Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Mulai ada titik terang


__ADS_3

"Cepet! waktu mu hanya lima menit untuk pakai celana panjang dan sepatu."


"Dasar sinting!" maki Dev kesal seraya membuka pintu mobil dan menutupnya.


"BRAKK!!


Gegas Dev berlari kearah tangga darurat, menghindari pandangan mata orang yang sejak tadi memperhatikan nya. Vano terus terpingkal-pingkal karena sudah berhasil mengerjai sahabatnya.


Lima belas menit kemudian Dave masuk kembali kedalam mobil.


"Hey! kau ngapain ajah lama bnget, ku suruh cuma lima menit, ini terlambatnya sepuluh menit!'


"Diam kau Van! mau aku lempar keluar melalui jendela?! lima menit aku mandi dulu, lima menit sarapan roti, sisanya aku turun dari lift!"


"Seharusnya kau loncat dari atas biar cepat sampai, nggak perlu nunggu lama!"


"Dasar Bos nggak ada akhlak! kau mau suruh aku mati mendadak terus jadi hantu gentayangan!" omel Dev, dengan kesal ia menyalakan starter dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Melihat sahabatnya kesal, Vano hanya tertawa jahat dalam hati. tiba-tiba ada polisi tidur didepan dan dev masih melaju dengan kecepatan tinggi tanpa pelan kan lajunya.


"DUG!


"Woooiiiii... pelan-pelan bawa mobilnya! lihat nih kepala ku kejedot jendela mobil!" pekik Vano.


"Sorry Bos sengaja! tukas Dev tanpa dosa.


Tangan Vano spontan nyonyor kepala Dev "Dasar asisten nggak ada akhlak!"


Kini balik Dev yang terbahak melihat Bos nya meringis dan menahan kesal.


Sungguh mereka adalah dua sahabat yang sama-sama jahil dan nggak ada yang mau mengalah, namun mereka sangatlah kompak dan setia.


Mobil sudah memasuki gerbang perkantoran "MG" seorang bodyguard membukakan pintu untuk sang CEO. Vano dan Dev berjalan beriringan menuju ruangan mereka yang berada di lantai paling atas. Belum banyak karyawan yang datang pagi itu, hanya beberapa orang yang sudah hadir untuk piket.


Jam sudah menunjukkan pukul 6.20 wib. Vano memasuki ruangan nya di ikuti Dev.


"Dev!


"Ya!


"Coba kau buka di laptop ku dan kau lacak peta ini!" Vano mengeluarkan sebuah peta dari saku bajunya.


"Peta apa Ini Van?!


"Nanti aku ceritakan, sekarang cepetlah kau cari dan pelajari peta ini, sepertinya ini sebuah petunjuk."


"Kau itu lebih pintar dan hebat dari aku Van, di sekolah dan kuliah pun selalu juara kelas, lebih baik kau yang cari aku akan bantu pecahkan masalahnya."


"Buat apa aku punya asisten, bodoh! kalau kau saja tidak becus kerja! bentak Vano.


Melihat kemarahan sahabatnya, membuat Dev ciut. "Ehh, aku cuma becanda ajah Bos, ini sih pekerjaan mudah, aku pasti bisa!" hehehehe... Dev terkekeh untuk menutupi ketegangan nya "Astaga setan nya sudah muncul lagi, kalau lagi marah! pekiknya dalam hati. Dengan cepat Dev membuka laptop dan mulai bekerja dengan cepat.


Sementara Vano sibuk membaca berkas-berkas pekerjaannya yang sudah menumpuk. Hingga satu jam kemudian.

__ADS_1


"Bagaimana sudah ketemu?


Dev mendesah pelan "Sepertinya ini sebuah teka-teki, ada seseorang yang sudah merubah nama desa ini, aku sudah mencarinya berpuluh kali di Mbah guling, tapi tidak ada nama desa dan kecamatan ini.


Vano terdiam dan terus mengamati peta itu. "Aku pernah mendengar nama desa ini di dalam flashdisk, tapi aku lupa menaruhnya. sebelum aku berangkat ke Jerman, aku menaruhnya di suatu tempat.


"Kalau kau menyimpannya, kau harus mengingat kembali flashdisk itu. Tapi tunggu, kau bisa jelaskan peta apa ini? supaya aku bisa bantu pecahkan juga."


Vano menatap Dev tajam, lalu mendesah pelan "Ini adalah sebuah rahasia aku dan Vana, kejadiannya saat kami berusia 12 tahun."


Mereka berdua duduk di sofa dan Vano mulai menceritakan semuanya pada Dev. Dev yang mendengarkan cerita Vano terlihat terkejut dan sesekali melebarkan matanya karena ngeri. "Seperti itu kejadiannya, aku harap kau jangan bocorkan pada siapapun. Daddy dan Mommy saja tidak tahu tentang peta ini, tapi semalam aku menyinggung tentang Genk kobra dan kalajengking pada Daddy."


"Terus apa jawaban Daddy tentang Genk kalajengking itu?"


"kalau aku sudah tahu dari Daddy tidak mungkin aku mencari tahu sendiri!


Dev hanya manggut-manggut "Jadi kau belum tahu pasti siapa Bos kalajengking itu? atau kau ada filing siapa orang tersebut?"


Vano menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar "Sulit untuk menebak pria di balik topeng itu, cuma yang aku ingat selain ia bertato kalajengking di punggung tangannya, ia memakai kalung batu safir biru di lehernya."


"Kalung safir biru?! seru Dev tiba-tiba dengan ekspresi kaget.


Vano mengeryitkan alisnya dan menatap bingung dengan ekspresi Dev "Kenapa Dev?apa kau pernah mendengar kalung safir biru?"


"Batu safir permata biru pernah ibu berikan padaku saat aku akan menyusul Vano ke Jerman, kata ibu hanya ada dua di dunia ini yang memiki batu safir itu." gumam Dev dalam hati.


"Dev! kenapa kau diam?!


Sontak Dev terperangah dan membuyarkan lamunannya "Tidak! tidak mungkin itu sama dengan milik ku, banyak di dunia ini batu tiruan."


"Ahh! tidak ada!


"Batu tiruan apa yang kau maksud?! tanya Vana mengintimidasi.


"Anu.." Deve menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Tidak! Vano tidak boleh tahu kalau aku memiliki batu safir biru." gumam nya.


"Ck! Dev! kau ini kenapa sih!


"Maksud aku, mungkin saja batu safir yang pria kalajengking itu pakai tidak asli!"


"Bagaimana kau sampai berpikir seperti itu? aneh! Vano berdecak seraya beranjak dari Sofa dan duduk di kursi kebesarannya.


"Aku penasaran dengan peta ini, sepertinya seseorang sengaja memberikan peta ini pada adikku, pasti seseorang ini tahu kalau aku dan Vana telah menemukan flashdisk itu."


"Berhati-hatilah Van, bisa saja ini jebakan!


"Aku paham Dev! terus lah kau lacak alamat yang tertera di peta ini."


"Tunggu Van! Devan berjalan mendekat "Sepertinya aku melihat sebuah kode di pinggir peta ini. coba kau tekan jari telunjuk mu, seperti tulisan timbul yang tidak terlihat."


Vano mengikuti arahan Devan "Kau benar Dev! ini seperti tulisan timbul tapi tidak terlihat oleh mata, namun tersentuh tangan."


Wajah Vano berbinar cerah "Dev! ini adalah jawaban nya, ayo kita pecahkan teka-teki ini!

__ADS_1


"Baiklah!"


"Kau memang Junius, nggak salah mata mu ada empat."


"Jangan mulai lagi bro! apa mau kau di lempar dari balkon." cetus Dev tanpa dosa.


"Jangan kejam-kejam sama bos sendiri, ayo kita lakukan sekarang!"


Ceklek!


"Sayang....."


"Bella...?!


"Kenapa terkejut? apa kedatangan ku tidak di inginkan?!"


"Bukan begitu honey, kenapa kau tidak beritahu dulu Kalau mau datang."


"Van, aku keruangan ku dulu, nanti saja kita selesaikan." bisik Dev.


Vano mengangguk seraya berjalan kearah Bella.


"Bila kedatangan ku mengganggu aku akan keluar dulu."


"No, honey! Vano merangkul pinggang Bella dan mencium keningnya "Ayo duduklah."


"Pagi Bella! sapa Dev saat sudah di depan pintu.


"Pagi juga Dave, maaf mengganggu kalian."


"Tidak ada yang terganggu, silakan di lanjut. Aku kerungan ku dulu."


"Okay, selamat bekerja Dev!


Setelah kepergian Dev, Bella mengeluarkan kotak makanan dari Paper bag. "Aku buatkan makanan ini khusus untuk mu, pasti kau menyukainya."


"Apa ini baby?


"Buka lah!


"Woww Moqueca. pasti ini sangat lezat." dengan semangat Vano membuka tutup itu. "Kebetulan sekali aku sangat lapar dan belum sarapan."


"Biar aku yang suapin." pinta Bella dan mengambil kotak makan itu lalu dari vano, lalu menyendok kan ke mulut vano.


"Sangat lezat, apa ini kau yang masak Bell?


"Tentu saja, kau pikir aku tidak pandai memasak? ini masakan dari negara ku Brazil."


"Aku percaya padamu sayang." puji Vano seraya mengusap lembut kepala Bella.


(Moqueca adalah makanan berkuah yang berisi aneka seafood dan sayuran)


💜💜💜

__ADS_1


@Bersambung


__ADS_2