengelam kedalam lautan, bertulang kali ia menahan nafas, Namun ia tak sanggup bertahan dan pasrah melewati detik-detik tubuhnya semakin turun kebawah. Dalam alam sadarnya Vana melihat sosok Mommy, Daddy nya, Vano kembarannya, Zidane adiknya yang jail, Savira adik angkatnya, Chika sepupunya, Davina, Robert dan semuanya. Wajah mereka terlihat satu-persatu dengan ekspresi sedih, Vana mendengar dari kejauhan suara-suara memanggil namanya


"Zevana jangan pergi....!


"Zevana bertahan lah..!!


"Zevana saudara ku, kau belum waktunya meninggalkan kami.."


"Mommy dan Daddy sayang kamu Vana..!'


"Zee kembalilah.. kami menunggu mu pulang!"


Tubuh Vana melesat semakin turun kebawah. Matanya tertutup sempurna, tubuhnya sangat dingin, gelembung air keluar dari mulutnya.


"Dimanakah aku sekarang? kenapa mereka hanya memanggil dan menatapku dari kejauhan.


"Mommy....!!


"Daddy...!!


"Kak Vano..!


"Zidane...!


"TOLONG VANA....!! AKU TIDAK BISA BERGERAK, TUBUHKU TERASA DINGIN DAN KAKU, LIDAHKU TERASA KELU! APAKAH HIDUP KU AKAN BERAKHIR DI SINI?"


"Ma'afkan aku Mom, Daddy, kak Vano, Zidan. Vana sudah tak sanggup lagi bertahan, air ini terus membelit tubuh Vana agar terus tenggelam. Tuhan... jika ini akhir dari hidupku, tolong jaga mereka, orang-orang yang aku sayangi.

__ADS_1


"Selamat tinggal...."


Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik tangan Vana dan menariknya kedalam dekapannya. Pria memakai pakaian selam itu naik keatas lautan sambil memeluk erat tubuh Vana yang sudah tak bergerak. kepala pria itu menyembul kepermukaan seraya memeluk tubuh Vana yang sudah kaku. Mereka sampai ditepian dan mengangkat tubuh Vana ala bridal style.


"Kak Vana!!


Chika berlari kearah Pria itu, dia meletakkan tubuh Vana keatas pasir.


"Kakak! Chika terus menangis tersedu-sedu melihat kakak sepupunya tidak bergerak sama sekali dan terbujur kaku "Kak jangan pergi! hiks...


Pria itu membuka kacamata selamnya dan mendengarkan detak jantung Vana melalui telinganya yang ia benamkan di-dada Vana.


"Apa denyut nadinya masih ada? tanya petugas penjaga pantai ikut bergabung.


"Sangat lemah! serunya, pria itu menekan dada Vana agar air yang tertelan segera keluar. Namun tubuh Vana tidak bereaksi.


"Bangunlah Lea, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak akan sanggup kehilanganmu, ragamu adalah separuh hidupku. Ma'afkan aku terlambat datang..." jeritnya dalam hati.


"Kak Vana... jangan pergi! bisik Chika di telinganya "Ingat Tante Delena, Om Reno, Kak Vano dan Zidan, semua sayang kakak! ucap Chika di sela isakan tangisannya.


"Sepertinya sudah lepas nyawanya, percuma tidak akan bisa walau diberi nafas buatan." seorang petugas pantai memberikan alibinya.


"Tutup mulutmu, kau bukan Tuhan yang memvonis nyawa seseorang! bentak pria itu dengan tatapan bengis "Diam saja kau bila tidak bisa membantu!!"


"Lea bangunlah..." Pria itu terpaksa membuka mulut Vana dan menyedot air dalam tenggorokannya. Berkali-kali pria tampan itu membuat nafas buatan di saksikan orang-orang yang berada di pantai.


"Sayang.. please sadarlan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, walaupun kau membenciku seumur hidupmu." ucapnya dalam hati.


Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan diberikan pada Vana melalui rongga mulutnya. Cairan hangat sudah berjatuhan dari sudut mata Pria itu.


Hingga Pria itu terhanyut dalam ciuman dalam, mentransfer energi dalam jiwa Vana, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya peduli dan selalu ada didekatnya. Ia sudah tak peduli tatapan orang-orang disekitarnya.


"Alea sayang.... bangun lah..." batinnya berkata lirih.


"Huek...." suara tertahan dari bibir Vana


Pria itu melepas ciumannya dan terdengar suara batukan Vana bersamaan keluar air dari mulutnya.


"Uhuk.. uhuk.. uhuk...


"Kak Vana..." seru Chika, ia sangat lega melihat kakaknya mulai tersadar.


Pria bermata biru itu menutup kembali kacamata selamnya, Sepertinya ia tidak ingin kehadirannya di ketahui Vana.


"Saya pergi dulu. Tolong jaga baik-baik saudaramu" ucapnya pada Chika.


"Iya kak! terimakasih banyak udah menolong kakakku!


Pria itu mengangguk sebagai respon dan melangkah pergi bersamaan Vana membuka kelopak matanya. Vana mengerjab-ngerjabkan matanya, sinar sore dilangit berwana jingga ke-emasan masuk kedalam bola mata bening Vana.


"Lebih baik Mbak nya kita bawa ke Puskesmas terdekat, sepertinya ia masih lemah." tukas penjaga pantai. Yang di anggukan oleh Chika.


💜💜💜


@Maaf udah telat beberapa hari ini, karena kesibukan di real, insyaallah seterusnya akan lancar Up...


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76

__ADS_1


@Bersmbung....


__ADS_2