
"Kau benar Dek!. Kita harus berhati-hati, mulai sekarang kau harus terus di dampingi bodyguard."
"Bodyguard..? tiba-tiba Vana teringat akan sosok pria yang sudah menyakiti hatinya sehingga ia belum bisa muve-on dari masa lalunya.
Vano merangkul pundak adiknya dan meninggalkan tempat itu.
Dua hari kemudian, Vano dan Devan berpamitan untuk meneruskan sekolah S2 nya di Inggris. University Oxford adalah sekolah unggulan di Eropa yang memiliki nama besar dengan kualitas terbaik.
Sebelum berangkat Vana mendatangi kamar kakaknya untuk berbicara.
"Kak! panggilnya saat membuka pintu kamar.
"Iya Dek!
"Boleh aku bicara? belum terlambat kan untuk sampai ke Bandara."
"Masih ada waktu empat jam lagi sebelum berangkat."
Vana berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang "Kak, apa kakak sudah jadian dengan Bella? aku tidak ingin kakak terburu-buru dalam ambil keputusan, kalau sudah yakin tidak apa-apa, Bella itu sahabat ku. Jangan sakiti dia."
Vano mendesah pelan dan terdiam sambil mengeratkan kedua tangannya.
"Kak! kenapa diam? tolong jujurlah pada hati kakak sendiri, kasihan Bella kak. jangan memberikan harapan padanya."
"Ma'afkan kakak, bukan ingin permainkan perasaan Bella, Kakak sedang belajar mencintainya."
Vana menaikan satu alisnya "Maksud kakak bagaimana? itu artinya kakak tidak benar-benar Cinta dan menerima Bella, perasaan kakak pada Bella karena sudah menolong kakak?"
"Bukan begitu Dek? butuh waktu untuk bisa meyakinkan hati sendiri, kakak sayang sama Bella, tapi entah perasaan cinta atau perasaan kasihan? kakak tidak mau Bella terluka dan menderita karena kakak? bukan berarti kakak tidak menyukai Bella, kakak hanya ingin belajar mencintainya dan meyakinkan hati kakak, kalau Bella adalah takdir kakak kelak. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup."
"Bukankah membangun sebuah hubungan yang di dasari atas kebohongan tidak akan baik? Maaf, Vana bukan menyudut kakak."
"Huftt...!!Hela nafas Vano. Vano merangkul pundak adiknya "Percayalah, kakak hanya butuh keyakinan saja, kakak tidak akan pernah meninggalkan Bella."
"Van! kita sudah ditunggu dibawah, sebentar lagi berangkat." tukas Devan dan di anggukan oleh Vano. Ia memakai tas ransel kebelakang punggungnya. Vano dan Vana menuruni anak tangga.
Setelah makan bersama, mereka semua mengantar sampai teras.
"Mom! Dad! Vano berangkat dulu ya."
Reno membuka kedua tangannya, dan sebuah pelukan hangat ia berikan pada anak lelakinya. saling rangkul dan berpelukan "Jaga dirimu baik-baik Nak, Daddy hanya bisa do'akan yang terbaik untuk mu dan Devan."
Kini Vano beralih memeluk Delena erat, "Sering-sering hubungi keluarga, Ingat Nak jangan buat masalah di negara orang."
"Iya Mom! semua nasehat Mommy akan Vano ingat."
Devan pun berpelukan pada kedua orang tua Vano, bagi Reno dan Delena, Devan sudah menjadi anak angkatnya.
"Tegur Vano kalau ia salah. Tante minta kalian harus terus bersama." tukas Delena mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Pasti Tante, Vano adalah BESTie yang tidak bisa di pisahkan, kami akan selalu bersama."
"Jaga dirimu baik-baik Dek! kakak sayang padamu." Vana berhambur memeluk sang kakak yang hanya singkat pertemuannya. Tujuh tahun lamanya mereka berpisah, kini Vana harus ikhlas melepas kepergian Vano.
"Kakak juga jaga diri baik-baik." Vano tersenyum seraya mencium kening adiknya "Tentu saja, kakak laki-laki pasti bisa jaga diri, kakak justru khawatir padamu, baru saja kejadian kemaren membuat kakak tidak tega jauh darimu."
"Kakak tenang saja, aku akan berusaha jaga diri sendiri. Daddy sudah buat keputusan mutlak, kemanapun aku pergi akan selalu ada bodyguard yang menjagaku."
"Itu karena Daddy tidak ingin anak kesayangan nya mendapat masalah lagi. Sekarang kau harus turuti maunya Daddy, jangan keras kepala, okey?" Vano mengacak pucuk rambut adik kembarnya.
"Zidane! ingat pesan kakak, jangan main VS hingga larut malam, sekarang banyak pocong gentayangan."
"Ish Kakak! malah nakut-nakutin ada pocong sih! Zidane mendengus kesal. Vano terkekeh seraya mencium pipinya gemes.
"Dimana Savira...? Vano tidak melihat Savira ada diantara mereka.
"Savira? Delena celingak-celinguk mencari anak angkatnya "Tadi ada kok?
"Biar aku panggilkan!"
"Nggak usah Dek! biar kakak ajah yang kedalam." Vano melangkahkan kakinya masuk kedalam dan mencari sosok adik angkatnya.
CEGLEK
"Savira...? Vano berjalan mendekat saat melihat Savira duduk dilantai sambil membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
"Dek! kau kenapa? Vano mengusap rambut Savira "Kakak berangkat ya.." terdengar suara isakan tangis Savira.
Vano menarik Savira dalam pelukan, walau Savira terus berontak dan mendorong dada bidang Vano. Tiba-tiba Vano mencium bibir Savira agar ia diam dan tidak berontak lagi. Savira membelalakkan matanya, baru seumur hidupnya ia mendapat ciuman dari seorang pria. Ya pria yang mulai mengisi hatinya dan membuatnya patah hati karena kakak angkatnya mencintai wanita lain. Savira terdiam dan menikmati ciuman Vano yang lembut dan hangat. Vano pun sama baru sekali ia menyentuh bibir wanita, saat bersama Bella ia hanya mencium kening dan pipi saja."
"Kak__ tiba-tiba Vana terkejut saat melihat adegan ciuman kakaknya dan adik angkatnya. Pintu kamar tidak tertutup sempurna, Vana langsung masuk kedalam ingin mengingatkan kakaknya untuk berangkat, Namun yang ia lihat sebuah adegan mesra. Vana takut ke-dua orangtua melihat adegan ciuman itu.
"Ekhem...!!
Suara deheman Vana menghentikan aktivitas mereka berdua. Savira tertunduk malu dengan wajah merona karena ketahuan berciuman.
"Kak! cepatlah sudah ditunggu untuk segera berangkat."
"Iya Dek!
"Sebenarnya siapa yang kau cintai kak?! lirihnya di sela langkahnya meninggalkan kamar Savira.
"Dek! Vano menarik dagu Savira dan menatap bola mata beningnya "Jaga dirimu baik-baik, kalau kau bosan sendri bisa hubungi kakak untuk teman curhat. Meskipun kakak jauh tapi selalu ada buatmu, jangan menangis lagi ya.. nanti cantiknya hilang." goda Vano terkekeh. Savira tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah kakak berangkat, ya?" Vano mencium lembut kening Savira untuk terakhir kalinya, dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Vano dan Devan melambaikan tangan saat mobil meninggalkan mansion.
~New York~
__ADS_1
"Cepat dobrak saja pintunya! seru Zara. Dua pria bertubuh kekar mendobrak pintu apartemen miliknya yang dikuasai Nessa.
"BRUKK! BRUK! BRUK!"
Dalam tiga kali tendangan pintu itu terbuka lebar. Zara masuk kedalam dan masuk kedalam kamar Zara. Ia membuka lemarinya dan memasukkan semua pasangan kedalam koper.
"Cepat bantu aku untuk mengeluarkan barang-barang ini! perintah Zara "Dan keluarkan semua perabotan nya. Tidak... tidak! Semua perabotan disini milik ku semua, dia hanya membawa pakaian saat datang ke apartemen ku!
"ZARA!!!! teriak seorang wanita yang sudah pasti Zara tahu pemilik suara itu.
"Ssstttttt.....!! jangan berisik! bentak Zara
"Apa-apaan kau ini! tega ya loh mau usir gua!"
"Terserah gue! udah sering gua peringatin loh untuk pergi dari sini! tapi loh pura-pura budeng dan kabur terus. Sekarang gua nggak salah donk dobrak apartemen gua sendiri!
"Gua nggak akan pergi dari sini!! teriak Nessa.
"Emangnya loh siapa? keluarga bukan, saudara bukan?!
"Tapi gue ini sahabat loh!
"Apa loh bilang? sahabat! Najis tau nggak gua punya sahabat macam loh! nggak tahu diri dan suka merebut milik orang!"
"Seharusnya loh juga tahu diri kalau Darren cintanya sama gua bukan sama loh!!!"
"Asal loh tahu, gue bersyukur banget kalau Darren lebih milih loh daripada gue! karna kalian sama-sama sampah yang menjijikkan!!
"B4NGS4T LOH! teriak Nessa tidak terima.
"Cepat lempar koper itu keluar! perintah Zara pada dua orang bodyguardnya.
Dua pria itu menyeret koper Nessa keluar apartemen.
"Hey! berhenti! jangan seenaknya kalian bawa koper gua! bentak Nessa menarik koper itu dari tangan Pria berperawakan besar.
"ZARA! gua akan telpon Om dan Tante Siska, biar mereka tahu kelakuan buruk loh disini!
"Silakan! loh pikir nyokap bokap gua bakal percaya dengar ocehan mulut loh! tukas Zara santai.
"Gembok pintunya biar tidak ada lagi yang berbuat kotor di apartemen ku! sindir Zara pada dua bodyguard-nya.
Zara melempar tatapan sinis pada Nessa "Siapa yang menabur, dia akan menuai hasil perbuatannya sendiri! mintalah tempat tinggal pada kekasih mu!" Usai berbicaralah Zara berlalu meninggalkan Apartemennya.
"BRENGSEK KAU ZARA! TUNGGU LAH PEMBALASAN KU!!! umpat Nessa menendang kopernya sendiri.
💜💜💜💜
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian 😍😘
__ADS_1
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
@Bersmbung....