Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Pencarian Vano


__ADS_3

Kodir hanya meringis menahan sakit.


"Katakan Bodoh! apa kau ingin ku tembak mati! teriak Dev emosi. "Dimana kau sembunyikan Zidane?!"


"Mereka telah membawa mas Zidane pergi semalam!"


"Ap-apa...?! pekik Vano "Siapa mereka! teriak Vano dengan tatapan membunuh.


"Saya juga tidak tahu siapa mereka? tukas Kodir dengan suara tertahan menahan sakit.


"Mas Vano, tolong jangan siksa suami bibi. Bibi akan katakan semuanya, Kenapa sampai mau melakukan ini?!


"Dev! lepaskan! perintah Vano.


Devan melepaskan jambakannya "Sekarang katakan semuanya, tidak ada yang perlu kalian ditutupi lagi. kenapa kalian tega merencanakan penculikan adikku Zidane!" seru Vano dengan tangan terkepal kuat.


Seketika tangisan bi ijah semakin pecah dan sesenggukan, dengan meremas jemari tangannya "Anakku di kampung juga di culik oleh mereka sebagai sandraan!"


Kedua alis Vano berkerut-kerut menjadi lipatan. "Jelaskan yang benar, aku tidak ingin ada kebohongan dari ucapan kalian."


"Bibi berani bersumpah mas Vano."


"Apa yang dikatakan istriku memang benar Mas, anak kami yang berada di kampung diculik oleh sekelompok orang yang tidak kami kenal. Seminggu yang lalu mereka datang kesini dengan menyamar, katanya ada berita dari kampung untuk ku dan istri. Kami berdua menemui mereka di luar mansion, lalu mereka memperlihatkan Vidio call anak kami Aryo sedang di ikat di suatu tempat." cerita Kodir dengan suara bergetar menahan tangis.


"Kenapa berhenti, teruskan ceritanya! bentak Dev


"Kami takut terjadi apa-apa dengan anak kami yang baru berusia 10 tahun. Kami memohon mereka melepaskan anak kami, namun mereka minta syarat." Kodir terdiam dengan wajah tertunduk dalam.


"Syarat apa yang mereka minta?!


"Membantu mereka menculik mas Zidane, dan mereka akan melepaskan Anakku."


Dev terlihat sangat geram dengan perkataan Kodir, dia berjalan mendekat dan menarik kasar kerah baju Kodir hingga ia berdiri "Bisa-bisa nya anak Tuan mu sendiri kau barter dengan keselamatan anakmu tanpa memikirkan perasaan kelurga ini, BRENGSEK!


"BUGH!


"BUGH!


Kodir mendapat pukulan telak hingga tersungkur ke lantai.


"Ma'afkan kami mas Dev! kami juga tidak mau melakukan ini, Aryo anak kami satu-satunya. 12 tahun lamanya kami menunggu kehadiran seorang anak, bagaimana kami tidak sedih bila anak kami di ancam di bunuh!" hiks...


"Kalian seorang ibu dan Ayah bukan? dan takut kehilangan anak kalian mati. Lalu bagaimana dengan Tuan Reno dan Nyonya Delena sebagai orang tua dari Zidan? apa kalian tidak pikirkan perasaan mereka juga?!


"Lalu kami harus apa? pikiran kami bantu saat itu!" hiks... hiks...


"Kalian berdua sangat egois! kalian Korban kan Zidan, anak majikan kalian sendiri yang sudah memberikan kalian kehidupan layak! seru Dev menatap murka.


"Kami di ancam! tolong mengertilah mas Dev, mas Vano.." tukas bi Ijah seraya mengatupkan kedua tangannya penuh permohonan.


"Seharusnya kalian Jangan bertindak bodoh dengan mengikuti kemauan mereka! kalian bisa berterus-terang pada kami tanpa harus mengorbankan anak kalian dan Zidane! sudah pasti kami punya solusinya agar anak kalian terbebas dari ancaman mereka! bentak Dev, menatap nelayang.


Vano yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara "Siapa mereka? jelaskan pada ku bii.. siapa mereka?! suara Vano semakin melengking di barengi dengan nafas tersengal.


"Bi-bi tidak tau siapa mereka mas..? Yang bibi tahu di punggung tangannya ada gambar kalajengking.

__ADS_1


Seketika mata Vano membola, sungguh ia terkejut dengan ucapan bi Ijah. Ternyata musuh lama mereka sudah mengincar Keluarga Reno Mahesa, dan mereka telah berhasil menculik adiknya Zidan di saat sang Daddy tidak ada di mansion.


Tangan Vano terkepal kuat, urat-urat tangannya terlihat menonjol, hidungnya kembang-kempis dengan nafas turun-naik menahan amarah yang mulai tersulut.


"BRAKK! tangan itu meninju meja kayu.


"BRENGSEK! ternyata mereka sudah berani menculik adikku! Ancaman mereka ternyata tidak main-main! teriak Vano.


"Arrgghhh!!! Vano berteriak seraya menjambak rambutnya karena frustasi, ternyata ia telah gagal melindungi keluarga nya sendiri, terutama adik kandungnya.


Vano menatap kearah Kodir yang masih meringkuk di lantai, lalu berjalan kearahnya dan menarik kerah bajunya "Kau pasti sudah lama bekerjasama dengan Genk kalajengking, bagaimana mungkin mereka bisa dengan mudah melewati sistem penjagaan yang begitu ketat! teriak Vano dengan tatapan menghunus tajam.


"Tidak mas Vano.. saya tidak tahu, saya berani sumpah."


"BRUKK!


Dengan amarah yang meletup-letup, Vano melempar tubuh Kodir ke lantai. Suara erangan kesakitan terdengar pilu.


"Mas Vano, bibi mohon... jangan pukuli lagi suami bibi, dia sudah tak berdaya dan tidak melawan sama sekali." hiks... Kami sudah mengaku salah, semua ini karena terpaksa kami lakukan."


"Jangan coba-coba membodohi kami, bii.. adikku adalah tanggung jawab ku, menyakiti adikku sama saja menyakiti ku. Kami satu ayah dan ibu! Vano berbicara lantang dengan rahang mengeras.


"Maafkan bibi dan suami bibi." suara bi ijah semakin lemah, hampir tak terdengar dan terduduk lemas di samping suaminya.


"Aku harus memberitahu Vana tentang Genk kalajengking!" gumamnya pelan.


"Kurung mereka berdua di gudang, Dev! sampai kita bisa menemukan Zidan! perintah Vano.


Dev mengangguk.


"klek, klek, klek..


"Vana! buka pintunya, kakak perlu bicara sebentar."


"Kak Vano? Apa yang harus aku katakan? kak Vana tidak ada di kamarnya." Savira terlihat bingung


"Zevana! buka pintunya, kau sedang apa di dalam kamar!" seru Vano tak sabar.


"Suara kak Vano terlihat kesal, Lebih baik aku katakan saja yang sebenarnya daripada terus berteriak-teriak di depan pintu."


"Ceklek!


"Kak Va-no." ucap Savira gugup.


"Dimana kak Vana?!


"Kak Va-na..."


Vano yang sudah tak sabar menerobos masuk kedalam kamar "VANA...!!


"VANA ..!!! seru Vano


Vano terus mencari keberadaan sang adik di kamar, tiba-tiba matanya menatap kearah kaca jendela yang sudah pecah dan sisa pecahan kaca berserakan di lantai.Vano menoleh kearah Savira dengan tatapan tanda tanya.


"Dimana Vana...?!

__ADS_1


Savira terdiam seraya meremas ujung bajunya. Vano berjalan mendekat dan menatap wajah sang adik.


"Dik! dimana kak Vana berada? dan, kenapa ada pecahan kaca di lantai? perbuatan siapa itu? apakah ada orang masuk kedalam kamar?! begitu banyak pertanyaan Vano, membuat Savira gugup dan ketakutan dengan wajah tertunduk dalam.


"Dek! kau dengar tidak pertanyaan kakak!"


"Dimana Vana?!


Vano menarik dagu Savira, hingga tatapan mata mereka saling bertemu. "Tatap mata kakak kalau sedang di ajak bicara! dimana Vana..."


"Kak Vana su-dah pergi kak." tukas Savira dengan suara tercekat.


"Pergi...?! pergi kemana...?! dan kaca jendela pecah itu perbuatan siapa?!


"A-ku, tidak tahu kak Vana per-gi kemana." ucapnya terbata.


"Jawab yang jelas Dek! bentak Vano, membuat Savira tersentak kaget dan ketakutan. Baru kali ini ia mendapat bentakan dari Vano. Padahal selama tinggal dengan keluarga Reno, tidak ada sedikitpun yang berani berkata kasar apalagi membentaknya.


Vano membuang nafas kasar dan mulai menetralisir keadaan. Melihat Savira ketakutan, ia baru menyadari kalau gadis itu terkejut karena ia bentak "Ma'afkan kakak! kak Vano tidak berniat membentak mu, kakak sedang frustasi karena kehilangan Zidane, sekarang Vana malah pergi."


"Bro ada apa dengan mu? suara mu terdengar sampai keluar." tukas Dev di sela langkahnya berjalan kearah kamar


Vano mengembuskan napas panjang dan menunjuk kaca jendela yang pecah.


"Ada apalagi ini? kenapa jendela kamar Vana pecah." tanya Dev, dengan dahi berkerut.


"Vana pergi!


"What! bukankah tadi sama Savira."


"keadaan jadi kacau! kenapa Vana malah pergi meninggalkan mansion tanpa izin padaku! suara Vano terdengar rendah dan frustasi.


Dev menoleh kearah Savira dan membujuk nya "Dek! bantu kak Dev dan kak Vano untuk menyelesaikan masalah ini, katakan kemana kak Vana pergi?"


Savira gelengkan kepala "Vira benar-benar tidak tahu kemana kak Vana pergi. Awalnya kami turun kebawah setelah lama berada di lantai lima, di depan lift kami mendengar suara pecahan kaca dari dalam kamar kak Vana, gegas kak Vana berlari dan masuk kedalam kamar. Saat aku mengetuk pintu kamar kak Vana, ia sudah keluar dengan pakaian casual. Vira bertanya mau kemana? jawab kak Vana, mau pergi sebentar karena ada urusan.


"Terus Vana tidak menjelaskan mau pergi kemana? tanya Dev lagi penasaran.


Savira gelengkan kepala "Tidak kak!"


Vano yang ikut mendengar cerita Savira, menepuk pundak Dev.


"Aku akan pergi mencari adikku. Kau tetap berjaga di mansion dan terus amati mereka."


Dev mengangguk. "Van! apa kau tidak ingin minta tolong Om Tommy dan Om frans."


"Mereka semua sedang tidak ada di Jakarta. Om Tommy dan Tante Siska pergi ke Amerika menemui Zara. Om Frans, Tante Fanny dan Calista sedang liburan ke Spanyol."


"Baiklah, aku akan berjaga di mansion. jaga dirimu baik-baik, hubungi aku bila kau butuhkan."


Vano mengangguk dan melangkah cepat meninggalkan mansion.


💜💜💜


@Tetap semangat untuk terus dukung Bunda ya reader... tanpa dukungan kalian Bunda bukanlah apa-apa.. I love you All..🥰🥰🥰

__ADS_1


@Beberapa bab lagi, kalian akan bertemu dengan idola kalian 😍, siapa mereka...?


__ADS_2