
Dev mengangguk. "Van! apa kau tidak ingin minta tolong Om Tommy dan Om frans."
"Mereka semua sedang tidak ada di Jakarta. Om Tommy dan Tante Siska pergi ke Amerika menemui Zara. Om Frans, Tante Fanny dan Calista sedang liburan ke Spanyol."
"Baiklah, aku akan berjaga di mansion. jaga dirimu baik-baik, hubungi aku bila kau butuhkan."
Vano mengangguk dan melangkah cepat meninggalkan mansion.
Mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota.
"Pergi kemana kamu Dek! Vano membuang nafas kasar saat mobil berhenti tepat di lampu merah. Vano meraih ponsel yang berada di saku celananya lalu mulai menekan tombol memanggil, Namun sayang telponnya tidak aktif.
"Saat genting begini, ponselmu malah nggak aktif!" Vano berdecak kesal, pikirannya semakin bercabang. Masalah Zidan belum selesai, kini Vana yang pergi dengan tiba-tiba membuat Vano frustasi.
"Vana memiliki dua ponsel semoga saja satunya aktif." Saat Vano Ingin menekan tombol di nomor satunya, ia urungkan "Lebih baik aku tidak menelponnya sekarang. Aku akan lacak melalui ponselnya saja, jadi aku tahu keberadaannya dimana sekarang."
Lampu merah berubah menjadi hijau, Mobil Vano melaju kembali dan melanjutkan pencariannya.
***
Sementara itu, Vana sudah berhenti di lokasi dimana tadi ia mendapat surat, yang isinya Harus datang di perbatasan kota bila ingin bertemu Zidan.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Vana memarkirkan mobilnya di tepi pepohonan yang rindang. Area perbatasan kota itu jauh dari keramaian dan penduduk, hanya beberapa rumah yang bisa Vana lihat dengan jarak yang begitu jauh.
Vana keluar dari mobil dan mulai menyalakan lampu senter dari ponselnya sebab malam itu tidak ada penerangan lampu sama sekali, hanya ada di persimpangan jalan yang Vana lewati tadi.
"Dimana mereka? tidak ada siapapun disini? Vana mengeluarkan ponsel satunya dan mulai mengaktifkan. "Tadi ada nomor yang tidak di kenal menghubungi ku, aku akan coba menghubungi nya."
"Ahh.. sial!! malah nggak aktif!" pekiknya kesal. "Apa mereka telah mengacaukan keadaan mansion?! Vana merenungi si pelemparan batu ke kamarnya dan akhirnya ia menemukan surat itu.
"Tidak mungkin ini kebetulan, pasti sudah di rencanakan seseorang."
Vana membuang nafas kasar seraya mengedarkan pandangannya. Gelap, tak ada apapun disana, hanya terdengar suara jangkrik bersahutan.
"Dek, kau berada dimana sekarang?! mata Vana mulai menghangat, ia merasa bersalah dan menyesal telah membiarkan adiknya berteriak malam itu tanpa ia pedulikan. Tiba-tiba Vana menangis sesenggukan "Ma'afkan kak Vana, dek! hiks... "jahat banget mereka sudah menculik mu dek!"
Vana menatap liar sekelilingnya dan melihat pergerakan dari sebuah pohon.
"Keluarlah kalian! jangan beraninya mengintip dan bersembunyi! teriak Vana dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Dimana adikku kalian sembunyikan!
Tiba-tiba sebuah bayangan melayang dari atas pohon yang rindang dan melompat di depan Vana.
"Siapa kau?! seru Vana menatap seseorang berpakaian serba hitam sampai menutupi wajahnya.
"ikutlah denganku bila adikmu ingin selamat!" tukas pria itu dengan suara tinggi.
"Tidak! tunjukkan dulu dimana adikku!"
"Apa kau tidak percaya dengan ku!"
"Mana mungkin aku percaya denganmu, sementara aku tidak melihat keberadaan adikku!"
Vana melihat dari atas pohon terbang Seseorang kearahnya dan mendarat tepat di samping temannya yang berpakaian sama.
__ADS_1
"Apa tujuan kalian menyuruh aku kemari mengatas namakan adikku! bentak Vana.
pria satunya berbisik pada temannya dan di anggukan oleh nya. Lalu ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan Vidio call.
"Mana anak itu? tunjukkan wajahnya!" si Pria baju hitam meminta pada temannya di sebrang sana. Tak lama terlihat wajah Zidan yang masih di lakban mulut dan tangannya. Pria itu memperlihatkan layar kamera pada Vana. Seketika mata Vana terbelalak sempurna, ia melihat sendiri wajah adiknya yang meringis ketakutan.
"ZIDANE!!! teriak Vana, bola matanya kembali memanas, tak terasa airmatanya menetes deras di pipinya. Vana melihat mata sang adik yang memohon pertolongan.
"kakak pasti akan membebaskan mu! kakak berjanji!!!!" teriak Vana emosi.
Pria itu langsung mematikan layar ponselnya, hingga tidak terlihat lagi wajah Zidan.
"BRENGSEK!! Lepaskan adikku! Dimana kalian sekap adikku! Vana sudah tak dapat menahan emosinya lagi, ia terus berteriak.
"Kau tenang saja Nona? adikmu aman. Asal kau berikan apa yang kami inginkan!"
"Apa yang kalian inginkan dari ku?! kalau kalian ingin uang, aku bisa berikan!"
"Hahahaha..." dua pria itu terbahak.
"Aku tidak butuh uang mu! sekalipun kau mampu memberikan semuanya!"
"Nyawa adikmu tidak bisa di tukar dengan uang sekalipun tubuh mu juga kau berikan pada kami!" tukas pria itu tergelak.
"Sebenarnya apa mau kalian?! tanya Vana dengan nafas tersengal menahan emosi.
"Kami akan menukar adik mu dengan flashdisk yang ada pada kalian!'
"Ap-apa?! Bola mata Vana membola sempurna "Flashdisk?! gumamnya lirih.
"Apa jangan-jangan, flashdisk yang mereka maksud.. flashdisk pembunuhan masal satu desa itu." gumamnya Vana dalam hati. "Jadi mereka... Genk kalajengking!" Vana terpekik seraya membekap mulutnya dengan tangan.
Tentu saja Vana terkejut bukan main, bahkan ia hampir pingsan mendengar ancaman dua pria itu, ia tahu Genk kalajengking adalah Genk mafia tersadis. Bahkan ia mampu membunuh masal satu desa demi harta Karun yang tersimpan di desa itu.
"Ti-dak.. jangan! pekik Vana ketakutan.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? adikku benar-benar dalam bahaya!" batinnya menjerit. "Kak Vano! seketika Vana teringat dengan sang kakak. "Aku harus beritahu kak Vano secepatnya. Tapi bagaimana menghubungi nya, pasti mereka curiga? Vana terus berbicara dalam hati, tanpa terasa keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.
"Cepat katakan di mana flashdisk itu!" bentak pria itu.
"Aku bisa saja melawan mereka berdua, tapi bagaimana dengan nasib adikku? Zidan berada di sarang macan yang kapan saja nyawanya bisa melayang." Vana menggeleng kuat, seakan ia bingung harus apa.
"Daddy! Mommy..! ma'afkan Vana yang tidak bisa menjaga Zidan, apa yang harus Vana lakukan? Vana terlihat pasrah dan menjerit dalam hati.
Sementara mobil Vano terus melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak ingin kehilangan jejak sang adik yang sudah ia ketahui keberadaannya. Mudah bagi Vano melacak keberadaan Vana, sebab ia memasang GPS di ponselnya.
Drett!
Drett!
Drett!
Terdengar getaran ponsel dalam saku celana Vano. Vano menurunkan kecepatan lajunya dan mulai melihat nama si penelpon.
"Dev!
__ADS_1
Dengan cepat ia menggeser tombol hijau.
"Iya Dev!
"Van! keadaan mansion sangat genting! terdengar nafas kasar Devan di ujung telpon.
"Apa maksud mu, Dev!
"Ada sekelompok orang-orang menyerang mansion!"
"APA!!!!
CIIIIIIIITTTTTTTT!!!!!!!!
Seketika Vano menghentikan mobilnya secara mendadak. jantungnya berdegup dengan cepat.
"Kodir mati di tebas dengan sebuah samurai! sepertinya mereka mengincar kodir, pasti Kodir menyimpan sebuah rahasia." seru Dev membuat Vano menganga.
"Kodir mati! ucapnya tak percaya.
"Bagaimana orang-orang kita!
"Mereka sedang bertempur, bodyguard kita juga sudah terlatih dan semoga mereka bisa mengusir orang-orang itu."
"Kau berada dimana?!
"Aku berada di ruangan kerja Daddy mu, aku sedang meminta bantuan pada orang-orang Ayahmu. Tapi aku lupa kode pemanggilan mereka."
"20202!
"Baiklah, aku hubungi mereka sekarang!
"Bagus, segera kau hubungi mereka!"
"Savira! tiba-tiba Vano teringat akan sang adik.
"Dev! Dimana Savira?!
"Savira..?" Dev pun baru teringat akan sosok Savira yang masih berada di mansion.
"Dia berada di kamarnya."
"Cepat kau lindungi Savira! jangan sampai semua adikku dalam bahaya!" pekik Vano.
"Baik, aku akan turun kebawah!"
ponsel pun terputus.
"Ya Tuhan! kenapa semua bisa terjadi bersamaan, apa semua ini sudah terencana?! Vano mengusap wajahnya dengan kasar.
💜💜💜
@Di part ini mulai tegang ya All.., akan masuk di episode action 😁 terus ikuti kelanjutan nya.
@Bunda juga mau mengucapkan..
__ADS_1
Happy New year.... semoga di tahun ini, tahun yang penuh keberkahan dan di jauhkan dari segala bencana. Aamiin 🤲
@Bersambung...