Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Luka Hati


__ADS_3

"Jangan-jangan anak ini salah satu didikan mereka menjadi manusia ninja, yang di culik paksa dari keluarganya. Mereka di cuci otaknya dan lidahnya di potong agar tidak bisa bercerita."


Vano menyimak argumen adiknya "Apa yang kau katakan ada benarnya, Dek! Baiklah kakak akan mencaritahu masalah Ninja ini. Apakah ada hubungan nya dengan penculikan anak-anak itu."


"Sebaiknya kita kurung dia disini dan jangan sampai ada yang tahu."


"Jangan Dek, sangat berbahaya. kita harus bawa Pria itu keluar dari rumah sakit ini. Sangat berisiko bila dia masih berada disini, sudah pasti orang-orang nya akan mencari."


"Lalu akan kita sembunyikan dimana Pria itu?!


"Biar dia menjadi urusan kakak dan Dev. kau fokus saja mengurus rumah sakit ini!"


"Bagaimana bila Genk kalajengking akan membuat masalah dan menteror rumah sakit ini lagi kak?!"


"Kau tenang saja. kakak akan mendatangkan seorang teman dari Inggris yang bisa mendeteksi orang asing yang berniat jahat, ia sangat bisa di andalkan dan mampu menjinakkan BOM, kakak akan minta bantuan untuk datang ke Indonesia dan menjaga rumah sakit ini."


"Itu terserah kakak saja. Tapi bagaimana Kakak membawa Pria itu keluar dari sini? aku takut masih ada mata-mata di rumah sakit ini?!"


"Kakak akan pikirkan itu!"


"Dek!"


"Hemm..."


Vano berjalan mendekat dan merengkuh pundak sang adik "Menurut saran kakak, kau harus kembali ke mansion. Disana lebih aman, ada mommy yang membutuhkan mu, Savira dan Zidan pasti sangat merindukanmu hadir kembali. Pulang lah Dek, kakak khawatir kau tinggal sendiri di apartemen, walau kau mampu ilmu bela diri, tapi tetap saja Kakak sangat takut kau kenapa-napa. Bila kau berada di mansion, kakak bisa menjaga mu juga."


Vana terdiam sejenak dan menatap dalam netra sang kakak, hingga sebuah anggukan mewakili keinginan Vano.


Vano tersenyum sumringah dan memeluk sang adik "Terima kasih Dek, akhirnya kita berkumpul kembali."


"Kita harus pulang ke mansion, ini sudah subuh. Banyak pekerjaan yang harus kakak urus."


"Kita tinggalkan orang ini?!"


"Untuk sementara biar dia disini, Kakak sudah menghubungi empat orang bodyguard yang terlatih untuk menjaganya. Nanti sore akan kakak pindahkan.


**


Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Setelah selesai mandi dan berpakaian kantor. Savira keluar dari kamar menuju dapur.


"Bi.. biar saya bantu ya.."


Savira berjalan mendekat dan perhatikan bi Ijah yang tidak fokus dengan memasaknya.


"Bii.. tempe tepungnya gosong." seru Savira dan membuyarkan lamunan bi Ijah.


"Maaf Non, tempenya lupa di balik."


"Bibi Kenapa bengong? apa yang sedang bibi pikirkan..?"


Bi ijah mematikan kompor, ada jejak airmata di sudut matanya.


"Bii.. tolong katakan, kenapa menangis?"


"Bibi teringat sama Mbak Sari, kenapa meninggal dengan cara mengenaskan." airmata BI ijah kembali menetes "Jujur Non, bibi jadi takut. Siapa berikutnya yang akan jadi korban. Setahu Bibi, Mbak Sari tidak memiliki musuh, dia anak yang baik dan nggak neko-neko." bi Ijah mengusap airmata dengan ujung bajunya.


Savira ikut terharu dengan bola mata berembun "Bibi tidak usah takut, pasti Bibi akan aman. Vira yakin kak Vano tidak akan tinggal diam, lagipula sekarang banyak bodyguard yang memperketat penjagaan."


"ART yang lainnya juga ketakutan Non. Mereka bilang sama bibi ingin minta pulang."


Savira mengusap lembut punggung Bi ijah. "Kenapa mereka ingin minta pulang hanya karena kejadian Mbak Sari. Padahal Mommy Delena sangat perhatian pada mereka dan memberikan gajih tiga kali lipat dari gajih pada umumnya."


"Bibi ngerti, Nyonya dan Tuan sangat baik dan perhatian pada kami. Tapi bibi juga tidak bisa melarang dan membujuk mereka yang ingin keluar dari mansion ini."


"Baiklah bii, nanti akan Vira bicarakan dengan Mommy."


"Bii... Mommy belum turun ya?


"Iya Non, ini Bibi sudah buatkan susu buat nyonya."


"Ya sudah, biar Vira antar buat Mommy."

__ADS_1


Savira membawa susu putih untuk Delena, setelah keluar dari lift ia membuka pintu kamar.


"Ceklek!


"Mom! panggil Savira seraya berjalan kearah ranjang, dan melihat Delena yang masih terlelap. ia menaruh susu di atas nakas.


"Savira..." panggilnya, ia terbangun karena ada yang membuka pintu.


"Mommy sudah bangun? Vira bawakan Mommy susu. Apa mommy sakit?"


Delena bersandar pada divan, Savira menyodorkan gelas berisi susu. "Mommy minum susunya dulu."


"Terimakasih sayang..." Delena meneguk perlahan susu yang Savira bawakan.


"Kau mau berangkat kerja Vir?"


"Iya Mom, tapi kalau Mommy sakit, Vira izin masuk kerja."


"Nggak usah vir, Mommy hanya sedikit lelah."


"Ceklek!


"Mommy... Vira.."


"Kak Vana..."


"Vana.. kau pulang juga. Dimana kakak mu."


"Kak Vano sudah ke kantor Mom."


"Ya sudah kamu temani Mommy, sudah lama kita tidak bertukar pikiran. Biar Savira berangkat kerja."


"Iya Mom! Vana akan temani mommy di rumah."


"Ya sudah kalau begitu Vira berangkat kerja dulu." Savira mencium punggung tangan Delena dan Vana.


"Savira.."


Savira mengangguk "Iya kak!"


Setelah menutup pintu Savira bergegas menuju ruangan makan, setelah sarapan ia merapikan file yang akan ia bawa untuk laporan ke presdir. Savira diantara oleh seorang supir bersama seorang bodyguard yang sudah di perintahkan Vana untuk menjaganya.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Mobil sudah berhenti di depan gedung perkantoran Mahesa Group. Ia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju ruangan Presdir.


Setelah memasuki lift menuju lantai 36, ia keluar dari ruangan kotak berukuran 2x4 itu. Langkah kakinya berhenti di ruangan sekertaris depan pintu presdir. Savira mulai menyalakan komputer dan menjalankan aktivitasnya.


"Pagi Savira..."


"Pak Dev! Savira beranjak dari duduknya "Pagi pak Dev!"


"Apa pak Vano sudah datang..?"


"Sepertinya belum Pak, saya baru saja datang setengah jam."


"Baiklah, bisa buatkan saya kopi..?


"Tentu saja.."


"Jangan lupa, gula nya setengah sendok teh."


"Baik pak!"


Savira berjalan menuju pantry untuk membuatkan kopi.


Sementara Dev sudah berada di dalam ruangannya. Bunyi telekom terdengar nyaring di dalam ruangan.


"Hallo Dev, Kau dimana?


"Baru saja sampai. kau sendiri dimana."


"Aku sejak jam enam sudah berada di kantor."

__ADS_1


"Tumben cepat!"


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan di jam makan siang."


"Okeh.."


"Apa Savira sudah datang?!


"Sudah, dia sedang buatkan kopi untuk ku."


"Suruh dia keruangan ku dan serahkan file untuk prospek hari ini."


"Okey!"


*


Sebuah sepatu heels berjalan menuju ruangan Presdir, lalu ia berhenti di depan meja sekertaris. "Dimana Savira? bukan kah ia sudah menjadi sekertaris Vano..?" wanita itu bergumam seraya melangkahkan kaki jenjangnya kedepan pintu presdir dan membuka handle pintu.


"Ceklek!


"Sayang..." senyuman terbit menghiasi wajah cantik gadis indo-Brazil.


Sang pemilik hati beranjak dari singgasananya dan melebarkan kedua tangannya "Kemarilah honey, aku sangat merindukanmu." wanita itu berjalan cepat dan masuk kedalam pelukan hangat pria tampan yang sudah mengisi relung hatinya.


"Sudah tiga hari kau tidak datang berkunjung, rasa rindu ini sudah tak terbendung."


Vano merapikan anak rambut Bella yang sedikit berantakan "Ma'afkan aku sayang, ada urusan urgent yang tidak bisa di tinggalkan."


"Aku sangat merindukan mu Bella.." senyum terbit di bibir bervolume milik Vano


Savira mengetuk pintu ruangan Devan. Terdengar suara bariton ciri khas pria tampan berkacamata.


"Masuk....!"


"Pak, ini kopinya."


"Terima kasih vir. Oiya pak Vano sudah berada di ruangan nya, kamu disuruh antarkan berkas untuk presentasi."


"Baik Pak!"


Setelah menaruh kopi diatas meja. Savira kembali ke meja kerjanya dan mengambil berkas-berkas yang akan di berikan pada Presdir nya.


"Sejak kapan kak Vano sudah berada di ruangannya. Aku tidak melihat ia datang." gumamnya di sela langkahnya kearah ruangan Vano.


"Ceklek!


"Pak!


Seketika Savira mematung di depan pintu. Bola matanya mulai berembun, sekali kedip saja airmatanya akan berjatuhan.


"Savira..." Vano terkejut dan melepas pelukan Bella.


Savira memalingkan wajahnya "Ma-af Pak, saya hanya ingin menyerahkan berkas ini." ucapnya dengan bibir gemetar.


"Savira..."


Bella yang mengetahui kedatangan Savira. Tersenyum lembut "Kemarilah Vir, kakak juga kangen sama kamu."


Savira berjalan perlahan dan menaruh berkas itu diatas meja. Tanpa menatap kakak angkatnya, Savira ingin segera meninggalkan ruangan itu, Namun Bella menahannya.


"Vira, Kenapa buru-buru. kita bisa ngobrol sebentar untuk melepas kangen."


Savira tersenyum lembut dan menutupi kesedihannya "Ma'af kak Bella, aku sedang banyak kerjaan, setelah selesai aku baru bisa ngobrol."


"Baiklah, nanti kita ngobrol bareng ya."


Savira mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan campur aduk.


💜💜💜


@Bunda minta maaf yang sebesar-besarnya. Setelah dari sakit, banyak pekerjaan di real yang terbengkalai. Ma'af kalau Up nya telat dan jarang. Semoga kalian dapat memakluminya. Makasih 🙏😍

__ADS_1


@Bersambung...


__ADS_2