
Didepan pintu kamar. Robert masih terus membujuk Zevana untuk membuka pintunya.
"Van! buka pintunya, biarkan papi masuk!"
"Kak Zee... please kak, buka pintunya. Chika nggak mau kakak kenapa-napa." Chika juga berusaha membujuk sepupunya
"Biarkan kakak sendiri dulu, Chik!" terdengar suara parau Vana dari dalam kamar.
"Ya sudah chik! biarkan kakak mu sendiri dulu, ia butuh ketenangan." kata Robert pada anak gadisnya.
Chika mengangguk paham dan menjauhi kamar Vana. Namun tak lama terdengar suara pintu terbuka
"Krekkk...!
"Chik, bisa temani kakak didalam, ada yang ingin kakak bicarakan." terlihat wajah Vana sembab sisa airmata.
Chika menoleh pada Robert, dan di anggukan oleh Robert "Pergilah, temani kakak mu."
Chika masuk kedalam kamar setelah menutup pintu, lalu berjalan mendekati Vana ditepi ranjang. "Kak! kakak ingin bicara apa?"
"Chik! apa benar kau masih mengingat pria yang menolong kak Vana waktu di laut."
Chika mengangguk "Iya Kak!
"Apakah benar pria itu bermata biru?
"Iya kak, matanya biru dan wajahnya tampan."
Vana membuka sebuah galeri foto dari ponselnya dan memperlihatkan foto seseorang pria pada Chika "Apa benar pria ini yang kau lihat?!"
Chika meraih ponsel dari tangan Vana dan menatap tegas gambar pria itu, matanya terbelalak dan mulutnya menganga.
"Benar kak, ini foto Pria yang menolong kakak waktu di laut. Pria ini juga yang bertabrakan dengan Chika waktu di rumah makan seafood."
Seketika tubuh Vana luruh kelantai. Airmatanya semakin deras menetes. "Nathan! hiks.. hiks..
"Kakak kenapa? Chika terlihat panik dan merangkul pundak kakaknya "Apa kakak kenal pria itu?"
"NATHAN....!!! kenapa secepat itu kau pergi. Ma'afkan Daddy ku! hiks.. Ternyata kau tidak pernah jauh dariku, kau tidak pernah meninggalkan ku! kenapa Nathan! kenapa kau harus kembali, setelah menggoreskan luka teramat dalam! akhirnya kau harus mati sia-sia...!! Vana terus menangis meraung-raung seraya meremas dadanya yang berdenyut pedih.
"Kak! siapa Pria itu..? apa kakak mengenalnya? tanya Chika lagi yang tidak di hiraukan oleh Vana.
"Hiks.. hiks.. Aku nggak pernah merasakan sesakit ini dalam hidupku karena laki-laki! Dia yang hadir dalam hidupku, dia juga yang hancurkan perasaan ku!" hiks.. hiks... Vana mengigit ujung bantal menahan getir dihatinya. Tangisannya semakin dalam. Chika yang melihat kondisi kakak sepupunya hanya memeluk erat seraya ikut menangis.
"Tak seharusnya kau datang lagi padaku! tak seharusnya kau menolong ku kembali, biarkan saja aku mati! kenapa Nathan...! kenapa kau datang kembali..?! teriak Vana histeris.
__ADS_1
Ceklek!
"Zee...! Reno berjalan mendekat dan duduk di depan anak gadisnya. Chika yang melihat kedatangan Om nya melepas pelukan Vana.
"Zee.. kenapa harus seperti ini? Sayang dengarkan Daddy.." Reno berusaha menenangkan Vana, dan memeluk tubuh anaknya yang masih terus emosi sambil menangis sesenggukan.
Vana terus berontak dan mendorong tubuh Reno "Daddy puas sekarang kan?! apa dengan membunuh Nathan, sudah membuat Daddy merasa paling hebat dan paling berkuasa! Zee selama ini sangat bangga pada Daddy, tapi apa sekarang?! hiks...
"Sayang ma'afkan Daddy, ia Daddy merasa bersalah padamu. Tapi.. semua ini sudah keputusan yang harus kau terima, Pria itu sudah pergi dan tak akan pernah kembali! Masa depanmu masih panjang Zee, masih banyak pria yang akan mencintai mu, tapi bukan pria itu!"
Wajah Vana sudah memerah, bibirnya bergetar menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak-ledak. ia menatap tajam pria paruh baya yang selalu ia banggakan. Sisi lembut dan sifat hangatnya berubah menjadi kekecewaan yang mendalam, tatapannya berubah dingin dan tak sehangat bisanya pada sosok Pria yang sangat ia sayangi dan hormati.
"Begitu mudahnya Daddy bilang seperti itu?! pria itu tidak akan pergi bila Daddy tidak membunuhnya! Nathan juga berhak hidup, Dad!" hiks...
"Kenapa kau masih saja keras kepala! Reno mulai meninggalkan suaranya "Daddy lakukan semua ini demi kebaikan mu! seharusnya kau tidak terus-menerus memikirkan Pria yang jelas-jelas ingin menghancurkan keluarga kita!" Reno menghempaskan nafas kasar seraya meredam emosinya.
"Apa Daddy bisa mengerti perasaan Zee sekali saja..?!" Vana menatap nanar pada Ayahnya dengan suara rendah "Walau Zee tidak akan pernah hidup bersama Nathan, paling tidak beri kesempatan ia untuk melanjutkan hidupnya, Daddy bukan Tuhan yang mudahnya mencabut nyawa seseorang! Bukankah Daddy tahu Nathan sudah banyak menolong hidup anak Daddy..." Seru Vana didepan wajah Reno, dengan suara bergetar.
"Hufftt!! Reno meniup kasar, seraya mengusap wajahnya berkali-kali. Reno mencoba mengalah dan merendahkan egonya. Ia tidak ingin menambah luka di hati anak gadisnya yang masih menangis sesenggukan dengan wajah tertunduk. Lantas ia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Vana. Chika yang masih terduduk di samping Vana, merangkul pundaknya dan mereka saling berpelukan.
***
David sudah memberikan kode pada anak buahnya sebelum ponselnya benar-benar mati. Ia merasa aneh karena tidak ada suara tembakan dan seruan orang-orang Reno yang terdengar lantang. Dengan perlahan David membuka penutup pintu diatas kepalanya.
"Krekkk.... brakk!
David melihat mereka menggali tanah, tak lama mereka memasukkan tubuh seseorang kedalam lobang yang menganga.
"Siapa yang mereka kubur?! gumamnya lirih. Karena penasaran David berjalan lebih mendekat agar ia tahu siapa yang sedang di masukin kedalam liang.
"KREKK!"
Tiba-tiba kaki David menginjak ranting kering hingga menimbulkan suara. Seketika Bagas menoleh ke belakang mencari sumber suara itu. "Siapa disana! teriak Bagas yang mulai curiga.
"Gawat kalau mereka tahu keberadaan ku! bisa mati aku. aku harus bersembunyi di pohon itu!" ucapnya pelan dengan perasaan gundah.
"Sepertinya ada orang disana, cepat kau lihat!" perintah Bagas pada Boy orang kepercayaan nya.
"Baik Bos! Pria itu berjalan kearah David bersembunyi dengan menodongkan pistol ditangannya. Jantung David berdebar cepat, ia takut orang-orang suruhan Reno mengetahui keberadaannya dan mati di tempat sebelum misinya selesai.
"Siapa disitu, menyerah lah sebelum otak kepalamu ku tembus timah panas!" serunya sambil mengacungkan pistol kedepan.
"Ya Tuhan selamatkan nyawaku!" David menutup mata pasrah. Ia tidak bisa berkutik atau mengindari saat Boy sudah hampir mendekat.
Saat Boy sudah berdiri didepan David, tiba-tiba ia dikejutkan oleh rubah yang terjatuh dari atas pohon. Sontak Boy gelagapan dan menghempaskan ke tanah lalu menembaknya.
__ADS_1
"DOR!"
"Boy siapa?! teriak Bagas.
"Cuma seekor rubah Bos! Seru Boy, di sela langkahnya meninggalkan persembunyian David.
"Terima kasih ya Tuhan!" David bernafas lega sambil mengatur nafasnya.
Setelah selesai menguburkan jasad Nathan, Bagas berserta rombongannya masuk kedalam mobil yang terdiri dari tiga buah kendaraan roda empat. Iring-iringan mobil pergi meninggalkan vila. Setelah mobil menjauh David keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearah gundukan tanah merah itu.
"Siapa yang mereka kuburkan? apakah anak buahnya yang tertembak dengan Nathan? David berjalan kearah mobil miliknya yang masih terparkir, ia mencari keberadaan Nathan yang ia pikir sedang bersembunyi.
"Tunggu! dimana Nathan? bila didalam mobil tidak ada. lalu siapa yang mereka kubur tadi? atau jangan-jangan..."
Dengan perasaan kalut David berlari kearah gundukan tanah merah itu dan menyenternya.
"NATHAN!!! pekiknya "Apakah kau yang telah mereka kubur?!
David berhambur ke gundukan tanah itu dan menggaruknya dengan kedua tangannya sambil terus memanggil nama Nathan. Airmata terus berjatuhan di wajahnya.
"NATHAN BERTAHAN LAH! KAU JANGAN PERGI, KAU TIDAK BOLEH MATI SECEPAT INI! teriak David dengan nafas memburu. kedua tangan David terus-menerus menggaruk tanah itu seperti kucing yang mencakar-cakar tanah untuk membuat lobang. David tidak ingin menyerah walau tubuhnya lelah dan tangannya terluka bekas tembakan tadi, Namaun tidak menyurutkan tekadnya untuk menggali tanah itu. Ia berharap Nathan masih hidup.
Tak jauh dari tempat David menggali, terdengar suara mobil terparkir. Beberapa orang turun dari mobil dan berlari kearahnya.
"Pak David! seru seorang Pria dan membantu mengangkat tubuh David yang sudah lemas hampir tak berdaya diatas tanah, lalu dibantu dua orang lainnya.
"Tolong selamatkan sahabatku Nathan!" tukasnya dengan suara rendah dan nafas turun-naik.
"Baik Pak! biar tanah ini Kami yang uruk!"
Mereka berempat adalah orang-orang David dari intelejen. Mereka bekerjasama membongkar tanah merah itu dengan cepat, hingga terlihat tubuh Nathan yang tertimbun tanah merah.
"NATHAN! seru David "YA TUHAN, TERNYATA BENAR KAU NATHAN, BERTAHAN LAH!" David memeluk tubuh sahabatnya yang sudah tak berdaya. "BIADAB MEREKA SEMUA! AKU PASTIKAN AKAN MEMBALAS KALIAN SEMUA! teriak David dengan amarah meletup-letup.
"Pak sebaiknya cepat kita bawa kerumah sakit!" salah seorang dari mereka memperingati.
"Tubuh Nathan sangat dingin! cepat kalian angkat dan bawa ke mobil, ambil selimut didalam villa dan lilitkan ketubuhnya agar hangat!" perintah David bersama lelehan airmata yang terus membanjiri wajahnya.
π₯π₯π₯π₯
@Mana kopi sama bunga mawarnyaπΉ.. ditunggu ya All..ππ
@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian ππ
Follow IG Bunda π @bunda. eny_76
__ADS_1
@Bersmbung