
"Alea, aku sangat mencintaimu, sungguh...! tidak ada satu wanita pun yang bertahta di hatiku, bangun lah aku sudah kembali dan takkan pernah meninggalkan mu lagi, meskipun nyawa adalah taruhannya."
Nathan mengusap airmata dengan punggung tangannya, tanpa ia sadari jemari Vana bergerak, ia merasakan pergerakan tangan kekasihnya. Nathan menunduk dan melihat jemari tangan Vana bergerak-gerak. Dada Nathan membuncah saat melihat kekasihnya mulai merespon ucapannya.
"Alea.. kau bangun sayang...."
Nathan tersenyum bahagia melihat pergerakan tangan Vana. Digenggam nya jemari tangan wanita yang telah meluluhkan hatinya "Alea.. aku ada disini, selalu dekat denganmu. Aku sangat merindukan mu." Nathan menciumi tangan Vana. walau wanita itu belum membuka mata, tetapi ia yakin kekasihnya pasti mendengarkan suaranya di alam mimpinya. Hati Nathan merasakan getaran hangat di sekujur tubuhnya.
Tubuh Nathan bergetar manakala Vana merespon genggaman nya. Vana memberikan gerakan jemarinya dan seakan mengatakan bahwa ia masih hidup "Ayo buka matamu sayang, lihatlah aku.. sudah berada di.dekat mu."
Nathan melihat kelopak mata Vana bergerak-gerak, hatinya berdenyut-denyut seperti ia ingin membuka matanya yang sangat berat, lalu menatap dunia kembali.
JEGLEK!
Muncul sosok laki-laki yang ingin Nathan hindari sejak dulu. Sontak Nathan melepas tautannya dan memakai masker nya kembali. ia berpura-pura melihat urat nadi Vana.
"Bagaimana Mas, apa kau sudah periksa keadaan adikku?
"Su-dah Tuan.." ucapnya tercekat
"Cepatlah pergi, jangan terlalu lama disini. Aku tidak ingin banyak orang yang datang kerungan private adikku!
Nathan mengangguk pasrah, hatinya terasa perih. Ditatapnya wajah kekasihnya yang masih terpejam "Ma'afkan aku Alea, aku harus segera pergi, Aku tidak ingin ada pertengkaran disini, lebih baik aku mengalah demi kebaikan mu." lirihnya dalam hati
Nathan menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan agar bisa mengendalikan perasaannya yang berkecamuk. Ia melangkah pergi dengan mendorong meja roda, walau sebenarnya enggan untuk meninggalkan Vana
"Saya permisi dulu tuan?
Vano hanya mengangguk dan berjalan ke arah ranjang sang adik. saat itu Vano melihat Nathan masih berdiri didepan pintu.
"Apalagi yang kau tunggu? silakan keluar dari ruangan ini!' seloroh nya.
Dengan perasaan sedih Nathan membuka handle pintu dan melangkah keluar. "Sabar Nathan, kekasih mu pasti baik-baik saja." Nathan bermonolog sendri seraya menjauh meninggalkan ruangan Vana.
Mata Vano terkejut saat melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak? ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau sang Adik sedang mengerjab-ngerjabkan matanya.
"Vana.....!
"Dek, kau sudah bangun..?! saking terkejut dan bahagia nya Vano berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.
"Dokter. .. dimana dokter...?! seru Vano di sela-sela langkahnya.
"Tuan, kenapa berlari-lari? tanya satpam penjaga yang melihat kehebohan Vano. "Cepat! panggilkan Dokter, sekarang! ucapnya dengan nafas tersengal.
"Ba-ik Tuan...! gegas satpam itu berjalan cepat menuju ruangan Dokter.
Suara derit pintu mengalihkan pandangan Vano ke arah dua orang dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan Vana.
"Tuan Vano..."
__ADS_1
”Apa yang sudah terjadi dengan dokter Vana." Dokter Agung dan Dokter Nella berjalan mendekat.
"Lihatlah, Adikku sudah bisa menggerakkan jemari tangannya dan tadi matanya sudah bisa mengerjab-ngerjabkan." cerita Vano antusias
Dokter Agung memeriksa kondisi Vana dengan teliti "Alhamdulillah kondisinya mulai membaik, jantungnya berdetak normal." ucapnya, seraya menarik nafas lega
Seketika Vana membuka matanya perlahan, cahaya sinar lampu masuk kedalam bola matanya, warna-warni di sekitar mata berubah menjadi putih dan terang. Vana mulai mengamati satu-persatu orang-orang yang berdiri di sampingnya.
"Kak Vano..." gumam gadis itu pelan, namun masih bisa terdengar di kuping Vano.
"Dek! kamu sudah bangun? ucap Vano riang. seulas senyum sumringah terbit di bibir Vano.
"Alhamdulillah..." ucap Dr Nella dan Dr Agung bersamaan.
"Terima kasih ya Allah... akhirnya kau sadar juga Dek, sudah satu minggu kau tidak sadarkan diri Dek. Sungguh Kak Vano sangat khawatir dan takut kehilanganmu." sudut mata Vano mulai berair di genggam nya tangan sang adik, lalu diusapnya pucuk kepala sang adik penuh kasih sayang. Vana tersenyum tipis di bibir pucat nya.
"Dimana kak Nathan?! tanya Vana tiba-tiba.
Vano menautkan kedua alisnya menjadi lipatan "Siapa Nathan?! tanya Vano balik, kedua dokter itu pun saling bersitatap.
"Dek, kau sedang tidak bermimpi kan?
Vana menggeleng pelan "Tadi ia berada di sini menemani ku." ucapnya lagi.
Vano mendesah pelan, ditatapnya wajah sang adik yang masih terlihat lemah dan pucat. "Disini tidak ada siapa-siapa selain kak Vano dan Bella. Sejak tadi Bella menunggumu, ia baru saja pulang."
Vana terdiam, ia masih terus mengingat kejadian yang baru ia alami, dirinya tidak bohong. ia merasakan kehadiran Nathan di samping nya.
Dua orang laki-laki merapatkan long coat mereka, sementara Sabrina memakai jaket kulit yang melekat di tubuhnya. Bulan Februari adalah puncak musim dingin di Amerika Selatan, apalagi negara yang sebagian wilayahnya masih berupa hutan. setelah melewati ribuan jam untuk sampai di bandara John F Kennedy. ke-empatnya beristirahat sejenak untuk melanjutkan penerbangan ke bandara Colorado, agar sampai dengan cepat ke negara yang terkenal dengan gembong narkoba nomor satu di dunia.
Dua mobil Jeep yang membawa empat orang berbeda usia itu segera melaju meninggalkan bandara Colorado menuju tempat yang sangat jauh. Butuh perjalanan selama 5 jam untuk sampai ketempat tujuan. Medan yang dilalui pun tidak main-main, perkotaan lalu masuk ke perkampungan, menyeberangi beberapa sungai lalu masuk lagi kedalam hutan rimbun.
"Apa Paman baik-baik saja? tanya Steve yang melihat wajah murung Reno dengan ekspresi tegang.
Reno hanya terdiam, entah lah begitu banyak yang sedang ia pikirkan.
"Paman! Udaranya sangat dingin, kita bisa mati beku di sini." Steve mencoba berkelakar karena sejak tadi berangkat, Reno lebih banyak diam.
"Akan sangat memalukan sekali seorang Macan Asia mati beku hanya karena tidak kuat menghadapi udara dingin! Reno menyindir dengan keras membuat Steve tertawa.
"Wah Paman sangat humoris dan luar biasa." celetuk Steve, tetapi senyuman nya perlahan pudar ketika tatapan tajam Reno mengarah padanya.
"Aku sedang memikirkan bagaimana kita bisa meloloskan anak ku Zidan! kau tahu sendiri bukan? seperti yang sudah kita lacak, ternyata genk kalajengking memiliki organisasi yang sukar untuk disentuh, Kelompok mereka memiliki bisnis haram!"
Steve mengangguk "Benar paman! apakah Genk kalajengking sengaja ingin menjerumus kan pengaruh paman sebagai Genk kobra dan Naga hitam, agar Paman ikut bekerja sama menjual bisnis haram nya, dengan cara menukar Zidan?"
Reno tertawa garing "Apa yang kau pikirkan sama dengan ku! aku suka anak secerdas dirimu, seakan kau sudah bisa membaca pikiran ku."
Sementara itu, Sabrina mengikuti jeeb di depannya. Ia sengaja menaruh Yanto di jok belakang dengan tangan dan kaki terikat tali tambang.
__ADS_1
"Hay! ikatan ini sangat kuat sekali sampai aku tidak bisa bergerak!" pekik Yanto yang terlihat gusar, posisi tubuhnya bergerak kesana-kemari.
"Berisik sekali kau! bentak Sabrina yang tidak ingin pikiran di kacau kan.
"Nona, Bagaimana kalau kita buat penawaran saja! kau bebaskan aku dan kita bekerja sama dengan genk kalajengking. Mereka memiliki kekuasaan penuh di berbagai negara, dan Nona akan mendapatkan kenyamanan serta kekuasaan bila bergabung dengannya."
Sabrina menyunggingkan senyuman licik "Sungguh kasihan tuan mu, mendapatkan seorang kacung penghianat seperti mu! kupikir kau menyesal dengan menghianati tuan mu Reno, tapi nyatanya kau masih berharap menjadi kaki tangan Genk kalajengking! Sabrina berdecih
"kau tahu? aku tak ingin selamanya menjadi budaknya Reno! Aku lelah bekerja dengan dia bertahun-tahun hanya menjadi seorang supir!
"Apa yang sudah kau dapatkan selama bekerja dengan genk kalajengking selama 5 tahun."
"Tentu saja banyak keuntungan yang aku dapatkan. keluarga ku makmur, di kampung aku memiliki rumah yang mewah, beberapa mobil dan motor, bahkan punya ribuan petak sawah yang tentu saja hasil dari bekerja sama dengan Genk kalajengking."
Sabrina mengangguk, tatapannya masih tertuju pada mobil yang melaju di depannya.
"Memang sudah seharusnya Reno membuangmu, karena kau tak pantas hidup lebih lama lagi!
"Apa maksud nona?! kau mengancam ku!
"Seharusnya kau meminta pengampunan pada tuan mu Reno, hanya dia yang bisa menolongmu, tetapi rasanya tidak mungkin lagi dia akan mengampuni mu, kau akan menyesal setelah ini!"
Terdengar helaan napas panjang dari belakang punggung Sabrina.
Tidak terasa kendaraan yang ditumpangi oleh Reno dan Steve, Sabrina dan Yanto mulai keluar dari hutan. kini mereka berada di lahan lapang yang sangat luas di kiri dan kanannya tumbuh pepohonan yang tidak diketahui namanya oleh Reno. Di lapangan Itu tampak tanaman opium dan koka tumbuh dengan rapi dan subur, Reno yakin sebentar lagi akan ada orang-orang yang memanen getah dan daunnya untuk diolah menjadi candu dan kokain, tumbuhannya termasuk di dalam golongan narkotika nomor satu itu sengaja dibudidayakan dengan bebas bahkan menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat di sekitar.
Steve menepikan Jeep nya si tepi jalan. Sabrina yang mengikuti dari belakang, turut berhenti, ia menurunkan kaca spion dan mengeluarkan kepalanya keluar dari jendela.
"Steve, Kenapa kita berhenti! apa lokasinya sudah hampir tiba?" teriak Sabrina dari dalam mobil. Steve turun dari mobil dan berjalan ke arah mobil Sabrina yang berada di belakangnya.
"Sebentar, Aku ingin bicara dengan Yanto!. Steve membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil tersebut. Ia duduk di samping Yanto, lalu membuka laptop "Apa benar di sini lokasinya? tanya Steve seraya menyodorkan sebuah gambar bangunan rumah berbentuk gaya eropa dari layar berukuran 5 inci.
Yanto mengangguk "Benar Tuan."
"Sekarang hubungi Bos mu, kalau kita sudah mendekat ke arah lokasi kediamannya. Dan ingat, kita disini ingin bernegosiasi dan mengambil Zidane dari tangan genk kalajengking."
Yanto terdiam ada raut wajah ketakutan di wajah tuanya.
"Apa tidak ada penawaran lain?
Steve menautkan kedua alisnya "Maksud mu penawaran apa?
"Jangan langsung menemui ketua Genk kalajengking, itu sangat berbahaya, lebih baik kita datang secara diam-diam."
"Kau pikir Tuan Reno mau mengikuti saran mu! dasar bodoh! Steve memukul kepala Yanto. "Sekarang cepat hubungi Tuan mu dan jangan bilang tuan Reno ikut serta, anggap mereka tidak tahu keberadaan kami dulu!" perintah Steve seraya menyodorkan ponsel di depan bibir Yanto tanpa melepaskan ikatan tangan nya
Yanto menelan salivanya, terlihat wajahnya tegang dan pias. Steve terus mendesak Yanto untuk berbicara dengan dengan Bos kalajengking.
💜💜💜💜
__ADS_1
Bersambung