
"Lihat lah, jendela ini sudah terbuka. Sepertinya orang itu lewat jendela ini."
"Mereka telah mengalihkan cctv di kamar ini, dan masih terlihat Zidane sedang tidur."
"Tunggu Van! seru Dev melihat sesuatu di dekat jendela "Ada sobekan bahan di pinggir jendela, sepertinya dia terburu-buru sampai tidak sadar pakaian nya tersangkut dan sibek."
"Bagus! ini bisa buat bukti dan melacak penjahat itu!
"Ayo kita keluar dan kita cari tahu apakah ada seseorang yang memakai warna robekan kain ini kemarin."
"Tunggu Van, aku melupakan sesuatu. jejak tangannya akan aku cek melalui alat ini." Dev mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan mulai mengecek menggunakan alat canggih berbentuk pipih seperti ponsel.
"Sudah selesai!
"Baiklah ayo kita keluar!"
Sebelum keluar mansion, Dev dan Vano telah membuat jebakan.
"Selamat siang semua, saya sengaja mengumpulkan kalian semua disini, adikku Zidane telah di culik semalam. Dan kalian tidak ada yang tahu kepergian adikku!"
"Apa semua pekerja sudah berkumpul disini?? timpal Dev
Ada yang gelengkan kepala tidak tahu, ada yang saling berbisik "Ada Tuan! celetuk seorang sekuriti.
"Siapa..?!
"Pak Yanto supir pribadi Zidane."
Vano dan Dev saling bersitatap "Aku tidak melihat Pak Yanto dari tadi kita pulang." kata Dev berbicara pelan.
"Kau benar Dev, kita mulai rencana selanjutnya!"
Dev mengangguk dan mengerti.
"Kemana Pak Yanto? apa ada yang tahu keberadaannya?"
"Dari semalam Pak Yanto sakit, katanya meriang dan muntah-muntah."
"Sekarang dimana beliau?
"Ada di paviliun sedang istirahat."
"Panggil pak Yanto kemari, bila sakit kami akan bawa ke rumah sakit!" tukas Vano tegas.
"Ba-ik Tuan muda."
Sekuriti itu berjalan cepat kearah paviliun yang berada di belakang mansion, tempat tinggal khusus para pekerja.
Tak berapa lama sekuriti itu datang bersama pak Yanto yang terlihat sakit dan pucat.
"Pak Yanto, apa anda sakit? tanya Vano.
"Iya Mas Vano, setelah mengantar Tuan dan Nyonya ke bandara. perutku mual dan badan meriang."
"Kenapa tidak beritahu kami, kalau sakit kau bisa berobat."
"Nggak apa-apa, hanya masuk angin ajah kok Mas."
"Apa kau tahu kalau adikku Zidane menghilang?!"
__ADS_1
"Ap-apa..?! mas Zidane menghilang? Yanto terkejut dengan bola mata membulat. "Ma'afkan saya, seharian saya di kamar jadi tidak tahu informasi nya."
"Apa jangan-jangan kau yang sudah bekerjasama dengan seseorang dan menculik mas Zidane! seru salah seorang bodyguard.
"jangan menuduh sembarangan! mana mungkin aku berani menculik mas Zidane, aku sudah bekerja sangat lama pada Tuan Reno!"
"itu bisa saja terjadi! kau semalam masih main catur di pos satpam bersama kami setelah pulang dari Bandara, lalu tiba-tiba kau mendapat telpon dari seseorang dan pamitan meninggalkan kami semua."
"Itu telpon dari istriku di kampung! kau jangan menuduh kalau tidak ada bukti! seru Yanto tak terima.
"Alah maling mana ada yang ngaku! setelah Pak Yanto pergi main catur, dia nggak balik lagi. Sudah pasti Pak Yanto merencanakan sesuatu." teriak Kodir salah satu sekuriti
"Brengsek kau kodir! Jangan asal fitnah! teriak Yanto emosi.
"Tidak usah berdebat! kita akan buktikan nanti, siapa yang berkhianat di mansion ini! seru Dev untuk mengakhiri perdebatan.
"Apa semua orang sudah berkumpul? dan tidak ada satupun yang berada di dalam mansion!" tanya Dev lagi.
"Masih ada satu orang di dapur."
"Siapa?
"Bi Ijah!"
"Suruh keluar, tidak ada satupun di dalam mansion."
"Istriku sedang masak untuk kelurga Tuan Vano, Non Vana dan non Savira."
"Sudah kami beritahukan, tidak ada kegiatan apapun hari ini!" potong Dev.
"Kalau begitu aku akan panggilkan istriku dulu." gegas kodir berlari kearah taman untuk memberitahu istrinya.
Ceklek!
"Ada apa kau berteriak-teriak Mas!"
"Cepatlah kau di haruskan berkumpul didepan mansion."
Bi ijah mendekati suaminya, lalu celingak-celinguk takut ada orang di sekitar kolam dan taman. "Mas, bagaimana bila ada yang curiga dengan kita. Aku sangat takut, makanya tidak berani berkumpul disana."
"kau jangan terlihat ketakutan. wajahmu biasa saja di depan mereka!"
"Aku takut bila bertemu dengan Mas Vano, kalau lagi marah sama seperti Ayahnya. Aku nggak mau kesana, Mas bilang saja aku sedang nggak enak badan."
"Bodoh! alesan mu tidak masuk akal!"
"Lalu aku harus apa...?!
"Sini aku bilangin!" Kodir membisikkan sesuatu di telinga sang istri.
"Kau paham sekarang?!
Bi Ijah mengangguk dengan wajah pucat. Terlihat jelas wajah ketakutan, namun ia berusaha untuk biasa saja.
"Ayok cepat kita berkumpul disana, sebelum mereka curiga."
Bi Ijah dan Kodir berjalan kearah pekarangan di depan mansion. Setelah mereka berkumpul, Vano mulai memberikan instruksi pada seluruh pekerja di mansion.
"Saya ingin bertanya, apa kemaren ada yang melihat seseorang memakai pakaian berwarna biru dongker? tanya Dev.
__ADS_1
Semua orang saling bersitatap dan bertanya satu sama lain. "Memang nya ada apa dengan pakaian berwarna biru?" tanya pak Alim tukang kebun.
"Tinggal jawab ajah, ada apa tidak!"
"Ada, saya sendiri Tuan, kemarin pakai baju warna biru tua." kata Pak Alim ketakutan dengan wajah tertunduk.
Vano dan Dev saling bersitatap. Tiba-tiba terdengar suara klakson di depan gerbang pintu. Seorang bodyguard berlari membukakan pintu gerbang tanpa menunggu perintah dari Vano. Masuk mobil pick-up kedalam mansion, di atas pickup ada dua orang seraya membawa dua Anjing pelacak dan mereka turun dari mobil bersama anjing-anjing Herder berwarna hitam pekat itu.
Tentu saja semua orang terkejut dan bertanya-tanya untuk apa anjing pelacak itu di datangkan ke mansion. Vano memerintahkan sang bodyguard untuk melacak anjing itu ke seluruh mansion tidak lupa ia memberikan potongan kain yang robek pada anjing itu untuk di lacak.
Dengan cepat anjing itu berlari di ikuti bodyguard yang memegangi rantainya. Semua pekerja hanya menunggu dengan perasaan cemas, dan apa yang akan terjadi nanti.
Sementara Vana dan Savira yang berada di lantai lima, terkejut saat mendengar suara anjing menggonggong.
"Ada apa di bawah kak?!
"Sepertinya kak Vano sedang melacak penculikan Zidan, aku tidak tahu apakah caranya akan berhasil."
"Kita lihat saja hasilnya Kak!
"Ayo kita turun kebawah!"
Vana berjalan cepat menuju pintu lift, di ikuti Savira menuju lantai bawah.
"PRANK!
Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah dari dalam kamar. Gegas Vana berlari kearah kamarnya, dan membuka kasar pintu kamar. Ia melihat sebuah batu besar terjatuh di bawah jendela. Vana berjalan mendekat dan mengambil batu terbungkus kertas putih. ia membuka kertas yang berisi sebuah tulisan.
"BILA ADIK MU INGIN SELAMAT! TEMUI AKU DI PERBATASAN KOTA JAM TUJUH MALAM! INGAT HANYA KAU SENDRI TANPA HARUS ADA ORANG LAIN! BILA KAU MEMBAWA ORANG, ADIKMU HANYA TINGGAL NAMA!!"
"Brengsek! siapa orang yang sudah berani menculik adikku! akan aku habisi kau! gumam Vana sambil meremas kertas itu.
"Kak apa yang terjadi?! tukas Savira dan terkejut melihat pecahan kaca jendela di bawah lantai.
"Bukan apa-apa, hanya orang iseng! Jangan pernah kau ceritakan pada kak Vano dan Kak Dev, anggap saja tidak terjadi apa-apa!
"Tapi kak, pecahan kaca ini...."
"Dengarkan kata kakak, tolong rahasiakan ini dari mereka, kakak tidak ingin kak Vano dan Dev tambah bersedih. kau mengertikan?"
Savira hanya mengangguk dan mendengarkan perintah Vana. Lalu gegas ia masuk kedalam kamar mandi, tak lama keluar dan berganti pakaian.
"Kakak mau pergi kemana?! Yang melihat Vana memakai kemeja, celana jeans dan sepatu kets.
"Kakak harus pergi! Vana melirik arloji ditangannya
"Sudah jam empat, perbatasan kota menempuh perjalanan dua jam. Aku harus pergi sekarang!" gumamnya dalam hati.
"Mau pergi kemana kak! tanya Savira penasaran.
"Kakak ada perlu sebentar, kau tetap lah di dalam kamar dan jangan kemana-mana, ponsel tetap aktifkan. kakak akan menghubungi mu bila ada apa-apa!"
Gegas Vana mengambil ranselnya dan berjalan cepat meninggalkan kamar.
💜💜💜
@Bunda ingin mengucapkan
"SELAMAT HARI IBU BAGI PARA IBU-IBU 🥰 IKHLAS MENDIDIK DAN MEMBESARKAN ANAK-ANAK KITA. IBU ADALAH MADRASAH PERTAMA BAGI ANAK-ANAKNYA. SEMANGAT YA PARA KAUM IBU-IBU😘 SEMOGA KEBERKAHAN DAN KESUKSESAN SELALU MENYERTAI KITA. AAMIIN 🤲
__ADS_1