
"Hey Nona anda mau apa ..?! sudah seharusnya pria ini mati!"
"Kalian tak berhak membunuh orang yang sudah tak berdaya!" seru Vana berusaha untuk menahan nya.
"Cepat lemparkan dia! kita harus dengarkan perintah bos besar!" perintahnya pada tiga orang yang menarik tubuh Nathan.
Tiga orang itu mendang dan melempar tubuh Nathan kedalam jurang.
"TIDAK JANGAN....!!!!!!!!
"Nathan!!!!
"Bu...!
"Bu Dokter.....!" seru seorang suster menyadarkan Vana yang berteriak-teriak.
Vana membuka kelopak matanya dan menatap sekeliling ruangan "Ada apa dengan ku? tanyanya ling-lung.
"Bu Dokter tadi berteriak-teriak memanggil nama Nathan."
"Ap-apa..?! Nat-han..!"
"Iya... saya takut terjadi apa-apa dengan Bu dokter, makanya saya bangunkan. Ma'afkan saya Bu, sudah lancang membangunkan ibu."
"Tidak apa-apa, justru saya berterima kasih!" Vana mengusap wajahnya berkali-kali.
"Ahh! ternyata hanya mimpi." gumamnya pelan.
"Ini Bu, minum dulu. ibu keluar keringat banyak."
"Terimakasih sus!"
"Apa perlu saya temani? atau bu dokter mau pulang saja..?!"
"Tidak usah, biarkan saya sendiri. Saya tidak jadi pulang, menginap di vapiliun saja.'
"Baik bu Dokter, kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya sus!
Vana menghela nafas panjang dan di hembuskan perlahan. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah jendela. Angin malam masuk melalui jendela yang Vana buka.
"Nathan! kenapa tiba-tiba aku bermimpi Nathan. Bukankah dia sudah tiada? lalu kenapa ia minta tolong padaku? apa arti mimpi ini? Vana terus bertanya-tanya dalam benaknya. "Apakah ia tidak tenang di alam sana? apakah Nathan akan menuntut Daddy karena telah menguburkan hidup-hidup..?" tiba-tiba bola mata Vana memanas, lelehan airmata mulai mengalir di pipinya. "Ma'afkan aku Nathan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi semua itu salahmu! hiks... "Kenapa kau tega ingin membunuh kedua orang tua ku? Disaat aku mulai mencintai mu, kau mengatakan tidak pernah mencintai ku, semuanya hanya untuk balas dendam! Kenapa hanya dendam yang bersarang di hatimu!" Vana nmenyeka setiap lelehan airmata yang jatuh. "Bermain-main dengan Daddy sama saja membawa kematiannya sendiri!"
"Kini aku sadar, semua yang Daddy lakukan hanya untuk melindungi keluarganya. Walau tadinya aku sempat membenci Daddy karena sudah melenyapkan nyawa Nathan." Vana menarik nafas dalam-dalam "Aku berharap kau bahagia, aku selalu berdoa untuk mu Nathan, semoga kau tenang di alam disana. Ma'afkan Daddy ku.." hiks.. hiks..
Angin semakin berhembus dengan kencang. Vana merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Ia mulai ingin menutup jendela, namun tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melewati ruangan kerjanya dan melempar sebuah botol plastik.
__ADS_1
"Siapa itu! teriak Vana terkejut, Namun sekelebat bayangan hitam itu menghilang merambat naik keatas pohon pinang hingga tak terlihat lagi. "Siapa pria bayangan itu? ia melempar sebuah botol." Vana mengambil botol yang jatuh ke lantai "Ada isinya dalam botol ini." karena penasaran Vana membuka tutup botol itu dan mengeluarkan isi dalam botol. Lalu membuka gulungan kertas itu.
"Sebuah peta?! kenapa ia memberikan petunjuk sebuah peta? apa maksud dari peta ini? aku harus memberitahu kak Vano." Vana menggulung kembali kertas berisi peta itu.
***
"Maaf Nona silakan pindah ketempat lain, disini tidak baik untuk tidur." seorang sekurity membangun kan Tiffany yang tertidur di lobby bandara.
"Ahh, maaf saya tertidur disini." Tiffany mengucek matanya yang masih mengantuk "Ini sudah jam berapa ya Pak!"
"Jam setengah tiga!"
"Jam setengah tiga? apa pesawat ke London sudah berangkat?"
"Keberangkatan terakhir sudah sejam yang lalu. Nona mau kemana?!"
"Kakak ku! aku harus bertemu dengan kakak ku." Vana mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto Nathan pada sekuriti itu "Oiya apa bapak melihat orang ini di bandara?"
"Wah yang datang ke bandara ini sangat banyak, saya tidak bisa perhatikan satu persatu."
"Ya sudah terima kasih pak!"
Tiffany berjalan kearah toilet dengan langkah gontai "Kemana aku harus mencari Kak Nathan? lebih baik aku basuh wajah dulu, baru mencari kak Nathan lagi."
Setelah masuk kedalam toilet Tiffany membasuh wajahnya. Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya tentang Nathan. "Siapa yang menelpon aku? Tiffany merogoh ponsel dalam tasnya "Kak Matthew! gawat jangan-jangan dia sudah tahu aku tidak ada di dalam kamar. Apa yang harus aku lakukan?" Tiffany terlihat gusar dan tegang "Lebih baik tidak usah di angkat, aku matikan saja ponselnya, semoga kak Maath tidak melacak keberadaan ku!"
Usai mematikan telpon ia masukan kedalam tas. Tiffany keluar dari toilet dan terus mencari keberadaan sang kakak tiri. Namun nihil tidak ada yang melihat keberadaan Nathan. Akhirnya Tiffany putus asa dan terduduk lemah di bangku pengunjung.
"Lebih baik aku pulang dulu, masalah kak Matth nanti saja aku pikirkan."
Tiffany berjalan melewati gerbang Bandara untuk memesan taksi online. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
'BUGK!
"Ma'af saya tidak sengaja, Om!
"Tidak apa-apa! Pria itu mengambilkan tas Tiffany yang terjatuh. "Lain kali hati-hati bila berjalan."
"Terima kasih Om!"
"Oiya kau kesini dengan siapa..?!
"Saya sendiri Om!
"Daerah mana tempat mu tinggal..?
"Saya baru dua bulan di Indonesia, kalau tidak salah daerah Sentul city."
__ADS_1
"Mau saya antar?
"Untuk apa Om mau antar saya pulang? saya ajah tidak kenal Om? lagian kalau saya di celakai gimana? dengus Tiffany.
"Jangan salah paham dulu, saya berniat baik untuk mengantar kan Nona pulang. Saya juga punya anak gadis seusia Nona. Saya teringat anak gadis saya saat melihat Nona."
"Tidak, terima kasih! ucap Tiffany ketus dan melangkah pergi meninggalkan pria itu dengan tatapan curiga. Pria itu menatap kepergian Tiffany seraya gelengkan kepala.
"Selamat datang kembali Tuan Reno, ma'af kalau saya terlambat menjemput."
"Tidak apa-apa Dev! saya juga baru saja leading. jadwal keberangkatan lebih cepat dari biasanya."
"Ayo tuan, mobilnya saya parkir sebelah sana." Dev mengambil alih tas dorong milik Reno.
Reno dan Dev berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir. Dev membukakan pintu untuk Ayah sahabatnya.
"Terimakasih Dev!"
"Sama-sama Tuan!"
"Ma'af merepotkan mu, seharusnya Vano yang menjemput ku!"
"Tidak apa-apa Tuan, semalam Vano masih berada di kantor sebab pekerjaan yang sangat menumpuk. Saya melihat Vano sangat lelah, makanya saya berinisiatif untuk menjemput Tuan Reno."
"Watak dan sifat Vano sama seperti ku, seorang pekerja keras dan bisa diandalkan. Kalau sudah gila kerja lupa dengan segalanya."
"Seperti kata pepatah tuan, Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya."
"Kau benar sekali Dev!
""TOLONG.......!!!!!
"LEPASKAN..... TOLONG....!!!!
Seketika Dev menghentikan lajunya.
"Sepertinya ada seorang wanita minta tolong, Tuan?!
"Wanita itu! seru Reno, lalu dengan cepat Reno membuka pintu mobil dan berlari kearah Tiffany.
"Tuan Reno anda mau kemana?!"
Terpaksa Dev juga turun dari mobil dan mengejar Reno kearah suara wanita itu minta tolong.
💜💜💜
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
__ADS_1
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersambung....