
"Sudah jam empat, perbatasan kota menempuh perjalanan dua jam. Aku harus pergi sekarang!" gumamnya dalam hati.
"Mau pergi kemana kak! tanya Savira penasaran.
"Kakak ada perlu sebentar, kau tetap lah di dalam kamar dan jangan kemana-mana, ponsel tetap aktifkan. kakak akan menghubungi mu bila ada apa-apa!"
Gegas Vana mengambil ranselnya dan berjalan cepat meninggalkan kamar.
"Kak Vano dan Dev tidak boleh tahu kepergian ku! jangan sampai semuanya gagal." Vana mencari cara agar kepergian nya tidak di ketahui.
"Bagus! kak Vano dan Dev sedang sibuk mencari si pelaku, aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka tahu."
Vana masuk kedalam mobil sport dan mulai starter mobil, melaju dengan cepat kearah gerbang pintu.
"Pak cepat buka gerbang nya! seru Vana tak sabar.
"Non mau pergi kemana? Bukankah Tuan Vano melarang semua orang keluar dari mansion?!"
"Perintah itu berlaku untuk kalian, bukan untuk aku! cepat buka pintu gerbangnya jangan sampai aku tabrak terbang itu! ancam Vana.
"Ba-ik Nona!
Sekuriti membuka gerbang pintu, mobil Vana melesat dengan cepat keluar dari mansion.
Sementara Vano dan Dev masih terus memantau keadaan mansion.
"Bagaimana? apa sudah ada petunjuk." tanya Vano pada seorang pria yang memegang kendali Anjing helder itu.
"Sepertinya mereka lebih pintar dari perkiraan kita, seharusnya Anjing pelacak ini sudah mendapatkan indentitas si pelaku penculikan."
"Tunggu! kami punya bukti kain ini!" Dev mengeluarkan sobekan kain yang terbungkus plastik "Bila di perlukan ada sidik jari di kamar Zidan."
"Bukti ini bisa untuk memudahkan helder bekerja, penciumannya sangat tajam. Ayo kita ke kamar adik Tuan."
Mereka memutar kearah jendela luar yang menghubungkan dengan kamar Zidane. Anjing helder mulai mengendus-endus jejak penculikan itu, anjing satunya di berikan sobekan kain dengan menggigitnya, tiba-tiba saja helder berbulu hitam legam itu berlari dengan cepat kearah taman di ikuti sang bodyguard yang menarik tali lehernya.
Tiba-tiba sang anjing menerjang seseorang yang sedang berdiri di taman belakang, si pria itu melawan dan sekuat tenaga menendang sang anjing, saat Pria itu bangkit dan ingin berlari, Helder mengigit bokong nya.
"Aaahhkkk! jerit Pria itu seraya mengibaskan tangannya kearah helder.
"Pergi kau Anjing sialan! makinya sambil meringis kesakitan.
"Lepaskan Bruno! teriak sang bodyguard.
"GUK! GUK! GUK!
Pria bertubuh kekar itu berjalan mendekat dan menepuk-nepuk kepala sang anjing.
"GEEERRRRRR!!!
"Pak tolong lepaskan gigitan anjing gila ini?" teriak Kodir ketakutan.
__ADS_1
"Mas Kodir! teriak Bi Ijah berlari kearah sang suami yang baru saja di gigit Bruno, Anjing pelacak itu melepaskan gigitannya setelah mendapat perintah tuannya.
"Apa-apaan ini, kenapa anjing itu mengigit suamiku!' pekik bi Ijah seraya mengusap bokong suaminya.
Vano dan Dev yang tadi ikut mengejar Bruno sudah berada di depan mereka. keduanya saling bersitatap saat melihat Kodir seorang satpam yang bekerja di keluarga Reno di gigit anjing Bruno.
Seorang bodyguard yang membawa anjing Bruno, mendekati Dev dan berbisik. "Mereka ini pelakunya, Bruno anjing terlatih dan tidak mungkin salah menangkap buruannya." Dev mengangguk mengerti seraya menatap tajam bi Ijah dan Kodir.
"Saya perintahkan bi Ijah dan kodir untuk masuk kedalam ruangan kerja."
"Hah! mau di apakan kami berdua pak?! tanya bi Ijah terkejut. Terlihat wajahnya pucat dan ketakutan.
"Ada yang perlu kami bicarakan pada kalian! suami-istri itu saling bersitatap dan terlihat tegang. Dengan terpaksa bi Ijah dan Kodir berjalan masuk kedalam mansion.
Vano menghela nafas kasar seakan tak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.
"Dev! perintahkan semua pelayan, satpam dan bodyguard untuk kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. kita sudah dapat dalangnya, walau aku masih ragu kalau bi Ijah bisa terlibat." Vano berdecak seraya gelengkan kepala "Padahal bi Ijah sangat dekat dengan Zidane dan sangat menyayangi seperti anaknya sendiri."
"Kita harus dapat keterangan dari mereka berdua, pasti ada yang kendalikan mereka, tidak mungkin mereka bisa seberani itu menculik Zidan!" tukas Dev
"Ayo sekarang kita harus mengorek keterangan, dan mencari tahu keberadaan Zidane!" tukas Vano tak sabar.
Vano dan Dev melangkah masuk kedalam mansion menuju ruangan kerja sang Daddy.
"Ceklek!
Vano masuk bersama Dev dan menatap wajah Kodir dan BI Ijah dengan wajah tertunduk lesu. Bi ijah meremas ujung bajunya dengan kedua tangan, sementara Kodir meringis kesakitan, sebab bokong nya di gigit anjing Bruno.
Kedua nya saling bersitatap lalu menunduk lagi seraya gelengkan kepala.
"Bi Ijah..." Vano berjalan mendekat dan merangkul pundaknya "Boleh aku bertanya."
"Si-la-kan mas Vano." ucapnya lirih dengan suara tercekat.
"Jam berapa Bibi tidur semalam? sampai tidak tahu adikku di culik."
"Sekitar jam sepuluh Mas, Nyonya dan Tuan pergi jam sembilan malam, Sebab menunggu Non Vana pulang dulu. Setelah itu bibi beberes di temani murni dan ida, kemudian kami masuk ke paviliun."
"Jadi Bibi tidak tahu ada yang menculik adikku tadi malam?"
"Tidak Mas Vano, bibi tahunya tadi pagi-pagi mau bangunin Mas Zidane untuk sekolah, bibi ketuk-ketuk kamarnya tidak di sahutin, bibi penasaran dan buka pintu kamar Mas Zidane, ternyata nggak ada di dalam kamar. Nggak lama non Vana datang dan menanyakan Mas Zidane, bibi pikir malah tidur di kamar Non Vana." tukasnya memberikan keterangan dengan lancar.
"Vano mengangguk-anggukan kepalanya."
Kini tatapannya beralih pada Kodir "Semalam kau sedang dimana?! tanya Vano
"Ya saya jaga di pos bersama yang lainnya. Nggak lama Pak Yanto pulang sekitar jam setengah dua belas, lalu main catur bersama kami. Saya sih curiga sama si Yanto itu, main catur belum selesai buru-buru dia pergi, bisa jadi dia merencanakannya sesuatu."
"Jangan menuduh orang, kalau tidak ada bukti! bentak Dev.
"Bi.. sebesar apa Bibi sayang pada Zidan?" tanya Vano lagi penuh selidik.
__ADS_1
"Sangat sayang sekali, Mas Vano tahukan? bibi begitu perhatian dan mengurusi keperluan Mas Zidane seperti anak kandung sendiri."
Vano berjalan kearah meja kerjanya dan memperlihatkan sesuatu, ia memutar layar laptop kearah bi Ijah dan Kodir.
"Kalian lihat ini! seru Vano pada keduanya. Sebuah gambar seorang wanita sedang berbicara di belakang taman bersama dua orang pria yang salah satunya kodir suaminya sendiri dengan seseorang Pria lainnya. Seketika bi Ijah terbelalak dan hampir saja jatuh ke lantai, Kalau saja Kodir tidak memegangi tubuh istrinya.
"Huwaaaaa...." Bi ijah menangis meraung-raung dengan tubuh gemetar dan akhirnya jatuh juga kelantai.
"Ma'afkan bibi mas Vano!
Kodir juga luruh ke lantai dengan wajah tertunduk di samping sang istri yang masih meraung karena ketahuan dalang dari penculikan anak majikannya. Ada rasa takut yang teramat dalam pada diri kodir.
"Kenapa kalian tega melakukan semua ini pada kelurga kami! bentak Vano dengan tatapan tajam, ia begitu kecewa dengan sikap Bi ijah dan Kodir yang sudah bekerja lama dan di anggap keluarga.
"Kurang apa kelurga kami pada kalian, hah! apa gaji kalian masih kurang? padahal dari sekian pekerja lainnya, kalian berdua lah yang di beri gajih paling besar oleh Mommy!" Vano menatap kesal pada keduanya dengan nafas tersengal "Mommy terlalu baik pada kalian, apapun yang kalian minta pasti mommy berikan, tapi kalian berdua berani menghianati kelurga kami!"
"Dan kau Kodir! kau pikir otak aku bisa kalian bodohi!" Vano berjalan dan menarik rahang Kodir dengan kasar "Permainan licik mu dengan mengubah layar cctv cepat kami ketahui, Daddy telah membuat cctv cadangan yang tidak semua orang tahu, kecuali aku!' rencana busuk kalian terlihat jelas di layar cctv milik Daddy, bahkan Alarm menyala di ruangan ini, saat adikku kalian culik. Tapi sayangnya aku tidak ada di mansion tadi malam, dan Vana sedang terlelap. Jadi kalian bebas melaksanakan kejahatan kalian tanpa halangan."
"PLAKK!
"PLAKK!
Vano menampar wajah pria paruh baya itu bertubi-tubi tanpa perlawanan dari kodir. Menonjok hidungnya hingga berlumuran darah dari hidung dan bibirnya.
"Dimana adikku BRENGSEK! teriak Vano dengan amarah meletup-letup.
"Ampun Tuan..., saya mengaku bersalah. Tapi kami berdua mendapat ancaman bila tidak mau membantu rencana penculikan Mas Zidane."
"Dasar bodoh! kau itu bekerja dengan Tuan Reno, malah membelot dan membantu musuh! di bayar berapa kalian, Hah!" bentak Dev, menjambak rambut Kodir.
"Mas Vano, bibi mohon. Jangan kau siksa suamiku lagi." Bi Ijah bersimpuh di kaki Vano dengan tangisan mendayu-dayu.
"Maaf Bi, aku sangat kecewa dengan kalian berdua! katakan, dimana adikku Zidane berada?!
"Siapa yang menyuruh kalian, Hah! cetus Dev menarik kuat jambakan rambut Kodir hingga wajahnya terangkat keatas."
Kodir hanya meringis menahan sakit.
"Katakan Bodoh! apa kau ingin ku tembak mati! teriak Dev emosi. "Dimana kau sembunyikan Zidane?!"
"Mereka telah membawa mas Zidane pergi semalam!"
"Ap-apa...?! pekik Vano "Siapa mereka! teriak Vano dengan tatapan membunuh.
💜💜💜
@Bila kalian penasaran dengan kisah "Tuan Jendral Cinta aku" bisa lihat di "F" ya dengan judul baru "Pria yang merengut kesucian ku." kisahnya di buat dari awal dan sudah di revisi ulang, sampai tamat.
@Bersambung...
Follow IG Bunda 😍 @bunda. eny_76
__ADS_1