Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kabar Baik


__ADS_3

Ketiga Dokter itu kembali memeriksa keadaan Zevana dan berharap ada keajaiban untuk wanita yang berbaring lemah diatas pembaringan.


Nathan terus memberikan kekuatan batin pada Vana. Mentransfer energi positif ke hati wanita cantik tersebut. Tak henti-hentinya ia berdoa dalam hati dan memohon pada pemilik sang kehidupan untuk menyembuhkan kekasihnya.


"Kenapa kau masih di situ! tanya Dr Irwan, mendekati Pria yang masih berdiri di tepi ranjang. Tangannya masih menggenggam erat jemari lentik Vana.


"Bila tidak ada kepentingan. Pergilah, ini ruangan kelurga besar tuan Reno, tidak sembarang orang bisa masuk!


Nathan bergeming tanpa peduli dokter Irwan mengusirnya. "Izinkan aku tetap disini. Sampai Dokter Vana terbagun." pintanya penuh permohonan.


"Hey! memang nya kau ini siapa nya Dokter Vana? hardik dokter Irwan geram.


"Lebih baik kau bantu menolong Dokter Vana, daripada marah-marah! tukas Nathan mulai meninggikan suaranya.


Dokter Irwan mulai terpancing emosi, ia menarik kerah baju Nathan "Apa urusan mu, Hah! kau itu siapa? apa jangan-jangan kau penyusup yang ingin melukai Dr Vana."


Nathan menarik kasar tangan Dr Irwan dari kerah bajunya "kau akan menyesal bila tahu siapa aku? aku orang yang paling dekat Dr Vana."


Dr Irwan tersenyum sinis dan menarik masker yang menutupi wajahnya.


"Cih! ternyata kau orang bule!


"Lebih baik panggilkan saja bodyguard dan usir pria ini dari ruangan ini! Dr Haris menimpali. Baru saja bicara, seseorang membuka pintu kamar. Dua orang pria bertubuh kekar masuk kedalam ruangan Vana. Rupanya Dr Haris sudah lebih dulu meminta bodyguard mengusir Nathan dari ruangan Vana.


"Kalian ini ngapain saja kerjanya?! masa ada penyusup masuk nggak tahu! umpat Dokter Agung kesal.


"Maaf Dok, saya tidak tahu kalau ada penyusup masuk keruangan dokter Vana."


"Bawa pergi penyusup itu! perintah Dokter Irwan yang sejak tadi benci pada Nathan.


"Saya bukan penyusup! pekik Nathan kesal. kedua bodyguard itu menyeret kedua tangan Nathan untuk keluar. Sebenarnya bisa saja Nathan berontak dan menghajar bodyguard dan dokter Irwan, namun ia tidak mau melakukan itu, apalagi Vana dalam keadaan kritis. Nathan tidak ingin membuat kekacauan melihat kondisi wanitanya yang sedang bertarung melawan maut.


"Alea, bangun lah..."


"Ayo keluar dari tempat ini! seru bodyguard itu lagi, suara bariton nya terdengar marah.


"Tunggu! Tadi aku merasakan jemari tangan Alea bergerak."


"kau jangan berdusta! pergi.. jangan buat kekacauan di ruangan ini!" bentak Dr Irwan menatap tak suka pada Nathan

__ADS_1


"Aku tidak berdusta! kau cek saja sendiri!" Nathan terus meyakinkan.


Tak ingin mendengarkan cerita Nathan Pria bertubuh kekar itu terus memaksa Nathan untuk keluar "Berani-beraninya kau menyusup ruangan private Dokter Vana!" seru bodyguard itu terus menyeret Nathan untuk keluar.


"Alea... dengar suara ku. Aku sudah kembali!" teriak Nathan saat sudah berdiri dekat pintu, bodyguard itu membuka gagang pintu dan mendorong tubuh Nathan untuk keluar.


Gerak langkah panjang sepatu pantofel terdengar ringan memasuki lorong rumah sakit, hingga langkah mereka berhenti di ruangan private dimana Vana sedang di rawat.


Vano dan Dev melangkah masuk setelah satpam membuka pintu kaca. Saat ia berjalan berpapasan dengan Nathan yang masih di tarik paksa oleh kedua bodyguard itu. Vano dan Dev menoleh sekilas, lalu melanjutkan langkahnya kembali.


"Siapa dia? tanya Nathan pada Dev.


"Entahlah! Devan mengangkat bahunya


"Tunggu! sepertinya aku mengenali pria itu, tapi di mana?! pikir Dev, disela langkahnya masuk ke dalam ruangan Vana.


"Ada apa? tanya Vano "Siapa pria tadi! ucapnya lagi.


"Entahlah Tuan, kami juga tidak tahu laki-laki itu, tiba-tiba dia masuk kedalam kamar dan menggenggam tangan Dr Vana."


Dave mengeryitkan keningnya "Keterlaluan! kenapa kalian biarlah orang lain masuk kedalam ruangan adikku, bagaimana kalau laki-laki tadi penyusup yang ingin mencelakakan adikku! hardik Vano menatap tajam tiga Dokter di depannya.


Vano menghembuskan nafas gusar "Sekarang bagaimana keadaan adikku! Vano berjalan mendekat dan melihat kondisi sang adik masih sama seperti tadi.


"Tadi Dr Vana sempat tidak bergerak detak jantungnya, dan urat nadinya juga sudah berhenti. Tapi, kenapa sekarang detak jantungnya bergerak dan nafasnya masih ada walau hanya pelan?" ucap Dokter Agung terkejut, ia menatap tak percaya pada layar monitor di depannya, yang mulai bergerak grafiknya turun-naik mengikuti nafas Vana.


Dokter Irwan dan Dr Haris sama terkejutnya. Untuk memastikannya, Dr Irwan mendekatkan telinganya di letak jantung Vana. Terdengar denyut jantung dan nafas pelan Vana di gendang telinganya. Tentu saja Dokter Irwan membulatkan matanya, tiba-tiba ia merinding dan memegang tengkuk nya yang mulai meremang. "Ternyata benar Dr Vana masih hidup." gumam nya pelan.


"Sungguh ini suatu keajaiban Tuhan." Dr Agung bernafas lega.


"Tunggu, Ada apa sebenarnya? kenapa wajahmu seperti melihat hantu!" Vano menyindir Dr Irwan yang sejak tadi bersikap aneh.


"Sepertinya ini ajaib, Dokter Vana mulai hidup kembali." Dr Haris berkata dengan jujur.


Vano mengeryitkan keningnya "Apa maksud nya hidup kembali? bukankah adikku masih hidup?! hardik Vano menatap satu persatu dokter di depannya.


Seketika mereka bertiga gugup dan terlihat gusar. "Apa aku sudah salah bicara? batin Dr Haris lirih.


"Waduh gawat kalau Tuan Vano sudah mengamuk!" umpat Dr Irwan dalam hati.

__ADS_1


"Coba jelaskan, maksud kalian itu apa?! vano masih tidak paham dengan maksud ketiga dokter tersebut.


Dr Agung menghela nafas panjang. Mereka bertiga saling tatap satu sama lainnya. Akhirnya Dr Agung mengangguk untuk memberikan penjelasan pada Vano.


"Begini tuan Vano? Tadi dua jam yang lalu, saat anda keluar ruangan bersama tuan Dave. Tiba-tiba nafas Dr Vana berhenti, Kami sudah berusaha memompa jantung nya, namun tidak berhasil. Dalam keadaan panik, tiba-tiba masuk seorang pria dan menggenggam tangan Dr Vana, lalu kami mengusirnya karena tidak mengenal Pria asing itu."


"Pria yang keluar tadi? tanya Vano penasaran.


"Iya tuan!


Vano menarik nafas dalam-dalam dan berkata "Dev! lacak identitas Pria yang baru saja masuk kamar Vana, aku tidak ingin ada pengacau di rumah sakit ini, dan perketat penjagaan!"


"Oke, nanti aku lacak. Aku akan melihat Pria itu melalui cctv."


"Vana..." Vano mengusap lembut pucuk kepala sang adik dan mendaratkan ciuman di kening Vana. "Cepatlah bangun Dek, Semua menyayangi mu."


"Alhamdulillah, tubuh Dr Vana mulai berkeringat, itu tandanya ia sudah membaik, walau belum hilang kesadaran nya." Dr Agung mulai memberikan prediksi nya.


"Semoga Vana bisa melewati semua ini dan kembali kumpul bersama kita lagi." ucap Devan menyunggingkan senyuman.


Akhirnya Vano bisa bernafas lega.


Drett


Drett


Ponsel Vano bergetar, ia merogoh ponsel dalam saku celananya dan menatap nama si penelpon di layar ponsel."


"Bella...."


💜💜💜


@Udah 2 bab hari ini. Benar-benar estafet demi memanjakan kalian 😍😂


Jangan lupa follow IG dan tiktok bunda ya beb... Demi kalian bunda sampai gak live streaming hari ini 🤣🤣


@Jangan lupa follow IG Bunda 😍 ( @bunda. eny_76)


@Follow juga tiktok bunda ( Eny. 76 shop)

__ADS_1


BERSAMBUNG 😍😍


__ADS_2