Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Pertengkaran


__ADS_3

"Ma'af Tuan, saya cari informasi dulu."


"Kalau kau bertindak tidak menggunakan akal, musuh akan lebih dulu menyerang mu! kau camkan kata-kata ku! ucap Reno tegas, namun penuh wibawa. Aura penguasanya masih terasa.


"Siap Tuan! akan saya ingat semua petuah tuan Reno!" Dev melajukan mobilnya kembali untuk masuk kedalam kompleks yang sudah di buka palang perlintasan nya.


Mobil terus melaju dengan pelan. Mata Dev terus mencari keberadaan mobil yang membawa Tiffany kedalam kompleks. Hingga mobil berhenti tak jauh dari rumah itu, tepat di alamat yang baru saja Dev minta dari sekurity. "Itu dia mobilnya Tuan? terparkir di depan halaman."


Reno terus mengamati rumah megah berlantai tiga yang bergaya interior Eropa, tiang-tiang penyangga menjulang tinggi diantara perumahan elite lainnya.


"Kenapa tampak sepi? Apa lebih baik aku turun saja!"


"Tunggu! jangan bertindak sembrono. Baru saja aku peringatkan kau tadi, tapi kau malah melanggarnya, Dev! Lihatlah di beberapa titik rumah ini, ada cctv-nya. Mereka sengaja menaruh cctv di beberapa sudut untuk melihat keberadaan di luar rumah."


"Ma'afkan saya Tuan, karena saya begitu khawatir pada Tiffany." Lantas Devan terdiam, iya hanya bisa pasrah dan terus mengikuti arahan Reno.


Tiba-tiba Reno menepuk pundak Devan yang sedang memikirkan keadaan Tiffany.


"Jalan!" perintah Reno singkat


"Apa...?


"Saya bilang jalan ya jalan! jangan buang waktu, tinggalkan tempat ini segera!" seru Reno, membuat Dev terkejut dan bingung. Takut kena semprot lagi, Dev melajukan mobilnya kembali dengan banyak pertanyaan di benaknya. Dari kaca spion Dev melihat aura wajah Reno yang dingin tamun sangat berwibawa. Entah apa yang membuat Reno tiba-tiba menyuruhnya pergi tanpa ingin tahu keadaan Tiffany.


Sedan hitam Reno sudah menempuh setengah jam perjalanan, Namun mereka berdua masih diam membisu dengan pikiran masing-masing.


"Tuan, boleh saya bertanya..?! akhirnya Dev beranikan diri untuk membuka suara.


"Hmmm..." hanya itu yang keluar dari bibir Reno, tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel miliknya. Jemari Reno sedang mengetik sesuatu pada seseorang.


"Kalian ke lokasi ini!" Reno mengirimkan alamat dan gambar rumah tersebut. "Cari tahu siapa pemilik rumah ini sesungguhnya! lakukan sekarang juga!" perintah Reno tegas.


"Siap Tuan laksanakan! kami akan segera bergerak!"


"Good! berkerja lah yang baik, aku akan berikan imbalan yang fantastis!


"Terimakasih Tuan, kami tidak akan mengecewakan anda."


Selesai memberikan perintah, Reno mematikan ponselnya.


"Kau ingin tanya apa..? tanya Reno kembali setelah selesai memberikan perintah pada anak buahnya.


"Kenapa secepat ini kita meninggalkan rumah itu, sedangkan kita belum menemukan Tiffany!"


"Kau menyukai gadis itu bukan..?!


"Mak-su-d Tuan...?!


"Tidak usah berkelit, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan!"

__ADS_1


"Bagaimana bila Tiffany dalam bahaya?!


"Dia tidak dalam bahaya, justru gadis itu sangat terlindungi di rumahnya!


"Rumah nya...?! tanya Dev bingung.


"Iya! rumah itu milik keluarga nya. Seharusnya kau paham! Kenapa aku menyuruh mu cepat pergi! keadaan kita sudah mereka pantau dari dalam rumahnya. Setelah pulang ganti mobil ini dan kau amankan ditempat lain, mereka akan mencari plat nomor mobil kita."


"Hah...?! sekali lagi Dev dibuat bingung oleh ucapan Reno. "Apa saya tidak salah dengar? kalau rumah itu milik Tiffany, lalu kenapa dua pria tadi menodongkan pisau kearahnya."


"Itu taktik mereka agar bisa menjerat gadis itu untuk ikut bersamanya!"


"Ja-di dua pria tadi orang-orang Tiffany? sulit untuk di percaya." gumam Dev tak percaya.


"Dev!


"Iya tuan!


"Setelah ini kau harus banyak belajar ilmu bela diri dan belajar memiliki wawasan yang luas, agar kau cerdas dan bisa selangkah lebih maju dari musuh!"


"Maaf tuan, selama saya bersama dengan Vano, ia selalu mengajari ilmu beladiri disetiap kesempatan. walau belum semuanya saya paham. Paling tidak saya sudah bisa menguasai beberapa gerakan."


"Good!"


"Tuan! apa tidak sebaiknya di selidiki dulu keadaan Tiffany?!"


"Kau tidak usah khawatir, aku sudah menyuruh anak buahku menyelidiki kompleks itu."


***


"Lepaskan aku Kak!!!


"Beraninya kau kabur dari rumah, Hah!" bentak Matthew saat sang adik sudah berada di depannya.


Matthew menarik tangan Tiffany saat gadis itu ingin berlari ke lantai dua.


"Mau kemana kau?! apa saja yang sudah kau dengar dari pembicaraan aku dan Paman!"


"Lepaskan! aku mau pulang saja bila kakak bersikap semena-mena padaku!" ancam Tiffany seraya menarik paksa tangannya dari jeratan Matthew "Akan aku laporkan semuanya pada Mommy!


"Kau tidak akan kakak izinkan pergi kemanapun! pasti kau sudah mendengar percakapan kami kan! makanya kau pergi ke Bandara untuk memberitahu Nathan!"


"Aku cape harus terus ikuti perintah kakak! aku ingin pulang!" teriak Tiffany terus berontak.


"Kenapa kau sangat keras kepala! ini salah mommy juga yang sangat memanjakan mu!"


"Mommy menyayangi ku karena aku tidak sejahat kak Matthew!


"Apa kau bilang!" Dengan penuh amarah Matthew menjambak rambut Tiffany "Kau menganggap ku orang jahat! sejak dari kecil aku melindungi dan menyayangi mu, tapi ini balasan mu padaku! Apa selama ini Nathan sudah meracuni otak kepala mu!"

__ADS_1


"Aaawww....!!


"Lepaskan kak! ini sangat sakit!"


"Kau memang adik tidak tahu di untung!" bentak Matthew sambil melepaskan jambakan rambut panjang Tiffany.


"Hiks.. hiks... Tidak ada seorang Kakak yang tega ingin menyakiti adiknya sendiri! kenapa kakak memiliki sifat jahat! Pantas saja kak Matth sangat berbeda sifat dengan kak Nathan. Kak Nathan sangat baik, dia tidak ingin menyakiti siapapun termasuk aku adik tirinya! walau kita di lahirlah dari rahim ibu yang berbeda dengan kak Nathan, tapi Kak Nathan tulus dan penyayang!"


"PLAKK!


"Sudah cukup kau membanggakan si brengsek itu! aku muak mendengarkan nya!"


Tiffany memegangi pipinya yang memerah bekas tamparan Matthew, bersama linangan airmata yang membanjiri wajahnya.


"Kau jahat kak!" hiks.. hiks..


"Kau pantas mendapatkan tamparan dariku! selama ini kau sangat di manja Mommy, hingga membuatmu keras kepala dan pembangkang!"


Matthew kembali menarik kasar lengan Tiffany "Kau masih saja banggakan laki-laki brengsek itu! sudah sepantasnya Nathan mati daripada jadi penghalang di keluarga kita! kau memang adik terbodoh, sudah di pelihara malah menusuk dari belakang!"


"Deg! seketika Tiffany mengangkat wajahnya dan menatap nanar kearah Matthew


"Ap-apa maksud kakak..?! siapa yang di pelihara? katakan kak! pasti kakak tahu sesuatu tentang aku!" cecer Tiffany, kini ia balik menyerang pertanyaan pada sang kakak.


"Huh! Matthew menghempaskan nafas kasar seraya menyugar rambut pirangnya.


"Sudah! tidak perlu banyak bertanya lagi! sekarang bereskan semua pakaian mu, kita harus secepatnya meninggalkan rumah ini sebelum ada yang mengetahui identitas kita!"


"kenapa kita harus cepat-cepat meninggalkan rumah ini, ada apa sebenarnya?!"


"Sudah aku bilang, cepat kau bereskan semua pakaian mu!"


"Hey! kalian berdua, jangan ribut terus! bikin pusing saja! Cepatlah kita tinggalkan tempat ini, waktu kita tidak banyak! seru Samuel yang baru keluar dari kamar.


"Biarkan Tiffany bereskan pakaiannya dulu Paman!


"Kenapa kalian berdua sangat bodoh! pakaian bisa kita beli nanti. Yang terpenting kita harus selamat sebelum mereka melacak identitas kita!" seru Samuel memperingati.


"Baik paman!!"


"Ayo ikut aku!" Matthew menarik kasar tangan Tiffany.


"Tidak! aku tidak mau ikut! biarkan aku tetap disini!"


"Kau memang selalu menyusahkan!" Matthew yang masih emosi, tiba-tiba mengangkat tubuh sang adik dan membopongnya di atas bahu, lalu berjalan keluar menyusul Samuel yang sudah masuk kedalam mobil.


💜💜💜


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘

__ADS_1


Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76


@Bersambung....


__ADS_2