
Seorang pria setengah berlari kearah pria yang sedang menikmati kopi itu.
"Nathan! secepatnya kita harus pergi dari tempat ini, keberadaan mu sudah di ketahui Tuan Reno, mereka sedang menuju kesini!" ucap David dengan nafas tersengal.
"Apa...!!" wajah Nathan berubah serius dan menatap tajam kearah sahabatnya "Darimana mereka tahu keberadaan ku sekarang?
"Seharusnya kau tahu kita sedang berhadapan dengan siapa?! Kau sudah tahu kekuatan besar sang Macan Asia, tidak bisa terbantahkan kekuasaannya.
Nathan terdiam sambil terus berfikir, terdengar helaan nafas panjang.
"Ayo cepat! apalagi yang akan kau pikirkan?!
Nathan mengangguk sebagai respon.
Sementara tak jauh dari tempat Nathan dan David. Chika menaruh ponselnya dan menyelesaikan makannya.
"Ada apa dengan mami dan papi?
"Kita disuruh tetap disini, Mami dan papi akan menyusul kita."
"Ohhya..?! bisa sekalian minta tolong bawakan dompet dan ponselku yang tertinggal. Ponsel satunya khusus untuk pembayaran melalui M-banking, kakak akan membayar tagihan Kak Dirga."
"Ck! Sudah aku katakan, kau tidak perlu menggantinya, aku ikhlas membayar tagihan itu."
Vana tersenyum masam sambil gelengkan kepala. "Aku tidak ingin punya hutang budi pada siapapun."
"Hah!! terdengar helaan nafas panjang Dirga.
"Sudah aku kirimkan pesan pada Mami. Sebentar aku mau ke toilet dulu, udah nahan pipis dari tadi."
Dengan cepat Chika beranjak dari tempat itu dan berjalan arah ke toilet.
"BUKK!
Tiba-tiba Chika bertabrakan dengan seseorang yang berjalan dengan terburu-buru.
"Hati-hati donk kalau jalan, apa gak lihat ada orang lewat! bentak Chika pada dua pria didepannya.
"Ma-af Nona.. saya sedang terburu-buru! ucapnya dan berlalu begitu saja bersama temannya yang terlihat panik.
"Hey! bukankah itu pria yang menyelamatkan kak Vana waktu di lautan tiga hari lalu? aku sangat ingat dengan wajah dan mata biru terangnya. Ternyata dia ada disini. Aku harus mengejarnya dan mengenalkan pada kak Vana."
China berlari keluar pintu dan mencari sosok pria yang baru saja menabraknya. Ia melihat Pria bermata biru itu memakai Hoodie dan temannya kaos oblong hitam, mereka masuk kedalam mobil.
"Hey tunggu...! seru Chika berlari mengejarnya, Namun sayang mobil sedan hitam itu sudah melewati gerbang rumah makan seafood dan melintasi jalanan raya dengan cepat.
__ADS_1
"Aku belum sempat meminta nomor telponnya dan berkenalan, ia sudah keburu pergi!" ucapnya kecewa, lalu melangkah masuk kedalam restoran menuju ke-toilet.
"Tumben kok lama ke toilet, apa mengantri?" tanya Vana saat Chika sudah kembali.
"Kak! tahu tidak? tadi saat Chika akan ke toilet bertemu dengan Pria yang menolong kakak di laut waktu itu."
"Ohya..? apa kau masih mengingat wajahnya?"
"Tentu saja Chika sangat mengingatnya. Wajahnya tampan blesteran gitu dan yang lebih mencolok matanya biru terang seperti batu safir." terang Chika menjelaskan secara detail.
"DEG! jantung Vana berdebar lebih cepat
"Mata biru..?! kedua alis Vana mengeryit.
"Iya?! apa kakak sempat melihat wajahnya saat di gendong dari dalam laut.
Seketika Vana teringat dengan sosok seseorang yang pernah mengisi hatinya, lalu dia menggeleng kuat, seakan menepis pikirannya tentang Nathan.
"Tidak! dia bukan Nathan..!! bisiknya dalam hati
"Apa kau tahu namanya?"
Chika gelengkan kepala "Nggak kak! waktu itu Chika tidak terpikir untuk tanyai namanya karena panik melihat keadaan kakak!"
"Siapa yang terjatuh ke laut? tanya Dirga penasaran, sebab, dua orang wanita didepannya sedang membicarakan Pria bermata biru.
"Vana...!!
Suara Dirga membuyarkan lamunan dan atensinya menoleh kearah Dirga.
"Apa kau ingin melihat Sunset? lihatlah didepan mu, senjanya sudah terlihat. Atau kau ingin menyaksikan diluar, disebelah sana ada taman dengan halaman luas, Lihat mereka sudah berdiri di sana sambil mengabadikan sunset."
Vana tersenyum dan mengangguk "Ayo kita keluar, lihatnya lebih enak di halaman luas daripada dari sini."
Mereka bertiga dan keluar dari restoran dan berdiri di halaman yang tersedia di area restoran. Menyaksikan sunset yang berwarna-warni. Matahari terbenam dan sunset menjadi daya tarik tersendiri saat senja. Sebab, ada jutaan mata yang terpesona melihat semburat jingga dan warna kemerahan dikala matahari terbenam. Tak heran apabila di sejumlah lokasi tertentu, kerap dijadikan tempat terbaik menikmati pemandangan sunset. Selain itu, ketika melihat keindahan sunset dapat memunculkan ide dan inspirasi.
Dirga yang bukan asli orang Bali sangat paham betul daerah sekitar, bahkan tempat-tempat wisata dan resort serta makanan khas Bali, Vana dan Chika dibuat terpana dengan curhatan Dirga tentang Bali dan terlihat sangat mengagumi keindahannya.
"Saya sangat kagum dengan orang Indonesia, terutama dengan asli orang Bali yang ramah dan sopan, wanitanya pun cantik-cantik. Tidak kalah cantik dengan wanita di sampingku." Goda Dirga terkekeh. Vana tidak merespon ucapan Dirga, ia hanya menganggap sebuah candaan belaka. Berbeda dengan Chika yang berdiri persis di sebelah kiri Dirga, tersenyum simpul dan malu-malu dengan wajah memerah.
"Chika! Vana...!! suara panggilan dari sepasang suami istri yang berjalan mendekat.
"Mami! Papi...!! seru Chika berlari menghampiri kedua orang tuanya.
"Itu Tante dan Om ku, kedua orang Chika, ayo kita kesana." ajak Vana pada Dirga.
__ADS_1
"Mih! Pih! Vana mencium punggung tangan Robert dan Davina "Oiya kenalkan ini Dirga, waktu itu pernah berobat di rumah sakit Vana."
Dirga bersalaman sambil memperkenalkan diri "Saya Dirgantara, asal saya dari Malaysia."
"Saya Mami nya Chika, kakak dari ibunya Vana dan ini Suami saya Dokter Robert."
"Sore Om! sapa Dirga ramah, mereka saling berjabat tangan.
Selesai berbincang sebentar dengan Dirga, akhirnya Vana dan Chika pulang bersama Robert dan Davina. Mereka berdua tidak menceritakan pada Vana kalau Reno datang ke Bali untuk memburu anaknya Thomas yang sudah jadi buronan selama empat belakangan ini.
***
Mobil Nathan dan David terus melaju dengan kecepatan tinggi, melewati pepohonan beringin yang menjulang.
"Kita harus cepat sampai villa, sebelum mereka mendahului kita!"
"Menurut ku tidak perlu Nadh! waktunya tidak cukup dan akan memakan banyak waktu!"
"Ada barang-barang penting ku yang tertinggal di villa. kita harus ngambilnya. Ada sebuah CD dan penemuan baru di dalamnya, aku belum sempat melihatnya. Aku harus cari bukti-bukti semuanya dan tentang pembunuhan Ayahku. Tadi pagi aku bertemu dengan pengikut Ayah ku semasa beliau masih hidup, ternyata bukan hanya masalah dendam pribadi dengan kelurga Tuan Reno, Namun ada hal penting lagi, sebuah harta Karun dalam jumlah sangat besar di sebuah desa terpencil, harta itu berupa emas batangan yang banyak di perebutkan dan diburu orang-orang mancanegara termasuk Tuan Reno dan Ayahku!
"Ternyata banyak rahasia yang belum terpecahkan dan kau harus bisa pecahkan misteri ini. Apa kau yakin tuan Reno terlibat pemburuan harta Karun itu? sementara harta keluarga Mahesa tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan!"
"Perusahaannya raksasanya bukan hanya menggeliat di Asia tapi juga mancanegara." tukas David menambahkan. Kini David sudah banyak tahu tentang kelurga Reno Mahesa, bahkan Genk MAFIA nya yang terselubung sudah David ketahui.
"Entahlah, aku belum bisa membuktikan kalau Tuan Reno juga ikut terlibat pemburuan harta Karun itu, Aku harus mencari tahu kelompok Genk kalajengking!"
"Apa!!!
Ciiiiiiiitttttttt...!!!
"Apa-apaan kau Vid! kenapa rem mendadak! bentak Nathan sambil memukul kepalanya.
"Sorry.. sorry, aku hanya kaget saat kau bahas Genk kalajengking. Aku pernah mendengar kelopak Genk MAFIA kalajengking, mereka sangat sadis dalam memburu lawannya dan tidak mudah untuk masuk kesana. Kau jangan cari mati dengan mereka!"
Nathan tersenyum dan menepuk pundak sahabatnya "Tidak sia-sia sahabatku seorang Detektif dan agen rahasia internasional. Kau sangat bisa diandalkan! Ayo cepat jalan, kita harus sampai villa!!"
"Hufftt! villa yang kita lalui sangat terjal dan berada di pedalaman, tidak seharusnya mereka mengetahui tempat tinggal kita!" tukas David menyesalkan.
"kenapa kau jadi tidak yakin begitu? bukankah feeling mu selalu tepat! apa yang tidak mungkin bagi Tuan Reno. Walau ke lubang semut sekalipun dia akan tahu keberadaan aku, atau jangan-jangan ada orang-orang kita yang sudah berkhianat!"
Seketika David tercengang dan menghentikan laju mobilnya kembali "Apa yang kau pikirkan sudah terekam di otakku! kita satu sepemikiran, orang kita ada yang berkhianat!"
"BRENGSEK!! Nathan mengepalkan tangannya kuat dan meninjau dashboard. "Akan aku kuliti si penghianat itu! seru Nathan dengan rahang mengeras dan tatapan membunuh.
💜💜💜
__ADS_1
@Bersambung...