
"Savira...."
Suara bariton seseorang pria di belakang punggungnya. Seketika Vira hentikan tangisannya dan menoleh ke belakang.
"Kau..?! untuk apa kau mengikuti ku!" seru Savira terkejut.
"Sorry gue ngikutin loe sampai kesini." Pria itu ikut duduk di samping Savira dan memanjatkan doa.
Usai berdoa, Savira berdiri untuk menyiram air mawar pada kedua makan orang tuanya.
"Maaf aku harus pulang!" Saat Savira melangkah Ingin pergi, sebuah tangan kekar menariknya.
"Tunggu Vir! Kenapa loe terus menghindar dari gue Vir?!
"Tidak seharusnya kau mengikuti ku, Bis!
"Why? gue hanya ingin dekat denganmu, apa itu salah?! come-on vir, jadilah bestie gue!" Bisma terus meyakinkan Savira tanpa melepas tangannya. Melihat ketulusan Bisma dan tidak ada kebohongan dimatanya, Savira menghela nafas panjang dan mengangguk.
"Ingat! hanya sebatas teman, tidak lebih!" tukas Savira melepas tangan Bisma.
"Okay, ayo gue antar pulang. Atau kita ke Cafe dulu, untuk sekedar ngobrol dan ngopi santai."
Savira mengigit bibir bawahnya dan terus berfikir, Sebenarnya ia paling malas nongkrong di Cafe dan lebih memilih pulang kerumah untuk mengerjakan tugas kuliah. Namun, entah kenapa, hati dan perasaannya saat ini sedang tidak baik. Pikirannya lelah karena harus menyusun skripsi yang menguras otaknya untuk terus berpikir. Belum lagi bila mengingat sikap Vano yang acuh dan berubah padanya, tidak ramah dan perhatian seperti biasanya. Savira merasa tidak semangat lagi untuk pulang cepat. Ingatannya merekam setiap detik saat bersama Vano. Bagaimana sikap kakak angkatnya yang setiap pulang dari kantor selalu mengajaknya ngobrol, hanya untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja. Sikap Vano yang perhatian dan penyayang membuat Savira selalu nyaman bila berada di dekatnya. Mereka akan saling bercerita dan bertukar pikiran sambil makan cemilan bersama di pinggir kolam renang.
Savira menarik nafas dalam dan dihembuskan perlahan "Baiklah kita ke Cafe."
Bisma tersenyum hangat dan menarik tangan Savira "Kalau begitu, ayo kita pergi!" Bisma melangkah bersama Savira. Saat didepan mobil, ia membukakan pintu untuk wanita yang ia kagumi. Mobil melaju meninggalkan pemakaman dengan cepat.
Malam terus merambat dari peraduannya. Angin berhembus sangat kencang, biasanya akan turun hujan bila langit tanpa bintang. Sebuah mobil sedan hitam memasuki gerbang yang menjulang, lalu berhenti didepan halaman mansion. Langkah sepatu pantofel memasuki ruangan.
"Vano! seru seorang wanita yang sudah tak muda lagi, Namun masih terlihat cantik dan segar. Raut wajahnya yang anggun terlihat panik dan khawatir.
"Mommy ada apa...?
"Kau tahu dimana Savira?!
Vano mengeryitkan keningnya "Maksud Mommy?! kaget Vano dan terlihat bingung.
"Sudah jam segini Savira belum juga pulang, biasanya paling telat jam enam sore ia sudah berada di mansion. Mommy sudah menghubungi ponselnya berulang kali, namun tidak diangkat-angkat. Mommy sangat khawatir Van! tidak biasanya Savira telat pulang!" tukas Delena dengan raut wajah gusar.
"Mommy tenang dulu ya..?
"Bagaimana Mommy bisa tenang? ini sudah jam sembilan malam. Apalagi Savira anak gadis, dia tidak seperti Vana yang bisa menjaga dirinya sendiri. Savira gadis lugu dan polos."
Vano menghela nafas kasar. Ia mulai berpikir, apakah Savira tidak pulang karena dirinya yang terlalu cuek pada adik angkatnya. Sungguh Vano sangat dilema saat ini, namun ia masih punya perasaan sayang dan takut Savira kenapa-napa, biar bagaimanapun juga ia sudah berjanji akan menjaga adiknya.
"Ya sudah Mom, Vano akan cari Savira sampai ketemu. Mommy sabar dulu ya."
__ADS_1
"Hati-hati dijalan Nak!"
Vano mengangguk sebagai respon, lalu kembali masuk kedalam mobil untuk mencari keberadaan adik angkatnya. Didalam perjalanan ia mencoba menghubungi saudara kembarnya dan berharap Savira ada disana.
"Hallo Dek, apa Savira ada disana?
"Savira...? Vira nggak ada di apartemen ku? ada apa dengan Savira, kak?
"Savira belum pulang dari kampusnya."
"Ap-apa..? kenapa bisa Vira belum pulang? tidak biasanya dia telat kak! apa sudah kakak hubungi Savira?
"Sudah! tapi tidak di angkat!"
"Apa ada sesuatu yang buat Vira tidak pulang?! tanya Vana curiga.
Terdengar suara helaan nafas Vano di ujung telepon, ia mulai curiga pada sikap kakaknya yang mungkin saja menjauhi Savira. Padahal bukan seperti itu maksud Vana, ia hanya tidak ingin kakaknya bersikap berlebihan pada adik angkatnya dan akan membuatnya baper. Walau sebenarnya ia tahu kakaknya juga menyukai Savira, tapi ia juga tak tega pada sahabatnya yang memendam rasa pada kakaknya sejak SMP. Vana memijit keningnya yang berdenyut.
"Ya sudah kakak matikan telponnya, harus secepatnya cari Savira, ini sudah malam."
"Iya kak! akan Vana coba bantu telpon Savira, nanti aku kabari."
"Okey Dek!
Vano mulai melacak keberadaan Savira melalui telpon seluler nya. "Cafe Meranti..? gumamnya. "Sedang apa dia disana sampai jam segini?" Dengan cepat Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setengah jam kemudian mobil masuk ke area parkiran Cafe. Vano melangkah masuk kedalam Cafe yang beroperasi 24 jam. Dari kejauhan ia mendengar suara seorang biduan sedang bernyanyi.
"Tuan..?
"Ahiya.. kopi hitam saja!"
"Hanya itu saja Tuan?!
Vano mengangguk. "Ahh! Vano menghempaskan bokongnya di kursi.
Tak berapa lama waiters datang membawa pesanan Vano "Silakan Tuan?!
"Mba dimana toilet?
"Sebelah sana Tuan, samping panggung itu jalan lurus nanti belok kanan. Disana toiletnya.
"Terimakasih!"
Vano melangkah cepat berjalan kearah toilet, ia ingin mencuci wajahnya karena sedikit mengantuk. Saat melewati panggung ia menoleh kearah panggung, sebab kenal dengan suara biduan itu. "Savira! pekiknya "Sejak kapan dia suka bernyanyi?" jelas saja Vano terkejut, bahkan dengan pedenya Savira bernyanyi dan mengajak penonton di depan panggung Kecil itu ikut bernyanyi.
Langkah Vano berhenti di tepi panggung. Saat sang biduan selesai bernyanyi, Vano naik keatas panggung dan menarik tangan Savira.
"Kak Vano! dirinya terkejut dan memberikan mix pada pemain musik, lalu mengikuti langkah Vano yang terus berjalan tanpa menoleh sekitarnya, padahal beberapa pasang mata menatap heran kearah mereka.
__ADS_1
"Kak Vano, kenapa bisa tahu aku berada di sini?!" tanya Savira saat sudah berada di area parkiran.
"Kau ingat waktu tidak! bentak Vano "Lihat sekarang sudah jam berapa? kau itu seorang perempuan! tidak baik pulang malam. Apalagi berada di tempat seperti ini?!
Savira terlihat syok dengan sikap Vano yang tiba-tiba marah. Dimana sifat lembut itu, sifat kasih sayang yang selalu ia berikan padanya. Savira baru sekali ini mendapat bentakan dari Vano, selama ia tinggal bersamanya. Ia menelan salivanya yang terasa pahit.
"Kau tahu tidak? sudah buat Mommy khawatir, bahkan ponselmu berdering puluhan kali, Namun tidak ada jawaban, ternyata kau sedang sibuk menghibur orang-orang di cafe!" seru Vano bersandar pada badan mobil.
"Ma'af kak! wajah Savira memerah, ia tertunduk menahan tangis. Tidak, ia tidak mau terlihat sedih di depan kakaknya, walaupun hatinya begitu terluka.
"Sekarang masuk! Vano membuka pintu mobil, Savira hanya menurut, karena ia juga merasa bersalah hingga lupa waktu. Saat ia akan masuk, Bisma memanggilnya.
"Savira...!! seru Bisma, ia berlari kearah Savira. "Gue cari loe kemana-mana nggak ada, ternyata loe udah disini."
"Sorry Bis, aku harus pulang. Kakakku sudah jemput!"
"BUGH!
Tiba-tiba sebuah tangan kekar menghantam wajah Bisma, hingga ia mundur beberapa langkah.
"Jadi kau yang sudah bawa Savira sampai ketempat ini, hah!" hentak Vano dengan tangan terkepal. Saat Vano ingin memukul kembali, Savira berteriak dan mendekati Bisma.
"Kakak sudah stop! seru Savira.
"Bisma.. kamu tidak apa-apa? tanya Savira lembut.
Bisma tersenyum dan berkata "Gue nggak apa-apa kok!" tukasnya seraya mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
"Savira! cepat pulang! jangan buat Mommy khawatir dan terus menunggu!"
"Aku pulang duluan ya Bis.., jaga dirimu baik-baik!"
"Ma'af ya, gue udah buat kelurga loe khawatir. Salamin sama kakak loh, jangan galak-galak. Bisa-bisa gue nekad bawa kabur loe.." celoteh nya di iringi suara kekehan.
Tentu saja Vano mendengar ucapan Bisma, wajahnya terlihat murka. "Ayo pulang! menarik paksa tangan Savira "Aku peringatkan padamu! menunjuk wajah Bisma "Jangan pernah dekati adikku lagi, apalagi sampai membawanya pergi seperti tadi! aku tidak segan akan mematahkan leher mu! Vano berkata penuh penekanan dengan aura dingin yang mendominasi.
Savira mengikuti langkah Vano dan masuk kedalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menembus pekatnya malam.
ππππ
@Bunda minta maaf, semalam oleng dan lelehan sehabis pulang dari Bogor! Salah kirim naskah, bab yang kemarin di update lagi π.
@Bagi yang suka skip cerita Vano, Bella dan Savira, nanti jangan salahkan Bunda kalau nggak ngerti alur ceritanya. Semua cerita sudah Bunda kemas dengan apik dan menarik, kalian tinggal baca dan komen yang membangun. BUNDA selalu baca komen kalian, tapi maaf nggak bisa balas satu-satuπ Semoga kalian suka dengan alurnya. Bagi yang jatuh cinta pada Nathan, tunggu yaππ
Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: Like, Vote/gift, Rate bintang 5 dan sertakan komentar kalian ππ
Follow IG Bunda π @bunda. eny_76
__ADS_1
@Bersmbung