Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Ledakan Laboratorium


__ADS_3

"Jadi yang dimaksud orang ini flashdisk itu? bisik Vana dalam hati. "Bukankah flashdisk itu di simpan kak Vano!" Vana menutup mulutnya.


"Cepat katakan dimana kau simpan flashdisk itu? kau tahu konsekuensinya bila tidak memberikan flashdisk pada kami. Seluruh nyawa di rumah sakit ini akan mati sia-sia, dan kaulah yang akan bertanggung jawab!" bentak suara Pria di ujung telepon.


Vana terus berfikir apa yang harus ia lakukan sekarang. Sementara jiwa ribuan orang-orang yang berada di dalam rumah sakit terancam nyawanya "Kurasa kau salah orang, aku tidak pernah tahu flashdisk itu! tegas Vana.


"Tidak usah berbohong! kau tahu potongan tangan dan usus siapa yang ku berikan padamu? salah seorang dari pelayan pribadi mu yang menghilang siang tadi. Itu baru permulaan saja Dokter Vana! setelah itu akan merambat kepada keluargamu!"


"Cukup! kau tidak perlu mengancam ku! bentak Vana sengit.


"Baiklah kalau kau tidak percaya, setelah telpon ini tertutup akan ada kejutan untuk mu.."


"klik!


Telpon terputus.


"DUUAARR....!!


Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah luar ruangan. Suara alarm terdengar keras, membuat semua orang panik dan berhambur keluar dari bangsal. Vana juga terperanjat kaget, ia berlari keluar ruangan dan melihat keadaan semakin semrawut. Para pasien yang berada di ruangan rawat inap berhamburan keluar dari bangsal. Para suster dan petugas medis berlarian mengamankan dan memberikan ketenangan pada para pasien yang terganggu dengan adanya ledakan BOM.


"Suster apa yang terjadi? ledakan berada dimana..?! tanya Vana saat beberapa suster berlari untuk menolong pasien yang ketakutan.


"Ruangan laboratorium Dok!"


"Apa...?! Vana terkejut dan berlari kearah ruangan laboratorium yang berada di lantai satu, posisinya berada di ujung koridor dekat dengan pantry.


Suara alarm semakin menggema, asap hitam mengepul dan meluluh lantakkan ruangan laboratorium. Vana hanya menatap nanar dan tak percaya si penelpon itu benar-benar melakukan ucapannya. Pecahan kaca berhamburan hingga keluar ruangan. Sekuriti dan bodyguard yang menangani keamanan rumah sakit ikut bergabung untuk mematikan api yang masih hidup dan asap yang mengepul. Lima belas menit kemudian mobil pemadam kebakaran datang dan melakukan penyemprotan air.


"Dokter Vana..!" seseorang menepuk pundak Vana. Vana yang masih menyaksikan peledakan BOM itu terlihat lemas, ia menoleh ke belakang. "Dokter Herman?"


"Siapa pelakunya, kenapa semua tiba-tiba..?


Vana hanya menggeleng lemah.


"Lebih baik kita pergi dari tempat ini, biarkan petugas pemadam kebakaran dan sekuriti yang membereskan kekacauan ini."

__ADS_1


"Aku akan menghubungi pihak kepolisian." tukas Herman mulai merogoh ponsel dalam saku jasnya.


"Jangan! lebih baik polisi jangan di libatkan dulu."


Dokter Herman mengerutkan keningnya "Kenapa tidak boleh? bukankah ini tindakan kriminal, bisa saja ada sekelompok orang yang melakukan pemboman ini.


Vana sedikit terkejut dengan pemikiran dokter Herman "Darimana Dokter tahu sekolompok orang yang melakukan pemboman ini?" tanya Vana menatap curiga.


"Jangan curiga seperti itu Bu Dokter, coba Pikir saja, mana ada yang melakukan pemboman ini hanya satu orang. Sudah pasti mereka berkelompok dan sudah merencanakan dengan matang tanpa terendus pihak keamanan rumah sakit."


Vana manggut-manggut setuju. "Yang kau ucapkan ada benar nya juga.


"Ayo kita pergi dari sini, asapnya masih bertebaran kemana-mana." Vana mengikuti langkah Herman menunju ruangan kerjanya.


"Ini minumlah dulu Dok! titah Dokter Herman memberikan gelas berisi air putih dari dispenser. Vana meneguk separuh dan menaruh gelas di atas meja.


"Ini kotak apa..? baunya sangat menyengat!" Dr Herman menutup hidungnya.


"Tolong di bawa keluar kotak itu Dok, ceritanya panjang. Nanti aku jelaskan!"


Dokter Herman membawa kotak itu keluar dari ruangan Vana. Vana memijit keningnya yang terasa pusing, tiba-tiba ponselnya berdering dan ia melihat tidak ada nama si penelpon. Awalnya Vana membiarkan ponselnya berdering, namun ia takut ada hubungannya dengan si peneror tadi, yang meluluhlantakkan laboratoriumnya.


"Hey Dokter Vana...? bagaimana permainan yang kami berikan..? apa kau mulai syok melihat laboratorium terpenting di rumah sakit mu hancur! itu belum seberapa dibandingkan yang akan terjadi selanjutnya."


"Brengsek! tunjukkan dirimu, jangan hanya mengancam!" seru Vana dengan emosi meletup-letup.


"Hahahaha... kau hanya anak kemarin sore yang sok-sokan kuat! kami akan terus menteror mu sampai mendapat apa yang kami inginkan! sekarang pulanglah, kelurga mu sedang berkabung!" hahahaha....


"Ap-apa..?! Vana terkejut. Ia mulai menghubungi mansion, Namun telpon tidak dapat di hubungi. Menelpon ponsel sang kakak, Savira, Delena, bahkan Zidane tidak ada yang aktif. Vana terlihat gugup. "Kenapa telepon mereka tidak ada yang bisa di hubungi satupun." ucapnya curiga.


Buru-buru Vana menyambar kunci mobil diatas meja dan berlari keluar dari ruangan.


"Bruk!


"Dokter Vana, anda ingin kemana? kenapa harus terburu-buru! seru Dr Herman saat bertubrukan dengan Vana di depan pintu.

__ADS_1


"Aku harus pulang, ada urusan penting di mansion. Tolong jaga keadaan rumah sakit. Perketat penjagaan dan kabari aku bila ada hal yang mencurigakan!"


"Okay baiklah!"


Vana melajukan sport merahnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan raya ibu kota menuju mansion.


"BRUKK....!!!


"CIIIIIIIITTTTTTTT.....!!!


Tiba-tiba ada yang menghantam mobilnya dari belakang, dengan cepat Vana membanting stir ke kanan dan menerobos jalanan jalur busway. Untungnya malam hari jalur busway sepi hingga tidak membuat kekacauan. Sebuah mobil hitam terus mengejar mobil Vana dari belakang, tanpa Vana sadari didepan jalan sudah di hadang mobil Pajero yang siap untuk menerjangnya.


Vana memutar otaknya untuk tidak terhimpit mobil dari depan dan belakang. "Come on kita harus lawan mereka! tidak ada pilihan lain kecuali menghantam mobil didepan ku. Tapi resikonya aku akan terhimpit badan mobil mereka. Vana berusaha tidak panik dan memohon pertolongan pada sang Kholiq. Saat sudah hampir dekat. Sebuah mobil besar menabrakkan mobil Pajero dari samping, Mobil yang ingin menghadang Vana dari depan terbalik dan terseret jauh, karena hantaman keras.


"CIIIIIIIITTTTTTTT....!"


Vana mengerem mendadak, menyaksikan peristiwa yang menegangkan di depan matanya. Mobil besar itu mundur untuk memberikan Vana jalan. Tanpa banyak basa-basi Vana terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengindari mobil di belakangnya yang hampir dekat mengejarnya.


Suara tabrakan dan ledekan menggantung di udara. Seketika Vana menghentikan mobilnya dan menoleh ke belakang dengan menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.


Sebuah sedan hitam yang tadi mengejarnya terbalik dan menghantam trotoar hingga menimbulkan ledakan dan asap hitam. Mobil besar yang menolong Vana pergi begitu saja setelah membantu Vana. Ia melaju dengan berlainan arah.


"Siapa mereka..? kenapa mobil itu menolong aku? Apa dia mengenal aku? aku tidak melihat nomor plat mobil itu." Zevana menghela nafas lega "Siapapun dia yang telah menyelamatkan nyawa ku, aku sangat berterima kasih. Semoga suatu saat aku bisa bertemu dengannya."


Vana melajukan mobilnya kembali menuju mansion.


💜💜💜


@Tolong ya All.. kalau gak suka dengan cerita Vano dan Bella, jangan suka di banding2 kan. Mereka punya kisah sendiri. ini kan masih on going belum ada separuh nya kisah mereka dan belum tuntas endingnya.


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘


@Bunda mau promosi novel terbaru..


"AKU BUKAN CINDERELLA"

__ADS_1


Ayo mampir All.. kisahnya menguras emosi dan airmata loh...


@Bersambung.....


__ADS_2