
"Sungguh kau sangatlah mengagumkan Nessa! tubuhmu sangat menggoda dengan bokong dan buah dada montok. pantas semua lelaki ingin mencicipi tubuhmu! seru seorang pria yang sudah berdiri didepannya, seraya melihat adegan mesum itu.
Seketika wanita bernama Nessa itu menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada pria yang menatapnya jijik, ada seringai di wajah pria tampan itu.
"Darren!! serunya Nessa dengan mata melotot.
"Wah.. wah.. wah... sangat luar biasa! kau terlihat sangat seksi dan menggoda hanya berbalut penutup dua kembar gunung dan cd ketat yang begitu menggoda.
Nessa berjalan mendekat dan berbisik "Pergilah kau berengsek! aku begini karena kau dan dua temanmu yang sudah menjerumus ku! aku akan membalas semua perbuatan bejatmu DARREN! Nessa mengulurkan lidahnya dan menjilati telinga Darren.
"Sialan! Darren mendorong tubuh Nessa "Aku jijik padamu, dasar j4l4ng! seru Darren dengan Sorot mata meremehkan.
"Baby... siapa dia! Pria bule bertubuh kekar itu, memeluk tubuh Nessa saat Darren mendorongnya yang hampir saja membuatnya terjatuh.
"Bukan siapa-siapa Daddy.. bawa aku pergi bersamamu dari sini! Nessa berkata penuh hasrat seraya mencium bibir pria bule itu.
"Okay, kita lanjutkan di kamar!" ucapnya, Pria itu langsung mengangkat tubuh Nessa
"Daddy, tunggu!"
"What is it, honey.."
"Aku hanya ingin, kau usir Pria sialan itu! dia sangatlah mengganggu!"
Pria itu menatap tajam kearah Darren. "Okay, akan aku lakukan untukmu honey!" Pria bule itu mengalihkan pandangannya dan menatap dua bodyguard yang berdiri di belakangnya.
"Usir pria itu dari tempat ini, aku tidak ingin terganggu oleh Pria manapun saat sedang berduaan dengan j4l4ng ku!" serunya dan di anggukan oleh dua orang bodyguard berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar.
"Pergi dari tempat ini!" bodyguard itu mendorong kasar tubuh Darren, yang terlihat wajahnya memucat. Pria satunya lagi menarik kerah baju Darren dan menyeretnya keluar bersama dua orang temannya.
"Lepaskan! aku bisa keluar sendiri! seru Darren yang berjalan terus meninggalkan ruangan VIP itu.
"Sekarang kau adalah milikku baby.." Pria bule itu mengangkat sudut bibirnya dan membawa Nessa keruangan khusus.
*
*
Pagi itu di mansion, Delena menjalankan aktivitasnya didapur yang di bantu oleh bi Surti dan Mba Lala sebagai asisten rumah tangga.
"Nyah! semalam Non Vana memberikan obat ini." bi Surti menyerahkan kantong plastik putih yang berisi obat.
"Jam berapa Vana pulang bi..? kenapa tidak panggil aku kalau ada Vana?. terlihat raut wajah Delena yang kecewa.
"Kalau nggak salah jam sembilan. Saya mau kasih tahu Nyonya, tapi kata Non Vana tidak usah karena ia hanya sebentar dan nggak mau ganggu tidur Nyonya."
Delena hanya menghela nafas panjang dan melanjutkan aktivitasnya.
Semua hidangan sudah tersedia diatas meja. Reno duduk di kursi makan seraya menyeruput kopi hitam kesukaannya dan dua buah sandwich sudah berpindah kedalam perutnya.
"Mommy..! Zii nggak mau bawa bekel! seru Zidane sambil mendudukkan tubuhnya diatas kursi.
__ADS_1
"Kenapa sayang..?
"Abis Zii selalu di bilang anak mami sama teman-teman." ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Loh, Zidane kan emang anak mommy.." Delena tersenyum lembut.
"Pokoknya Zii nggak mau bawa bekel! bocah berusia 12 tahun itu merengut.
"Zii, kalau jajan makanan diluar, nanti perut Zii sakit!" Reno menimpali, matanya masih fokus pada surat kabar ditangannya.
"Ya sudah, Kalau Zii nggak mau bawa bekel. tapi nggak boleh jajan sembarangan di kantin sekolah." nasehat Delena.
Zidane mengangguk dan meneruskan makannya yang sempat tertunda.
"Pagi Mom, Dad! seru Savira yang baru datang ke ruangan makan.
"Pagi sayang.." sapa Delena lembut.
"Bagaimana skripsi nya sudah selesai?
"Belum Dad, masih revisi dulu, akan Vira cek dulu sebelum diserahkan ke Dosen."
"Semoga hasilnya memuaskan dan bisa lanjut S2.." tukas Reno, mulai melipat surat kabar dan diletakan di sampingnya.
"Iya Dad! semoga saja." Savira mengoles selai diatas roti dan menggigit nya "Dimana Kak Vano, Mom??"
"Tumben Vano belum turun? biar Mba Lala yang memanggilnya." imbuh Delena sambil menaruh nasi dan lauk-pauk didalam piring dan memberikannya pada Zidan "Ayo sarapan dulu yang banyak kalau nggak mau bawa bekel."
"Kenapa Kak Vano terlihat cuek padaku? apa aku sudah menyinggungnya, tapi kemaren di kantor kak Vano masih perhatian kok sama aku." tanyanya dalam hati.
"Van! apa semalm kamu bertemu Vana?" tanya Delena, seraya memberikan piring padanya.
"Iya Mom! tapi hanya sebentar, dia kesini hanya mengantarkan obat buat Mommy."
"Kenapa tidak kau tahan adikmu, untuk tidak pergi lagi" Reno bicara dengan nada tertekan, seperti ada kekecewaan yang mendalam dari raut wajahnya.
"Ma'afkan Vano Dad! Vano juga sudah berusaha untuk menahan Vana. Namun, adikku begitu keras kepala dan tidak bisa di bantah!" Vano menarik nafas dalam "Vano ingin tahu siapa Pria bernama Nathan, sampai adikku kehilangan akalnya demi Pria itu!"
"Pria itu sudah tidak ada di dunia ini lagi, makanya Zee sangat membenci Daddy. Entah sampai kapan Zee bersikap dingin pada Daddy."
"Apa Daddy yakin dan melihat sendiri kalau Nathan sudah mati?!
"Daddy melihat langsung dari Vidio call, dan jelas itu wajah Nathan."
"Tetap saja Nathan orang yang berjasa, dia telah menyelamatkan adikmu dari ledakan BOM di-Mall, sampai kapanpun Mommy tidak bisa melupakan semua kejadian itu!"
"Tapi Nathan sangat berbahaya Sayang.., ingat! Nathan berusaha masuk kedalam kamar kita untuk membunuh kita berdua, kalau saja tidak ada Zee malam itu, sampai hari ini kita tidak mungkin makan bersama."
"Sudah lah Mas, itu semua telah berlalu, kita jangan ingat-ingat lagi. Biarkan Nathan tenang di-alam sana. Nathan sebenarnya anak yang baik dan sopan."
Reno menghempas nafas kasar dan beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan makan.
__ADS_1
"Mom! Daddy sedang banyak pikiran. Ma'afkan Daday ya? jangan kecewa dengan sikap Daddy yang mudah tersinggung."
"Mommy sudah paham dengan sikap Daddy mu, tidak usah khawatirkan Daddy dan Mommy, lebih baik kau perhatikan adikmu Vana."
"Ya sudah Vano berangkat dulu!" Vano mencium punggung tangan Delena.
"Zidan, Vira.. kakak berangkat dulu."
"Okey kak! tukas Zidan seraya menghabisi susu dalam gelas.
Vano melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan makan tanpa menoleh apalagi berbicara dengan Savira. Sikap Vano benar-benar berubah. Demi menjaga perasaannya dan ia telah memilih Bella sebagai kekasihnya. Sekarang Vano beranggapan Savira hanya seorang adik yang harus ia jaga dan lindungi, seperti yang lainnya. Walau sejujurnya Vano ada perasaan buat Savira.
Sementara Savira hanya terdiam di kursinya, tanpa berucap sepatah katapun. Netra nya terus menatap kepergian punggung lebar itu. Savira melihat jelas perubahan Vano padanya. Biasanya Vano akan sangat peduli dan ngotot ingin mengantarkan dirinya sampai kampus.
"Savira? kau tidak diantar Vano ke kampus?" tanya Delena yang melihat Savira hanya melamun dengan tatapan kosong.
"Ehh-iya... Nggak kok Mom!" ucapnya gugup.
"Jadi siapa yang antarkan kamu ke kampus?
"Vira naik taksi saja Mom!
"kalau begitu bareng dengan Zidane, biar Pak Yanto sekalian yang mengantarmu ke kampus."
Safira menggeleng "Nggak apa-apa kok Mom."
"Tuh kan, kebiasaan Vano! tas ditinggal disini gerutu Delena. "Vir, tolong antarkan tas kerja kak Vano ya." Delena menyerahkan tas itu pada Savira.
"Iya Mom! Savira beranjak dari duduknya dan berlari keteras dimana terparkir mobil sedan milik Vano.
"Kak Vano! teriak Vira dan berjalan lebih cepat "Ini tasnya tertinggal di kursi."
"Oh iya! terimakasih ya Dek! Vano membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil tanpa mengusap lembut rambut adiknya atau mencubit gemes pipi chubby Savira.
Saat Pintu mobil tertutup, Savira berkata "Kak! kapan bisa bantu aku untuk nyusun skripsi? bukankah kakak janji akan bantu?"
Vano melirik arloji di pergelangan tangannya "Ma'af Dek, kak Vano belum bisa bantu. Banyak pekerjaan yang menyita waktu kakak! tapi nanti akan kak Vano suruh Dev membantumu."
Deg! jantung Savira berdenyut pedih, ia merasakan sikap dingin kakak angkatnya yang tak biasa. Vano menutup kaca mobil secara otomatis dan pergi meninggalkan mansion tanpa basa-basi mengajak Savira.
"Kenapa sikap kakak berubah? seperti bukan kak Vano yang aku kenal." gumam Savira, kaca-kaca di-bola matanya mulai menetes saat kepergian Vano, dengan sikap dingin dan cuek.
💜💜💜💜
@Tolong Ya All.. jangan salahkan sikap Vano. Alurnya emang seperti ini, nanti di pertengahan mulai panas ceritanya. Yang tanya kisah Nathan, Sabar ya All.. ceritanya di rolling, biar nggak monoton
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
@Pantau terus IG Bunda, akan ada visual lainnya yang menyusul.
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
__ADS_1
@Bersmbung....