Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kehadiran Kekasih


__ADS_3

"Ren, secepatnya kita berangkat sekarang juga! perasaan ku tidak enak. Pasti ada hal buruk yang akan terjadi dengan anak-anak mu! Ayo tunggu apalagi?! titah Sabrina.


Reno mengangguk "Baiklah, secepatnya kita berangkat sekarang dengan jet pribadi."


Steve bawa Yanto ke toilet, suruh dia membersihkan diri. Kita akan pergi sekarang juga!"


Gegas Yanto di papah Steve kedalam kamar mandi. kini Reno dan Sabrina sedang membuat startegi.


Reno, Sabrina, Yanto dan Steve masuk kedalam mobil. Steve melajukan Jeep dengan kecepatan tinggi. Kurang dari satu jam mereka sudah sampai di lapangan terbang milik Reno. Heli kopter semakin meninggi dan terbang di udara. Pantulan cahaya siang sungguh menyilaukan mata. Namun tidak menyurut kan tekad Reno untuk mencari anaknya.


***


Suara langkah sepatu pantofel terdengar nyaring saat melewati koridor rumah sakit.


Ceklek!


Laki-laki yang baru masuk itu mengedarkan pandangannya, Namun tidak melihat sosok wanita yang sedang ia cari. "Dimana Savira? kenapa ia tidak ada di ruangan nya? kemudian Dev keluar dari ruangan tersebut dan mencari Savira.


"Savira....." serunya di sela langkah Dev menyusuri lorong rumah sakit.


"Sus! apa kalian melihat Savira?! tanya Dev pada dua orang Suster yang melewati lorong yang sama dengan nya. Kedua Suster itu saling tatap.


"Tidak tuan."


"Bisa bantu aku carikan nona Savira."


Kedua suster itu mengangguk dan ikut mencari Savira.


"Tuan Dev! anda mencari siapa?


"Kebetulan sekali Dokter Irwan ada di sini. Savira tidak ada di ruangan nya. kau tahu sendiri bukan bagaimana keadaan Safira saat ini!"


"Tunggu! bukannya tadi ia bersama dengan seorang Pria?


"Iya! tadi Savira dikunjungi oleh Kelvin, rekan kerja Vano. tetapi tidak ada di ruangannya."


sepertinya mereka berada di taman. tadi saat aku dari ruangan pasien melihat Nona Savira disana."


"Oke baik, terima kasih! gegas Reno berlari ke arah taman yang berada di samping rumah sakit.


"Savira ..! pekik Dev, saat melihat wanita yang sejak tadi ia cari berada di taman bersama Kelvin.

__ADS_1


"Kenapa kau bawa Safira keluar! kondisinya masih belum stabil! seru Dave kesal.


"Savira juga butuh kenyamanan dan ketenangan. seharusnya dia tidak harus berada di dalam kamar selama 24 jam."


"Sudah lah Kau tidak perlu mengurusi Savira! Dev membuang nafas kasar "Aku heran denganmu, sebenarnya kau siapanya Shafira? sepertinya kalian terlihat akrab." tanya Dev yang mulai terlihat curiga pada Kelvin.


Huft! Kelvin meniup kuat "Itu bukan urusan mu. Sejak kapan asisten Dev ikut campur dengan urusan orang lain."


"Savira bukan orang lain, dia adikku! Dev berjalan mendekat dan menarik tangan Savira "Dek, ayo kita masuk kamar, udara di sini sangat dingin sebentar lagi akan turun hujan."


Savira gelengkan kepala dan menatap enggan wajah Devan "Dek, percaya sama kakak. Sekarang kakak antar ke kamar, kakak janji akan menemani mu."


"Biar aku saja yang mengantarkan Savira." Kelvin mencoba untuk menarik tangan Safira namun dicegat oleh Dev. "Tidak perlu! Savira tidak membutuhkan mu. Aku sendiri yang akan menjaga nya."


"Ayo Dek! ucap Dev lembut dengan tatapan menghiba. Savira tidak berontak lagi, ia mengikuti langkah Devan. Sebelum menjauh Savira menatap kearah Kelvin yang sedang bersedekap. Seulas senyuman di bibir Kelvin saat Savira berjalan semakin jauh.


"Savira... Savira... benar kah kau gadis yang di cari nenek ku? setelah Paman ku meninggal karena kecelakaan, anak gadisnya menghilang di usia 12 tahun. Aku harus cari tahu kebenarannya." Kelvin melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.


Sementara di ruangan rawat inap Vana.


"Bell, aku bawakan coklat capuccino kesukaan mu." Vano membawa dua cangkir coklat panas yang ia beli di kantin.


"Minumlah dulu." Bella menerima cangkir berisi capuccino dan menyeruputnya perlahan.


"Hmm..."


"Kapan Vana kembali sadar? aku sungguh tak tega melihat sahabat ku seperti ini." cairan bening menetes di sudut matanya.


Vano menarik nafas dalam seraya mengusap lembut punggung tangan Bella. "Doakan yang terbaik untuk adikku."


Bella menyandarkan kepalanya di bahu Vano "Sudah pasti Van, Vana bukan hanya sahabat ku, tapi kami sudah seperti saudara. Sudah banyak Vana menolong ku saat aku masih duduk di bangku SMP, kau pun juga selalu ada untuk ku." Bella mengingat kenangan itu. dimana ia juga mengalami depresi karena kelakuan kakak tirinya Jimmy dan Tina yang menyuntikkan morfin di tubuhnya. Beruntung ia memiliki sahabat yang baik dan peduli.


Ceklek!


"Permisi Tuan.." masuk seorang laki-laki membawa meja dorong.


"Anda bertugas sebagai apa? tanya Vano yang selalu waspada, sebab ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Saat seorang Pria masuk kedalam kamar sang adik.


"Saya di tugaskan untuk memberikan vitamin untuk Dokter Vana melalui infusan."


Vano melihat nametag Pria itu didada kirinya, dengan wajah tertutup masker "Edy! Anda seorang perawat?

__ADS_1


"Iya Tuan!


Vano mengangguk


"Bisa kau lepas maskernya?


DEG! jantung laki-laki itu berdesir hebat, ia tidak ingin Vano mengetahui keberadaan nya. Dengan berbagai cara ia lakukan agar bisa masuk kedalam ruangan Vana.


"Apa yang harus aku lakukan agar pria ini tidak curiga padaku." gumam nya dalam hati.


"Sayang. Ini sudah malam, aku harus pulang sekarang."


Tatapan Vano beralih pada wanita di sampingnya "Baiklah, aku antarkan sampai apartemen."


"Tidak usah Vano. kau masih terluka, Vana juga belum sadar. ia membutuhkan kamu untuk selalu ada di samping nya."


Vano tersenyum "Kau sangat pengertian. Ayo aku antar sampai lobby."


"Mas Edy, aku keluar sebentar mengantarkan kekasih ku. Lakukan tugasmu dengan benar."


"Baik tuan!"


Pria itu bernafas lega saat Vano dan Bella meninggalkan ruangan Vana.


"Alea..." Pria itu membuka maskernya dan mencium punggung tangan Vana, mendudukkan bokong nya di tepi ranjang berukuran sedang. "Alea, kapan kau bangun? aku sangat merindukanmu." pria itu mengusap lembut kepala Vana penuh kasih sayang.


Nathan mulai bercerita, mengingat kan kenangannya bersama Vana saat menjadi sepasang kekasih. Tiba-tiba ingatannya berubah sedih, mana kala ia telah menyakiti Vana dan menghadirkan wanita bayaran di depan gadis remaja itu. Rasa sakit yang Vana rasakan membekas di hatinya, bayang-bayang wajah kekasihnya yang begitu sakit hati, kala ia datang menyusup ke mansion untuk menghabisi mommy nya. Pertarungan malam itu awal dari sebuah petaka hingga memisahkannya cinta nya yang sudah lama ia cari. kini Nathan berjanji, tidak akan melakukan hal bodoh lagi dan meninggalkan wanita nya. Nathan tahu Vana adalah gadis setia dan hanya mencintai dirinya.


Cristal bening menetes begitu saja tanpa di minta, air mata itu berjatuhan di punggung tangan Vana.


"Alea, aku sangat mencintaimu, sungguh...! tidak ada satu wanita pun yang bertahta di hatiku, bangun lah aku sudah kembali dan takkan pernah meninggalkan mu lagi, meskipun nyawa adalah taruhannya."


Nathan mengusap airmata dengan punggung tangannya, tanpa ia sadari jemari Vana bergerak, ia merasakan pergerakan tangan kekasihnya. Nathan menunduk dan melihat jemari tangan Vana bergerak-gerak. Dada Nathan membucah saat melihat kekasihnya mulai merespon ucapannya.


"Alea.. kau bangun sayang...."


💜💜💜


@Sudah 2 bab ya All... jangan lupa untuk follow IG dan tiktok bunda ya readers.


(Tiktok bunda. Eny. 76 shop)

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2